welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Jumat, 21 Desember 2012

PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK BERORIENTASI AKADEMIK VERSUS NON- AKADEMIK

A.    Pendidikan Taman Kanak-Kanak Berorientasi Akademik
Para penganut pendekatan pendidikan TK akademik memiliki prinsip bahwa belajar dengan lebih cepat berarti lebih baik. Jadi, kalau anak bisa menguasai materi pelajaran secara lebih awal dan lebih cepat dari yang lain, berarti anak itu telah belajar dengan lebih baik. Sesuai prinsip di atas, pendidikan TK berorientasi akademik terfokus pada upaya mengarahkan anak untuk bisa menguasai sejumlah materi pengetahuan, keterampilan, atau hafalan tertentu dengan singkat. Para pendidik yang menganut pendekatan ini berupaya mengembangkan cara-cara belajar cepat agar hasil belajar anak dapat segera diketahui. Greenberg (1990) memandang bahwa pendekatan pendidikan TK berorientasi akademik ini banyak dilandasi oleh paham behavioristik yang sangat menekankan unsur mastery dan testing. Penggunaan unsur reinforcement yang positif terhadap keberhasilan anak dalam menyelesaikan tugas juga merupakan hal yang penting dalam pembentukan perilaku anak.
1.      Model Kurikulum
Para penganut pendekatan ini berpendapat bahwa cara pembelajaran yang baik dilakukan melalui beberapa mata pelajaran terpisah yang disajikan dalam periode-periode pendek. Dengan demikian, anak dapat belajar lebih cepat sehingga bisa memenuhi keperluan-keperluan belajar lebih lanjut secara lebih awal. Ini berarti bahwa pendekatan ini meminimalkan arti pentingnya usia dan tahap perkembangan anak.
Bahan pembelajaran disusun secara berstruktur dan sistematis dari elemen-elemen kecil yang sederhana hingga elemen-elemen yang lebih besar dan lebih rumit. Ciri lain dari kurikulum pendekatan ini adalah penekanan pada keterampilan-keterampilan yang berupa penguasaan simbol-simbol yang mempresentasikan sesuatu (huruf atau angka) dan bukannya menguji dan mengeksplorasi hal tersebut secara langsung. Kurikulum atau program pembelajaran  pada pendekatan akademik sudah disiapkan dengan matang “dari luar kelas”. Maksudnya dengan merujuk pada standar-standar program dan buku-buku teks yang dijadikan acuan, guru sudah menyiapkan program pembelajaran secara sistematis dan matang sebelum masuk kelas sehingga pada saat proses pembelajaran berlangsung ia kurang atau bahkan tidak mengakomodasi hal-hal yang secara kontekstual terjadi. Akibatnya variasi individual siswa (minat dan bakat) kurang begitu diperhatikan dan di akomodasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Greenberg (1990) menjelaskan bahwa dalam pendekatan ini juga mencakup kegiatan bermain, tetapi itu dilakukan secara singkat dan diposisikan sebagai kegiatan rekreasi pada waktu istirahat. Kegiatan-kegiatan proyek dan beberapa kegiatan seni juga dijadwalkan tetapi diberiak sebatas sebagai program “pengayaan” atau sebagai aktivitas sekunder, bukan sebagai kurikulum inti. Kurikulum inti merupakan suatu rangkaian pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipilah-pilah yang disampaikan pada anak dalam langkah-langkah pelajaran yang sangat berstruktur.
2.      Cara Pembelajaran
Model kurikulum yang berstruktur dan sistematis banyak dilakukan melalui “direct instruction”, dalam arti, guru mengajarkan materi-materi pengetahuan dan keterampilan yang sudah disiapkan dan murid memperhatikan penjelasan guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Akibatnya, murid hanya memiliki sedikit pilihan. Prakarsa-prakarsa murid yang sifatnya spontan hanya terjadi pada saat bermain bebas ketika istirahat. Sebaliknya, kepatuhan anak untuk mengikuti prosedur atau langkah-langkah pembelajaran yang sudah direncanakan oleh guru sangat dihargai.
Pola pembelajaran demikian membuat anak lebih banyak duduk mencurahkan perhatian kepada guru yang sedang “mengajar” atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh guru. Tugas-tugas yang diberikan anak sering berupa pekerjaan yang melibatkan penggunaan kertas, pensil. Aktivitas menghafal dan mengingat fakta juga begitu dominan dalam pendekatan ini. Dengan demikian anak kurang memiliki kesempatan belajar untuk melalaui percakapan informasi di kelas. Kesempatan anak untuk belajar menemukan juga sangat minim, yakni hanya menemukan jawaban-jawaban benar dari beberapa kemungkinan jawaban yang sudah disediakan.
Anak juga kurang mengalami tantangan intelektual karena latihan pemecahan masalah dilakukan terbatas pada masalah-masalah yang sudah distruktur dan disediakan dalam paket-paket lembaran kerja, seperti menghubungkan gambar dengan memecahkan untuk murid dengan cara menceritakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh murid, dan bukannya anak yang diberi kesempatan untuk menguji dan menemukan alternatif-alternatif dari persoalan prilaku tersebut.
Guru lazimnya sangat sibuk mengejar target kurikulum atau program pembelajaran. Akibatnya, aktivitas bermain anak dan penggunaan metode proyek menjadi sangat minim. Kalaupun dilakukan, lebih sebagai “ganjaran” bagi anak yang sudah belajar dan itu dilakukan pada waktu istirahat; begitu juga kegiatan proyek dilakukan sebagai kegiatan pengayaan menjelang libur dan bukan sebagai kegiatan pembelajatan inti.
3.      Peran Guru dan Anak
Dalam pendekatan akademik, peran guru sangat dominan. Guru adalah perencana kegiatan kelas tanpa melibatkan unsur murid. Ia adalah pengelola ruang, waktu, serta alat dan media pembelajaran sesuai dengan cara yang dikehendakinya. Ia merupakan sumber informasi serta penentu standar perilaku didalam kelas yang harus di turuti oleh anak. Singkatnya, guru adalah penguasa kelas yang cenderung menerapkan manajemen kelas yang otoriter ,anak berperan sebagai penerima pelajaran, mereka menjadi pihak penerima fakta yang kemudian menghafalkannya. Mereka tidak diarahkan untuk melakukan aktivitas pembuktian apakah fakta-fakta tersebut benar atau tidak. Kemudian mereka menjadi objek penilaian guru atas hasil karya atau perilaku yang mereka lakukan.
4.      Cara Evaluasi
Evaluasi difokuskan pada prestasi anak dalam penyelesaian tugas-tugas akademik, karena sangat menekankan unsur penguasan pengetahuan, penggunaan tes menjadi sangat dominan. Evaluasi di lakukan oleh guru sehingga hampir tak ada peluang bagi anak untuk menilai kemajuan belajarnya sendiri. Anak secara pasif menunggu evaluasi dan penghargaan dari guru, dan mereka mendapatkan penguatan positif untuk keberhasilan penguasaan materi atau perilaku yang diajarkan oleh guru.  
5.      Keuntungan dan Kelemahan
Keuntungan dari pendidikan berorientasi akademik adalah agar anak dapat lebih cepat menghafal informasi atau fakta dan menguasai ketrampilan yang diajarkan. Dengan pendekatan ini guru lebih mudah dalam merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar karena tidak perlu bersusah payah mengikuti dan mengakomodasi variasi individu anak.
Adapun kelemahannya, pertama adalah kurangnya keterlibatan aktif anak dalam proses belajar. Kedua, pengembangan kreativitas anak juga menjadi kurang. Ketiga, proses dan hasil belajar kurang bermakna bagi anak. Keempat, proses belajar yang kurang bermakna ini dapat memunculkan sikap dan perilaku belajar yang negatif pada anak, anak menjadi bosan dan tidak bergairah dalam belajar. Mereka menganggap kalau belajar adalah beban dan tugas dari guru dan orang tua, bukannya sebagai bagian dari kebutuhan dan kegiatannya sehari-hari. Kelima, penekanan pada aspek akademik dari pendekatan ini membuat aspek-aspek perkembangan anak lainnya menjadi kurang perkembangan secara proporsional.
B.     Pendidikan Taman Kanak-Kanak Berorientasi Non Akademik
Pendekatan non akademik berangkat dari pandangan bahwa anak pada dasarnya merupakan pembelajar aktif (an active learner). Anak mampu membangun pengetahuan dan pemahamannya tentang lingkungan melalui pengalaman-pengalaman interaksional. Pengetahuan dan pemahaman itu bukan merupakan sesuatu yang diberikan oleh orang lain kepada anak, melainkan merupakan sesuatu yang di konstruksi oleh anak. Jadi, berbeda dengan para penganut pendekatan akademik, para pendukung pendekatan non akademik tidak meyakini adanya suatu batang tubuh pengetahuan yang sudah permanen (fixed) yang harus dikuasai oleh anak. Pengetahuan itu justru merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Dalam kategori yang luas, menurut Greenberg (1990), dewasa ini pendekatan non akademik dikenal sebagai pendidikan yang berorientasi perkembangan (Developmentally Appropriate Practice). Bila ditelusuri lebih jauh, pendekatan ini banyak diilhami oleh pemikiran dari tokoh-tokoh seperi John Dewey, Arnold Gesell, Jean Piaget, dan Davil Elkind.
1.      Model Kurikulum
Kurikulum pendidikan TK non akademik adalah kurikulum terintegrasi. Melalui kurikulum terintegrasi, subjek-subjek bidang pengetahuan dan keterangan tidak dipelajari secara terpisah-pisah, melainkan dipelajari sebagai suatu kesatuan yang terpandu secara informal dalam kegiatan-kegiatan belajar anak.
Anak memiliki kesempatan untuk berprakarsa dan melakukan pilihan sehingga apa yang dikaji dalam kegiatan pembelajaran sudah merepresentasikan minat-minat dan pilihan-pilihan anak tersebut. Secara singkat, modul kurikulum dalam pendekatan non akademik berpegang pada prinsip-prinsip berikut.
a.                   Memungkinkan anak untuk belajar tentang lingkungan melalui eksplorasi dan interaksi baik dengan guru, teman, anggota keluarga, maupun dengan orang lain.
b.                  Berangkat dari minat dan pilihan anak tentang topic-topik yang ingin dipelajari. Dalam hal ini, guru memiliki semacam standar yang dijadikan rambu-rambu secara garis besar, namun dalam implementasinya memperhatikan dan merespon apa yang terjadi secara kontektual dikelas.
c.                   Memberikan kesempatan yang luas kepada anak untuk belajar dalam suasana bermain yang menyenangkan agar anak mendapatkan makna dari pengalaman sendiri.
d.                  Proses belajar mengajar bersifat integrative dan sedapat mungkin tidak mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang kaku.
2.      Cara Pembelajaran
Dalam pendekatan non akademik proses pembelajaran sangat menekankan melalui pengalaman langsung (hands on experience). Anak diberi kesempatan untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemukannya, bukan masalah-masalah yang tidak terkait dengan konteks kehidupannya. Ia diberi kesempatan untuk bereksperimen, bereksplorasi, dan menemukan sesuatu dari pengalamannya melalui pengalaman-pengalaman semacam itu, anak membangun pemahaman dan menciptakan konsep-konsep sesuai dengan rentang perkembangan intelektualnya masing-masing.
Untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, minat dan prakasa anak sangat diperhatikan dalam pendekatan non akademik. Guru memiliki perencanaan pembelajaran, namun perencanaan tersebut dipersiapkan dengan mengakomodasi minat-minat dan pilihan anak. Bahkan hal-hal yang secara spontan terjadi dalam kegiatan anak diperhatikan dan sedapat mungkin diakomodasi dalam proses pembelajaran. Unsur inisiatif dalam kreatifitas anak benar-benar diperhatikan dan dihargai dalam pendekatan ini. Dan karena perhatiannya yang begitu besar terhadap unsur variasi individual anak, proses pembelajaran menjadi relative fleksibel.
Pengalaman-pengalaman interaksional anak dengan orang lain juga diperkaya dalam pendekatan ini. Guru membacakan cerita-cerita ke anak dan bercakap-cakap dengan mereka. Anak pun memiliki kesempatan untuk bercerita kepada teman dan gurunya serta menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan teman dan gurunya tentang cerita yang disampaikan. Mereka memiliki kesempatan yang luas untuk berdiskusi dan belajar bersama satu sama lain. Pengertian belajar bersama ini bukan sekedar anak sama-sama belajar pada tempat yang sama, tetapi mereka benar-benar mengalami sesuatu secara bekerja sama satu sama lain. Untuk mengimplementasikan cara-cara belajar di atas, proses pembelajaran melalui aktivitas bermain dan proyek atau tema-tema yang menarik bagi anak menjadi sangat dominan dalam pendekatan ini. Bermain merupakan sarana inti pembelajaran. Proses pembelajaran dilakukan melalui berbagai kegiatan yang secara interinstik menarik dan menggairahkan anak. Begitu pula, kegiatan-kegiatan proyek bukan sekedar dilakukan sebagai program pengayaan, tetapi justru dijadikan sebagai cara utama dalam mengorganisasikan kegiatan pembelajaran.
3.      Peran Guru dan Anak
Dalam pendekatan non akademik, guru dan anak sama-sama berperan aktif. Sementara guru berperan sebagai fasilitator kegiatan belajar anak, anak berperan sebagai pembelajaran aktif. Mereka sama-sama aktif dalam perencanaan, proses, dan bahkan dalam evaluasi pembelajaran.
Sebagai fasilitator kegiatan belajar anak, guru mempersiapkan kegiatan pembelajaran. Dan dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran, guru mempelajari pengetahuan-pengetahuan teoritis atau konvensional yang sudah ada, namun juga mengakomodasi minat-minat dan pilihan-pilihan anak. Guru menstimulasi dan memotivasi anak untuk belajar, memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan, membantu anak dikala kesulitan,serta menyiapkan lingkungan belajar yang kaya bagi anak. Guru juga mengevaluasi proses dan hasil belajar anak dengan melibatkan anak dalam proses evaluasi tersebut.
Dipihak lain, anak berperan sangat aktif dalam pembelajaran. Anak terlibat dalam proses perencanaan dan memiliki kesempatan yang luas untuk berprakarsa. Pada saat proses perencanaan, anak memiliki kesempatan untuk memuncukan ide-ide serta turut mendiskusikan tema- tema atau kegiatan-kegiatan proyek yang akan diprogramkan selama priode tertentu (misalnya, kuartal atau semester). Begitu pula dalam proses pembelajaran, murid memiliki kesempatan memprakasai, mencoba, mengeksplorasi, dan menemukan sesuatu. Anak berkesempatan untuk belajar individual, bersama teman, dan bersama guru atau orang dewasa lainnya.anak tidak secara ketat diarahkan untuk mempelajari meteri pengetahuan dan keterampilan yang sudah berstruktur, melaikan mendapatkan kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pengalamannya melalui pengalaman-pengalaman langsung. Akhirnya dalam proses evaluasi pun, anak berkesempatan untuk terlibat dalam menganalisis dan menilai keberhasilan belajarnya sehingga tidak semata-mata menunggu atau mengandalkan penilaian dari guru.
4.      Cara Evaluasi
Dalam pendekatan non akademik, penggunaan intrinsic reward lebih ditekankan dari pada ektrinsic reward. Jadi, bukan unsur penghargaan eksternal yang diutamakan untuk memotivasi murid, melainkan unsur penghargaan internal, yakni kepuasan anak akan keberhasilan belajar dan prestasinya. Dengan demikian, penilaian lebih terfokus kepada hal-hal positif yang diraih anak sehingga ia bangga dengan prestasinya dan menjadi senang untuk terus berkarya.
Penilaian tidak semata-mata dimaksudkan untuk menentukan taraf keberhasilan belajar anak, tetapi juga dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dalam pendekatan ini, penggunaan tes cenderung dihindari karena lebih terfokus ke penilaian yang bersifat autentik (authentic assesment). Maksudnya, penilaian diupayakan terjadi dalam situasi dan konteks yang lebih alami sehingga apa yang ditampilkan anak betul-betul menggambarkan kondisi yang sebenarnya (authentic). Dengan demikian, penggunaan observasi, catatan anekdot, dan portofolio merupakan teknik-teknik utama dalam penilaian. Penilaian juga tidak semata-mata didasarkan pada informasi yang dimiliki guru, tetapi juga didasarkan pada masukan-masukan dari orang tua dan sumber-sumber lainnya.
5.      Keuntungan dan Kelemahan
Terdapat beberapa keuntungan dari pendekatan ini. Pertama, inisiatif anak untuk malakukan kegiatan belajar dapat berkembang dengan baik. Kedua, anak dapat secara aktif mengembangkan kreativitas dan membangun pengetaguan. Ketiga, proses pembelajaran dilakukan secara lebih alamiah (natural) dan menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan motivasi dan sikap positifterhadap kegiatan belajar. Keempat, dalam jangka panjang pendekatan ini dipandang sangat mendukung perkembangan anak untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (a life long learner).
Meskipun banyak keuntungannya, pendekatan ini masih dianggap memiliki beberapa kelemahan oleh sebagian orang. Hal yang sering dipandang sebagai kelemahan dari pendekatan ini dalam waktu singkat. Dengan kata lain, penggnaan waktu sering dianggap kurang efisien. Sebagian orang cenderung beranggapan bahwa penerapan pendekatan ini memerlukan perlengkapan yang lebih banyak sehingga memerlukan dana yang lebih pula. Dalam aspek pengembangan kurikulum, sebagian orang juga sering merasa kesulitan karena harus mengikuti kejadian dan perkembangan di kelas.








DASAR PEMIKIRAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN

DASAR PEMIKIRAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
TAMAN KANAK-KANAK

RESUME MATERI

Oleh
Meli Novikasari         F54011035                  Ardila Utami              F54011001
Eva Anindia Putri     F54011019                  Adriana Merry          F54011034
Ummi Kalsum           F54011013                  Endang Kustika. S    F54011015
Asniati                        F54011014                  Dewi                           F54011004
                                   
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS TANJUNG PURA
PONTIANAK
2012
A.    Pekembangan Ilmu Pengetahuan Dan Pembaharuan Pendidikan Anak Usia Dini
Filosuf Inggris ,John lock (1632-1704) ,yang sangat terkenal pada saat itu memandang  bahwa anak dilahirkan kedunia sebagai tabula rasa atau ibarat lembar kosong yang dapat diisi apa saja. Pandangan tabula rasa mengansumsikan tidak adanya kode genetic bahwaan atau traits-traits yang dibawa sejak lahir. Pengalaman-pengalaman anak melalui kesan-kesan sensorilah yang menentukan apa yang dipelajari oleh anak dan akan menjadi seperti apa anak itu dikemudian hari.lingkungan dan kualitas pengalamanlah yang akan menentukan perkembangan anak.
            Dengan paham seperti diatas, guru TK pada saat itu tampil sebagai guru yang dominan dan mengontrol prilaku anak dengan ketat dan kaku. Mereka menerapkan kurikulum standard dengan mengabaikan perbedaan perbedaan individu anak. Mereka berupaya “mengisi” anak dengan berbagai pengetahuan yang mereka anggap baik atau perlu dikuasai oleh anak tanpa memperhatikan kebutuhan ,minat dan kesiapan belajar individu anak . mereka juga sangat menekankan hukuman , termasuk hukuman fisik ,dalam mendidik anak.
            Anak dituntut untuk berprilaku layaknya orang dewasa seperti disiplin ,tidak banyak bermain ,serta mendengarkan ceramah dan nasihat guru dengan tekun . mereka harus beljar apa saja yang diajarkan oleh guru. Mereka juga harus patuh dan hormat kepada orang tua dan guru tanpa bias membantah.
            Itulah paham yang berkembang dan mendominasi pemikiran masyarakat luas tentang pendidikan anak usia dini pada saat itu. Yang perlu anda renungkan adalah bagaimana kalau para guru TK pada zaman tersebut masih hidup dan masih menjadi guru ,tetapi mereka tidak pernah melakukan perubahan apapun dalam cara mendidik atau mengajarnya ? Bagaimana pula anda akan memandang mereka? Apakah anda akan memandang mereka sebagai guru yang baik dan maju atau sebaliknya sebagai guru yang “aneh “ dan terbelakang? Akankah anda menjadikan TK mereka sebagai TK pilihan untuk menyekolahkan anak anda? Atau anda akan memandang TK mereka sebagai TK purbakala yang aneh dan perlu dilestarikan?
            Munculnya Pestalozzi(1746-1827), Frobel (1782-1852), dan Montessori (1870-1952). Telah membawa perubahan dan pembaharuan besar dalam pemikiran dan praktik pendidikan anak pada zamannya. Beberapa contohnya dapat dikemukakan sebagai berikut (Brenner ,1990).
            Menurut Pestalozzi pendidikan anak menyerupai keadaan keluarga dirumah. Suasana sekolah harus hangat dan memberikan perhatian seperti orang tua dirumah .Ia merasa bahwa guru perlu menggantikan tugas orang tua di rumah. Ia merasa bahwa guru perlu menggantikan tugas orang tua  ketika anak disekolah . Ia juga percaya kalau anak perlu saling belajar satu sama disamping belajar sama guru. Dan ia juga berpendapat bahwa guru hendaknya tidak menggunakan metode pembelajaran yang banyak berceramah.
            Froebel yang banyak mempelajari karya Pestalozzi memiliki kontribusi yang besar dalam menggagaskan konsep baru tentang anak. Anak yang sebelumnya dianggap sebagai miniature orang dewasa atau orang dewasa yang belum sempurna di pandangannya bukan sekedar sebagai masa persiapan untuk masa dewasa tetapi juga sebagai suatu masa belajar dan pertumbuhan yang memiliki nilai tersendiri . selain itu ,aktifitas  sendiri anak ( child’s self activity) dan kegiatan bermain bebas (free play ) dipandang sebagai bagian dari kegiatan belajar anak.
            Sesuai dengan pandangannya Froebel memperkenalkan konsep kinderganten (taman kanak-kanak ). Dalam TK Froebel, sampai taraf tertentu dilakukan pemanduan program rumah dan sekolah secara fisik . maksudnya, anak dan guru tidak selamanya disekolah, tetapi sebagian waktunya dihabiskan dirumah bersama orang tua anak . pada kesempatan ini, guru dan orang tua saling berbagai informasi dan pengalaman tentang pendidikan anak.
            Melalui pengalamannya dalam menangani anak-anak terbelakang, Montessori menyimpulkan bahwa anak itu pada dasarnya berkembang terlepas dari kondisi lingkungannya. Ia melihat bahwa semua anak berkembang melalui tahap-tahap tertentu. Pada masing-masing tahap anak memiliki tipe belajar tertentu. Oleh karena itu, ia juga menyarankan agar guru dan anak yang lebih tua berperan sebagai mentor dalam mengembangkan kapabitis bawaan anak.
Meskipun dalam tataran praktis ,perubahan-perubahan dalam pendidikan anak itu tidak serevolusioner pemikiran tokoh- tokoh diatas ,gagasan-gagasan dari tokoh-tokoh tersebut telah membawa perubahan mendasar dalam perkembangan pendidikan anak . Pestalozzi dan para pengikutnya mengembangkan fisik , mental ,dan melalui latihan pengamatan indra dan refleksi .froebel dan kelompoknya mengembangkan taman kanak-kanak yang sang  dan bermain bebas (free play).montessori dan para pengikutnya menekankan perlunya bahan-bahan belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak disamping menekankan perlunya kebebasan bagi anak.
Perkembangan pemikiran dan praktik pendidikan tersebut terus terjadi hingga sekarang bahkan, dengan dukungan teknologi yang semakin canggih , perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dibidang PAUD terjadi semakin cepat dan komprehensif. Studi-studi yang mempengaruhi perkembangan PAUD tidak lagi terbatas pada ilmu pendidikan dan psikologi ,tetapi juga ilmu-ilmu lainnya seperti sosiologi,antropologi ,medis dan neurologi.
Mislanya ,penelitian tentang belahan otak kiri dan kanan ( baterman.1990) menjelaskan bahwa masing-masing belahahn otak kiri dan otak kanan menangani aktivitas mental yang berbeda. Otak kiri menangani kegiatan –kegiatan mental yang berhubungan dengan berpikir logis atau rasional , yakni yang berhubungan dengan matematika ,bahasa ,logika,analisis ,menulis dan sejenisnya; sedangkan otak kanan menangani kegiatan-kegiatan mental yang berhubungan dengan berpikir imajinatif atau intuitif, yakni yang berhubungan dengan imajinasi,warna ,music ,irama,khayalan, dan sejenisnya.
Hasil kajian berikutnya menyimpulkan bahwa
a.       Anak yang dilatih untuk menggunakan hanya satu belahan otaknya secara ekslusif relative tidak mampu menggunakan belahan otak lainnya.
b.      Bila bagian otak yang “lemah “ dirangsangkan untuk berfungsi secara bersama dengan bagian otak yang “kuat “ ,maka diperoleh adanya peningkatan dalam semua abilitas.
Anak Yang pada masa usia dininya sering mendapat rangsangan kedua belah otaknya lebih siap untuk menghadapi berbagai tuntutan dan persoalan saat masuk Sekolah Dasar (SD).
            Hasil penelitian dibidang neorologitersebut memberikan landasan yang kuat dan sekaligus mempengaruhi prinsif dan praktik pendididkan anak.Praktik pendidikan anak yang sebelumnya lebih menekankan kemampuaan yang lebih berfikir logis dan rasional berubah menjadi lebih komprehensif yang mencakup pula pengemba ngan kemampuan berfikir imajenatif dan intuitif.
            Terkait dengan penjelasan tentang perlunya pembaharuan dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuaan dan dari contoh-contoh diatas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan.Pertama ilmu pengetahuaan tentang PAUD merupakan suatu yang bersifat dinamis sehingga terus berubah dan berkembang.Perubahan dan perkembangan ini dapat diidentifikasi sejak keberadaanya diketahui melalui berbagai riferinsi dan catatan yang ada hingga dewasa ini.Bahkan akhir-akhir ini perubahan dan perkembangan terlihat semangkin pesat dan komperehensif dan diperngaruhi oleh berbagai ilmu pengetahuaan terkait.
            Kedua, ilmu pengetahuan PAUD berkembang secara progresif,yakni berkembang kepada  arah semangkin akurat,cermat dan komperehensif.Meskipun tak pernah sempurna,ilmu kemampuan PAUD mampu menjelaskan fenomena prilaku pembelajaran anak.Bila pada era Froebel dan Mentossori misalnya penjelasan konsep-konsep lebih bersifat spekulatif dan filosofil,maka sekarang lebih bersikap ilmiah dan empiri.
            Ketiga ilmu pengetahuaan dalam bidang PAUD mendasari praktik pendidikan TK.Para guru dan pendididk lainya akan memiliki pengetahuan dan keyakinan tertentu tentang perkembangandan belajar anak yang bersumber dari ilmu pengetahuaan yang mereka pelajari dan pahami sehingga melandasi.Bagai mana mereka mendidik dan memperlakukan anak.
            Keempat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan PAUD pembaharuaan pendidikan merupakan hal yang perlu diperilakukan oleh guru TK.Guru TK yang selalu mengikuti perkembangan keilmuaan PAUD dan memahaminya akan selalu meng-‘’uptade’’ cara-cara pendidikan mereka.Dalam menjalankan tugas,mereka tidak terjebak dengan hal-hal yang rutin dan menonton namun berusahan melakukan perubahan apapun dari waktu kewaktu.Sebaiknya mereka harus selalu mengenali serta mencari informasi dan temuan-temuan terbaru dalam bidang PAUD disamping juga mereka belajar dari pemahaman mereka masing-masing.
            Kelima, bila para guru dan tenaga pendidik lainya tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak pernah melakukan perubahan dan pembaharuan apapun dalam praktik pendidikan mereka maka,pada suatusaat mereka tampil sebagai sosok pendidik tidak saja terbelakang tetapi asing dilingkunganya.Mereka bisa tanpa sebagai suatu kelompok yang anah atau ganjil dikalangan guru dan pendidikan lainya.
RANGKUMAN
            Ilmu pengetahuaan tentang PAUD terus berkembang dari zaman kezaman.Perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuaan PAUD membawa perubahan terhadap praktik pendidik TK.Para guru-guru dan praktisi pendidik TK lainya dengan sendirinya perlu melakukan perubahan dan pembaharuan sejalan dengan perkembangan dalam bidang ini.
            Pada abad pertengahan,eksitensi anak bisa tidak dikatakan tidak dihargai anak bisa dipandang sebagai miniatur orang dewasa,sebagai mahluk yang berdosa bawaan,dan sebagai lembaran kosong yang dapat diisi apapun.Oleh karena itu,dalam praktik pendidikan anak diperlukan sebagai orang dewasa dan dituntut berprilaku seperti orang dewasa.Anak bahkan sering dikenai hukuman secara fisik sebagai  salah satu cara untuk mengeluarkan unsur-unsur buruk yang ada pada dirinya.Begitu pula,anak diperlukan sesuai dengan harapan dan apa yang guru atau orang dewasa anggap baik tanpa mempedulikan kondisi dan minat individual anak yanga bersangkutan.
            Munculnya pestalozzi,Frobel dan Montessori,telah membawa perubahan dan pembaharuan pendidikan TK dilihat dari segi perkembangan ilmu pengetahuan PAUD dan dari contoh-contoh diatas dapat di kemukakan beberapa kesimpulan.
1. Ilmu pengetahuan PAUD merupakan ilmu yang terus berkembang hingga sekarang.Perubahan dan perkembanganya semangkin pesat dan koporehensif dan dipengaruhi oleh berbagai ilmu pengetahuan terikati.
2. Ilmu pengetahuan PAUD berkembang kearah yang semangkin akurat,cermat dan komperehensif serta mampu menjelaskan fenomena perkembangan dan prilaku belajar anak.
3. Ilmu pengetahuan PAUD mendasari praktik pendidikan TK.Para guru memiliki pengetahuan dan pemahaman tertentu tentang perkembangan dan pembelajaran anak yang bersumber dari ilmu pengetahuan yang mereka pelajari dan mereka pahami.Cara pandang mereka ini melandasi dan turut menentukan cara mereka dalam memperlakukan anak dan mendidik anak.
4. Seiring dengan perkembangan pengetahuab PAUD,pembaharuan pendidikan merupakan hal yang perlu dilakukan dengan sinambiung oleh para guru dan para pendidik lainya perlu meng-‘’update’’ cara-cara pendidikanya secara terus menerus sehingga mereka tidak terjebak dengan hal-hal yang rutin dan menonton tanpa melakukan perubahan apapun
5. Para guru dan tenaga pendidik lainya yang tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak pernah melakukan perubahan atau pembaharuan apapun dalam praktik pendidikan mereka,pada suatu saat bila mereka tampil sehingga sosok pendidik yang terbelakang dan aneh dikalangan para guru atau tenaga pendidik lainya.

B.     Perlunya Pembaharuan Pendidikan TK Dilihat dari Perkembangan Politik dan Kebijakan Pemerintah di Bidang Pendidikan Anak Usia Dini.
            Perlunya pembaharuan pendidikan TK Dilihat dariperkembangan politik dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan anak usia dini.
Pendidikpat merupakan salah satu instrumen politik pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu perkembangan pendidikan TK di suatu  Negara sangat berhubungan dengan perkembangan politik dan kebijakan pendidikan di Negara yang bersangkutan.
Keterkaitan antara perkembangan politik dan kebijakan pendidikan dengan praktik pendidikan TK dilapangan dapat diketahui dari perubahan-perubahan pendidikan yang terjadi sesuai dngan masa-masa pemerintahan yang berlangsung. Pada era penjajahan, masa pemerintah kolonial belanda menyelenggarakan pedidikan TK ala Froebel dan Montensori.pemerintah kolonial jepang menginstruksikan lembaga-lembaga pendidikan untuk melengkapi kegiatan kegiatan kelasnya dengan menyanyi-nyanyian serta latihan-latihan yang melibatkan unsure ketataan dan penghormatan kepada pemerintah jepang. Begitu juga pemerintahan RI melakukan serangkaian perubahan dan pembaharuan pendidikan seperti diterapkannya kurikulum gaya baru pada tahun 1960-an, kurikulum 1976, kurikulum 1984, kurikulum 1993, dan seterusnya hingga diberlakukannya KBK pada tahun 2005. Sesuai dengan arah politik dewasa ini yang menerapkan kebijakan otonomi daerah, Sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pun menjadi popular diperkenalkan.
Gerakan-gerakan ditingkat nasional danjuga internasional turut mendukung perubahan-perubahan dalam praktik pendidikan TK. Konvensi tentang Hak-hak Anak (Unicef 1989), Pendidikan untuk Semua (Thailand,1990), dan Deklerasi Dakar (2000) adalah beberapa contoh diantaranya.
Perubahan dan perkembangan kebijakan dan pendidikan membawakonsekuensi perubahan pula pada tingkat lembaga pendidikan. Dengan demikian, perubahan-perubahan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan ini dapat merupakan salah satu alasan perlunya para guru dan praktisi pendidikan lainnya untuk terus melakukan perubahan dan pembaharuan pendidikan.

C.    Perlunya Pembaharuan Pendidikan Taman Kanak-kanak Dilihat dari Alasan Kontekstual
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan masyarakat pun terus berubah semakin cepat. Kehidupan masyarakat yang tadinya serba tradisional dan manual, sekarang serba modern dan justru terasa serba cepat dan dekat. Sebagai suatu sub system dari kehidupan masyarakat yang lebih luas, lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat. Bisa dibayangkan bagaimana kalau lembaga pendidikan tidak melakukan upaya perubahan atau pembaharuan apa pun untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat yang demikian pesat itu.
Kondisi kehidupan yang terus berubah dan berkembang tersebut mengimplikasikan perlunya lembaga pendidikan untuk terus melakukan pembaharuan pendidikan yang dimaksud tidak terbatas pada upaya-upaya pembaharuan yang dilakukan secara makro oleh Pemerintah. Namun, yang lebih penting adalah justru pembaharuan-pembaharuan yang secara mikro dilakukan oleh para guru dan penyelenggara pendidikan lainnya.
Begitu pula sebagaisuatusaranasosial, yaknisebagai instrument pemberdayaanmasyarakat, dengan sendirinya lembaga pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Coba perhatikan contoh keterkaitan kehidupan masyarakat dengan pendidikan TIC (Technology Information and Communication) dibawahini.
Padakira-kira 1960-an, pesawattelevisibelummerupakan media massa yang dikenal oleh masyarakat kita, khususnya masyarakat pendesaan. Olehkarenaitu, sangat tidak lazim bagi guru TK untuk membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi dilokasi yang jauh dari tempat tinggal anak, apalagi yang terjadi di luar negeri. Dahulu mungkin terasa aneh kalau anak seorang TK bertanya kepada gurunya tentang perang Irak dan Amerika. Namun sekarang, dengan tersedianya sarana telekomunikasi yang memungkinkan informasi dari jarak jauh diperoleh dengan mudah dan cepat, pertanyaan anak semacam itu benar-benar terjadi.
Contoh lainnya adalah perkembangan teknologi computer dewasa ini. Pada tahun 1960-an, produk teknologi yang namanya komputer mungkin merupakan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh anak-anak TK di Negara kita. Sekarang, justru komputer ini menjadi bagian dari kehidupan anak dirumah, terutama bagi mereka golongan menengah keatas. Tersedianya alat-alat semacam ini dapat mengundang guru untuk melakukan upaya-upaya pembaharuan dalam pembelajarannya dengan memanfaatkan sarana teknologi tersebut.
Begitu juga kondisi lingkungan yang secara khusus memiliki keunikan-keunikantertentu bisa menuntun guru untukmelakukan penyesuaian-penyesuaian melalui upaya-upaya pembaharuan pendiikan.Misalnya, seorang guru yang tadinya biasa bekerja di TK perkotaan, tiba-tiba di pindahkan kedaerah terpencil yang serba kekurangan tenaga dan sumber daya lainnya.Dalam menghadapi kondisi  yang sangat berbeda tersebut, guru dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan.
Hal-hal konsektual yang dicontohkan diatas menuntut para guru untukterusmelakukan penyesuaian-penyesuaian melalui upaya-upaya pembaharuan pendidikan. Kebutuhan untuk melakukan upaya pembaharuan pendidikan ini lebih terasa lagi pada masyarakat sedang terus membangun. Mendukunghalini, Tilaar (1998: 359-360) menyatakan sebagai berikut. Dengan demikian inovasi pendidikan tetap merupakan suatu keharusan apalagi didalam suatu masyarakat yang sedang membangun.Di dalam masyarakat yang hidup dalam era globalisasi, transformasi masyarakat berjalan begitu cepat dan oleh sebab itu merupakan tantangan didalam organisasi sekolah.
Apa yang dinyatakan oleh Tilaar diatas menegaskan betapa perlunya suatu lembaga pendidikan melakukan upaya-upaya inovasi pendidikan di era globalisasi. Upaya inovasi pendidikan inilah yang akan membuat suatu lembaga pendidikan tahap hidup dan berkembang.
RANGKUMAN
            Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan masyarakat terus berubah dan berkembang dengan semakin pesat. Kehidupan masyarakat semakin menjadi modern dan canggih sehingga semakin memfasilitasi berbagai kehidupan. Perubahan ini dengan sendirinya mengimplementasikan perlunya lembaga pendidikan, termasuk TK, untuk terus melakukan pembaharuan.
            Sebagai suatu sub system dari kehidupan masyarakat yang lebih luas, lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat. Dan sebagai suatu sarana social, yakni sebagai instrument pemberdayaan masyarakat, lembaga pendidikan dengan sendirinya perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat.
            Hal-hal kontekstual tersebut menuntut para guru untuk terus melakukan penyesuaian-penyesuaian, diantaranya melalui upaya-upaya pembaharuan pendidikan. Melalui upaya pembaharuan pendidikan inilah, suatu lembaga pendidikan akan terus hidup dan berkembang.

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK

A.    PENGERTIAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK – KANAK
Kata pembaharuan merupakan istilah yang akrab bagi banyak orang,termasuk bagi para mahasiswa calon guru TK. Kata pembaharuan memiliki akar kata baru yang berarti belum pernah ada( dilihat atau didengar) sebelumnya.
Istilah pembaharuan juga dapat diartikan sama dengan kata inovasi ( innovation). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus !997), istilah inovasi diartikan sebagai pemasukan atau pengendalan hal-hal baru atau sebagai penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada yang sudah dikenal sebelumnya gagasan, metode, atau alat.
Dari penjelasan yang terdapat dalam  kamus diata, secara harfiah istilah pembaharuan dapat diartikan dalam dua pengertian. Pertama, pembaharuan diartikan sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk membarui sesuatu. Kedua, pembaharuan (inovasi)  dapat diartikan sebagai sesuatu penemuan hal baru gagasan, metode, alat, atau yang lainnya yang berbeda dari yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya.
Roger (1983: 10) mendefinisikan istilah pembaharuan sebagai “... an idea practice, or object perceived as new by an individual or otder unit of adoption”. Artinya, pembaharuan merupakan suatu ide, prakter, objek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individuatau unit adopsi lainnya.
Ibrahim (1998) menjelaskan keterkaitan antara istilah pembaharuan (inovasi) dengan istilah discovery dan invention. Dua istilah ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa indonesiasebagai penemuan. Namun, penemuan dalam arti  discovery erujuk kepada penemuan sesuatu yang sudah ada. Singkatnya, discovery merupan penemuan sesuatu yang sudah ada sedangkan invention merupakan penemuan sesuatu hasil kreasi baru.
Sebagai contoh,seorang guru TK berupaya mencari dan mempelajari suatu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan literacy (baca-tulis) anak secar efektif dan menyenangkan.
Menurut ibrahim (1988) istilah pembaharuan (inovasi) dapat mencakup baik hasil discovery maupun hasil invention. Dengan pemahaman seperti itu, ia mengartikan pembaharuan sebagai  suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seoarang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri.
Pertama, pembaharuan merupakan suatu penemuan yang dianggap sebagai hal baru yang berupa ide, cara atau metode, barang atau media peralatan atau yang lainnya.substansi dari pembaharuan bisa bermacam-macam, namun yang penting adalah bahwa sesuatu itu mengandung unsur kebaruan. Artinya, sesuatu itu mengandung unsur perbedaan dari yang selama ini sudah diketahui atau sudah ada.
Kedua, yang dimaksud baru dalam pengertian pembaharuan (inovasi) bisa benar-benar baru, yakni tidak pernah ada sebelumnya; bisa pula sebenarnya sudah ada, tetapi baru diketahui keberadaannya. Dengan demikian, inovasi dapat merupakan penemuan baru, baik hasil dari diskoveri maupun invensi.
Ketiga, pengertian baru dalam konteks inovasi juga bisa bersifat objektif, yakni tergantung kepada orang atau pihak yang akan mengadopsi sesuatu yang dianggap baru tersebut.
Pembaharuan pendidikan TK adalah pembaharuan dalam bidang pendidikan TK. Yaitu pembaharuan yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah atau mengembangkan pendidikan di TK. Bila dikaitkan dengan pengertian pembaharuan yang telah diungkapkan diatas maka istilah pembaharuan pendidikan TK dapat diartikan sebagai sesuatu penemuan ide, teori, metode, media pembelajaran atau yang lainnya yang dianggap sebagai hal baru oleh seseorang atau sekelompok orang baik itu hasil diskovery maupun invensi untuk memecahkan masalah-masalah dan atau mengembangkan pendidikan TK.
Secara sederhana pendidikan dapat diartikan sebagai segenap upay pendidik dalam memfasilitasi perkembangan anak agaranak dapat mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan nilai- nilai dan norma masyarakat yang dianut.
Pembaharuan pendidikan TK bisa dilakukan berkenaan dengan aspek-aspek atau sub-sub komponen dari pendidikan TK.
B. KARAKTERISTIK PEMBAHARUAN
Rogers (1983) mengemukankan 5 karakteristik pembaharuan, yaitu :
1.      Keuntungan relarif (relative advantage)
Keuntungan Relatif (relative advantage) adalah taraf sejauh mana suatau pembaharuan dianggpnlebih daripada yang sebelumnya. Taraf keuntungan bisa dilihat dari aspek ekonomis, pretise sosial, kecocokan, dan kepuasan engadopsi.
2.      Kecocockan (compatibility)
Kecocokan (copmpability) adalah taraf kesesuaian suatu pembaharuan dengan nilai-nilai, pengalaman masa lampau dan kebutuhan pengadopsi dengan cepat oleh yang bersangkutan.
3.      Kompleksitas (compexity)
Kompleksitas (complexity) adalah taraf kesulitan suatu pembaharuan untuk dipahami dan digunakan oleh pengadopsi. Suatu ide atau cara pembaharuan yang kompleks dan sulit akan cenderung lebih lambat untuk diadopsi daripada yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Coba perhatikan bagaimana mudahnya sebagian bersar masyarakat kita menerima cara-cara praktis dalam pembelajaran baca, tulis, hitung (calistung) bagi anak tanpa melihat tampak-tampak  perkembangan lebih jauh dari cara-cara pembelajaran seperti itu.
4.      Kemudahan untuk mencoba (trialability)
Kemudahan untuk mencoba (trialability) adalah taraf sejauh mana suatu pembaharuan dapat diuji cobakan dengan basis terbatas. Ide-ide baru yang dapat dicoba kan secara bertahap akan lebih mudah diadopsi dari pada pembaharuan yang tak dapat diuji coba secara bertahap.
5.      Kemudahan untuk diamati (observability)
Kemudahan untuk diamati (observability) adalah taraf sejauh mana suatu pembaharuan dapat dilihat hasilnya oleh pengadospi. Semakain mudah pengadopsi melihat hasil dari sesuatu perbaruan, semakin lebih udah baginya untuk mengadopsi.
Dengan lima karakter diatas, Rogers (1983) menyimpulkan bahwa pembaharuan yang dianggap oleh penerimanya sebagai memiliki keuntungan relatif, kecocokan, kemudahan untuk dicoba, kemudahan untuk diamati, dan kurang kompleksitas akan cenderung diadopsi lebih cepat dari pada pembaharuan yang tidak memiliki lima karakter tersebut.








SUB UNIT 2
A.    TUJUAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TK
Pembaharuan bukan sekedar upaya untuk mengubah suatu keadaan tanpa arah perubahan yang jelas. Pembaharuan juga bukan merupakan suatu kegiatan yang sifatnya coba-coba tanpa pertimbangan yang matang, meskipun pada prosesnya bisa melibatkan serangkaian langkah uji coba yang panjang. Pembaharuan merupakan upaya yang memerlukan persiapan matang, pemikiran dan kerja keras, keuletan dan kreativitas, serta arah sasaran yang jelas.
Dalam dunia TK, upaya pembaharuan dilakukan dalam rangka meghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Upaya-upaya pembaharuan dimaksudkan untuk melakukan perubahan-perubahan berdasarkan masalah yang dihadapi sehingga mencapai kondisi pendidikan yang lebih baik sebagai mana yang diharapkan. Upaya-upaya pembaharuan yang pernah dilakukan Pemerintah, seprti dikembangkan Kurikulum Gaya Baru pada tahun 1960-an atau Kurikulum Berbasis Kompetensi dewasa ini, dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pendidikan TK. Jadi pada dasarnya, upaya pembaharuan pendidikan TK berwujud untuk mewujudkan proses dan hasil pendidikan TK yang lebih bermutu.
Secara lebih langsung, sering kali juga upaya- upaya pembaharuan pendidikan itu dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. Dalam hal ini, Ibrahim (1988) menegaskan bahwa memang pembaharuan pendidikan itu dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pembaharuan pendidikan TK dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan TK dan sekaligus untuk meningkatkan mutu pendidikan TK.
B. FUNGSI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN TK
            Dengan dua sasaran utama pembaharuan pendidikan TK berarti pembaharuan pendidikan TK memeiki dua fungsi pula, yakni fungsi pemecahan masalah danfungsi peningkatan mutu pendidikan. Namun meskipun tidak dinyatakan sebagai sasaran utama, ada fungsi adaptif dan fungsi pengembangan staf. Fungsi adaptif maksudnya adalah bahwa melalui upaya-upaya pembaharuan yang dilakukan, pendidikan TK akan dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perkembangan kehidupan masyarakat global yang terus terjadi.
            Sedangkan fungsi pengembangan pengembangan staf artinya adalah bahwa upaya-upaya pembaharuan yang dilakukan bisa menjadi sarana bagi para penyelenggara dan pengelola TK untuk mengembangkan berbagai potensi dan kemampuan dalam rangka profesionalisasi dan aktualisasi diri. Dengan demikian, fungsi pembaharuan pendidikan TK, yakni: (1) fungsi perpecahan masalah (problem solving funtion),(2) fungsi adaptasi (adaptive function), (3) fungsi pengembangan staf (staff development function), dan (4) fungsi peningkatan kualitas (quality improvement function). Penjelasan dari masing-masing fungsi tersebut dapat dikemukan sebagai berikut:
1.      Fungsi Pemecahan Masalah
Pembaharuan pendidikan TK berfungsi sebagai pemecahan masalah maksudnya adalah bahwa upaya pembaharuan pendidikan TK dapat mengatasi atau mereduksi masalah-masalah pendidikan yang terjadi di TK.
2.      Fungsi Adaptif
Dilihat dari sisi perkembangan kehidupan masyarakat global yang terus berlangsung. Pembaharuan pendidikan TK berfungsi merespons perubahan-perubahan kehidupan masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dewasa ini telah menyebabkan tersediannya berbagai fasilitas belajar serta derasnya arus penyebaran informasi yang mendorong manusia untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
3.      Fungsi Pengembangan Staf
Manusia adalah makhluk hidup yang terus berkembang. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, pengembangan berbagai minat dan kemampuan merupakan hal yang secara alamiah perlu dilakukan dan dipenuhi dalam rangka aktualisasi diri.
4.      Fungsi Peningkatan Mutu Pendidikan TK
Disamping fungsi-fungsi di atas, upaya pembaharuan pendidikan TK juga berfungsi untuk memperbaiki  atau meningkatkan mutu pendidikan TK. Demikian fungsinya fungsi pembaharuan bagi peningkatan mutu pendidikan sehingga seorang pakar pendidikan indonesia, tilaar (1998: 357), berujar,” peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat berjalan tanpa adanya inovasi pendidikan”.
Dengan fungsi ini, pembaharuan pendidikan TK berguna untuk mewujudkan proses dan hasil pendidikan yang lebih baik.
C. PRINSIP – PRINSIP PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DI TK
Sesuai dengan pendapat  Drucker (tilaar,1998), ada lima prinsip utama yang perlu diperhatikan dalam melakukan pembaharuan pendidikan TK. Lima prinsip yang dimaksud adalah :
1.      Pembaharuan pendidikan di TK perlu didasarkan pada analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka. Artinya pembaharuan pendidikan di TK itu bukan sekedar kegiatan yang sifatnya coba – coba tanpa dasar kajian yang akurat. Perlu disadari bahwa pendidikan menyangkut perkembangan anak manusia yang bisa berdampak panjang bagi kehidupannya
2.        Pembaharuan pendidikan TK itu bersifat konseptual dan perceptual. Maksudnya adalah bahwa pelaku pembaharuan di TK perlu merancang dan mengimplementasikan upaya pembaharuan pendidikan TK tidak saja berdasarkan konsep – konsep atau ilmu pengetahuan yang ia kuasai, tetapi juga harus berdasarkan pemahamannya terhadap kebutuhan masyarakat pengguna hasil pembaharuan tersebut.
3.      Pendidikan pembaharuan di TK harus bersifat sederhana dan terfokus. Sederhana artinya mudah dipahami dan dipraktekkan, dan terfokus maksudnya terarah kepencapaian hasil yang jelas.
4.      Pembaharuan di TK perlu dimulai denga yang kecil. Tidak semua pembaharuan dimulai dengan ide – ide besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata para praktisi. Dari keinginan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan pendidikan nyata dikelas perkembangan pendidikan selanjutnya.
5.      Pembaharuan pendidikan TK di arahkan kepada kepeloporan. Pembaharuan perlu diarahkan untuk menghasilkan kepeloporan dari suatu perubahan pendidikan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka maksud dari pembaharuan tersebut akan kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam komunikasi terkait.