Minggu, 27 Oktober 2013

pengambilan keputusan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajer kerap dianggap sebagai pengambil keputusan. Meskipun keputusan yang dibuat kebanyakan bersifat strategis akan tetapi para manajer juga membuat keputusan mengenai berbagai aspek lain dalam organisasi, termasuk didalamnya struktur, system pengendalian, respon terhadap lingkungan, dan sumberdaya manusia. Para manajer mengawasi masalah yang muncul, membuat keputusan  dalam memecahkannya, dan mengawasi konsekuensi yang terjadi untuk melihat apakah diperlukan keputusan tambahan. Pembuat keputusan yang baik merupakan bagian vital dari manajemen yang baik, karena keputusan-keputusan menentukan bagaimana cara suatu organisasi menyelesaikan masalah, mengalokasikan sumberdaya, dan meraih sasaran.
Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Hal itu harus dilakukan di tengah berbagai factor-faktor yang terus menerus berubah, ketidakjelasan informasi, dan aneka pandangan yang saling bertentangan.
Makalah ini mengungkap proses keputusan yang mendasari perencanaan strategis. Rencana dan strategi mengambil tempat melalui pembuatan keputusan; semakin baik pengambilan keputusan, semakin baik perencanaan strategis.
B.     Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan masalah yang dikaji adalah pengertian pengambilan keputusan, model pengambilan keputusan dan proses pengambilan keputusan.
C.    Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah mahasiswa mengetahui pengertian pengambilan keputusan, model-model pengambilan keputusan, dan proses pengambilan keputusan.
D.    Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah sebagai bahan bacaan agar dapat mengambil sebuah keputusan dengan rencana dan strategi yang tepat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambil keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision). Keputusan-keputusan ini akan menimbulkan aktivitas-aktivitas, sehingga proses manajemen dapat terlaksana. Keputusan akan menimbulkan aktivitas dan atau mengakhiri aktivitas.
Kenapa pengambilan keputusan merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen?
1.      Keputusan merupakan permulaan dari semua kegiatan manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual, kelompok maupun secara institusional. Jadi, barang siapa yang menghendaki adanya kegiatan (aktivitas) tertentu, ia harus mampu dan berani mengambil keputusan yang berhubungan dengan hal itu setepat-tepatnya.
2.      Keputusan ditujukan untuk masa yang akan datang, efek (hasil)-nya akan berlangsung atau berguna pada hari-hari yang akan dating, sementara hari yang akan dating itu tidak menetu serta penuh dengan beraneka macam risiko.
3.      Keputusan akan menciptakan masalah (aktivitas), tetapi keputusan juga akan menyelesaikan masalah.
Berikut adalah definisi-definisi pengambilan keputusan menurut para ahli.
1.      G.R. Terry
Pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai “pemilihan alternative kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.
2.      Harold Koontz dan Cyril O’Donnel
Pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara alternative-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
3.      Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan
Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aaktivitas-aktivitas pada masa yang akan datang.
4.      Chester I. Barnard
Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa “pengambilan keputusan adalah proses bagaimana menetapkan suatu keputusan yang terbaik, logis rasional, dan ideal berdasarkan fakta, data, dan informasi dari sejumlah alternative untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan dengan risiko terkecil, efektif, dan efisien untuk dilaksanakan pada masa yang akan datang”. 
a.      Jenis Keputusan
Manajer harus membuat berbagai jenis keputusan yang berbeda. Secara ringkas, keputusan oleh manajemen dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) jenis, yaitu:
1.      Keputusan Tidak Terstruktur (non programmed decision)
Keputusan tidak terstruktur sifatnya dalah tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini dilakukan oleh manajemen tingkat atas (top manajer). Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah didapat, tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar organisasi. Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan yang tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tidak terstruktur dan merupakan keputusan yang jarang dilakukan. Keputusan yang tidak tersturtur di lain pihak adalah keputusan yang berkenaan dengan masalah-masalah khusus, khas dan tidak biasa. Bila suatu masalah yang timbul tidak cukup diliput oleh kibijaksanaan atau sangat penting sehingga perlu penanganan khusus, ia harus diselesaikan dengan suatu keputusan yang tidak diprogram. Beberapa contoh masalah yang memerlukan keputusan yang tidak deprogram antara lain cara pengalokasian sumber daya organisasi, penanganan lini produk yang jatuh di pasaran atau cara perbaikan hubungan masyarakat. Semakin tinggi ia dalam hierarki organisasi, maka dibutuhkan kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan yang tidak deprogram lebih tinggi. Atas dasar ini, diadakan berbagai program pelatihan manajemen untuk mencoba pengembangan kemampuan manajer membuat keputusan-keputusan yang tidak diprogram.
2.      Keputusan Setengah Terstruktur (semi programmed decision)
Keputusan setengah terstruktur adalah keputusan yang dapat diprogram. Keputusan tersebut masih membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari si pengambil keputusan. Keputusan seperti ini sering bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan-perhitungan secara analisis yang inti. Contoh keputusan tipe ini adalah keputusan untuk membeli suatu perangkat atau sistem komputer yang  lebih canggih.
3.      Keputusan Terstruktur (programmed decision)
Keputusan-keputusan yang dapat deprogram adalah keputusan yang dibuat menurut kebiasaan, aturan, atau prosedur. Keputusan-keputusan ini rutin dan berulang-ulang. Setiap organisasi memiliki kebijakan-kebijakan tertulis atau tidak tertulis yang memudahkan pembuatan keputusan dalam situasi yang berulang dengan membatasi dan menghilangkan alternative-alternatif. Sebagai contoh manajer tidak perlu memikirkan penetapan gaji karyawan baru karena organisasi pada umumnya mempunyai skala gaji untuk semua posisi. Manajer tidak perlu memikirkan masalah-masalah harian yang akan dihadapi karena prosedur-prosedur untuk menangani masalah-masalah rutin telah tersedia. Masalah-masalah rutin tidak selalu sederhana. Keputusan-keputusan yang diprogram dapat juga digunakan dalam penanganan masalah-masalah yang komplek dan rumit.  Bila suatu masalah berulang dan bila unsure-unsur komponen dapat dirumuskan, diperkirakan, dan dianalisis, maka hal itu dapat menjadi “calon” pembuatan keputusan yang deprogram.
b.      Kondisi Pengambilan Keputusan
Seperti terdapat jenis keputusan yang berbeda-beda, terdapat pula kondisi yang berbeda  dimana keputusan harus dibuat. Situasi yang muncul bagi pengambilan keputusan adalah kepastian, risiko, ketidakpastian dan ambigiutas
1.      Kepastian (certainty) berarti seluruh informasi yang dibutuhkan pengambil keputusan tersedia secara lengkap.
2.      Risiko (risk) yaitu keputusan yang memiliki sasaran yang jelas dan didasarkan pada informasi yang baik, tetapi konsekuensi-konsekuensi masa depan dari masing-masing alternative keputusan tidak pasti.
3.      Ketidakpastian (uncertainty) yaitu para manajer mengetahui sasaran yang ingin dicapai, tetapi informasi mengenai berbagai alternative dan kejadian-kejadian di masa depan tidak lengkap.
4.      Ambiguitas yaitu sasaran yang harus diraih atau masalah yang harus dipecahkan tidak jelas, alternative sulit ditemukan, dan informasi mengenai hasil yang ingin di capai tidak tersedia.

B.     Beberapa Model Pengambilan Keputusan
Pendekatan yang digunakan manajer untuk mengambil keputusan biasanya didasarkan pada salah satu dari tiga tipe pengambilan keputusan yang ada model klasik, model adminstratif, atau model politik. Pilihan model tergantung pada prefensi individu manajer, apakah keputusan tersebut terprogram atau tidak terprogram, dan sampai sejauh mana keputusan tersebut dicirikan oleh risiko, ketidak pastian, atau ambiguitas.
1.      Model klasik
Model klasik (classical model) yaitu model pengambilan keputusan yang didasarkan pada asumsi bahwa manajer sebaiknya membuat keputusan yang logis, yang selaras dengan kepentingan ekonomis organisasi. Asumsi yang mendasari model ini adalah sebagai berikut:
a.       Pengambil keputusan beroperasi untuk mencapai sasaran yang telah diketahui dan disetujui sebelumnya. Masalah-maslah difomulasikan dan didefinisikan secara tepat.
b.      Pengambil keputusan berjuang keras menciptakan kepastian, mengumpulkan informasi secara lengkap. Seluruh alternative hasil dan hasil potensial dikalkulasikan.
c.       Megetahui criteria untuk mengevaluasi alternative. Pengambil keputusan menyeleksi alternative yang akan memaksimalkan pendapatan ekonomis bagi organisasi.
d.      Pengambil keputusan adalah orang yang rasional dan menggunakan logika untuk menetukan nilai, menyusun preferensi, mengevaluasi alternative, an membuat keputusan yang dapat memaksimalkan pencapaian sasaran organisasional.
Model klasik sering dianggap normative, artinya hal tersebut menjelaskan bagaimana sebaiknya seseorang pembuat keputusan membuat keputusan.
2.      Model administrative
Model administrative ( administrative model) yaitu model pengambilan keputusan yang menggambarkan bagaimana manajer membuat keputusan secara nyata, dalam situasi yang bercirikan keputusan tidak berprogram, ketidakpastian, dan ambiguitas. Hertbert A. Simon mengajukan 2 konsep yang penting dalam pembentukan model administrative yaitu rasionalitas terbatas (bounded rationality) berarti bahwa orang-orang memiliki keterbatasan dalam pemikiran rasional. Satisficing berarti bahwa para pembuat keputusanmemilih alternative solusi pertama yang memenuhi criteria keputusan minimal.
Asumsi dasar model administrative:
a.       Sasaran keputusan terkadang tidak jelas, saling bertentangan, dan kurangnya kesepakatan antarmanjer. Para manajer sering tidak menyadari masalah atau kesempatan yang ada dalam organisasi.
b.      Prosedur rasional tidak selalu digunakan, dan ketika digunakan ternyata dibatasi pada pandangan yang sederhana mengenai masalah yang tidak mencakup seluruh kompleksitas atas apa yang terjadi dalam organisasi sesungguhnya.
c.       Pencarian manajer terhadap alternative-alternatif dibatasi oleh batasan-batasan manusiawi, informasi, dan sumberdaya.
d.      Kebanyakan manajer lebih memilih statisficing dari pada memaksimalkan solusi. Hal demikian terjadi karena sebagian dari mereka memilki keterbatasan informasi dan sebagian karena criteria mengenai hal-hal apa saja yang memaksimalkan solusi tidak jelas.
Model administrative sering dianggap deskriptif, yang berarti menjelaskan bagaimana manajer mengambil keputusan secara actual dalam situasi yang kompleks daripada sekedar memberikan perintah bagaimana seharusnya membuat keputusan menurut teori yang ideal. Aspek lain dalam pengambilan keputusan administrative adalah intuisi yang menyajikan pemahaman secara cepat terhadap situsi keputusan berdasarkan pengalaman masa lalu tanpa pemikiran yang mendalam.
3.      Model politis
Model politis yaitu model pengambilan keputusan yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan tidak terprogram ketika kondisi berada dalam ketidakpastian, informasi terbatas, dan sedikit persetujuan antar manajer mengenai sasaran apa yang harus diikuti atau tindakan apa yang harus diambil.
Asumsi dasar model politis adalah:
a.       Organisasi terdiri atas kelompok-kelompok dengan kepentingan yang beragam, sasarn, dan nilai-nilai. Manajer-manajer tidak setuju mengenai prioritas masalah dan mungkin tidak memahami atau mengetahui minat dan sasaran manajer-manajer lain.
b.      Informasi terkadang membingungkan dan tidak lengkap. Upaya untuk rasional dibatasi oleh kompleksitas berbagai masalah sebagaimana halnya batasan-batasan individu dan organisasional.
c.       Manajer tidak memiliki waktu, atau kapasitas mental untuk mengidentifikasi semua dimensi permasalahan dan pemrosesan seluruh informasi yang relevan. Manajer berbicara dengan satu sama lain dan melakukan perubahan sudut pandang untuk mengumpulkan informasi dan mengurangi ambiguitas.
d.      Para manajer terikat dalam perdebatan tarik ulur untuk memutuskan sasaran dan mendiskusikan berbagai alternative. Keputusan merupakan hasil dari tawar-menawar dan diskusi antar anggota koalisi.

C.    Proses Pengambilan Keputusan
Enam langkah dalam proses pengambilan keputusan yaitu:
1.      Pengakuan terhadap persyaratan keputusan
Para manajer menghadapi persyaratan keputusan baik dalam bentuk masalah maupun kesempatan. Suatu masalah (problem) terjadi ketika pencapaian organisasional kurang dari sasaran yang ditetapkan. Beberapa aspek kinerja tidak memuaskan. Peluang (opportunity) terjadi ketika manajer meihat potensi prestasi yang menyediakan kesempatan untuk menciptakan prestasi organisasional melebihi sasaran yang telah ditetapkan saat ini. para manajer melihat kemungkinan meningkatkan kinerja melebihi level saat ini.
Kesadaran terhadap masalah atau kesempatan adalah langkah pertama dalam urutan keputusan dan membutuhkan pengamatan lingkungan internal dan eksternal bagi isu-isu yang membutuhkan perhatian eksekutif.
2.      Diagnosis dan analisis penyebab
Ketika masalah dan kesempatan telah menarik perhatian manajer, pemahaman situasi harus diperjelas. Diagnosis (diagnosis) adalah salah satu langkah dalam  proses pengambilan keputusan, dimana manajer menganalisis factor-faktor sebab akibat yang mendasari dan berhubungan dengan sitasi pengambilan keputusan. Manajer membuat kesalahan dalam hal ini apabila mereka langsung meloncat menuju alternative lain tanpa mengeksplorasi terlebih dahulu secara mendalam penyebab masalah.
Kepner dan Tregoe, yang telah melakukan penelitian mendalam terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan manajer, merekomendasikan agar para manajer menanyakan serangkaian pertanyaan untuk menspesifikasi sebab-sebab yang mendasari, termasuk beberapa hal sebagai berikut:
a.       Kondisi tidak seimbang seperti apakah yang dapat mempengaruhi kita?
b.      Kapan hal itu terjadi?
c.       Dimanakah terjadinya hal tersebut?
d.      Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?
e.       Terhadap siapakah hal tersebut terjadi?
f.       Apa yang menjadikan sebuah masalah begitu penting?
g.      Apa yang menjadi penghubung kejadian-kejadian yang muncul?
h.      Hasil apa yang akan diberikan oleh setiap aktivitas?

3.      Pengembangan Alternatif
Pada saat masalah atau kesempatan telah dapat dikenali dan dianalisis, pembuat keputusan mulai mempertimbangkan untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Langkah berikutnya adalah menghasilkan alternative solusi yang mungkin dapat menanggapi kebutuhan situasi dan memperbaiki sebab-sebab yang mendasari.
Bagi keputusan terprogram, berbagai alternative yang dapat di laksanakan pada umumnya, mudah diidentifikasi dalam kenyataan, telah tersedia dalam aturan dan prosedur organisasi. Adapun keputusan tidak terprogram, membutuhkan pengembangan tindakan-tindakan baru yang akan memenuhi kebutuhan perusahaan. Keputusan yang dibuat dalam kondisi dengan ketidakpastian tinggi, para manajer akan mengembangkan satu atau dua solusi yang akan memuaskan dalam penanganan masalah.
Alternatif keputusan dapat dianggap sebagai alat untuk mengurangi perbedaan antara kinerja organisasi saat ini dengan yang diharapkan.
4.      Pemilihan alternative yang diharapkan
Ketika beberapa alternative yang mungkin telah dikembangkan, harus dipilih salah satunya. Keputusan pilihan adalah seleksi yang paling menjanjikan dari beberapa alternative tindakan. Alternative terbaik menyediakan solusi terbaik sesuai dengan sasaran menyeluruh dan nilai-nilai organisasi, serta dapat mencapai hasil yang diharapkan dengan penggunaan sumberdaya seminimal mungkin. Manajer berusaha memilih pilihan dengan tingkat risiko dan ketidakpastian paling sedikit. Karena sejumlah risiko melekat pada keputusan-keputusan tidak terprogram, para manajer berusaha untuk memperkirakan prospek keberhasilannya. Dalam kondisi ketidakpastian, mereka mungkin harus menyandarkan diri pada intuisi dan pengalaman untuk mengestemasi apakah tindakan yang dilakukan kemungkinan akan membawa keberhasilan. Mendasarkan pilihan-pilihan pada sasaran keseluruhan dan nilai-nilai juga dapat menuntun pemilihan alternative secara efektif.
5.      Implementasi alternative yang dipilih
Termasuk dalam tahap implementasi (implementation) adalah penggunaan kemampuan manajerial, administrative, dan persuasive untuk meyakinkan alternative yang dipilih dapat dikerjakan. Keberhasilan puncak dari alternative yang dipilih tergantung pada apakah alternative tersebut dapat diterjemahkan menjadi tindakan. Kadang-kadang sebuah alternative tidak akan pernah menjadi kenyataan karena manajer kekurangan sumberdaya atau energi yang diperlukan untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Implementasi mungkin membutuhkan diskusi dengan orang-orang yang terkena dampak oleh keputusan tersebut. Komunikasi, motivasi, dan keterampilan kepemimpinan harus digunakan untuk mengetahui bahwa keputusan yang diambil sedang dilaksanakan.
6.      Evaluasi dan umpan balik
Dalam tahap evaluasi (evaluation stage) pada proses keputusan, pembuat keputusan mengumpulkan informasi yang dapat memberitahukan merek sebarapa baik implementasi srategi dan apakah hal tersebut dapat digunakan secara efektif untuk meraih sasaran. Umpan balik sangat penting karena pengambilan keputusan adalah proses yang terus menerus dan tidak pernah berhenti. Pengambilan keputusan menjadi tidak lengkp apabila seorang aksekutif atau dewan direktur memilih ya atau tidak. Umpan balik (feedback) menyajikan informasi bagi para pembuat keputusan sehingga dapat mempercepat siklus keputusan yang baru. Keputusan dapat mengalami kegagalan, sehingga menyebabkan harus dilakukannya analisis masalah yang baru, evaluasi terhadap beberapa alternative, dan pemilihan alternative yang baru. Banyak masalah besar dapat dipecahkan dengan mengupayakan sejumlah alternative secara berurutan, yang masing-masing memberikan prbaikan sederhana. Umpan balik adalah bagian dari pengawasan yang dapat menilai apakah keputusan baru perlu dibuat.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masalah pengambilan keputusan sangat penting dipelajari karena hal tersebut menjelaskan dengan cara bagaimana para manajer berhasil membuat keputusan strategis dan operasional.  Manajer harus menghadapi beberapa tipe keputusan dan keputusan ini berbeda sesuai dengan jumlah risiko, ketidakpastian, dan ambiguitas dalam suatu lingkungan. Manajer harus memilih salah satu tiga macam pendekatan pengambilan keputusan dan pengambilan keputusan sebaiknya melibatkan enam langkah dasar.
B.     Saran
Setiap masalah dan peluang yang ada harus memiliki solusinya. Manajer harus lebih teliti dalam memilih tipe keputusan, macam-macam pendekatan pengambilan keputusan dan pengambilan keputusan sebaiknya melibatkan enam langkah dasar agar manajer berhasil mengambil keputusan dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA
Sutabri. 2003. Sistem Informasi Managemen. Jakarta : Andi
Richard L. Daft. 2001. Manajemen Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
Griffin, Ricky. 2004. Manajemen Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan. 2009. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta:  
Bumi Aksara


kepemimpinan



KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DI RA/TK
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DI RA/TK TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA GURU
Oleh : KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
Kepala RA dan Pemerhati Pendidikan Anak Usia Prasekolah



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bagi suatu organisasi, peran seorang pemimpin sangat penting artinya. Hal ini dikarenakan seorang pemimpin adalah otak organisasi, pemimpin organisasi selalu membuat keputusan, membuat rencana dasar dan menentukan tujuan organisasi. Keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh pemimpin dan gaya kepemimpinannya dalam organisasi.
Menurut Winardi (2000 : 36) gaya kepemimpinan adalah cara yang dilakukan oleh seseorang yaitu pemimpin dalam menjalin suatu hubungan dan mempengaruhi bawahannya untuk bekerja sama secara sukarela dalam suatu mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin. Didalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, seorang guru akan sangat membutuhkan adanya dorongan semangat dan motivasi dari pimpinan mereka sebab hal ini merupakan moda yang sangat penting sehingga hampir setiap tindakan dan kebijakan yang diambil/dilakukan oleh seorang pemimpin mempunyai dampak yang positif dan negatif bagi bawahan yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus dapat memotivasi bawahannya sedemikian rupa sehingga dalam melaksanakan tugasnya, guru akan memiliki efektivitas kerja yang tinggi dan diharapkan mampu membuahkan hasil yang memuaskan, baik bagi sekolahan maupun guru itu sendiri.
Motivasi kerja mengandung pengertian bahwa suatu kondisi yang membangkitkan, menggerakkan, mengarahkan dan memelihara perilaku guru untuk bekerja dalam lingkungan kerjanya dalam upaya mencapai tujuan pribadi guru dan tujuan organisasi sedangkan pemimpin mempunyai arti seseorang yang karena kecakapan-kecakapan pribadinya, dengan atau
tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan untuk bersama ke arah pencapaian sasaran tertentu (Suad Hasan, 1990 : 36), sehingga jelas bahwa seorang pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup sekolahnya. Sangat pentingnya arti seorang pemimpin sehingga dapat dikatakan bahwa sukses atau tidaknya sekolahan sangat tergantung oleh pimpinan sekolahnya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu kunci keberhasilan suatu usaha adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengatur dan memotivasi gurunya agar bekerja lebih giat demi tercapainya tujuan sekolahan. Usaha sekolahan untuk menumbuhkan kinerja guru dapat ditempuh dengan cara memberi dorongan dan pemenuhan kesejahteraan guru agar menciptakan suasana kerja yang kondusif serta menumbuhkembangkan keharmonisan hubungan kerja antara atasan dengan bawahan (Moekijat,
1994 : 170).
Dari penjelasan tersebut maka dapat dilihat dengan jelas bahwa seorang pemimpin mempunyai pengaruh yang nyata terhadap motivasi kerja. Taman Kanak-Kanak adalah salah satu bentuk pendidikan yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar yang termasuk jalur pendidikan sekolah yang bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis sangat tertarik untuk mengangkat judul “Kepemimpinan Kepala Sekolah Di Taman Kanak-Kanak” ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan alasan pemilihan judul yang telah diuraikan di atas, pokok permasalahan yang ada antara lain :
1. Apakah arti kepemimpinan itu ?
2. Faktor apa yang mempengaruhi efektivitas kerja seorang pemimpin ?
3. Bagaimana pengaruh kepemimpinan terhadap efektivitas kerja ?

C. Tujuan Penulisan
Dalam pemilihan judul ini, penulis ingin mengetahui tujuan dari penulisan, sebagai berikut:
1. Untuk menjelaskan arti seorang pemimpin.
2. Untuk menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas
kerja pemimpin.
3. Untuk menjelaskan pengaruh kepemimpinan terhadap efektivitas kerja.


D. Manfaat Penulisan
Dari pemilihan judul ini, adapun manfaatnya adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Berdasarkan pemilihan judul tentang “Kepemimpinan Kepala Sekolah di Taman Kanak-Kanak terhadap Efektivitas Kerja” ini diharapkan dapat mengetahui bagaimana kepemimpinan kepala TK terhadap efektivitas kerja guru.
2. Manfaat Praktis
Menambah pengetahuan tentang pengaruh kepemimpinan terhadap efektivitas kerja guru.
.
***

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep tentang Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Di dalam suatu organisasi peran seorang pemimpin sangat penting. Hal ini disebabkan karena seorang pemimpin adalah otak organisasi. Pemimpin organisasi selalu membuat keputusan, membuat rencana dasar dan menentukan tujuan organisasi. Keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh pemimpin dan gaya pemimpin dalam organisasi.
Menurut Winardi (2000 : 36) kepemimpinan adalah hubungan di mana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara suka rela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin. Sementara menurut Agus Dhanna (92:42), kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi efektivitas kerja seorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.
Pengertian tersebut di atas mengandung beberapa unsur pokok antara lain :
a. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain yaitu : pengikut atau bawahan karena kesediaan untuk menerima pengarahan dari pimpinan anggota kelompok membantu menegaskan status kepemimpinan dan memungkinkan proses kepemimpinan. Tanpa bawahan sama sifat-sifat kepemimpinan akan menjadi tidak relevan.
b. Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa aktivitas anggota kelompok yang tidak dapat dengan cara yang sama mengarahkan aktivitas pemimpin.
c. Pemimpin bisa mempengaruhi pengikut atau bawahannya dan bisa mengarahkan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.

2. Sifat Kepemimpinan
Sifat yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin yang baik adalah sebagai berikut :
a. Mempunyai persepsi sosial artinya pemimpin peka terhadap kebutuhan, masalah, perasaan, sikap bawahan atau anggota kelompok.
b. Mempunyai kecerdasan yang tinggi, di sini pemimpin memiliki kecakapan untuk berfikir abstrak yang lebih tinggi daripada ratarata anggota kelompoknya.
c. Mempunyai kestabilan emosi merupakan hal yang sangat penting dalam kepemimpinan di mana seorang pemimpin harus mempunyai kematangan emosional yang berdasarkan kesadaran yang mendalam akan kebutuhan. Kebutuhan, keinginan-keinginan, cita-cita dan alam perasaan serta pengintegrasian semua itu ke dalam suatu kepribadian yang harmonis (W.A. Gerungan dalam Onong Uchjana Effendi, 1992 : 4).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sifat pemimpin yang baik yaitu kecakapan seorang pemimpin untuk berfikir, baik secara terang maupun secara dinamis dan aktif.

3. Syarat Pemimpin
Pemimpin selain mempunyai kemampuan teknis juga harus memiliki syarat antara lain :
a. Peri kemanusiaan.
b. Adil dan mempunyai tanggung jawab.
c. Penuh percaya diri dan berani mengambil tindakan terhadap penyimpangan.
d. Penuh inisiatif dengan segala keadaan, tidak pernah kehilangan jalan serta waspada dan selalu
mengoreksi diri.
e. Mempunyai daya tarik, menciptakan perhatian dan membangkitkan semangat bawahan terhadap
tugasnya.
f. Gotong-royong, mau bekerja sama baik dengan orang yang setara maupun dengan atasan dan
bawahan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa syarat pemimpin di Taman Kanak-Kanak adalah penuh percaya diri, inisiatif, mempunyai daya tarik, mau bekerja sama. Menurut Stodgill dalam Kartini Kartono (1992 : 31) menyatakan bahwa pemimpin harus mempunyai kelebihan yaitu :
a. Kapasitas
Kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara atau verbal fasility, kemampuan menilai.
b. Prestasi
Gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan dalam olahraga, seni dan lain-lain.
c. Tanggung jawab
Mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif, hasrat untuk unggul.
d. Partisipasi
Aktif memiliki sosiobilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif atau serba bekerja sama, mudah menyesuaikan diri, punya rasa humor.
e. Status
Meliputi kedudukan sosial ekonomi cukup tinggi, populer, tenar. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kelebihan seorang pemimpin haruslah mempunyai kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status.

4. Teori Kepemimpinan
a. Teori Berdasarkan Ciri-Ciri
Inti teori ini terlihat pada pendapat yang menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang sangat tergantung pada bakat yang dibawa sejak lahir. Penganut teori ini berpendapat bahwa seseorang mudah ditakdirkan untuk menjadi pimpinan sehingga bagaimanapun sejarah perjalanan hidupnya akan menimbulkan situasi yang memungkinkan tempat sebagai pemimpin yang efektif. Tegasnya teori ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin dilahirkan dan tidak karena apapun.
b. Teori Ketergantungan pada Keadaan
Ini pikiran dalam teori ini adalah bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dalam suatu organisasi sangat tergantung menyesuaikan gaya kepemimpinan yang menjadi karakteristik utamanya dengan tuntutan pelaksanaan tugas yang harus terselenggara dalam organisasi. Teori ini berkembang akibat adanya dua “kubu” pendapat bahwa gaya kepemimpinan seseorang adalah suatu “fixed” dalam arti bahwa yang bersangkutan tidak akan bisa merubah kepemimpinan dan oleh karena itu organisasilah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya tertentu itu. Pandangan lain mengatakan seorang pimpinan dengan tuntutan organisasi. Pandangan ini menekankan bahwa pimpinan dalam organisasi tidak mampu merubah kepemimpinannya, yang bersangkutan perlu diganti dengan seseorang yang kepemimpinannya dipandang cocok dengan ketentuan organisasi.
c. Teori Jalan Tujuan
Teori ini berpendapat bahwa tidak selalu mampu mengidentifikasikan kebutuhannya secara tepat, kalaupun ada mereka tidak selalu mengetahui gaya yang paling tepat untuk memuaskannya. Oleh karena itu pimpinan diharapkan mampu membantu para bawahannya dengan menunjukkan “jalan” yang seyogyanya ditempuh untuk para bawahan itu sehingga berbagai tujuan pribadinya tercapai sebagai bagian dari usaha pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan.
d. Teori Keperilakuan
Dilihat dari sudut teori ini ada dimensi yang menonjol dari seorang pemimpin yang pertama, prakarsanya dalam menentukan struktur tugas yang harus dilakukan oleh para bawahan. Kedua tingkat perhatian yang diberikan pada para bawahan dengan berbagai tujuan, harapan, cita-cita, keinginan, kepentingan dan kebutuhan. Kemampuan menentukan sikap tentang perlunya keseimbangan antara 2 dimensi tersebut dipandang sebagai salah satu faktor yang akan lebih menjamin keberhasilan kepemimpinan. Keseimbangan sangat penting karena dengan demikian tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi benarbenar terlaksana dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi.
e. Teori Situasi
Teori ini menyatakan bahwa seorang pimpinan dalam menjalankan tugasnya pasti menghadapi situasi yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan faktor situasional tersebut berbeda antara satu organisasi dengan organisasi yang lain. Adapun beberapa faktor situasi yang berpengaruh antara lain :
1) Kompleksitas tugas yang harus dilaksanakan.
2) Jenis pekerjaan, apakah bersifat rutin dan teknis atau menuntut sikap yang
inovatif dan kreatif.
3) Bentuk teknologi yang digunakan.
4) Persepsi sikap dan gaya manajerial yang pada dasarnya dimiliki oleh para
pemimpin.
5) Norma yang dianut oleh kelompok kerja dalam organisasi.
6) Rentang kendali yang dianggap paling tepat yang pada gilirannya dapat
mengarah kepada tingkat pendelegasian wewenang yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi.
7) Faktor ancaman, hambatan dan gangguan yang bila tidak dihadapi akan
mempunyai dampak negatif bagi organisasi.
f. Teori Pimpinan – Partisipasi
Ini teori ini menyatakan bahwa pada analisa terakhir efektivitas seorang manager sangat tergantung pada tingkat kemampuannya untuk mengikutsertakan para bawahannya dalam seluruh proses manajemen terutama dalam proses pengambilan keputusan.
g. Teori Penerimaan
Teori ini sering disebut dengan istilah “Acceptance Theory” yang intinya terletak pada pendapat yang menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tercermin pada pengakuan dan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa teori kepemimpinan adalah seseorang yang mempunyai bakat dan bisa memberi jalan.

5. Gaya Kepemimpinan
Menurut Fremont E. Kast dan Janes E. Rosenzweig (1995 : 536) ada 3 gaya kepemimpinan dalam kelompok yang relatif menonjol di mana 3 gaya ini berorientasi pada tugas, yaitu :
a. Kepemimpinan gaya otoriter adalah suatu kepemimpinan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan kegiatan yang akan dilakukan, diputuskan oleh pemimpin. Dengan ciri tersebut berarti memberikan instruksi secara pasti, menuntut kerelaan, menekankan pelaksanaan tugas, melaksanakan pengawasan tertutup, bawahan tidak mempengaruhi keputusan, memakai paksaan, ancaman dan kekuasaan untuk melakukan disiplin serta menjamin pelaksanaannya.
b. Kepemimpinan gaya demokratis adalah suatu gaya kepemimpinan di mana guru dilibatkan dalam penentuan sasaran strategi dalam pembagian tugas. Dengan ciri tersebut seperti memperhatikan pandangan bawahan, memberikan bimbingan pada masa-masa yang timbul dan melibatkan perasaan sendiri dalam membantu bawahan dalam mencapai tujuan organisasi.
c. Kepemimpinan gaya liberal adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan lebih banyak diserahkan pada bawahan. Ciri kepemimpinan ini yaitu bawahan menentukan tujuan dan mengambil keputusan sendiri, pemimpin hanya memberikan nasehat atau pengarahan sejauh yang diminta saja.
Dari ketiga gaya kepemimpinan di atas pada prinsipnya semuanya baik tergantung pada situasi yang terjadi. Kepemimpinan demokratik adalah yang terbaik dalam keadaan normal. Sedangkan dalam keadaan darurat kepemimpinan otokratik akan lebih baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa masing-masing gaya kepemimpinan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu kombinasi dari ketiganya disesuaikan dengan kondisi sekolah yang ada merupakan gaya kepemimpinan yang terbaik.

B. Konsep tentang Efektivitas
1. Pengertian Efektivitas Kerja
Menurut Kamus Administrasi, efektivitas kerja adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya efek/akibat yang dikehendaki kalau seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki maka perbuatan ini dinyatakan efektif kalau menimbulkan akibat atau mencapai maksud bagaimana dikehendaki.
Menurut Musanef, suatu pekerjaan ini efektif bila dapat diselesaikan tepat pada waktunya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Efektivitas menurut The Liang Gie (1981:21) adalah keadaan yang menimbulkan hasil seperti yang dikehendaki yang terjadi akibat sejumlah rangkaian efektivitas jasmaniah dan rohaniah yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini adalah guru mencapai tujuan tertentu.
Dengan demikian dapat disimpulkan yang dimaksud efektivitas kerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan aktifitas pekerjaan yang memberikan hasil atau akibat seperti yang dikehendaki sampai dengan waktu yang telah ditetapkan.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin diantaranya : a) kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, b) pengharapan dan perilaku atasan, c) karakteristik harapan dan perilaku bawahan, d) kebutuhan tugas setiap bawahan, e) iklim dan kebijakan organisasi serta, f) harapan dan perilaku rekanan.
Pemimpin kependidikan adalah semua orang yang bertanggung jawab dalam proses peningkatan mutu pada semua tingkatan dan satuan organisasi lembaga pendidikan. Peranan dan tanggung jawab pemimpin pendidikan dimaksud sudah tentu berbeda dalam tingkatan dan ruang lingkupnya sesuai dengan tingkatan dan satuan organisasi bersangkutan. Pemimpin utama (kepala sekolah) terus mempunyai visi yang jelas tentang lembaga pendidikan yang dipimpinnya, dan harus mampu menjelaskan visi itu kepada pemimpin-pemimpin bawahannya sehingga semua memahaminya dan dapat menjabarkannya menjadi program-program kerja. Di samping itu, pemimpin baik, pemimpin utama maupun pemimpin di bawahnya harus mampu membudayakan mutu sehingga dia dapat menjadi teladan bagi bawahannya.
Setidaknya 5 kemampuan dasar yang harus ada pada setiap pemimpin yaitu : a) visi yang jelas, b) kerja keras, c) ketekunan yang penuh ketabahan, d) pelayanan dengan rendah hati dan e) disiplin kuat.
Kepemimpinan kependidikan ialah ciri dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin kependidikan. Di atas telah disebut lima kemampuan dasar seorang pemimpin. Kelima kemampuan dasar itu merupakan unsur-unsur dasar kepemimpinan. Di samping itu wibawa, kharisma, keteladanan, tanggung jawab, keramah-tamahan dan kerapian adalah di antara ciri-ciri yang termasuk unsur-unsur kepemimpinan kependidikan. Setiap pemimpin pendidikan harus memiliki ciri kepemimpinan dimaksud, di samping ilmu dan teknologi yang menjadi spesialisasinya.
Setiap pemimpin kependidikan perlu menyadari dan melaksanakan prinsip-prinsip berikut : a) visi dan simbol : pemahaman tentang pandangan masa depan dan prinsip-prinsip lembaga pendidikan yang dipimpinnya perlu dikomunikasikan kepada seluruh tenaga kependidikan, pegawai administrasi anak didik, dan masyarakat, b) pemimpin perlu turun ke bawah bertemu dengan tenaga kependidikan, pegawai administrasi, anak didik dan masyarakat untuk berkomunikasi, bertukar pikiran dan memahami aspirasi mereka berkenaan dengan pengembangan lembaga, c) pemimpin harus memperhatikan kebutuhan dan aspirasi mereka, d) pemimpin harus mendorong tumbuhnya dan berkembangnya prakarsa dan inovasi seluruh SDM, e) pemimpin harus berusaha menumbuhkan rasa kekeluargaan, kebersamaan dan kesetiakawanan di lingkungan guru dan juga anak didik.
Sesuai dengan prinsip-prinsip dan pandangan di atas, pemimpin kependidikan mempunyai peranan penting dalam membudayakan mutu total sebagaimana diharapkan peran yang dimaksud antara lain : a) mengembangkan sistem komunikasi yang baik dengan seluruh guru dan anak didik, b) membimbing guru dan mendorong tumbuhnya motivasi untuk mengatasi berbagai masalah, c) mengembangkan kerja sama yang efektif dan efisien, d) mengembangkan peluang bagi tenaga kependidikan untuk berinisiatif meningkatkan mutu proses belajar mengajar (Yusuf Hanafiah, 1994).
Di samping itu, pemimpin yang sangat dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu memberdayakan guru yang memiliki kecakapan meningkatkan kinerja mereka.

***

BAB III
METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN

A. Metode Penulisan
Penulisan bersifat deduktif (otoriter, demokratis).
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang penulis gunakan dalam tugas akhir ini adalah :
1. Pengambilan data sekunder melalui internet yaitu pengambilan data informasi melalui kecanggihan teknologi komputer melalui internet.
2. Studi pustaka. Pengumpulan data melalui studi pustaka yaitu pengumpulan data dengan membaca buku-buku literatur dengan majalah yang berhubungan dengan pembuatan tugas akhir, adapun jenis data yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir adalah : Data sekunder yaitu data yang pengumpulannya bukan diusahakan sendiri oleh penulis. Data tersebut diperoleh melalui informasi seperti studi pustaka, bahan pustaka, internet yang menyangkut tentang kepemimpinan.
C. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tugas akhir merupakan garis besar penyusunan yang bertujuan memudahkan jalan pikiran dalam memahami secara keseluruhan isi tugas akhir. Sistem penulisan tugas akhir adalah sebagai berikut :
1. Bagian Pengantar Tugas Akhir: Berisi Judul Tugas Akhir, Halaman Pengesahan, Motto dan Persembahan, Kata Pengantar, dan Daftar Isi.
2. Bagian Utama Tugas Akhir terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN, Berisi Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, Berisi teori-teori tentang Pengertian, Sifat, Syarat, Teori, Gaya Kepemimpinan dan Pengertian, dan Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja .
BAB III METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN, Berisi tentang Metode Penulisan, Metode Pengumpulan Data dan Sistematika Penulisan.
BAB IV PEMBAHASAN MASALAH, Berisi tentang Pengaruh Kepemimpinan terhadap Efektivitas Kerja.
BAB V PENUTUP, Berisi Simpulan dan Saran.
3. Bagian Pelengkap Tugas Akhir, Berisi Daftar Pustaka.
D.
***

BAB IV
PEMBAHASAN MASALAH

Pengaruh Kepemimpinan terhadap Efektivitas Kerja
Keberhasilan manajemen suatu organisasi ditentukan oleh efektivitas kepemimpinan. Karena kepemimpinan adalah inti dari manajemen. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki serta melaksanakan kepemimpinannya dengan baik agar memperoleh sukses dalam melaksanakan tugasnya. Seorang pemimpin mengharapkan guru dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, tetapi kalau ternyata tidak dapat menyelesaikan dengan baik, maka perlu diketahui sebab-sebabnya. Ada kemungkinan guru memang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya, karena faktor lingkungan kerja yang mengakibatkan dampak menurunnya efektifitas kerja guru. Menurut Hall T. Dauglas dan Goodale G. James dalam Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu proses melalui mana kesesuaian optimal di antara guru, pekerja, organisasi dan lingkungan. Sehingga para guru mencapai tingkat kepuasan dan performasi yang mereka inginkan dan organisasi memenuhi tujuannya.
Salah satu latar belakang yang mempunyai kaitan erat dengan efektivitas kerja guru di mana merupakan komponen dalam usaha untuk mencapai tujuan sekolah adalah latar belakang kerja di mana terdapat guru tersebut melaksanakan pekerjaan seperti diketahui bahwa lingkungan kerja merupakan segenap keadaan fisik dan non fisik yang ada di sekitar guru yang berpengaruh pada saat melaksanakan tugas dengan baik dengan menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan sesuai dengan kebutuhan guru sehingga mempengaruhi efektivitas guru.
Dalam efektivitas kepemimpinan kepala sekolah berkaitan dengan manajemen adalah segala upaya yang dilakukan dengan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam manajemen dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut :
1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik,
lancar dan produktif.
2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan
mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan
pegawai lain di sekolah.
5. Bekerja dengan tim manajemen, serta
6. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
Pidarta (1998) mengemukakan ada 3 macam ketrampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk mensukseskan kepemimpinannya yaitu ketrampilan untuk memahami dan mengoperasi organisasi; ketrampilan untuk bekerja sama, memotivasi, memimpin serta ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Tanpa itu semua guru tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan sekolahan (Taman Kanak-Kanak) tidak akan maju.


***

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Penulis dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah di Taman Kanak-Kanak terhadap efektivitas kerja guru sangatlah penting. Tanpa adanya kepemimpinan kepala TK, efektivitas kerja guru tidak akan berjalan dengan lancar, ini dikarenakan seorang pemimpin adalah otak organisasi. Seorang pemimpin mengharapkan guru dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

B. Saran
Setelah terselesainya tugas akhir ini penulis mencoba memberikan saran yang nantinya mungkin dapat berguna bagi semua pihak. Adapun sasarannya antara lain : sebaiknya seorang pemimpin dapat meningkatkan efektivitas kerja guru yang didukung oleh lingkungan kerja yang kondusif sebab tanpa itu semua guru tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
C.


***

DAFTAR PUSTAKA

Agus Dharma. 1994. Gaya Kepemimpinan yang Efektif bagi Para Manajer. CV. Sinar Baru. Jakarta.
Kartini Kartono. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta. CV. Rajawali.
Kast, E. Fremont dan Rosenzweig, E. James. 1995. Organisasi dan Manajemen Bumi Aksara. Jakarta.
Winardi. 2000. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Penerbit Alumni Bandung.