Selasa, 11 Juni 2013

Karakteristik Evaluasi Pendidikan di Taman Kanak-Kanak



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Karakteristik Evaluasi Pendidikan di Taman Kanak-Kanak
1.      Pengertian dan Tujuan Evaluasi Anak Usia Taman Kanak-Kanak
James E. Johnson (1993) mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses memilih, mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk membuat keputusan. Meskipun terdapat berbagai alasan dilaksanakannya evaluasi, namun tujuan umumnya adalah untuk membuat suatu keputusan. Evaluasi dapat dilakukan untuk memperbaiki program, menghentikan program atau membandingkan program.
Dalam hubungannya dengan penelitian terhadap anak usia TK. The National Association of Early Childhood Specialist (NAEYC, 1991) dalam Beaty (1994) merumuskan tujuan mengevaluasi anak usia TK adalah sebagai berikut :
1.                  Untuk merencanakan pembelajaran individual dan kelompok, serta untuk berkomunikasi dengan para orang tua.
2.                  Untuk mengidentifikasi apakah anak memerlukan bantuan atau layanan khusus.
3.                  Untuk mengevaluasi apakah tujuan program pendidikan TK sudah tercapai atau belum.
Evaluasi secara singkat juga dapat diidentifikasikan sebagai proses pengumpulan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong pendidik untuk mengajar lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik.
Adapun tujuan lain dari proses mengevaluasi di TK :
1.                  Untuk mengetahui ketercapaian, kemampuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
2.                  Untuk merangsang kegiatan anak TK dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
3.                  Untuk mencari keberhasilan atau tidak berhasil dalam proses belajar.
4.                  Untuk memperoleh informasi apakah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan anak.
5.                  Untuk memperolah masukan tentang kekuatan dan kelemahan dari suatu kegiatan belajar sehingga dapat digunakan untuk merencanakan kegiatan balajar berikutnya.
6.                  Untuk mendapat gambaran tentang pola dan gaya interaksi anak dengan orang lain.
2.      Prinsip Evaluasi
Banyak metode, alat dan prosedur untuk menilai perkembangan anak usia TK. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi guru untuk mengetahui dan memahami jenis evaluasi yang tepat untuk diterapkan. Sehubungan dengan hal tersebut, NAEYC dalam Beaty (Masitoh,2000) memberikan pedoman yang dapat dijadikan acuan dalm pelaksanaan evalusasi salama proses pembelajaran di TK oleh guru. Pedoman yang dimaksud ialah :
1.                  Penilaian harus dikaitkan dengan kurikulum, untuk mendapatkan hasil evaluasi yang tepat sasaran dan tidak menyimpang dari tujuan maka pelaksanaan evaluasi harus terkait dengan kurikulum.
2.                  Hasil penilaian harus dimanfaatkan untuk kepentingan anak.
Penilaian bukan sekedar angaka atau ungkapan deskriptif yang tidak bermakna dan tidak memiliki manfaat untuk kemajuan anak itu sendiri. Dalam pelaksanaannya sebaiknya guru memfokuskan pengamatan pada proses sesuatu yang terjadi yang dianggap penting bagi anak, dan sebaiknya guru tidak sekedar menuliskan laporan dalam buku pedoman.
3.                  Penilaian harus mencakup seluruh aspek perkembangan anak.
Perkembangan manusia adalah utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, proses evaluasi diharapkan menyentuh keseluruhan aspek perkembngan anak.
4.                  Penilaian melibatkan observasi yang teratur dan periodik dari anak dalam berbagai keadaan yang menggambarkan tingkah laku anak setiap saat.
5.                  Penilaian didasarkan pada prosedur yang menggambarkan kegitan anak secara khusus dan menolak pendekatan yang menempatkan anak dalam situasi yang dibuat- buat.
6.                  Penilaian menggunakan suatu alat dan prosedur yang tersususun, seperti koleksi karya anak, catatan observasi yang sistematis, catatan percakapan dan wawancara dengan guru- guru lain serta rangkuman kemajuan anak secara individual maupun dalam kelompok.
7.                  Penilaian harus mengakui perbedaan individual anak.
8.                  Penilaian tidak mengabaikan kenyamanan psikologis anak, baik parasaan maupun harga dirinya.
9.                  Penilaian harus mendukung hubungan orang tua dan anak, dan tidak merusak kepercayaan orang tua pada anaknya atas kemampuan yang dimilikinya atau merendahkan bahasa dan kultur keluarga.
10.              Penilaian adalah suatu komponen yang esensial dari peran guru. Guru adalah penilai utama.
11.              Penilaian menunjukan keunggulan dan kemajuan anak. Apakah anak dapat melakukan, dan tidak mengadili jawaban yang salah atau apa yang tidak dapat dilakukan anak atau apa yang tidak diketahui mereka.
12.              Penilaian adalah suatu proses kolaboratif yang melibatkan anak dan guru, guru dan orang tua, sekolah dan masyarakat dan informasi dari penilaian diberikan kepada orang tua dengan bahasa yang dapat dipahami oleh mereka.
13.              Penilaian mendorong anak untuk berpartisipasi dalam menilai dirinya, dan mencatat apa yang dapat dilakukan anak secara mandiri maupun apa yang dapat dilakukan anak dengan bantuan orang lain.
14.              Informasi tentang setiap perkembangan dan belajar anak dikumpulkan dan dicatat secara sistematis untuk merencanakan pembelajaran- pembelajaran serta untuk berkomunikasi dengan orang tua.
15.              Ada suatu proses yang teratur untuk informasi yang dibagikan antara guru dan orang tua tentang pertumbuhan, perkembangan, dan penampilan anak yang memberikan informasi deskriptif yang bermakna dan tidak dalam bentuk angka.
Adapun prinsip prinsip lain dalam dalam mengevaluasi  anak di TK :
1.                  Berpusat pada anak
Penilaian yang dilakukan hendaknya berpusat pada semua aktivitas yang dilakukan oleh anak. Penilaian ini bertugas melakukan pengamatan terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh anak setiap saat, dimana saja dan kapan saja tanpa harus menunggu waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan.
2.                  Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan proses belajar anak didik sebagai hasil kegiatan pembelajaran.
3.                  Menyeluruh/ keterpaduan
Perubahan perilaku yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran perlu dicapai secara menyeluruh baik yang menyangkut pengetahuan, sikap, perilaku, nilai, serta keterampilan. Penilaian bersifat menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup aspek proses dan hasil pengembangan yang secara bertahap menggambarkan perubahan perilaku.
4.                  Lebih mementingkan proses daripada hasil
Penil;aian pada anak sebaiknya lebih mementingkan pada pengamatan yang dilakukan selama proses yang berlangsung dan bukan pada hasil akhirnya saja.   Penilaian yang paling baik dilakukan saat anak melakuakan aktivitas belajar dan bermain. Untuk itu penilaian tidak selalu menggunakan “paper and pencil test”, tetapi lebih kepada pengamatan secara langsung terhadap aktivitas anak.
5.                  Berorientasi pada tujuan
Penilaian di TK berorientasi pada kompetensi yang diharapkan, proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
6.                  Objektif dan alamiah
Dalam melakukan penilaian diusahakan seobjektif mungkin, yaitu penilaian yang memperhatikan objeknya. Perasaan- perasaan, keinginan- keinginan dan prasangka- prasangka penilaian sedapat mungkin harus dikesampingkan pada saat menilai. Penilaian juga harus memperhatikan perbedaan-  perbedaan dan keunikan perkembangan setiap anak sehingga penilaian tidak memberikan penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama pada anak.
7.                  Mendidik
Hasil penilaian harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada semua anak dalam meningkatkan hasil pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi anak yang belum berhasil. Dengan demikian, usaha penilaian dapat memperkuat perilaku dan sikap yang positif.
8.                  Konsisten dan jujur
Penilaian yang dilakukan oleh lebih dari dua orang penilai akan lebih dapat dipertanggungjawabkan ketika membuat rekomendasi atau menentukan tindak lanjut.
9.                  Kebermaknaan
Hasil penilaian harus bermakna bagi guru, orang tua, anak didik dan pihak- pihak lain yang membutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
10.              Kesesuaian
Penilaian harus memperhatikan adanya kesesuaian antara apa yang diajarkan di Tk dengan laporan yang dibuat.
B.     Teknik Evaluasi di Taman Kanak-kanak
1.      Observasi
Observasi atau pengamatan adalah proses memperhatikan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan atau melakukan permainan, tanpa mencampuri kegiatan anak tersebut. Pengamatan seorang guru haruslah peka, terperinci, dan deskriptif. Terutama dalam mengungkap perkembangan sosial emosional anak. Sebagian besar anak-anak belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan memahami perasaan dan pikirannya sendiri. Anak-anak sering kali mengungkapkan perasaannya melalui perbuatan. Berkenaan dengan hal ini Cohen dan Stern (dalam CRI, 2000) mengungkapkan sebagai berikut.
                Anak-anak berkomunikasi dengan kita melalui mata mereka, kualitas suara mereka, sikap tubuh mereka, gerak isyarat mereka, kelakuan mereka, senyum mereka, lompat-lompatan mereka, kelesuan mereka. Mereka menunjukkan kepada kita, melalui perbuatan mereka, dan juga melalui apa yang mereka buat, apa yang terjadi dalam diri mereka. Ketika kita dapat menyelami arti dari perilaku anak-anak secara menyeluruh, kita berada di jalur yang benar dalam proses memahami mereka. Catatan guru tentang cara-cara mereka berkomunikasi akan membantu dalam melihat mereka sebagaimana mereka apa adanya.
Lebih lanjut Beaty (1994) mengemukakan bahwa observasi harus didasarkan pada kebaikan, kekuatan atau keunggulan yang diperlihatkan anak untuk membantu perkembangannya, bukan ditekankan pada kesalahan yang dilakukan anak. Observasi harus dilakukan dalam situasi natural atau tidak dibuat-buat (artificial).
Gambar 10.1 adalah salah satu contoh pedoman observasi untuk memantau perkembangan sosial emosional anak TK yang dapat dipergunakan guru.
2.      Catatan Anekdot
Adalah proses mendokumentasikan kegiatan atau perilaku yang teramati berupa catatan ringkas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Patmonodewo (1993) yang mengatakan bahwa catatan anekdot atau anecdotal record adalah kumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak yang khusus, baik secara positif maupun negatif.
Catatan anekdot dilakukan berdasarkan pengamatan sepintas dan ditulis lebih singkat dibandingkan laporan deskriptif. Hasil pengamatan guru dapat dituangkan ke dalam tiga atau empat kalimat, dan hanya perlu menyisipkan catatan yang diingatnya saja. Catatan anekdot jenis ini sangat membantu guru dalam memahami bagaimana proses tingkah laku bermula, bagaimana perkembangan tingkah laku tersebut dan bagaimana akhirnya.
Pedoman Observasi Perkembangan Sosial Emosional Anak
3.      Daftar Checklist
Daftar Checklist merupakan cara yang cepat dan mudah untuk mengukur keberadaan tingkah laku khusus anak. Daftar Checklist juga dapat dipergunakan sebagai suatu cara untuk mendokumentasikan kejadian penting tertentu yang sehubungan dengan perkembangan anak atau sebuah tujuan atau sasaran instruksional. Daftar Checklist ini sangat berguna bagi guru yang ingin mengetahui berapa kali dalam seminggu Ujang memukul temannya, berapa kali dewi menangis atau berapa kali Ratna meminta pertolongan guru.
Adapun contoh daftar checklist yang dapat digunakan guru untuk memantau perkembangan sosial emosional anak, seperti berikut.
Alat Penilai Perkembangan Sosial Emosional
Untuk usia 3-6 tahun


































4.      Analisis Gambar Anak
Dalam mengevaluasi gambar anak, guru dapat melakukannya dengan cara mengumpulkan gambar-gambar anak yang pernah dibuat, dan melihat perkembangan dari hari kehari.
Cara lain adalah dengan cara anakdiminta mneggambar tema tertentu, misalnya menggambar tentang keluarga, kemudian guru meminta anak untuk menceritakan gambar tersebut. Karya yang dihasilkan oleh anak adalah sebuah gambar yang memberikan makna pada guru tentang kemampuan perkembangan motorik halus anak dan daya tangkap anak serta perkembangannya.
Dalam gambar tersebut guru dapat mengetahui bagaiman perasaan anak terhadap anggota keluarga, bagaimana anak memahami hubungan anggota keluarga satu sama lainnya, bagaimana anak menggunakan ruang dan kesadarannya secara  detail (rinci). Melalui gambar anak, guru ataupun pengamat pendidikan lainnya akan mempelajari banyak hal tentang bagaimana proses berpikiranak, apa yang diketahui anak tersebut, bagaimana ia mengatur atau mengorganisasikan informasi tersebut, serta bagaimana ia menghubungkannya dengan guru ketika ia melakukan respons (tanggapan) khusus terhadap pertanyaan yang diajukan.
Selain itu, melalui gamabar yang dibuat anak, guru dapat melakukan analisis dan menemukan permasalahan-permasalahan sosial emosioanal yang terjadi dalam diri anak yang tercermin dalam produk gambat yang dibuatnya.







Judul Gambar : Gajah
5.      Analisis Foto, Vcd, dan Audiotape
Dengan metode ini guru akan mendapatkan informasi yang sangat menarik dan bermanfaat berdasarkan data-data visual.
Pada awal tahun ajaran baru, guru mengambil foto anak-anak dari berbagai sudut kekhasan anak. Guru juga dapat mengambil gambar interaksi mereka dengan menggunakan handy camera. Dalam bentuk ausio guru pun dapat merekam suara anak, saat diwawancarai pertama kali bertemu. Dan diakhir tahun ajaran, guru dapat melakukan pengambilan foto kembali, merekam aktivitas anak melalui handycame dan merekam suara mereka kembali.
Demgan dua aktivitas ini, guru dapat membedakan melihat secara jelas perubahan apa yang tampak dalam perkembangan sosial emosional mereka, dan anak-anak pun dapat dilibatkan untuk mengevaluasikan diri mereka sendiri, dengan cara membandingkan foto mereka diawal dan diakhir tahun ajaran.
Dokumentasi Anak di Tahun Ajaran Baru
6.      Percakapan Atau Wawancara dengan Anak
Patmonodewo (1998) mengatakan bahwa percakapan adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap-cakap atau wawancara antara anak dengan guru baik didalam kelas maupun diluar kelas. Percakapan atau wawncara dengan anak merupakan suatu cara pengumpulan informasi yang diperoleh secara langsung dari anak. Anak menyadari bahwa anda sebagai guru tertarik pada cara mereka berpikir dan merasakan emosi.
            Percakapan sebagai metode penilaian terdiri dari dua kategori, yaitu :
1.             Penilaian percakapan yang terstruktur artinya, percakapan ini dilakukan dengan sengaja oleh guru dengan menggunakan waktu khusus dan pedoman khusus walaupun sederhana.
2.             Penilaian percakapan tidak terstruktur artinya, percakapan yang dilakukan antarra guru dan anak tanpa direncanakan secara khusus, di mana saja, kapan saja dalam situsi informal.
Wawancara dengan anak dapat dberjalan dengan baik selama anak merasa nyaman untuk bercerita, dilakukan dengan santai dan terdapat banyak waktu dan ruang bagi anak untuk bebas berekspresi.










METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DI TAMAN KANAK-KANAK



METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DI TAMAN KANAK-KANAK

Beberapa metode pengembangan sosial yang dapat dilakukan guru di TK :
1.      Pengelompokan Anak
Pengembangan sosialisasi dengan cara mengelompokan anak di TK didasarkan sangat efektif. Melalui pengelompokan, anak akan saling mengenal dan berinteraksi secara intensif dengan anak lain. Anak akan menemukan teman-teman yang cocok dan kurang cocok. Sekali-sekali sangat mungkin terjadi konflik di antara mereka, namun selama itu tidak perlu mengkhawatirkan, dan sedikit perselisihan akan mengasah kemampuan problem solving mereka.
2.      Modeling dan Imitating
Imitasi adalah peniruan sikap, tingkah laku, serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara sengaja. Jadi, prosesnya berbeda dengan proses identifikasi yang berlangsung tanpa disadari. Biasanya sejak usia dua sampai tiga tahun anak mulai senang meniru tingkah laku orang lain yang ada disekelilingnya.
3.      Bermain Kooperatif
Bermain kooperatif adalah permainan yang melibatkan sekelompok anak, di mana setiap anak mendapatkan peran dan tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama..
4.      Belajar Berbagi (Sharing)
Belajar berbagi merupakan ketrampilan sosial yang sangat dibutuhkan oleh anak. Melalui sharing anak akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap kebutuhan anak lain, belajar bermurah hati, melatih bersikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan perilaku egosentrisnya.










METODE PENGEMBANGAN EMOSI DI TAMAN KANAK-KANAK

A.    METODE PENGEMBANGAN EMOSI
Untuk membantu proses perkembangan emosi anak usia TK, seorang guru dapat melakukan beberapa metode pembelajaran berikut:
1.      Bernyanyi dan Bermain Musik
Kehidupan manusia tidak lepas dari pengaruh musik karena dalam diri manusia sendiri pun memiliki sumber musik, seperti pita suara ataupun degup jantung yang mirip, seperti suara drum band.
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia. Oleh karena itu, bermain musik bagi anak  sangat penting dan memberikan pengaruh yang cukup kuat dalam pengembangan emosinya. Mahmud (1995) mengatakan bahwa musik dapat menimbulkan rasa kesatuan dan persatuan, rasa kebangsaan, rasa keagamaan, rasa kagum, rasa gembira, dan sebagainya. Musiak dapat memberikan kepuasan rohaniah dan jasmaniah. Manfaat musik yang lain diantaranya adalah mendorong gerak pikir dan rasa, membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak. Musik menanamkan dalam jiwa manusia perasaan yang halus atau budi yang halus. Lebih lanjut Campbell (2001) mengatakan bahwa musik dapat mengangkat suasana jiwa seseorang dapat dibangkitkan. Musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan Ilahi, serta semesta alam, dan melakukan transformasi diri ke alam spiritual.
2.      Bermain Peran
Bermain peran adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokoh-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada di sekitar anak. Melalui permainan ini daya imajinasi, kreativitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apa pun yang diinginkannya dan juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yang diharapkannya.
Dalam permainan ini anak dapat mengekspresikan berbagai macam emosinya tanpa takut, malu ataupun ditolak oleh lingkungannya. Ia juga dapat mengeluarkan emosinya yang terpendam karena tekanan sosial. Dalam bermain peran seorang anak dapat memainkan tokoh yang pemarah, baik hati, takut, penuh kasih, dan lain sebagainya.

3.      Permainan Hand Puppet
Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia TK. Melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan dalam melakukannya walaupun ada juga anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan bonekanya. Namun, sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itu puntidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-temannya.

4.      Latihan Relaksasi dan Meditasi Musik
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, Rachmawati (1989) mengatakan bahwa proses relaksasi yang dilakukan pada anak, cukup efektifuntuk latihan pengenalan emosi diri mereka sendiri atau terbentuknya ketrampilan emational awareness. Selain itu, aktivitas meditatif dengan musik dapat membantu prose katarsis, di mana individu mengeluarkan emosi-emosi yang ditekan, memciptakan ketenangan, dan meningkatkan produktivitas pembelajaran pada anak.
5.      Bercerita
Bercerita bagi seorang anak adalah sesuatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apa pun yang dia inginkan. Dalam cerita seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembanganna, termasuk di dalamnya perkembangan emosi dan sosialnya.
Selsin melatih ketrampilan membaca, bagi seorang anak bercerita merupakan suatu petualangan besar. Agreat Adventure, sebagaimana yang dikemukakan Graves (dalam Solehuddin, 2000). Bercerita dapat juga berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan dan nilai pada anak.
Solehuddin (2000) dan Hidayat (2003) mengemukakan bahwa kativitas bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat dengan anak. Melalui bercerita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat dan akrab, terlebih lagi jika mereka dapat menyelingi atau melengkapi cerita-cerita itu dengan unsur humor.
6.      Permainan Gerak dan Lagu
Permaianan gerak dan lagu merupakan aktivitas bermain musik sambil menari. Anak-anak sangat menyukai permainan ini terutama jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik pelaksanaanya sangat mudah, pertama kita dapat memutar musik klasik di awal kegitan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik.
7.      Permaianan Feeling Band
Menurut Newcomb (1994) permainan feeling band atau band perasaan adalah permainan membunyikan instrumen musik  sesuai dengan ekspresi perasaan. Alat musik Yang digunakan sebaiknya jenis perkusi sehingga anak dapat lebih mudah menggunaknnya. Dalam permainan ini, guru berperan sebagai konduktor. Ia dapat meminta anak untuk membunyikan alat musiknya dengan ekspresi “marah”, “sedih”, “gembira”, dan lain sebagainya. Anak-anak akan mencoba memahami perasaan itu terlebih dahulu sebelum ia mengekspresikannya melalui alat musik yang dipegangnya. Dalam pelaksanaannya sangat mungkin ada anak yang mengalami kesulitan, namun karena kegiatan ini dilaksanakannya secara berkelompok, ia akan belajar pada anak yang lain. Permaian ini sangat membantu anak untuk melakukan proses katarsis, menyadari perasaanyasendiri, dan bersenang-senang.
8.       Demonstrasi
Demonstrasi adalah kegiatan memberi contoh atau memperhatikan secara lengsung dalam melakukan sesuatu perbuatan atau perilaku. Dalam demonstrasi terkandung unsur showing, doing, and telling, yaitu perlihatkan, lakukan, dan katakan sebagaimana yang dipaparkan Moeslichatoen (1999). Berkenaan dengan pengembangan emosi, pembelajaran emosi dilakukan dengan cara mendemostrasikan atau mengekspresikan perasaan. Demonstrasi dapat dilakukan melalui kegiatan bercakap-cakap terlebih dahulu, kemudian anak diminta untuk mendemostrasikan emosi yang diminta. Selain itu pantonim juga dapat dilakukan sebagai permaian untuk mendemonstrasikan ekspresi emosi anak.
9.       Permaian Personifikasi
Permaian personifikasi adalah permainan yang dilakukan dengan cara meniru gerakan binatang atau tumbuhan seolah-olah mereka hidup dengan cara hidup manusia. Dalam permaian ini anak dapat berpura-pura menjadi rintik hujan, menjadi selembar daun yang terbang tertiup angin atau pohon yang tumbang. Permaina ini membutuhkan perasaan yang halus dari anak. Selain itu empati dan perhatian anak terhadap pola hidup makhluk lain juga dilatih. Melalui permaian ini, kepercayaan diri, kebebasan berekpresi, kreativitas, dan imajinasi anak ikut terkembangkan.