Rabu, 29 Mei 2013

Strategi Mengoptimalkan Program Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini



Strategi Mengoptimalkan Program Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini
Disadari bahwa pengembangan program pembelajaran sains pada anak usia dini untuk saat ini masih dihadapkan pada berbagai kendala.
1.      Keterbatasan sarana prasarana sebagai penunjang terselenggaranya pembelajaran sains yang efektif dilembaga –lembaga pendidikan usia dini yang ada di Indonesia. Keterbatasan sarana tersebut, mulai dari kecukupan gedung dan ruangan kegiatan,dukungan laboraturium, dukungan sarana aktivitas luar kelas, dukungan alat – alat  dan sumber belajar sains yang memadai. Dan hal tersebut menghambat dalam melahirkan SDM yang diharapkan untuk mengisi masa depan bangsa
2.      Keterbatasan kemampuan sekolah dalam mengelola berbagai potensi dan sumber yang tersedia. Masalah ini dapat terjadi disekolah manapun banyak sekolah yang cukup potensial dukungannya, terutama sarana prasarana, tetapi kemampuan manajemannya terbatas. Kelemahan pada bagian ini juga akan mengurangi efektifitas pencapaian program pembelajaran sains pada sekolah.
3.      Secara khusus terletak pada masih rendahnya motivasidan kreativitas guru dalam menyelenggarkan pembelajaran sains. Secara akademis dapat saja memang para guru banyak yangbelum memahami hakekat sains dan teknis pembelajarannya yang tepat pada anak usia dini. Sesungguhnya alasan yang mendasar dirujukkan pada aspek etos kerja dan dedikasi, dan mungkin masih banyak penyebab lainnya, tetapi secara akumulasi kita melihatnya bahwa motivasi dan kreatifitas guru-guru sains pada anak usia dini belum setinggi sesuai harapan, hal ini nampak dari cara mengajar mereka, kemauan mereka meningkatkan kemampuannya, ketekuan mereka mencari cara- cara baru,media  baru ,sumber  baru dan sebagainya.

Permasalahan diatas adalah berpijak pada ketidakmampuan sekolah dalam mengadaptasikan program pembelajaran sains yang berakar pada lemahnya guru dan staf dalam mengimplementasikan pembelajaran sains disekolah masing – masing. Permasalan tersebut tidak boleh berlarut – larut harus dicarikan solusinya sehingga akar masalahnya secara berangsur – angsur dapat dihilangkan serta pembelajaran sains pada lembaga – lembaga pendidikan anak usia dini meskupun dihadapkan berbagai keterbatasaan tetap dapat dilaksanakan secara optimal dan berdampak pada hasil belajar yang tinggi nilainya bagi setiap anak. Strategi dalam mengoptimalkan pembelajaran sains dan menguraangi berbagai kendala :
A.    Pengembangan Sudut (Area) Sains Terintegrasi (Menyatu)
Untuk mengatasi keterbatsan sarana termasuk keterbatasan ruang yang akan digunakan dalam pembelajran sains,maka disarankan kepada sekolah –sekolah yang memang terbatas sarananya, agar memodifikasi atau mengemas sudut ( area) pembelajaran sains secara terintegrasi. Jika ruangan terbatas, maka sudut yang dibuat cukup satu yaitu sudut IPA. Dengan demikian dari sisi pemanfaatan ruangan akan menjadi efisien. Dalam penyampaian dapat ditampilkan secara keseluruhan materi terkait sains, ataupun secara bergiliran. Dalam merotasi isi sudut (area) belajar sains, dapat mempertimbangkan beberapa hal diantaranya minat, motivasi anak, kebutuhan anak, ketersediaan sarana penunjang dan sebagainya. Dengan demikian model penyajian sudut sains secara terintegrasi akan mampu mengatasi berbagai kelemahan yang selama ini bdihadapi oleh banyak lembaga pendidikan usia dini yang tersebar di Indonesia.
B.      Pembuatan Kebun Sekolah
Gagasan pembuatan kebun sekolah sebetulnya sudah menggelinding cukup lama, baik pada sekolah-sekolah di indonesia maupun luar negeri. beberapa sekolah yang telah mengadakan kebun sekolah juga, nampaknya belom optimal menjadikan kebun tersebut sebagai bagian dari pembelajaran anak-anak. dengan menyediakan kebun sekolah, maka perkenalkanlah sains kepada mereka dengan kegiatan-kegiatan praktis (praktek)yang lebih bermakna , dengan carabercocok tanam,keterlibatan dalam memelihara tanaman, membuat lahan untuk tanaman, mengenal pemupukan, bahkan sampai bagaimana memanen hasil dan sebagainya.
Dengan melibatkan anak belajar dan bekerja melalui kebun sekolah, melatih mereka menyayangi pekerjaan dan menanamkan berdisiplin, misal dengan menyiram tanaman. dari sisi guru, ketersedian kebun sekolah merupakan medium yang efektif bagi demontrasi berbagai konsep dan kajian sains yang seharusnya dikuasai oleh anak, dengan kata lain kebun sekolah merupakan laboratorium alamiah.
Dengan pengenalan kebun sekolah sejak dini, maka pola perilaku dan kerangka berpikir anak akan lebih mengakar perhatiannya pada pengendalian, pemanfaatan dan bisa jadi terhadap pelestarian berbagai sumber kesejahteraan dan keseimbangan lingkungan.
Diantara keadaan yang perlu mendapatkan perhatian agar sesuai dengan keadaan sekolah adalah :
1.      keseimbangan isi atau tumbuhan yang ditanam, baik sejenis maupun kaitannya dengan materi pembelajaran sains.
2.      keharmonisan antar tanaman, cara menenam dan tinggi rendah tanaman yang ditanam dikebun sekolah.
3.      kaitannya dengan karakteristik anak,misalkan :kemampuan anak merawat, ketinggian anak menjangkau tanaman, kemampuan anak mengobservasi tanaman, dan sebagainya.
4.      kemungkinan mempertegas identitas tanaman, misalkan: dengan memberi lebel tanaman dengan informasi nama, umur, asal, dan sebagainya.
5.      kemungkinan periode pergantian, misalnya: tanaman-tanaman yang berumur pendek, seperti: sayuran dan bunga-bungaan.
6.      melibatkan anak dalam kegiatan. sebaiknya keterlibatan anak pada saat pembelajaran melalui kebun dapat terlibat secara tuntas dan utuh, maksudnya anak diperkenalkan mulai dari penyiapan tanah, penyemaian, penanaman, pemeliharaan,hingga penuaian(panen).
C. Pemanfatan Sumber Belajar Yang Tersedia dan Terjangkau
Sumber belajar untuk pembelajaran sains yang sangat melimpah, asalkan guru mau menggali dan mengangkat sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah.
Segala sesuatu berdasarkan tinjauan sains sesungguhnya merupakan bagian yang dapat diangkat menjadi sumber belajar sains seperti bumbu dapur,krikil, rumput-rumput, daun—daun, tanah, air di sekolah dan rumah merupakan hal mendasar yang merupakan bagian dari pembelajaran sains yang bahkan harus diperkenalkan pada anak.Bahwa materi sains terbaik hendaklah dipilih mulai yang paling dekat dengan anak menuju yang jauh.
Jadi, dapat dikatakan sesungguhnya lingkungan anak merupakan laboratorium alamiah sains yang dapat menggiring anak ke arah pengenalan sains yang menyeluruh dan utuh. Dan saran penulis, identifikasi dan eksplorasi oleh guru segala sumber yang tersedia untuk dijadikan sebagai media dalam memfasilitasi sampainya sains pada anak usia dini.
D. Peningkatan Kemampuan dan kreativitas Guru Sains
Bekal kemampuan dan kreativitas yang tinggi akan mampu memfasilitasi dan menemukan cara-cara yang produktif dalam mendongkrak pengenalan dan penguasaan sains pada anak usia dini. Kemampuan kreatif akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi pembelajaran sains, misalkan dapat memanfaatkan barang-barang bekas untuk dimanfaatkan dalam kegiatan sains bersama anak.
Untuk itu kata kunci agar optimalisasi pembelajaran sains pada anak usia dini dapat dicapai, maka secara simultan dan konsisten dari waktu ke waktu guru hendaklah senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam membelajarkan sains pada anak-anak, sehingga ditemukan car-cara yang paling efektif dalam mewujudkan segala tujuan pembelajaran sains yang diharapkan.
            E. Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Berkomunikasi Dengan Anak
Salah satu keterampilan yang sangat besar pengaruhnya bagi penguasaan sains oleh anak-anak adalah kemampuan guru dalam mengkomunikasikan sains kepada anak-anak. Terdapat tiga bentuk yang terkait dengan komunikasi sains kepada anak-anak, yaitu kemampuan guru dalam menyederhanakan konsep sains, kemampuan dalam mendekatkan anak pada sains, serta kemampuan guru dalam memahami ungkapan (ekspresi) sains yang ditampilkan anak.
Guru selayaknya mampu mengemas pesan-pesan sains secara sederhana kepada anak. Sederhananya kemasan pesan akan memudahkan anak dalam menguasai sains. Tidak perlu bagaimana bahan bakarnya, staternya, rantainya dan sebagainya.
Kemampuan dalam mendekatkan anak pada sains, maksudnya adalah kemampuan guru dalam mencari cara atau media komunikasi yang sesuai dengan karakteristik anak. Untuk itu komunikasi sains pada anak yang dilakukan dengan belajar sambil bermain, melalui gerak dan lagu, melalui sentuhan-sentuhan panca indera merupakan pilihan yang paling tepat.
Kemampuan berikutnya adalah dalam memahami ungkapan (ekspresi) sains yang ditampilkan anak. Dengan demikian komunikasi akan efektif jika guru mampu menangkap pesan-pesan yang disajikan anak. Banyak penafsiran atas cara komunikasi tersebut, pertama dapat ditafsirkan anak takut dan minta ditemani guru dalam mengenali ulat, kedua mungkin anak akan menanyakan nama ulat tersebut, ketiga mungkin anak minta sekedar ditemani, dan seterusnya. Apabila salah menafsirkan, maka akan menimbulkan kegagalan berkomunikasi dengan mereka, untuk itu pelajarilah cara-cara dan bagaimana anak berekspresi.
            F . Membangun Hubungan Baik dengan Orang Tua dan Masyarakat Potensial
Berbagai keterbatasan yang dihadapi sekolah sesungguhnya dapat dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang dianggap potensial membantu, salah satunya adalah orang tua. Jika sekolah secara nyata memamng dihadapkan pada berbagai keterbatasan, sebaiknya pihak pertama yang dikontak oleh sekolah adalah orang tua. Rancanglah bagaimana mendekati mereka, sampaikanlah program sekolah secara terbuka dan tawarkanlah kepada mereka tentang peran yang dapat diambilnya.
Untuk kasus Indonesia sebetulnya sudah tersedia badan yang mirip misalnya yang telah lalu bersama POMG (persatuan Orang Tua Murid dan Guru), tetapi nampaknya kurang bahkan tidak efektif dalam membangun program sekolah sesuai harapan. Harapannya adalah dewan sekolah tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa keuntungan jika perlibatan orang tua dapat dikelola secara baik, diantaranya :
1.      Keuntungan bagi orang tua atau keluarga anak, diantaranya :
·         Mengembangkan rasa memiliki atas program atau kurikulum sekolah
·         Dapat melihat bagaimana anaknya berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain
·         Dapat lebih memahami perkembangan anaknya
·         Dapat lebih mengetahui dan menghargai tugas dan beban para guru dan pengajar
·         Dapat mempelajari kegiatan-kegiatan yang menyenangkan yang dapat dikembangkan dirumah
·         Dapat bertemu dan berkomunikasi dengan teman anak-anak mereka
·         Dapat menjadi sarana dalam membangun persahabatan yang abadi dengan orang tua dan anak lain
·         Dapat menindaklanjuti kegiatan di sekolah menuju kegiatan anak di rumah, sehingga terdapat keharmonisan dan konsisten antara program rumah dengan program sekolah

2.      Keuntungan bagi pihak sekolah terutama bagi para guru, di antaranya :
·         Para guru dapat mengetahui dan mempelajati nagaiman para orang tua memotivasi para anaknya dalam kegiatan pembelajaran
·         Mengamati bagaimana orang tua atau anggota keluarga menolong anak mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapi anak
·         Dengan pelibatan orang tua dalam pembelajaran, para guru memiliki waktu yang lebih leluasa bersama seorang anak atau berkesempatan untuk bekerja pada kelompok yang lebih kecil.
·         Para guru dapat memahami berbagai keragaman budaya dan sosial setiap keluarga anak.
·         Para guru dapat mempelajari berbagai keterampilan khusus yang dikuasai orang tua atau keluarga, misalnya keterampilan memasak, dan lain-lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar