Kamis, 04 Oktober 2012

MERANGKAI DAN MERONCE BAGI ANAK USIA DINI

“MERANGKAI DAN MORENCE BAGI AUD”
PRINSIP MERANGKAI DAN MERONCE BAGI AUD

A.    HAKIKAT MERANGKAI  DAN MERONCE
1.      Merangkai
Kata merangkai sama dengan menyusun, yaitu menata, menumpuk, menyejajarkan, menyusun benda-benda atau pernik tanpa ataupun menggunakan teknik ikatan. Misalnya : menyusun lauk di atas piring, berarti menata dan menyejajarkan laik dan nasi, serta memperkirakan posisi sayur dan pendamping lainnnya.

2.      Meronce
Meronce adalah menata dengan bantuan  mengikat komponen tadi dengan utas atu tali. Dengan teknik ikatan seseorang akan memanfaatkan bentuk ikatan menjadi lebih lama di bandingkan dengan benda yang ditata tanpa ikatan. Meronce haruslah dengan memperhatikan bentuk, warna, dan ukuran.

3.      Meronce dengan Ikatan atau Simpul Tali
Susunan tali yamg mempunyai nada dan irama, sebab simpul sebenarnya dapat dilakukan sekaligus 3 ikatan dalam satu ikatan. Contoh tersebut dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu tali yang di rangkai dengan baik dengan menggunakan teknik simpulan mati ( yaitu tali simpul yang sulit diuraikan setelah disimpulkan) maupun simpul hidup yang mudah dibuka. Roncean dengan simpul disebut dengan macramé kata yang diambil dari bahasa jepang berati menalikan.
4.      Meronce dengan Ikatan Gaya Anyam
Teknik lainnya dalam meronce adalah teknik anyaman. Tekniknya sama dengan teknik macramé, namun tidak dimatikan.

B.      ASPEK MERANGKAI DAN MERONCE
Kegiatan merangkai dan meronce memerlukan beberapa aspek atau pengetahuan dasar untuk membuatnya, diantaranya adalah aspek tujuan dan fungsi, prinsip penyusunan dan penataan, aspek bahan, aspek teknik, aspek penyelesaian.

1.      Aspek Tujuan dan Fungsi Pembuatan
Karya kerajinan seperti merangkai dan meronce mempunyai tujuan yang berbeda dengan melukis dan menggambar. Aspek ini yang menentukan bentuk akhir, misalnya: ketika akan membuat roncean gelang manik-manik, seorang anak yang kemudian membuatnya tidak diikatkan satu diantaranya sehingga mirip untaian bebas, maka tidak dapat dikatakan sebagai roncean.
Dilihat dari konsep umumnya merangkai dan meronce mempunyai tujuan:
a.       Permainan
Merangkai maupun meronce dapat berfungsi untuk alat bermain anak, benda-benda yang akan dirangkai tidak di tujukan untuk kebutuhan tertentu melainkan untuk melatih memperoleh kepuasan rasa dan memahami keindahan.
Seorang guru dapat meminta anak didiknya untuk membawa bekal makanan secukupnya, anak diminta untuk menata makanannya didalam piring plastik yang sudah disiapkan oleh guru. Maka dengan meminta menata, sekaligus anak terlibat dalam bermain.

b.      Kreasi dengan komposisi
Kemungkinan benda atau komponen lain dapat diminta oleh guru kepada anak untuk menyusun ala kadarnya. Benda-benda tersebut dikumpulkan dari lingkungan sekitar, seperti: papan bekas, kotak sabun atau yang lain yang dibayanngkan dapat menjadi bangunan megah. Anak sengaja hanya bermain imajinasi saja, sehingga tujuan bermain ini untuk melatih imajinasi atau bayangan anak tentangkonstruksi suatu bangunan.
Secara garis besar manfaat penataan ini adalah;
a)      Melatih imajinasi melalui bentuk dan konstruksi bentuk dan bahan.
b)      Melatih ketelitian melalui kecermatan merangkai serta menyusun benda-benda tersebut.
c)      Melatih keajegan atau irama melalui urutan, tingkatan, serta kedudukan masing-masing benda terhadap benda yang lain,
d)     Melatih rasa kebersamaan, jika merangkai secara bersama-sama,
e)      Ekspresi atau mengutarakan pendapat melalui pengandaian bentuk untuk menyatakan keinginannya terhadap benda yang diminta.
Kegiatan bermain bagi anak sebenarnya merupakan latihan untuk mengenal benda serta sesuatu yang ada dilingkungan sekitarnya melalui peniruan.

c.       Gubahan atau inovasi
Merangkai dan meronce dapat ditujukan untuk melatih kreativitas, yaitu dengan cara mengubah fungsi lama menjadi fungsi baru. Seni merangkai ini lebih cendrung dikatakan sebagai seni bentuk dengan teknik merangkai dan meronce.

2.      Aspek Keindahan
Aspek keindahan dari merangkai dan meronce terletak pada cara menyusun benda-benda sebagai komponen rangkaian dapat menarik perhatian. Penataan ini menggunakan prinsip penyusunan seperti pada membentuk dan melukis, sebagai berikut.
a.       Kesatuan, yaitu prinsip menyusun yang bertujuan agar susunan tersebut menarik.
b.      Keseimbangan dengan memperhatikan masing-masing ukuran, bentuk serta pengikatnya, apakah berupa garis, warna pengikat serta yang lain.
c.       Irama adalah penyusun yang memperhatikan ukuran benda, besar kecil yang tersusun seperti irama music dengan rumus:
1)      a-b-a-b-a-b dst atau
2)      a-b-b-b-a yang dapat disusun berirama adalah warna, misalnya dengan warna panas dan dingin atau gelap-terang.
Aspek keindahan dapat diajarkan secara langsung dengan berlatih, untuk itu guru senantiasa mampu memotivasi dengan beberapa anjuran. Pemberian contoh diperlukan untuk mengasah pengamatan serta rasa. Seorang guru ketika akan member contoh perlu mengklasifikasi:
a.       apakah anak telah mempunyai konsep penataan
b.      jika sudah, guru melanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang konsep tersebut
c.       jika anak belum mempunyai konsep penciptaan,guru dapat memancingnya dengan pertanyaan, tentang gagasan apa yang akan di tuangkan dalam rangkaian tersebut.

3.      Aspek Kerajinan dan Ketekunan
Aspek kerajinan meliputi kemampuan mengamati bentuk berdasarkan kegunaannya, berdasarkan tujuan penelitian dan penciptaan. Aspek kerajinan menuntut ketelitian yaitu usaha member pelatihan, menyusun, menata rangkaian yang sesuai dengan rancangan susunannya tidak mudah rusak. Ketelitian yang di maksud adalah cermat dalam memilih bahan dan memilih bentuk yang akan di susun secara konseptual, serta ketelitian dalam menyelesaikan tugasnya:
a)      Tidak mudah rusak
b)      Warna dan bentuknya sesuai
c)      Sesuai dengan tujuan penciptaan, apakah untuk kebutuhan praktis, hiasan serta ekspresi.






























MEDIUM BERKARYA MERANGKAI DAN MERONCE

A.    KOMPONEN BENTUK DAN UJUD
Ada dua unsur yang menentukan keberhasilan penataan (merangkai dan meronce) yaitu :
a. penataan itu sendiri.
b. komponen yang di tata.

1. Jenis Bahan
Berdasarkan jenis dan bentuknya bahan merangkai dapat di kelompokan menjadi dua yaitu :
a.       bahan alami
Contoh bahan alami misalnya : buah, batang, cabang serta bebatuan.
b . bahan artifisial (buatan)
Contoh bahan artifisial misalnya: buah kering, limbah papan kayu lapis dll.
c . bagaimana dengan tugas yang diberikan kepada anak ?
Latihan merangkai yang paling mudah diberikan kepada anak-anak ketika berada dalam kelas adalah menyusun makanan bekal diminta untuk di rangkai kembali dengan menyediakan piring plastik agar tidak mudah pecah. Setelah di beri penjelasan, mereka dapat mengembangkan dengan belajar kelompok dalam menata kue-kue. Tujuan pelatihan ini adalah mengajak anak bersosialisasi di antara anak.

2. Bentuk Bahan
Bentuk rangkaian bervariasi, mulai dari bahan yang teratur yaitu: kubus, bulat, kerucut, maupun trapesium.
a. Bentuk Beraturan
contoh : kerucut, trapesium, lengkung tipis, lengkung tebal, dll.
b.   Bentuk Tidak Beraturan
contoh : bunga, buah, ranting pohon.







KETERAMPILAN MERANGKAI DAN MORENCE

A.    PRINSIP RANGKAIAN DAN RONCEAN
Sebelum melanjutkan praktik merangkai Anda diminta mengemukakan terlebih dahulu perbedaan rangkaian di bawah ini:
Renungkan sebelum melangkah:
1.      Samakan susunan ruangan untuk makan dengan ruangan untuk belajar?
2.      Meja-kursi untuk makan dan meja-kursi untuk belajar, samakah?
3.      Benda-benda lain yang digunakan untuk menghias samakah untuk ruang makan dan ruang belajar?
4.      Unsur-unsur warna yang paling penting untuk ruang makan dan ruang belajar?
5.      Prinsip lain yang perlu dipertimbangkan untuk menata ruang makan dan ruang belajar adalah?
Renungan di atas untuk memberi arahan kita ketika akan merangkai dan menata ruangan. Renungan tersebut jika diuraikan menjadi suatu persyaratan merangkai dan meronce, yaitu:
a.       Mengetahui dahulu tujuan, meallui tujuan ini akan memberi arahan susunan yang dikehendaki
b.      Komponen yang dipunyai dan yang dibutuhkan jenisnya apa saja; dari komponen ini  akan berkembang menjadi pertimbangan menetukan tujuan juga
c.       Karakteristik komponen tersebut
d.      Adakah komponen yang khas yang harus diperhatikan secara khusus agar susunan tersebut tidak usang dan selalu menarik perhatian, dan
e.       Selain komponen utama dan penunjang, serta unsur pokok dan tamahan dalam komposisi tersebut.

1.      Tujuan
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum merangkai dan meronce adalah:
a.       Tujuan.
b.      Ketersediaan bahan.
c.       Prinsip penataan.



2.      Karakter
Untuk menciptakan karakter, seseorang harus memahami tujuan pembuatannya. Jika tujuan komersial, yang dipentingkan adalah daya tariknya sehingga orang ingin membelinya.
Bagaimana dengan meronce?
Sebenarnya karakter meronce pun juga harus didapatkan, apakah roncean ini untuk keperluan konstruksi atau hiasan. Roncean untuk keperluan konstruksi dapat dilihat pada tas belanja yang dironce dengan manik-manik makrame.
Prinsip rangkaian dan roncean dapat dirangkum sebagai berikut:
a.       Rangkaian harus menarik.
b.      Mempunyai karakter.
c.       Kualitas bahan juga mempengaruhi hasil akhir penataan.
d.      Mampu memberikan motivasi dan pengembangan daya nalar serta melatih kepekaan anak.
e.       Mengembangkan daya nalar melalui keterampilan menyusun dan menata atau merangkai dan meronce.

B.     LATIHAN MEMPRAKTIKKAN
Latihan ini aka memberikan manfaat ketika Anda menjasi guru, oleh karenanya dimohon menyesuaikan dengan perkembangan anak. Seperti diungkap oleh Gagne, bahwa perkembangan motorik atau keterampilan anak itu tidak sama untuk setiap anak. Namun tugas dan cara menerangkan dapat dimulai dari hal yang paling sederhana dan mendasar sesuai ddengan prinsip-prinsip pemberian motivasi kepada anak: fase Motivasi, fase Konsentrasi, fase Pengolahan, fase Menggali, dan fase Umpan Balik.

1.      Menyelesaikan  Rangkaian dan Roncean
a.       Tujuan: melatih imajinasi
1)      Melatih menghafal bentuk
2)      Melatih pengamatan
3)      Melatih perasaan keindahan
b.      Materi/bahan: bunga
1)      Daun bercabang lima
2)      Buah
3)      Ranting
c.       Alat: piring datar
1)      Prickers/busa padat (gabus)
2)      Gunting
3)      Pisau

2.      Meniru dan Mencontoh
a.       Merangkai buah kering dan biji pada cobek
1)      Tujuan:
a)      Mengenal berbagai macam buah yang dapat dikeringkan tetapi bentuk relatif masih utuh.
b)      Melatih ketelitian dan kesabaran.
c)      Melatih pengamatan.
2)      Bahan:
a)      Biji kedelai hitam, merah dan putih
b)      Biji kacang hijau
c)      Beras putih
d)     Jewawut (otek) sejenis rumputan
e)      Buah jambu isi yang kecil
f)       Lem kertas atau lem kayu
g)      Fixatif atau cat semprot clear ( netral dan transparan)
h)      Cobek
i)        Potongan lidi
3)      Alat:
a)      Lidi
b)      Kuas kecil untuk meratakan lem
c)      Alat seprot atau semprotan obat nyamuk
d)     Pensil
4)      Langkah:
a)      Tentukan bentuk, untuk itu anda harus menbuat rancangan di atas kertas  (mendesain) atau langsung di atas cobek dengan menggunakan pensil. Usahakan hasil goresan tersebut dapat dan mudah hilang agar tidak menganggu hasil akhir susunan/ rangkaian biji kering.
b)      Bersihkan cobek dan di usahakan debu sudah hilang dari permukaan untuk itu anda bias mencucinya terlebih dahulu, namun ketika akan mengerjakan hendaknya sudah kering.
c)      Lumuri lem sesuai dengan gambar desain, sedapat mungkin dimulai dari bagian tengah, agar dapat meneruskan ke samping kanan-kiri-atas dan seterusnya.
d)     Tunggu bijian yang sudah menempel tersebut mongering, jika sudah benar-benar kering anda dapat menutup dengan cat vernis, cat semprot (pilox) netral agar tidak merusak warna.
e)      Siap dipamerkan.
5)      Langkah mendesain: dalam mendesain terdapat berbagai pola hias:
a)      Rozet atau mendesain bunga mawar, cirri khasnya adalah semua susunan mempunyai arah ketitik pusat.
b)      Pola palmet atau daun palem, yaitu bentuk rozet yang dibelah dua, cirri khasnya sama dengan rozet namun titik arah di bawah dan ditengah.
c)      Pola medallion, mempunyai cirikhas penataan bebas tidak mengikuti pola, yang jelas semua komposisi dapat membuat karya tersebut menarik.

b.      Merangkai makanan atau jajanan
Dalam penataan makanan hasil masakan seseorang harus memperhatikan persyaratan khusus yaitu, harus bersih dan tepat tidak diulang-ulang  dan harus hygienis. Beberapa pola penataan yang menggunakan prinsip irama adalah menata jajanan. Jenis makanan ini yang dipentingkan adalah susunannya karena memiliki kesamaan bentuk. Pola yang dipakai bias berupa rozet, palmet dan tidak layak dengan medallion karena akan terasa acak-acakan. Untuk itu anda harus memperhatikan bentuk dan warna jajanan karena saat ini banyak jajanan yang diberi warna dan divariasikan bentuknya dan dihiasi dengan dedaunan, dan harus memperhatikan fungsi daun, tidak sekedar penghias tetapi sedapat mungkin juga ada kesamaan dengan bahan mentahnya.

c.       Meronce manik-manik
Bahan:
1)      Papan tripleks atau sejenisnya
2)      Beri lubang
3)      Sediakan utas, monte, manic-manik, namun jika tidak ada anda dapat membuat sendiri dari buah kering, jambu isi, pohon nyamplung dan lain-lain.
4)      Stik bamboo seperti stik untuk makan bakmi   tusuk sate.


Pola yang akan dibuat:
1)      Alternatif pertama: anda menghubungkan kea rah samping terlebih dahulu, lalu isikan mote bulat telur. Jika diperlukan buatkan rumus terlebih dahulu dengan irama:a-b-a-b-a-b dan seterusnya.
2)      Alternatif kedua: anda tetap menggunakan rumus di atas, namun berlaku pula untuk susunan ke bawah, sehingga susunan tersebut menjadi bervariasi kebawah dan kesamping.  a-b-a-b-a-b-a-b atau b-a-b-a-b-a-b-a.
3)      Alternatif ketiga menghubungkan dengan garis yang ada di bawah dengan berjalan miring.
4)      Alternatif keempat adalah silang, dengan menggunakan rumus miring tetapi dilaksanakan kebalikan dari tugas miring, sehingga nantinya seperti rajut, untuk itu anda dapat menambahkan berbagai variasi. Misalnya diisi dengan potongan plastic penyedot minuman yang mempunyai ukuran serta warna yang bervariasi.

3.      Merancang Sendiri secara Bebas
Arah metode diskusi dalam merancang bebasuntuk mengetahui tingkat kemampuan penalaran, misalnya dengan menggunakan pertanyaan pancingan:
a.       Kalian merangkai apa saja?
b.      Untuk apa?
c.       Mengapa kalian merangkai itu?
d.      Mengapa kalian senang jika rangkaian ini selesai, kalian puas?
e.       Bahan-bahan apa saja yang dimaksudkan kedalam rangkaian tersebut, apakah benda itu ada disekitar kalian?
f.       Temanmu boleh membantu tidak, jika boleh disuruh membantu apa saja?

Beberapa pertanyaan mengarah pada ungkapan yang menunjukan:
a.       Kemampuan penglihatan
b.      Merangsang daya imajinasi dan nalar anak
c.       Menghafal benda yang ada di lingkungan sekitar beserta fungsinya
d.      Mengetes kepuasaan dan rasa senang serta mampu member argumentasi penataan
e.       Melatih rasa sosial dan kesetiakawanan.




PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Merangkai adalah menyusun, menata benda, buah atau pernak-pernik tanpa pengikatan, tujuannya agar lebih menarik dan memberi manfaat baru.
2.      Aspek keindahan dalam penataan harus menggunakan prinsip kesatuan, keseimbangan dan irama.
3.      Bahan alami yang padat-kering-keras adalah kayu, cabang, buah kering, serta daun kering.
4.      Bahan artificial yang keras: batu yang dibentuk, kayu yang dibentuk, plastic yang dibentuk kotak, dan bulat serta segitiga dari bahan besi, fiberglass sarta formika.
5.      Bahan artificial yang lunak-padat: lilin, kue jajanan melalui pemasakan pengkukusan, perebusan, pengendapan, maupun penggorengan.
6.      hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum merangkai dan meronce adalah: tujuan, ketersedian bahan, prinsip penataan.

B.     SARAN
1.      Ajarkan kepada anak merengkai agar mereka terlatih sejak dini agar melatih ketekunan kereka.
2.       Gunakan tiga pola saat merengkai sesuai dengan kecocokan bahan yang digunakan, yaitu rozet, palmet, dan medallion.
3.      Dengan merangkai dan meronce melatih anak mengembangkan pola pikirnya.
4.      Saat menghias bahan makanan sebaiknya semuanya harus higienis.


DAFTAR PUSTAKA


Affandi & Dewobroto.(2004). Menegenal Seni Rupa Anak .yogyakarta:Gama Media Abdulhamid.(1995).Pengantar Estetika.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Pustaka. Kementerian Malaysia. Cut Kamaril dkk. (2007).Pendidikan Seni Rupa Dan Kerajinan Tangan .Jakarta: Universitas Terbuka. Dedi Nurhadiah. ( 1991) . Seni Rupa Teori Dan Praktik.Bandung :Internusa. Oho Garha. (1983). Seni Rupa , Media Pengajaran Dengan Kreativitas . Jakarta : Depdikbud.