Rabu, 29 Mei 2013

TEORI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK



TEORI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
v  Pengertian 
Dilhat dari fungsinya, bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantonim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. 

Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan perkernbangan tersebut, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan scbagainya. Orang tua sangat bertanggung jawab alas kesuksesan belajar anak dan seyogyanya selalu berusaha meningkatkan potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal. Pada gilirannya anak akan dapat berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia karena dengan melalui berkomunikasi dengan lingkungan, bersedia memberi dan menerima segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya. 
Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan scseorang disimbolisasikan agar dapat mcnyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karera itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata.

Teori Perkembangan Bahasa Anak.
Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa aank tentunya tidak terlepas dari pandangan, hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah telah mencatat adanya tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak. Teori tersebuat adalah sebagai berikut:

A.    Teori Nativis
Pandangan ini diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau nature. pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah di programkan.

Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, anak sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Jadi lingkungan sama sekali tidak punya pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa pertama (acquisition).
Para ahli nativis berpendapat bahwa bahasa merupakan pembawaan dan bersifat alamiah dan meyakini bahwa kemampuan berbahasa sebagaimana halnya kemampuan berjalan, merupakan bagian dari perkembangan manusia yang dipengaruhi oleh kematangan otak, beberapa bagian neurologis tertentu dari otak manusia memiliki hubungan dengan perkembangan bahasa, sehingga kerusakan pada bagian tersebut dapat menyebabkan hambatan bahasa.
Menurut Chomsky , Howe, Maratsos (dalam miller, 1981) berpandangan bahwa ada keterkaitan antara faktor biologis yang menekankan membentuk individu menjadi makhluk linguistik dan perkembangan bahasa. Chomsky (dalam dworetzky, 1984) mengembangkan toeri yang komplek tentang bahasa yang disebut transformation grammer theory. Menurut Chomsky, arti dari kalimat atau kandungan semantik dalam kalimat berkaitan dengan struktur yang lebih dalam yang merupakan bagian alat penguasaan bahasa.
Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Device) LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut. Dalam belajar bahasa, individu memiliki kemampuan tata bahasa bawaan untuk mendeteksi kategori bahasa tertentu seperti fonologi, sintaksis dan sematik. Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dan rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari dalam waktu singkat melalui metode seperti peniruan atau imitation. Alat ini yang merupakan pemberian biologis yang sudah di programkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa. LAD dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses bahasa, dan tidak punya kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya. Dan juga bahasa pertama itu penuh dengan kesalahan dan penyimpangan kaidah ketika pengucapan atau pelaksanaan bahasa (performance). Manusia tidak mungkin belajar bahasa pertama dari orang lain seperti klaim skinner menurut chomsky bahasa hanya dapat diuasai oleh manusia, karena:
1.      Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), pola perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungan hanya memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa.
2.      Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat , tidak bergantung pada  lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorisme.

Lenneberg (1967) memiliki pendapat yang senada dengan ahli lain bahwa belajar bahasa adalah berdasarkan pengetahuan awal yang diperoleh secara biologis. Para ahli nativis menjelaskan bahwa anak dilahirkan dengan mekanisme atau kapasitas internal sehingga dapat mengorganisasi lingkingannya dan mampu mempelajari bahasa.
Para ahli nativis menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa dipengaruhi oleh kematangan seiring dengan pertumbuhan anak. Pandangan para ahli nativis yang memisahkan antara belajar bahasa dengan perkembangan kognitif dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak belajar bahasa dari ligkungan sekitarnya dan memiliki kemampuan untuk mengubah bahasanya jika lingkungannya berubah.

B.     Teori Behavioristik
Pandangan ini diwakili oleh B.F Skinner, yang menekankan bahwa proses pemerolahan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratlan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan sesuatu yang di lakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku-perilaku manusia lainnya. Oleh karena itu, mereka lebih suka menggunakan istilah perilaku verbal (verbal behavior), agar tampak lebih mirip dengan perilaku kain yang harus dipelajari.

Menurut kaum behavioris kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Kaum behavioris bukan hanya tidak mengakui peran aktif si anak dalam proses penerolehan bahasa, malah juga tidak mengakui kematangan anak. Proses perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Dan kemampuan yang sebenarnya dalam berkomunikasi adalah dengan prinsip pertalian S-R (stimuls-respons) dan proses peniruan-peniruan.

Para ahli behavioristik berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa membawa kemampuan apapun. Dengan demikian anak harus belajar melalui pengondisian daqri lingkungan, proses imitasi, dan diberikan reiforcement (penguat).
Para ahli perilaku menjelaskan beberapa faktor penting dalam mempelajari bahasa yaitu imitasi, rewart, reinforcement dan frekuensi suatu perilaku. Skinner, (1957) memandang perkembangan bahsa dari sudut stimulus-respon, yang memandang berpikir sebagai proses internal bahasa mulai diperoleh dari interaksi dalam lingkungan. Bandura, (1997) memandang perkembangan bahasa dari sudut teori belajar sosial. Hergenhahn, (1982) Ia berpendapat bahwa anak belajar bahasa dengan melakukan imitasi atau menirukan suatu model yang berarti tidak harus menerima penguatan dari orang lain.
Pandangan behavioristik  dikritik berkenaan dengan kenyataan bahwa anak pada suatu saat dapat membuat suara-suara  baru dalam awal perkembangan bahasannya, dan dapat membentuk kalimat-kalimat baru yang berbeda dari yang pernah diajarkan padanya.




C.     Teori Kognitif
Jean Piaget (1954) menyatakan bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkah salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urut-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa.

Piaget menegaskan bahwa stuktur yang kompleks dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam, dan bukan pula sesuatu yang dipelajari dari lingkungan. Struktur bahasa itu timbul sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak dengan lingkungan kenahsaannya (juga lingkungan yang lain). 

Para ahli kognitif berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa fator seperti peran aktif anak terhadap lingkungan, cara anak memproses suatu informasi, dan menyimpulkan struktur bahasa.
Menurut Piaget (Hergenhahn, 1982), berpikir sebagai prasyarat berbahasa, terus berkembang secara progresif dan terjadi pada setiap tahap perkembangan sebagai hasil dari pengalaman dan penalaran. Perkembangan anak secara umum dan perkembangan bahasa awal anak berkaitan erat dengan berbagai  kegiatan anak , objek, dan kejadian yang mereka alami dan menyentuh, mendengar, melihat, merasa, dan membau.
Menurut piaget struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul secara tak terelakkan sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognisi anak dengan lingkungan kebahasaannya.
Vygotsky (1986), mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan erat dengan kebudayaan dan masyarakat tempat anak dibesarkan. Vygotsky menggunakan istilah zona perkembangan proximal (ZPD) untuk tugas-tugas yang sulit untuk dipahami sendiri oleh anak. ZPD juga memiliki batas yang lebih rendah merupakan tingkat masalah yang dipecahkan anak dan batas yang lebih tinggi merupakan tingkat tanggung jawab ekstra yang dapatditerima anak dengan bantuan orang dewasa.
Teori kognitif dikritik berkenaan dengan pandangan bahwa bahasa memiliki pengaruh yang kecil terhadap perkembangan kognisi . pendapat ini bertentangan dengan penelitian yang membuktikan bahwa pengetahuan baru dapat diperoleh seseorang melalui berbicara dan menulis.
Jika Chomsky berpendapat bahwa lingkungan tidak besar pengaruhnya pada proses pematangan bahasa, maka Piaget berpendapat bahwa lingkungan juga tidak besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelaktual anak. Perubahan atau perkembangan intelaktual anak sangat tergantung pada keterlibatan anak secara aktif dengan lingkungannya.

ü  Periode Perkembangan Bahasa Anak
Menurut study yang dilakuan sebelum tahun 1960, minat bahasa anak mulai timbul pada dekade pertama abad ke-20 yang dipelori oleh ilmuan di bidang psikologi ataupun pedagogi, antara lain W. Stern, W. Preyer, dan G. Stumpf. Pada umumnya mereka mempelajari buku harian anak-anaknya kemudian membandingkan hasilnya. Tombullah argumentasi-argumentasi mengenai perolahan bahasa anak.

Pada periode sesudah tahun 1960 terjadi perubahan yang cukup berarti. Disamping disebabkan karena munculnya banyak tokoh dengan teori yang di bawanya, juga dikarenakan oleh kemajuan di bidang teknologi, seperti adanya tape recorder, alat video, perhatian terhadap perkembangan bahasa anak semakin meningkat. Dengan suatu alat, bahasa anakdapat diselidiki, dengan merekam dan kemudian menganalisisnya. Tokoh-tokoh yang banyak melakukan penyelidikan berkaitan dengan hal tersebut adalah W. Miller (1964), P. Menyuk (1963), R. Brown (1964), dan Braine (1963).

M. Schaerleakens (1977) membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat periode. Perbedaan fase-fase ini berdasrkana pada cirri-ciri tertentu yang khas pada setiap periode. Adapun periode-periode tersebut sebagai berikut:

• Periode Prelingual (usia 0 - 1 tahun)
Disebut demikian karena anak belum dapat mengucapkan ‘bahasa ucapan’ seperti yang diucapkan orang dewasa, dalam arti belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku. Pada periode ini anak mempunyai bahasa sendiri, misalnya mengoceh sebagai ganti komunikasi dengan orang lain. Contohnya baba,mama, tata, ayng mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental pada usia 9-10 bulan.

Pada periode ini, perkembangan yang menyolok adalah perkembangan comprehension, artinya penggunaan bahasa secara pasif. Misalnya anak mulai bereaksi terhadap pembicaraan orang dengan melihat kepada pembicara dan memberikan reaksi yang berbeda terhadap suara yang ramah, yang lembut, dan yang kasar.

• Periode Lingual Dini (1 - 2,5 tahun)
Pada periode ini anak mulai mengucapkan perkataannya yang pertama, meskipun belum lengkap. Misalnya: atia (sakit), agi (lagi), itut (ikut), atoh (jatuh). Pada masa ini beberapa kombinasi huruf masih sukar diucapkan, juga beberapa huruf masih sukar untuk diucapkan seperti r, s, k, j, dan t. pertambahan kemahiran berbahasa pada periode ini sangat cepat dan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu:

a.    Periode kalimat satu kata ( holophrare)
Menurut aturan tata bahasa, kalimat satu kata bukanlah suatu kalimat, karena hanya terdiri dari satu kata, tetapi para ahli peneliti perkembangan bahasa anak beranggapan bahwa kata-kata pertama yang diucapkan oleh anak itu mempunyai arti lebih dari hanya sekedar suatu ‘kata’ karena kata itu merupakan ekspresi dari ide-ide yang kompleks, yang pada orang deawasa akan dinyatakan dalam kalimat yang lengkap.
Contohnya: ucapan “ibu” dapat berarti:
Ibu kesini! Ibu kemana? Ibu tolong saya!
Itu baju ibu, Ibu saya lapar, dst.

Pada umunya, kata pertama ini dipergunakan untuk member komentar terhadap obyek atau kejadian di dalam lingkungannya. Dapa berupa perintah, pemberitahuan, penolakan, pertanyaan, dll. Bagaimana menginterpretasikan kata pertama ini tergantung pada konteks waktubkata tersebut di ucapkan, sehingga untuk dapat mengerti apa maksud si anak dengan kata tersebut kita harus melohat atau mengobservasi apa yang sedang dikerjakan anak pada waktu itu. Intonasi juga sangat membantu untuk mempermudah menginterpretasikan apakah si anak bertana, member tahu, atau memerintah.

b.    Periode kalimat dua kata
Dengan bertambahnya perbendaharaan kata yang diperolah dari lingkungan dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi-fungsi lain pada anak, maka terbentuklah pada periode ini kalimat yang terdiri dari dua kata.
Pada umunya, kalimat kedua muncul pertama kali tatkala seorang anak mulai mengerti suatu tema dan mencoba untuk mengekspresikannya. Hal ini terjadi pada sekitar usia 18 bulan, dimana anak menentukan bahwa kombinasi dua kata tersebut mempunyai hubungan tertentu yang mempunya makna berbeda-beda, misalnya makna kepunyaan (baju ibu), makna sifat (hidung pesek), dan lain sebagainya.

c.    Kaimat lebih dari dua kata
Kalau ada lebih dari dua kata di bidang morfologi belum terlihat perkembangan yang nyata, maka pada periode kalimat lebih dari dua kata sudah terlihat kemampuan anak di bidang morfologi. Keterampilan membentuk kalimat bertambah, terlihat dari panjangnay kalimat, kalimat tiga kata, kalaimat empat kata, dan seterusnya. Pada periode ini penggunaan nahasa tidak bersifat egosentris lagi, melainkan anak sudah mempergunakan untuk komunikasi dengan orang lain, sehingga mulailah terjadi suatu hubungan yang sesungguhnya antara anak dengan orang dewasa.

• Periode Diferensiasi (usia 2,5 - 5 tahun)
Yang menyolok pada periode ini adalah keterampilan anak dalam mengadakan diferensiasi dalam penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat. Secara garis besar ciri umum perkembangan bahasa pada periode ini adalah sebagai berikut:

-       Pada akhir periode secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya hukum-hukum tatabahasa yang pokok dari orang dewasa telah dikuasai.
-       Perkembangan fonologi boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan konsonan yang majemuk dan sedikit kompleks.
-       Perbendaharaan kata sedikit demi sedikit mulai berkembang.Kata benda dan karta kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam pemakaiannya, hal ini ditandai dengan penggunaan kata depan, kata gati dank at kerja bantu.
-       Fungsi bahasa untuk komunikasi benar-benar mulai berfungsi. Persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, membri tahu dan lain-lain.
-       Mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan munculnya kata jamak, perubahan akhiran, perubahan kata karja, dan lain-lain.

• Perkembangan bahas sesudah usia 5 tahun
Dalam periode ini ada anak dianggap telah menguasai struktur sintaksis dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat membuat kalimat lengkap. Jadi sudah tidak terlalu banyak masalah. Menurut Piaget, pada periode ini perkembangan anak di bidang kognisi masih berkembang terus sampai usia 14 tahun, sedangkan peranan kognisi sanga t besar dalam penggunaan bahasa. Dengan masih terus berkembangnya kognisi, dengan sendirinya perkembangan bahasa juga masih berkembang. 

Ada beberapa penelitian tentang perkembangan bahasa sesudan usia 5 tahun, antara lain penelitian yang dilakukan oleh A. Karmiloff Smith yang menyelidiki bahasa anak-anak sekolah (1979) yang menyatakan bahwa antara usia 5 – 8 tahun muncul cirri-ciri baru yang khas pada bahasa anak, yaitu kemampuan untuk mengerti hal-hal yang abstrak pada taraf yang lebih tinggi. Baru kemudian sesudah anak usia 8 tahun bahasa menjadi alat yang betul-betuk penting baginya untuk melukiskan dan menyampaikan pikiran.

Dalam bidang semantic terlihat kemajuan-kemajuan yang tercermin pada penambahan kosa kata, dan penggunaan kata sambung secara tepat. Tetapi aturan sintaksis khusus untuk pembuatan kalimat konteks baru dikuasai secara bertahap antara usia 5 – 10 tahun. Selanjutnya pada usia 7 tahun baru dapat menggunakan kalimat pasif, maksudnya mengerti aturan-aturan tatabahasa mengenai prinsip-prinsip khusus, bertidak ekonomis dalam mengungkapkan sesuatu serta menghindari hal-hal yang berlebihan. Sampai SMP keterampilan bicara lebih meningkat, sintaksis lebih lengkap dengan variasi-variasi struktur dan variasi-variasi kata, baik kekomplekan kalimat tulis maupun lisan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa:

1. Kesehatan 
Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya lebih kuat untuk menjadianggauta kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggauta kelompok tersebut. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus menerus, maka anak tersebut cenderungakan mengalami kelambatan atau kesulitan dala perkembangan bahasannya. 

2. Intelegensi
Anak yang memiki kecerdasan tinggi belajar berbicara lebih cepat dan memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya rendah. 

3. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan hal ini menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan anak yang berasal dari keluargayang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan)perkembangan bahasa anaknya atau kedua-duanya (Hetzer & Raindrorf dalam E. Hurlock, 1956).

4. Jenis Kelamin
Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan vokalisasi antara laki-laki dan perempuan. Namun mulai usia dua tahun, anak perempuan menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari pada anak pria. Pada setiap jenjang umur, anak laki-laki lebih pendak dan kurang betul tatabahasanya, kosa kata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang tepat ketimbang anak perempuan.

5. Hubungan Keluarga 
Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa dengan anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat menakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya.
Hubungan yang sehat itu bisa berupa sikap orang tua yang keras\kasar, kurang kasih sayang dan kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contohdalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan. Seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan. 

6. Keinginan Berkomunikasi 
Semakin kuat keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan semakin bersedia menyisihkan waktu dan usaha yang diperlukan untuk belajar. 
7. Dorongan 
Semakin banyak anak didorong untuk berbicara, dengan mengajaknya bicara dan didorong menanggapainya, akan semakin awal mereka belajar berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya. 

8. Ukran Keluarga
Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih awaldan lebih baik ketimbang anak dari keluarga besar. Karena orang tua dapat menyisahkan waktu yang lebih banyak untuk mengajarkan anaknya berbicara. 

9. Urutan Kelahiran 
Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih unggul ketimbang anak yang lahir kemudia. Hal ini karena orang dapat menyisihkan waktunya lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir pertama dalam belajar berbicara ketimbang untuk anak yang lahir kemudian. 

10. Metode Pelatihan Anak
Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang menekankan bahwa ”anak harus dilihat dan didengar” merupakan hambatan belajar. Sedangkan pelatihan yang memberikan keleluasan dan demokratis akan mendorong anak untuk belajar.

11. Kelahiran Kembar
Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembanga bicaranya terutamakarena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya dan hanya memahamilogat khusus yang mereka miliki. Hal ini melamahkan motivasi mereka untuk belajar berbicara agar orang lain dapat memahami mereka.

12. Hubungan Dengan Teman Sebaya
Semakin banyak hubungan anak dengan teman sebayanya, dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima sebagai anggauta kelompok sebayanya akan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar berbicara. 

13. Keperibadian 
Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderungkemampuan bernicaranya lebih baik , baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. 
D. Gangguan Dalam Perkembangan Berbicara
Disamping faktor tersebut terdapat beberapa gangguan yang harus diatasi oleh anak dalam rangka belajar berbicara, antara lain:

• Tangisan yang berlebihan
Tangisan yang berlebuhan dapat menimbulkan gangguan pada fisik, antara lain berupa kurangnya energi, sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Dan gangguan psikis anak yaitu berupa perasaan ditolak atau tidak dicintai.

• Anak sulit memahami pembicaraan orang lain
Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan. Hal ini disebabkan kurangnya perbendaharaan kata pada anak dan orang tua yang sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa, anak akan lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari sebab kesulitan bahasa anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengartikan suatu pembicaraan.



v  KESIMPULAN 
Setiap manusia mengawali komunikasi dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin meningkat dan meluas. Dilhat dari fungsinya, bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. 
Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa aank tentunya tidak terlepas dari pandangan, hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Mengenai hal ini terdapat beberapa toeri tantang perkembangan Bahasa, diantaranya toeri natavisme, kognitivisme, dan behaviorisme.
Perkembangan bahasa terbagi atas tiga periode, yaitu periode prelingual, periode lingual dini dan periode diferensiasi. Mulai periode linguistik dini inilah anak mulai mengucaokan kata-kata yang pertama yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua.

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa antara lain kesehatan, kecerdasan, keadaan sosial ekonomi, jenis kelamin, keinginan berkomunikasi, dorongan, ukuran keluarga, urutan kelahiran, metode pelatihan anak, kelahiran kembar, hubungan dengan teman sebaya, dan kepribadian.
Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak dalam belajar berbicara, antara lain disebabkan karena tangisan yang berlebihan dan kesulitan dalam memahami isi pembicaraan orang lain bagi anak.

































Daftar Pustaka
Hurlock, B. E. Perkembangan Anak. 1978. Jakarta: Erlangga. 
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan. 2000. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mar’at, Samsunuwiyati. Psikolinguistik . 2005. Bandung: Refika Aditama.
Chaer, Abdul. Psikolingustik Kajian Teoretik. 2003. Jakarta : Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar