welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Kamis, 04 Oktober 2012

MEMBENTUK DAN MANFAATNYA BAGI ANAK USIA DINI

MEMBENTUK DAN MANFAATNYA

A.GAMBARAN UMUM

Tujuan utama mempelajari keterampilan membentuk anak usia dini adalah mengembangkan kecakapan visual dan peningkatan kualitas rasa seni melalui berkarya dan mengamati lingkungan sekitar. Kecakapan visual atau sering disebut intelegensi visual (visual Intelligence) adalah kemampuan menanggapi, dan memahami bentuk secara cepat.
Anak usia dini tumbuh berkembang dari belajar memahami bentuk global sampai pada bentuk-bentuk yang rinci (detail). Kemampuan pemahaman bentuk berkembang seiring dengan perkembangan otak, pikiran dan perasaannya. Manfaat kemampuan memahami bentuk sangat banyak, mulai dari kegunaannya untuk belajar, merasakan hingga menangkap objek secara detail.
Biasanya kemampuan pemahaman anak tentang bentuk jarang diketahui oleh orang tua atau pendidik, sehingga anak hanya mencoba dan mempraktekkannya sendiri.
Untuk mempersiapkan latihan membentuk, anda diminta menyediakan media yang berbentuk liat, cair (liquid) untuk cor seperti lilin panas, padat untuk dipahat seperti sabun atau keras seperti kayu, batu dan mengonstruksi benda-benda limbah dan karton atau kardus bekas pembungkus makanan.

B.PENGERTIAN DAN CAKUPAN MEMBENTUK

Kegiatan membentuk adalah membuat bentuk, baik bentuk terapan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun bentuk-bentuk yang kreatif sebagai karya seni murni. Tujuan kegiatan membentuk pada pendidikan seni rupa untuk anak usia dini adalah (a) melatih pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian, (c) melatih kemampuan ketepatan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan rasa indah, (f) melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g) melatih mengembangkan rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda limbah menjadi benda baru untuk permainan, maupun kesenian dan benda-benda terapan.
Isi dan cakupan kegiatan membentul terdiri atas: (a) menyusun atau merangkai, mengonstruksi benda, (b) membutsir, (c) memahat, (d) menempel, (e) melipat, (f) merekayasa bentuk lama menjadi bentuk baru dengan fungsi baru, (g) mencetak dan mengecor.
1.    Konstruksi
Istilah konstruksi dapat diartikan sebagai menyusun komponen-komponen atau benda-benda menjadi suatu kesatuan yang berfungsi praktis maupun seni. Penyusunan benda sebagai komponen ide keseluruhan menggunakan bermacam-macam media dan cara seperti: memberi lem atau perekat, memaku, mengikat, dan menjahit.
2.    Kolase
Kolase atau menyusun benda-benda secara bebas bertujuan untuk melatih kreativitas. Bentuk kolase ini dilakukan dengan tujuan tertentu atau sekedar disusun untuk mencapai keindahan murni.


3.    Memotong dan Menempel
Suatu bentuk yang berisi (ber-ruang) dapat dibuat dengan cara memotong dan menjahit, sedangkan bahan yang berupa kain dapat dijahit kemudian diisi dengan kain perca, kapuk, kapas atau spon/busa. Bentuknya bisa berupa boneka, atau figur binatang ataupun makhluk kreasi. Prosedur pembuatannya pun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: (a) membuat pola geometris dengan ketepatan ukuran (precission) kemudian disusun dengan menempelkan pola satu persatu sehingga menjadi bentuk utuh, (b) kardus bekas pembungkus makanan seperti mie instan, kotak sabun yang berukuran relatif besar disusun langsung sesuai dengan kreasi pada saat mengerjakan.
4.    Membutsir
Kegiatan membutsir adalah menempel sedikit demi sedikit bahan liat dan lunak menjadi bentuk kasar dan kemudian dibentuk dan diperhalus dengan cara mengurangi atau menambah sehingga lebih terasa padat.
5.    Memahat
Memahat adalah membentuk benda menjadi karya seni atau mainan anak dengan menggunakan pahat. Bahan yang dipahat bisa berupa: kayu, batu atau sabun batangan.
6.    Melipat
Istilah melipat dapat berupa kegiatan meremas bahan kertas kemudian disusun kembali menjadi karya seni rupa tiga dimensi. Melipat sendiri telah dikenal dengan metode origami.
Origami merupakan seni melipat kertas untuk membentuk karya tiga dimensi, dan meremas kertas lalu membentuknya kembali merupakan karya rupa tiga dimensi yang ekspresif. Penyelesaian karya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut: (1) Karya dibiarkan tanpa warna, yaitu warna asli dari warna kertas. (2) Mengeringkan terlebih dahulu karya yang telah dibentuk kemudian diberi warna dengan menggunakan cat.
7.    Mengecor
Kegiatan mengecor ini dapat dilakukan dengan bahan tanah liat, tanah biasa, gips, lilin, dan adonan kue. Prinsip mengecor adalah membentuk dengan membuat klise (model cetakan) terlebih dahulu, klise tersebut dapat berupa model yang sudah ada kemudian diberi bahan tuang seperti yang telah disebutkan. Terdapat 3 macam bentuk klise (1) klise untuk mencetak hilang artinya klise tersebut akan rusak setelah dilakukan pengecoran, misalnya klise tanah dengan menggali langsung ditanah, (2) klise alam seperti kulit buah-buahan yang sederhana. (Contohnya: kulit tanah, atau buah yang dibagi dua). (3) klise tetap yaitu klise yang relatif dibuat untuk mencetak, misalnya klise kue.

C.MANFAAT MEMBENTUK

Lansing menjelaskan bahwa kegiatan membentuk sangat diperlukan bagi pengembangan anak secara menyeluruh. Kegiatan membentuk dimulai dari mengamati benda 3 dimensi, mencoba menirukan dan kemudian mengkreasi. Pada proses mengamati, kegiatan mengamati bentuk 3 dimensi bukan merupakan kegiatan yang mudah terutama bagi anak.
1.    Mengenal Benda di Lingkungan Sekitar
Kenneth M. Lansing (tt) menjelaskan, ketika anak-anak diberi kesempatan memegang tanah liat, karya pertama yang dilakukan adalah membuat pola-pola seperti menggambar. ...They begin by pushing, pounding, and breaking the clay for the sheer enjoyment of tactile and kinesthetic sensations.(tt.,146).
Pada masa ini kegiatan melimitasi bentuk masuk ke dalam kegiatan permainannya. Anak mengajak berbicara benda-benda di lingkungan sekitarnya dan kadang dianggapnya seperti teman.
2.    Pengembangan Fungsi Otak dan Rasa
Keterampilan membentuk memerlukan koordinasi mata, tangan, dan rasa yang dimotori oleh kinerja otak. Fungsi otak kanan adalah mengembangkan cara berpikir acak atau tidak teratur dengan rasa atau intuitif serta mampu mengembangkan berpikir abstrak dan holistik. Sedangkan fungsi otak kiri, mengajarkan berpikir sekuensiak, bertahap dan teratur serta linear, sehingga masing-masing bagian pekerjaan menghendaki kinerja yang teratur dan rasional. Koordinasi otak kanan dan kiri tersebut akhirnya mempengaruhi keterampilan yang diperoleh.
3.    Pengembangan Keterampilan Teknis Kecakapan Hidup
Secara tidak sengaja kegiatan pengembangan membentuk yang diberikan kepada anak akan membutuhkan kecakapan yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidup. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan berketerampilan hidup. Selain itu keterampilan membentuk dengan menyusun akan melatih rasa keindahan, akan dapat dipergunakan untuk menyusun atau menata dan mengatur perabot rumah tangga.























MEDIA DAN TEKNIK MEMBENTUK

A.Menyiapkan Bahan dan Peralatan

1.    Was atau Plastisin
Cara menggunakan was atau plastisin adalah dengan cara diremas terlebih dahulu agar bahan menjadi lunak dan lembek namun liat, sehingga bahan ini mudah dibentuk.
2.    Sabun Batangan
Teknik membentuk dilakukan dengan cara mengeruk, mengurangi dengan benda tumpul-pipih atau alat mematung yang disebut dengan sudib. Cara lain untuk membuat lempengan adalah dengan menekan (press) sabun tersebut sehingga berbentuk tipis. Secara tradisional dapat dillakukan dengan memukul-mukul sabun tersebut hingga pipih seperti lempengan dan selanjutnya disempurnakan dengan pijatan tangan secara langsung.
3.    Tanah Liat dan Tanah Keramik
Jika bahan dasar tanah liat tidak dapat dijumpai, pendidik dapat memodifikasi dari bahan abu kayu atau abu gosok. Cara membuat agar abu tersebut menjadi liat adalah mencampurnya dengan lem (kayu atau kertas).
4.    Tepung Gandum
Pertama buatlah adonan terlebih dahulu seperti membuat adonan kue jika akan diselesaikan dengan pengepanan (di masak sesungguhan). Bisa juga hanya berupa adonan dengan pencampuran lem.
5.    Bubur Kertas
6.    Limbah Serbuk Kayu
Serbuk gergaji ini biasanya dibuang atau dimanfaatkan untuk bahan bakar dengan cara dipadatkan terlebih dahulu. Pada kesempatan ini serbuk tersebut akan dibentuk sesuai dengan selera atau dibuat padat agar mudah mengering dengan cara memberi lem kayu atau lem kertas sehingga pada suatu saat mengering.
7.    Cetak dan Cor Lilin
Membuat klise cor berbentuk kepala boneka yang sudah rusak badannya. Sediakan serbuk pasir atau abu gosok yang halus dengan cara menyaring dengan kain kasa atau alat penyaring. Campurkan lem kayu atau lem kertas dan diremas untuk menjadi liat (moulding) dari tanah pasir atau abu gosok. Adonan tadi dicetakkan ke dalam kardus bekas.
8.    Patung Pasir
Bahan pasir adalah media yang paling murah dan mudah, namun hasil pembentukkannya kurang memuaskan. Karya ini mudah rusak dan bentuknya pun kurang tajam (ekstrim). Sedangkan pasir yang digunakan dapat berupa pasir putih yang relatif bersih dan dapat ditempatkan di dalam ruangan khusus. Ruangan atau tempat pasir putih tersebut minimal berukuran 2 x 2 x 0,45 meter dan kegiatan bermain membentuk dengan pasir dapat dilakukan secara berkelompok.
9.    Kertas Bekas
Limbah kertas dapat dimanfaatkan secara langsung dengan cara melipat kertas untuk membentuk binatang, orang, benda-benda patung atau pun kepala boneka atau mangkuk kertas bekas yang diremas.
10. Batu Kapur
Batu kapur bersifat agak empuk maka cocok untuk media karya bagi anak usia dini. Untuk pembentukannya diperlukan alat yang dapat berupa pisau ukir (pahat) atau menggunakan pisau yang tumpul dengan cara diukirkan. Batu kapur ini sifatnya empuk maka bentuk patungnya sulit untuk dibuat rapi seperti batu hitam yang biasa dibuat patung, karena setiap terbentur benda tumpul batu kapur mudah rontok sedikit demi sedikit.
11. Kayu
Kayu merupakan media bahan yang sangat umum dipergunakan sebagai bahan pembuatan patung. Kegiatan latihan mematung pada anak usia dini dapat dikelompokkan ke dalam dua teknik, yaitu:
a.    Mematung dengan teknik konstruksi, yaitu mematung dengan cara menyusun potongan kayu yang sudah menjadi potongan-potongan kubus atau sering disebut dengan balok-balok yang terdiri dari persegi panjang, segitiga, kerucut, setengah lingkaran dan lain-lain.
b.    Mematung dengan teknik memahat, yaitu disediakan kayu yang masih berbentuk global, yang nantinya akan dijadikan sebuah patung dengan cara di pahat menggunakan pisau pahat. Pisau pahat yang bisa digunakan bagi anak usia dini (khususnya anak usia 4-6 tahun) tentu berbeda dengan yang oleh pematung (seniman patung), tetapi pisau pahat yang dapat digunakan untuk kegiatan cetak cuki, (seni grafis) yang menggunakan hard bord atau tripleks.

B. LATIHAN MEMBENTUK

1.Menginterpretasi Bentuk Alam
a.Bahan Padat dan liat
            Menginterpretasi dan meniru (mengimitasi) bentuk alam seperti: buah-buahan, binatang dan gunung. Membentuk dengan pelatihan mengimitasi dapat dilakukan dengan menyediakan model atau objek yang akan dimitasi atau dicontoh.
b.Bahan Cair
            Model ini menggunakan klise cetak terlebih dahulu, seperti gips, semen atau jenis yang lain yang tidak mudah rusak karena air, dan korosi kimia. Terdapat dua jenis klise cetak cor: a cire perdue, dan klise tetap. Jenis yang pertama sering disebut dengan klise cetak hilang, yaitu sekali dipakai akan rusak. Sedangkan yang jenis klise yang kedua, harus dibuat dan dikerjakan dengan teliti ketepatannya.

2.Menciptakan Bentuk Kreatif
Menciptakan bentuk yang kreatif adalah menciptakan bentuk-bentuk yang lain dari pada yang lain. Anak diminta memilih bahan padat yang akan dibentuk ataupun sekedar menyusun kembali bahan padat yang ada di lingkungan sekitarnya, seperti batu, atau kayu limbah. Untuk itu anak harus jeli memilih bahan yang sesuai dengan jenis dan juga ide serta gagasannya.



3.Membuat Benda Terpakai
            Latihan membuat benda terpakai dapat dimulai dari menyusun, merangkai, memodifikasi serta mengecor.

4.Membuat Relief
            Jika menggambar adalah menggores dan menghasilkan bentuk dua dimensi, maka membuat relief pada prinsipnya sama, yaitu membuat tinggi rendah bentuk. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi dan memperkaya pengamatan dengan mengembangkan teknik perabaan. Terdapat 2 teknik memmbuat relief: (a) relief rendah yang menekankan gambar berada dibawah permukaan rata-rata, (b) relief tinggi dengan meninggikan gambar sejajar dengan permukaan rata-rata. Adapun tujuan melatih anak membuat relief adalah melatih kepekaan bentuk permukaan, barangkali untuk membantu penglihatan anak yang kurang jelas melihat perspektif.

MEWARNAI, MENGGUNTING, MENEMPEL ( 3M ) DAN MELIPAT

MEWARNAI, MENGGUNTING, MENEMPEL ( 3M ) DAN MELIPAT
RESUME MATERI

Oleh
                                    Asniati                        F54011014     
                                    Meli Novikasari         F54011035
                                    Bina Indri Hapsari    F54011011     
                                    Nursia                         F54011018
                                    Melania                      F54011033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS TANJUNG PURA
PONTIANAK
2012

MEWARNAI, MENGGUNTING, MENEMPEL ( 3M ) DAN MELIPAT
A.                Mewarnai
            Anak sangat suka membubuhkan warna melalui berbagai media baik saat si anak sedang menggambar, atau meletakkan warna pada saat mengisi bidang-bidang gambar yang harus diwarnai.
1.      Memilih warna adalah melatih menanamkan sikap anak untuk memilih warna yang mereka anggap bagus dan ia sukai sebagai awal penanaman sikap anak terhadap apa yang ia hadapi.
2.      Menyusun warna dapat melatih nilai-nilai perbandingan yang bersifat rasa antara satu dengan lainnya, melatih bagaimana memilih dan menempatkan bagian satu dengan yang lainnya.
3.      Menuangkan warna adalah tindakan fisik dimana anak melakukan gerakan mengoles dan mengendalikan gerak tangan.
Bahan pewarna yang dapat digunakan untuk anak usia dini antara lain; cat air, krayon pastel, spidol, sepuhan, teres.
            Untuk mewarnai gambar anda harus bijak dan mengacu kepada kreativitas, emosi, dan imajinasi anak. Contoh; apabila anak dihadapkan dengan gambar pisang yang belum diwarnai , bukan bearti  anak harus  mewarnai  pisang dengan warna kuning (karena pisang warnanya kuning ). Tetapi Anda harus ingat ekspresi ,  emosi , dan rasa ingin mencoba  yang lain bagi anak untuk mencoba bahwa pisang diberi warna  merah.
            Untuk mewarnai sebaiknya menggunakan kertas yang tebal,  hal ini dimaksudkan agar sewaktu kertas diwarnai tidak mudah rusak. Berdasarkan kenyataan tersebut sebaiknya anda memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi sesuai suasana hati mereka. Hal yang paling penting adalah bagaimana anak memahami teknik memberi warna gambar tersebut. Penekanannya untuk adalah mewarnai dengan rapi dalam menggunakan media pewarnanya, sehingga akan dapat melatih anak dalam keterampian, apresiasi menentukan sikap dalam memilih media dan waktu.
                                                                     
            Mewarnai gambar melatih anak selain kemampuan motoriknya juga melatih ketrampilan , kerapian dan kesabaran . Kemampuan motorik didapatkan karena anak selalu berusaha untuk menggerakan fisiknya secara terkendali dan terarah dengan aturan –aturan baik yang ada pada diri anak itu sendiri atau aturan-aturan pada umumnya dalam tata carra mewarnai gambar.  Keterampilan didapatkan dari oleh tangan yang berulang–ulang, sehingga semakin lama anak akan mampu mengendalikan, mengarahkan sehingga apa yang dihasilkan oleh tangan mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki.  Dari kebiasaan ini keterampilan dalam berkarya akan dicapai. Kerapian didapatkan dari bagaimana anak membutuhkan warna-warna ditempat yang telah ditentuan. Semakin lama anak akan semakin tepat dalam meletakan warnanya, karena semakin  terampil dalam menggoreskan media pewarnanya. Kesabaran dapat diproleh dari bagaimana anak memilih, menentukan   komposisinya agar tepat menurutnya , dan seberapa ia akan meletakan warna-warna dalam mengemposiisikan. Dari berlatih yang terus menerus semakin lama anak akan memiliki sikap yang pada akhirnya menjadikan anak tersebut melakukan dengan sadar dan sabar.

B.                 Menggunting
            Gunting berguna untuk melatih anak agar mampu menggunakan alat, dan melatih keterampilan  memotong objek gambar. Hal ini membantu perkembangan motorik, latihan keterampilan, sikap, dan apresiatif  bagi anak.
            Keterampilan yang akan didapat oleh anak antara lain; keterampilan mengoperasikan alat gunting untuk memotong kertas, keterampilan memotong di tempat yang benar, kecermatan mana yang harus dipotong dan mana yang tidak boleh dipotong, dan ketahanan mengerjakan memotong dengan waktu yang relatif lama bagi anak.
            Sikap anak didapatkan melalui suka atau tidak suka  dengan hasil potongan yang telah ia lakukan untuk ditempatkan (dipasang pada tempat yang telah disediakan). Setelah ia potong sebelum dibubuhi lem ia coba pasang pas atau tidak, bagus atau tidak, salah atau benar. Dari beberapa hal yang telah ia lakukan tentu akan melatih sikap anak terhadap yang ia lakukan dan tata cara yang harus dijalankan.
            Apresiatif didapatkan dari penanaman sikap, keterampilan, pengalaman berkarya, pengetahuan dalam memadukan guntingan kertas, dan pewarnaan hasil karyanya. Maka ia akan memiliki rasa menghargai, menyayangi, dan memelihara paling tidak karya yang telah ia dapatkan atau karya temannya.
            Gambar yang akan digunting oleh anak sudah mempunyai batas yang telah dirancang oleh penggambar. Yaitu garis yang membatasi gambar atau kontur bidang. Kegiatan menggunting dapat dilakukan dengan cara menggunting di luar objek gambar yang diwarnai dengan jarak kira-kira 1mm sehingga ruang warna tidak dikurangi dan tidak ada kelebihan kertas putih. Objek gambar yang diwarnai dengan media kering akan tidak banyak memiliki kesulitan pada waktu pengguntingan karena kertas tetap dalam keadaan kering sehingga langsung dapat dipotong dengan menggunakan gunting. Objek gambar yang diwarnai dengan media basah akan lebih sulit pemotongannya. Maka harus ditunggu sampai gambar tersebut sampai kering benar, karena kertas yang lembek akan gampang sobek bila digunting.

C.                 Menempel
            Menempel merupakan kegiatan lanjut dari menggunting.Menempel ini adalah kegiatan finishing dari kegiatan  3M, karena apabila proses penempelan ini telah dilakukan maka berakhirlah kegiatan 3M.  Mewarnai, menggunting dan menempel mempunyai tujuan motorik karena dapat diukur dari hasil keterampilan dalam menempel gambar. Penempelan  gambar dikatakan baik jika tepat pada tempat yang telah disediakan berupa bentuk kolom kosong yang terdapat garis pinggirnya untuk membatasi objek gambar yang telah diwarnai.
            Anda pasti memahami bahwa anak usia dini masih sangat tergantung orang lain dalam mengerjakan kegiatan seni. Maka Anda sebagai pendidiknya sebaiknya membimbing dengan cara membantu sambil ikut memegangi kertas gambar yang akan ditempelkan karena proses menempel ini sangat diperlukan latihan secara berulang-ulang. Untuk meletakkan kertas yang sudah dioleskan lem akan sulit bagi anak, sebab kertas yang sudah terolesi lem begitu menempel kertas lain akan mudah lengket dengan kertas lain tersebut, padahal apabila posisi kertas tersebut belum pas maka sangat sulit untuk dilepas lagi.
            Penggunaan lem sebaiknya tidak menggunakan lem yang beraia (encer sekali), karena akan menjadikan potongan gambar mudah kusut karena basah.
            Menempel merupakan proses terakhir dari kegiatan 3M. Proses dalam menempel mempunyai tujuan motorik yang sangat nyata, karena dalam menempel potongan gambar diperlukan ketelitian, kesabaran, keterampilan dalam proses penempelan gambar.
            Untuk kegiatan menempelkan gambar telah disediakan tempat yang biasanya sudah ada batas-batasnya, yaitu ruangan kosong yang bentuknya sama dengan bentuk yang diwarnai. Urutan mewarnai, menggunting dan menempel merupakan satu rangkaian walaupun pelaksanaannya sendiri-sendiri.
            Setelah  gambar diwarnai maka terus digunting sesuai batas yang telah ditentukan. Penempelan dengan menggunakan lem merupakan kegiatan yang perlu mendapat bimbingan oleh pendidik secara ekstra. Untuk pelaksanaan penempelan sering banyak banyak terdapat kesulitan bagi anak, yaitu arah gambar yang sering terbalik, bagian atas diletakkan dibagian bawah dan atau sebaliknya, atau penempelan yang tidak pas sehingga apabila sudah terlanjur menempel sulit untuk dilepas lagi. Dari kejadian seperti ini maka Anda sebagai pendidik benar-benar harus memperhatikan dan membimbing dengan sabar dan teliti.
            Mewarnai, menggunting dan menempel adalah kegiatan pengembangan yang memiliki ranah-ranah yang sangat nyata, artinya kemampuan-kemampuan yang diharapkan pada tujuan pengembangan dalam kegiatan ini akan cepat nampak.
            Tema yang disajikan harus sesuai dengan daerah tempat anak didik kita, misalnya diperkotaan dan perdesaan. Contohnya tentang transportasi laut, udara, darat sehingga Anda dapat memberikan gambar perahu, pesawat dan mobil. Hal ini sekaligus dapat dihubungkan dengan kegiatan lain dari seni rupa.
            Dengan bekal kompetensi tambahan tersebut Anda tentu akan lebih mantap dalam mengelola kegiatan pembelajaran, kreatif, produktif, inovatif dan percaya diri sehingga suasana kelas dapat berlangsung dengan menyenangkan, dinamis serta penuh kehangatan.
            Proses kreasi atau proses kreatif merupakan tahapan yang harus dilalui oleh seseorang dalam mencipta suatu karya seni, mulai dari proses memperoleh dan menemukan sumber ilham atau inspirasi, gagasan hingga proses mewujudkan dalam bentuk karya mewarnai ,menggunting, menempel dan melipat.
            Tahap akhir kegiatan 3M adalah menempel. Setelah anak mampu melalui kegiatannya mewarnai kemudian meggunting kertas yang sudah diwarnai. Pada tahap ini memerlukan kemampuan tersendiri, karena kegiatan menempel bagi AUD bukan hal yang mudah. Anda sebagi pendidik perlu membimbing dengan ikut melakukan penempelan, bahkan ikut memegangi tangan anak bagaimana menempal, mengelem agar tidak sampai lem mengenai bagian lain yang mengakibatkan rusak atau terjadi hal yang diinginkan.

D.                Melipat
            Dijepang kegiatan melipat kertas sangat terkenal karena perkembangan kreativitasnya sangat cepat. Seni melipat di jepang dikenal dengan istilah origami.
            Lembaga PAUD merupakan salah satu wadah pendidikan untuk mengembangkan segala potensi yang ada pada anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Usia 3-7 tahun adalah usia pada saat anak sangat membutuhkan pembinaan serta bimbingan dalam mengembangkan segala potensi yang ada. Salah satu potensi tersebut adalah keterampilan yang dikembangkan melalui permainan motorik halus dengan berbagai media dan teknik kegiatan. Kegiatan melipat kertas merupakan salah satu pengembangan motorik halus yang membutuhkan ketelitian, keterampilan dan pengembangan seni. Kegiatan ini juga merupakan salah satu media untuk membantu melenturkan otot motorik halus, daya pikir, perasaan sensitif, dan keterampilan yang tingkat kesulitannya dapat disesuaikan dengan usia anak.
            Berkarya yang baik melalui proses dan latihan panjang, dapat diwujudkan melalui proses atau tahapan yang harus dilalui. Proses kreasi atau proses kreatif merupakan tahapan yang harus dilalui oleh seseorang dalam menciptakan suatu karya seni, mulai dari proses memperoleh dan menemukan sumber ilham atau inspirasi, gagasan hingga proses mewujukan dalam bentuk karya mewarnai, menggunting, menempel, dan melipat.
         Melipat merupakan kegiatan yang berdiri di luar kegiatan 3M. artinya kegiatan ini dapat dilaksanakan tanpa dihubungkan dengan kegiatan mewarnai, menggunting  (walaupun kadang-kadang dibutuhkan pengguntingan sedikit) dan menempel, yang juga seandainya dibutuhkan hanya sebagai tambahan untuk melengkapi kegiatan melipat.
Teknik dalam kegiatan melipat merupakan kegiatan tersendiri dari kegiatan 3M. walaupun masih pada keterampilan bagaimana mengolah kertas menjadi karya seni rupa, tetapi membutuhkan daya cipta yang lebih sulit. Kertas yang mempunyai sifat dua dimensi kemudian tidak jarang diubah menjadi karya seni rupa tiga dimensi, yaitu dijadikan bentuk-bentuk kapal, burung, kucing, bunga, kupu-kupu, rumah dan  lain-lain.
Teknik melipat pada kegiatan ini sebaiknya dipandu oleh dua orang pendidik, satu orang pendidik mengajak kepada anak untuk melipat kertas dengan langkah satu persatu secara keseluruhan, sedangkan pendidik lainnya membimbing anak satu- persatu dengan cara iku bekerja dengan anak bagaimana cara melipatnya sambil ikut memegangi. Setiap anak memegang kertas masing-masing satu lembar. Langkah demi langkah sambil dibantu pendidikan melipat kertas sesuai dengan peragaa pendidikan didepan kelas.
Agar lipatan tidak mudah lepas atau tidak sulit membentuk maka setelah dilipat agar ditekan sampai kertas patah pada lipatan, yaitu kertas terlipat kemudian di tekan diatas meja menggunakan ujung gunting atau kuku pada jempol sambil ditarik kebelakang. Seperti anda ketahui bahwa lipatan kertas tidak cukup sekali dilipat tetapi akan berkali-kali  dilipat dan banyak lipatan sehingga terbentuk sesuai yang diinginkan. Kertas yang digunakan melipat sebaiknya kertas yang mempunyai sifat kertas walaupun kertas tersebut tipis, karena apabila kertas itu keras akan mudah dipatahkan dan setelah patah tidak mudah kembali seperti semula. Kertas yang dapat dipakai antara lain adalah kertas manila, kertas karton, kertas sampul.
Pewarnaan pada teknik melipat hampir tidak banyak diperlukan bahkan jarang ditemukan karena kertas-kertas yang dipakai pada teknik melipat biasanya telah memiliki pewarna (berwarna). Tetapi dapat diberi tambahan untuk membuat kelengkapan-kelengkapan terutama untuk membuat bentuk-bentuk hewan. Tambahan-tambahan ini dapat berupa tempelan atau bahkan potongan untuk membuat bagian objek (misalnya: kaki hewan, kepala, jendela kendaraan.

E.                 Media Mewarnai, Menggunting, Menempel ( 3M ) dan Melipat
            Sesuai dengan nama kegiatannya bahwa mewarnai, menggunting, menempel (3M) tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, kegiatan itu selalu mempunyai kaitan yang tidak mungkin diberikan dalam keadaan yang terpisah-pisah. Hanya saja terdapat perbedaan antara bahan dan alatnya mengingat masing-masing terdapat kegiatan akan mkenggunakan bahan dan alat yang berbeda.
1.      Bahan
Bahan untuk mata kegiatan melipat, menggunting/merobek, menempel dan mewarnai sebagai berikut:
·         Kertas, merupakan bahan pokok dalam dalam kegiatan ini dan sangat mudah didapatkan serta termasuk relatif murah harganya baik kertas berwarna maupun kertas dasar (polos).
·         Lem kertas, Anda dapat menyediakan lem yang mudah digunakan untuk anak usia dini. Banyak jenis lem kertas dari yang dibuat sendiri sampai yang dibuat oleh pabrik. Jenis lem kertas ada yang dioleskan memakai jari, ada pula yang cukup digosokkan dengan tempatnya (wadah) lem.
·         Pewarna, bahan pewarna yang dapat digunakan antara lain;
Cat air, krayon, spidol, sepuhan, teres.
Bahan-bahan pewarna tersebut sangat mudah untuk digunakan oleh anak usia dini dan tidak membahayakan bagi anak karena beresiko rendah, akan tetapi sebaiknya cat basah tidak digunakan (cat air, sepuhan, teres), karena cat basah akan menyulitkan pada saat proses pengguntingan, karena kertas yang menggunakan cat basah akan lama keringnya.
2.      Alat
Untuk kegiatan melipat, menggunting,/merobek, menempel dan mewarnai seebagai berikut:
·         Gunting disamping untuk memotong kertas dapat juga dipergunakan untuk menoreh, yaitu untuk membantu tekukan/lipatan kertas, dengan cara sebelum kertas dibuat lipatan akan lebih mudah ditoreh dahulu dengan ujung guting.
·         Penggaris selain sebagai alat untuk menggaris juga dapat dipakai sebagai alat bantu untuk melipat kertas dan mengukur. Anda dapat menambahkan penggaris yang memiliki lobang-lobang gambar yang bermotif bintang, tumbuh-tumbuhan dan gambar geometris. Agar dapat mempermudah anak membuat pola gambar.
·         Pensil untuk membuat pola baik yang akan digunting, dilipat bahkan untuk membuat bidang-bidang yang akan diberi pewarna. Jenis pensil yang dapat digunakkan banyak dijual dipasaran,yaitu pensil yang berkode “B” (2B, 3B, 4B dan seterusnya).
·         Spidol sebagai alat tambahan untuk pewarna.


  



http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/index.php?option=com_content&view=article&id=581:paud4403--seni-keterampilan-anak&catid=102&Itemid=504

MENGAYAM BAGI ANAK USIA DINI

SENI RUPA ANAK USIA DINI
( KERAJINAN MENGAYAM UNTUK ANAK USIA DINI )
Dosen : Dra.Sri Lestari
OLEH KELOMPOK 5
IDA FARIDA                                    F54011038
NANDA RINI                       F54011017
DEWI                                     F54011004
NUR INDAH SARI                          F54009013
UMMI KALSUM                 F54011013





PROGRAM STUDI PG-PAUD
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2012
KATA PENGANTAR
          Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kerajinan Mengayam Untuk Anak Usia Dini
         Terima kasih banyak kami haturkan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini sehingga selesai diantaranya yaitu:
1 .Ibu Dra.Sri Lestari,m.pd selaku pengajar mata kuliah seni rupa anak usia dini   Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas TanjungPura Pontianak.
2.Teman-taman yang telah membantu dan mendukung hingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
   Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap kualitas makalah kami.Oleh karena itu kami mengharapkan masukan,kritik,dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.Harapan kami,semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca maupun penulis.





Pontianak,   25 September 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Anyaman merupakan salah satu kerajinan khas yang dimiliki bangsa Indonesia.kerajinan anyam merupakan kerajinan tradisional yang sampai pada saat ini ditekuni, disamping banyak kegunaannya juga memiliki unsure pendidikan .Kegiatan menganyam di semua wilayah daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan di seluruh nusantara. Yang masing-masing mempunyai khas dan corak atau motif yang berbeda-beda. Dari corak atau motif yang dimiliki oleh masing-masing menjadikan keanekaragaman motif anyam di nusantara ini.

B.     Masalah
Semua anak memiliki potensi tentangberimajinasi ,berkhayal tetapi potensi itu ada yang dikembangkan ada juga yang tidak dikembangkan . Bagi yang dikembangkan akan kelihatan kreativitasnya ,tetapi bagi yang tidak dikembangkan tidak akan ketahui seberapa potensinya.
Dalam praktik kerja menganyam ,anak usia dini harus dikenalkan terlebih dahulu media karyanya dan agar anak memiliki media apa yang akan digunakan.

C.    Tujuan
Sejak usia dini kerajinan menganyam ini sudah diajarkan guna melatih keterampilan anak disamping motorik juga melatih sikap anak.         

D.    Manfaat bagi siswa
Melalui eksperimen  atau percobaan anak akan menemukan hal-hal yang baru . pada penggunaan media anyam dari daun pisang.karet,atau kertas.siswa akan mengenal bahwa karakter dari media tersebut memiliki perbedaan .




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. KERAJINAN MENGANYAM UNTUK ANAK USIA DINI
1. Kerajinan Menganyam
Perkembangan anyam di samping beraneka ragam motif juga ditunjang oleh teknologi.Baik teknologi itu masih tradisional maupun modern. Walaupun teknologi kerajinan anyam yang beraneka dan banyak macamnya tetapi prinsip kerjanya sama,yaitu adanya lungsi dan pakan.
            Apabila kita kelompokkan teknik anyaman terdiri dari tiga macam,yaitu :
v .Teknik Tradisional
Teknik tradisional biasanya sebagai pekerjaan home industri, yaitu dikerjakan oleh perorangan atau industri rumah tangga.Kerajinan menganyam ini banyak terdapat di desa-desa yang memang di desa inilah banyak di temukan media bahannya sebagai bahan industri kerajinan sebagai peralatan rumah tangga (bakul, tampah, keranjang, saringan kelapa, kursi rotan, tempat buah-buahan).
Media bahan untuk anyaman tradisional sangat banyak macamnya, bahkan tidak dapat disebutkan satu persatu. Artinya karena banyak terjadi di daerah tertentu bahan tersebut dapat dipakai sebagai bahan anyaman, tetapi untuk di daerah lain tidak dapat dipergunakan sebagai bahan anyaman.
Media bahan anyam tradisional di antaranya, adalah : bamboo, mendong, janur atau blarak (daun kelapa), jerami yang telah dipintal, rumput, plastic, kertas, karet, rotan, daun pandan, daun lontar, dan masih banyak lagi.

v .Teknik Semi Modern
Teknik semi modern ini banyak juga yang masih dikerjakan oleh perseorangan tetapi sudah menggunakan alat untuk menganyam secara masal.Usaha ini masih dapat dianggap usaha home industry atau rumah tangga tetapi ada juga yang dapat kita katakana sebagai usaha yang agak besar, karena sudah seperti pabrik. Untuk semi modern walaupun tidak menggunakan mesin tetapi sudah memproduksi secara masal ( tenun ). Untuk teknologi anyam semi modern media bahannya sudah mulai terbatas.Artinya tidak semua media bahan seperti yang dapat dikerjakan oleh anyaman tradisional dapat dilakukan secara teknologi semi modern.  Dalam kerajinan anyam semi modern ini sudah mulai menggunakan alat bantu untuk mengerjakannya dari media bahan anyam tersebut. Alat Tenun Bukan Mesinmerupakan salah satu alat anyam yang tergolong disukai dan banyak dipakai oleh pengrajin tradisional.
Dapat disebut media bahan untuk teknologi anyam semi modern adalah : benang kapas, pintalan jerami, pintalan sutera, mendong yang telah dipilih kualitasnya ( terutama panjangnya, besarnya harus sama ). Mendong sebagai bahan tikar pada zaman sekarang sudah dapat dianyam menggunakan alat tenun bukan  mesin, sehingga dapat memproduksi dengan jumlah banyak dengan waktu yang lebih singkat.

v . Teknologi Modern Untuk Teknologi Anyam
Proses tenun dengan mesin sudah banyak ditemukan pada industri tekstil. Walaupun dengan mesin yang serba modern, prinsip cara kerjanya tetap sama dengan sistem anyam yang tradisional. Hanya cara menganyamnya yang berbeda alat. Kalau cara tradisional menganyamnya tidak menggunakan mesin atau alat modern tetapi kalau alat anyam yang modern menggunakan mesin modern pula yang dengan waktu yang sangat singkat dapat menghasilkan sejumlah karya yang cukup banyak. Dengan teknologi yang sangat modern ini semakin terbatas media bahan yang digunakan sebagai bahannya.
Pada perusahaan tekstil  hanya menggunakan bahan pintalan benang, pintalan sutera.
Dari pengerjaan kerajinan anyam secara manual ternyata pada akhir-akhir ini justru malah disenangi oleh masyarakat dibandingkan dengan yang dengan pengerjaan anyam yang dikerjakan oleh pabrik.Anyaman yang dikerjakan secara manual ternyata malah lebih disukai karena mempunyai nilai seni yang cukup tinggi.
Ditinjau dari materi atau media bahan dalam kerajinan anyam, hampir tidak dapat disebutkan karena sangat banyak jumlahnya.Karena untuk pembelajaran di sekolah di samping tujuan pembelajaran sebagai apresiatif juga keterampilan motoriknya. Sehingga media bahan apapun yang tidak lazim untuk dipergunakan sebagai karya anyam untuk kepentingan alat rumah tangga dapat dipakai untuk pembelajaran di sekolah, misalnya : daun pisang, potongan kertas, plastik sedotan, potongan karet,dan lain-lain.
Seni rupa adalah bagian dari Kesenian, Seni Rupa mempunyai cabang atau sering disebut jenis, yaitu seni :
·         Lukis.
·         Menggambar.
·         Patung.
·         Dekorasi.
·         Grafis.
·         Ilustrasi.
·         Kriya.
·         Reklame.
·         Bangunan (arsitektur).
Dari beberapa cabang atau jenis seni rupa tersebut, Kerajinan Menganyam berada  pada bagian seni kriya.
Seni Kriya mempunyai jenis, di antaranya adalah kerajinan :
·         Menganyam.
·         Membatik.
·         Mengukir.
·         Merenda.

B.MEDIA BAHAN DAN ALAT UNTUK KERAJINAN MENGANYAM
Media dalam berkarya seni rupa terdiri dari dua macam yaitu bahan dan alat. Dari keduanya saling berhubungan satu sama lain untuk proses terjadinya sebuah karya seni rupa. Berkarya anyam sangat sangat banyak baik bahan yang dapat dipergunakan maupun alatnya.
A.    Bahan
Bahan yang digunakan akan sangat menentukan untuk kerajinan anyaman terdiri dari dua macam:
1.      Bahan pokok
Bahan pokok adalah bahan yang akan mendominasi terwujudnya karya. Bahan pokok dari kerajinan anyam sebagai berikut:
a.       Bambu tali
Bambu tali merupakan bambu yang mempunyai kualitas paling baik dibanding bambu jenis lain. Bambu ini sangat lentur, kuat, tidak mudah putus dan patah.
b.      Rotan hinis
Rotan ini banyak dijual pada toko material bangunan. Rotan ini juga dipakai sebagai bahan pengikat dan pelengkap  pada seni kerajinan lain.
c.       Rotan pirit
Rotan ini digunakan untuk jenis anyaman silinder dengan berbagai teknik diantaranya untuk anyaman membelit dengan pakan tunggal dan ganada misalnya keranjang.
d.      Pandan
Jenis daun yang banyak tumbuh dipinggir sungai dan termasuk tumbuhan liar. Agar dapat digunakan bahan anyaman daun pandan harus diserat sehingga menjadi lebih kecil dan harus dikeringkan dengan cara dijemur.
e.       Mendong
Jenis rumput-rumputan yang sengaja ditanam untuk dipersiapkan sebagai bahan anyaman. Untuk bahan kerajinan anyam,mendong harus dikeringkan terlebih dahulu dan dilumuri dengan abu. Mendon dapat dipakai sebagai bahan kerajinan anyam berupa tas, topi, tikar.
f.       Blarak/janur
Blarak adalah daun kelapa yang sudah tua banyak tumbuh didaerah tropis. Sedangkan janur daun kelapa yang mudah. Bahan ini harus dipisahkan dahulu dari lidinya sebelum dijadikan bahan kerajinan anyaman. Blarak/janur digunakan untuk membuat ketupat,tas,topi,atap.
g.      Kertas
Dapat dipakai untuk karya mainan di tingkat Taman Kanak-kanak. Kertas yang dipakai untuk bahan anyaman harus kertas yang kat gar tidak mudah putus.
h.      Plastik
Bahan anyaman yang telah dirancang untuk bahan anyaman. Plastik sebagai bahan anyaman banyak dijual di toko-toko alat tulis.
i.        Karet
Bahan ini banyak dijumpai di toko alat tulis dengan bentuk lembaran-lembaran, sehingga apabila akan dipakai harus dipotong-potong menggunakan gunting.
j.        Kain
Kain dianggap lebih aman dan praktis. Cara penggunaan pemotongannya sama dengan kertas dan karet.
k.      Daun pisang
Daun pisang yang masih lembaran dan telah dipisahkan dari pelepahnya dapat dijadikan suwiran hingga menjadi lembaran kecil-kecil.

2.      Bahan Pembantu
a.       Lem
Untuk menguatkan dan menyambung anyaman yang terdiri dari lem putih dan lem kertas.
b.      Paku
Untuk kerajinan anyam terapan sering menggunakan bahan bantu paku, rotan sebagai pengikat agar tidak mudah lepas.
c.       Pelitur/vernis
Dapat dipakai sebagai perekat susunan anyaman sehingga bertambah kuat dan tidak mudah lepas.
d.      Pewarna
Bahan anyamann yang perlu tambahan pewarna seperti mendong, seratan bambu, seratan pandan.

B.     Alat
1.      Pisau
Untuk membantu proses terbentuknya nyaman.pisau dirancang untuk mengirat,bambu agar menjadi tipis-tipis serta enghaluskan iratan bambu.
2.      Gergaji potong
Untuk memotong bambuyang akan dipecah-pecah dan menghilangkan rias-ruas bambu.
3.      Gunting
Untuk memotong iratan bambu, kertas, plastik, kain, karet menjadi lembaran-lembaran panjang.
4.      Cutter
5.      Kuas
Untuk mengoleskan lem dan cat sebagai bahan pelengkap kerajinan anyam.
6.      Penyuak
Untuk membantu membagi iratan sebagai lungsi agar susupan pakan mudah dimasuukkan.
7.      Penggaris
Selain sebagai alat pengukur, penggaris juga dipakai sebagai alat bantu memotong kertas agar lurus dan mudah memotongnya.
8.      Uncek
Bentuknya menyerupai jarum besar dan digunakan untuk membuat lobang-lobang tali .

C.TEKNIK KERAJINAN MENGANYAM UNTUK AUD
Kerajinan anyaman merupakian kegiatan yang banyak dilakukan oleh pengrajin dengan tehnik tradisional.Hasil anyaman banyak disukai oleh penikmatnya, dan tehnik anyamanya juga tradisional.Karna hasil kerjanya dianggap memiliki nilai artistik yang cukup memenuhi keinginan.
A.    Persiapan Pembuatan Bahan
 Beberapa langkah proses terjadinya karya anyaman melalui penyiapan bahan  terlebih dahulu,karna bahan anyaman tidak lagsung siap dapat dibuat menjadi karya, tetapi melalui proses persiapan dahulu walaupun sebenarnya masih merupakan bahan.  Contoh: bambu sebagai bahan anyaman bambu tidak langsung dipakai melainkan melalui proses  yaitu dengan membuang ruasnya dahulu kemudian dibelah sebesar  0,5-1 cm, setelah menjadi belahan di irat tipis-tipis sekali kurang lebih 0,5 mm tebalnya sehingga lembaran bambu  menjadi lentur. Bahan janur harus dilepas lidinya agar dapat dianyam, kertas harus dipotong terlebih dahulu menjadi lembaran panjang yang lebarnya kurang lebih 0,5-1 cm.
1.      Penyiapan bahan dari blarak/janur
Helai janur diambil lidinya dan ditinggalkan daunya. Setelah daun  janur terpisah dari lidinya tinggal apakah  akan anda gunakan secara utuh atau diperkecil  dengan cara merobek daun janur tersebut menjadi sejumlah tertentu ( tergantung lebar yang anda inginkan). Setelah helai daun janur anda tentukan lebarnya maka  anda tinggal menggunakannya sebagai bahan anyaman.
2.      Mendong
Batang mendong bentuknya pipih atau gepeng harus dibuat menjadi gepeng terlebih dahulu dengan cara ditumbuk dengan antan secara pelan-pelan supaya tidak patah, setelah itu harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur apabila menginginkan mendong memiliki warna maka sebelum ditumbuk  maka terlebih dahulu iberikan warna dengan menggunakan naptol  dengan cara direbus bersama mendong
3.      Karet
Karet adalah sebagai bahan untuk kegiatan menganyam, dapat diperoleh dari tokoh yang menyediakan alat sekolah. Karet ini merupakan lembaran yang masihn utuh sehingga apabila kita menggunakannya harus dipotong terlebih dahulu dengan menggunakan cutter/gunting. Cara memotong ada 2 cara yaitu lungsi dan pakan. Dari 2 macam tersebut dibedakan menjadi  lungsi tidak dipotong semuanya tetapi pakan dipotong sampai putus.
4.      Kertas
Kertas digunakan sebagai bahan untuk menganyam.Bahan dari kertas cukup aman bagi AUD. Untuk dijadikan bahan anyaman harus dipotong terlebih dahulu seperti halnya karet.Kertas untuk bahan anyaman sebaiknya dipergunakan kertas karton atau kertas yang agak tebal, supaya memudahkan dalam melakukan penganyaman.Sebelum kertas dipotong sebaiknya diukur dulu barapa lebar dan panjang yang dikehendaki, dengan menggarisi dulu baru dipotong pada garis-garis yang sudah diukur.
5.      Daun pisang
Lembaran daun pisang agar dapat dipakai sebagai bahan anyaman maka kita harus menyobeknya terlebih dahulu cukup dengan kuku jari yaitu dengan cara dibelah dengn ukuran yang sesuai dengn yang dikehendaki baik lungsi maupun pakannya.
6.      Sedotan Plastik
Banyak dijumpai di sekitar kita.Plastik sedotan yang bentuknya memanjang dapat di pergunakan sebagai bahan kerajinan anyaman.bahan ini cukup aman untuk di berikan  kepada kegiatan kerajinan menganyaman di tingkat di lembaga PAUD
B.Model Kerajinan Anyaman.
     Setelah melalui proses dan telah menjadi bahan,maka tinggal melakukan pratik anyaman dengan  menggunakan bahan yang tersedia.Kalau di perhatikan model anyaman itu terdiri dari beberapa macam,diantaranya:
Anyaman datar,yang terdiri dari;
1.Motif lurus
Terdiri dari;
Anyaman sasak, adalah tehnik susup menyusup antara pakan dan lungsi dengan langkah satu-satu, maksudnya diangkat satu tinggal satu.
Anyaman kepar, adalah susup menyusup antara lungsi dan pakan dengan langkah dua-dua atau lebih.
2.Motif biku/serong
Anyaman biku/serong adalah anyaman yan lungsi dan pakanya dibuat  serong kearah kiri dan kanan dengan posisi 45 derajat dari letak penganyamnya. Dari motif serong dapat menghasilkan  berbagai variasi dengan motif sasag polos dan kepar bervariasi.

3.Motif truntum
Anyaman motif truntum adalah perpaduan antara anyaman tegak dengan anyaman serong sehingga membentuk segi enam, kemudian disusupi iratan yang lebih kecil.
C.Teknik Menganyam
Prinisip kerja pada tehnik menganyam baik  tradisional maupun modern adalah sama yang membedakan hanya hasilnya. Yaitu dengan alat modern dapat menghasilkan yang berjumah banyak dalam waktu yang relative singkat,  misalnya tenun mesin. Menggunakan alat modern tidak semua bahan bisa dikerjakan, hanya bahan-bahan tertentu saja dan jumlah yang diinginkan relative banyak. Tehnik anyaman dengan alat modern biasanya untuk  kepentingan seni terapan.
1.Membuat   anyaman datar motif lurus
Langkah anyaman datar dengan motif sasag:
·         Menyiapkan lungsi yang sesuai dengan kebutuhan
·         Bagian pangkal ujung lungsi ditindih dengan kayu agar tidak bergerak.
·         Angkat lungsi untuk nomor ganjil, agar mudah memasukan pakan.
·         Susupkan pakan diantara lungsi yang bernomor ganjil dan nomor genap.
·         Lungsi yang diangkat dikembalikan seperti semula sehingga menutup pakan.
2.Membuat anyaman datar motif kepar
Langkah-langkah anyaman datar dengan motif kepar.
·         Siapkan lungsi sesuai kebutuhan
·         Ujung lungsi ditindih dengan kayu agar tidak berubah pada saat menganyam.
·         Pangkal lungsi secara berpaut-pautan dengan langkah diangkat dua ditinggal dua.
·         Susupkan pakan yang telah diangkat dua-dua.
·         Lungsi yang tadinya diangkat dikembalikan seperti semula sehingga menutup pakan dengan rapi.
·         Salah satu yang didobelkan dengan sebelah kanannya atau kirinya.
3.Membuat motif kepar bervariasi.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
·         Menyiapkan lungsi sesuai kebutuhan
·         Tindih ujung lungsi pada bagian pangkal agar tidak mudah bergerak.
·         Susupkan pakan pada lungsi sesuai rumus:
·         T1,A1,T2,A3,T2,A1,T2,A3,T1,……dan seterusnya
·         Susupkan kembali pakan diantara lungsi dengan rumus:
·         T5,A2,T1,A2,T3,A2,T1,A2,……..dan seterusnya
·         Langkah berikutnya dengan cara menyusupkan pakan diantara lungsi dengan rumus:
·         A1,T2,A1,T2,A3,T2,A1,T2,A3,……dan seterusnya.
·         A1,T1,A3,T2,A1,T2,A3,T2,A1,……dan seterusnya.
·         T1,A2,T1,A2,T3,A2,T1,A2,T3,……danseterusnya.
·         T2,A3,T2,A1,T2,A3,T2,A1,T2,…..dan seterusnya,kemudian dipadatkan.
4.Membuat anyaman datar motif biku/serong sasak
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
·         Iratan sebagai lungsi yang serong kesebelah kanan disiapkan sesuai kebutuhan.
·         Angkat lungsi pada nomor ganjil untuk memudahkan memasukan iratan pakan yang serong kesebelah kiri.
·         Susupkan iratan pakan yang serong kesebelah kiri diantara lungsi yang serong kesebelah kanan.
·         Kembalikan/tutup kembali lungsi yang tadinya diangkat, dan rapatkan kembali
·         Susupkan iratan-iratan pakan yang serong kekiri pada iratan lungsi yang serong ke sebelah kanan begitu seterusnya yang diangkat sesuai kebutuhan.


5.Membuat motif kepar serong bervariasi
Langkahnya sebagai berikut:
·         Iritan lungsi yang serong kanan disiapkan sesuai kebutuhan.
·         Angkat iratan lungsi yang serong kesebelah kanan dengan selang dua-dua, agar memudahkan masuknya iratan pakan yang serong kesebelah kiri.
·         Susupkan iratan pakan yang serong kesebelah kiri diantara lungsi iratan yang serong kesebelah kanan.
·         Kembalikan seperti semula iratan lungsi yang serong kesebelah kanan ketempat semula dan padatkan pada yang telah disusupkan pada lungsi.
·         Susupkan iratan pakan yang serong kesebelah kiri diantara iratan lungsi yang serong  kesebelah kanan, sejumlah sesuai kebutuhan.
6.Pembuatan Anyam Datar dengan Motif Truntum
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
·         Iratan(dari daun janur, kertas, bambu, dan karet) disiapkan sesuai yang dibutuhkan, kemudian silangkan iratan tersebut pada posisi serong kekanan dan kekiri.
·         Sususpkan iratan ketiga dengan posisi mendatar diantara persilangan bagian bawah .
·         Susupkan iratan yang ke empat dengan posisi mendatar diantara persilangan bagian atas.
·         Susupkan iratan kelima sejajar dengan iratan yang pertama .
·         Susupkan iratan yang ke enam sejajar dengan iratan kedua, sehingga terbentuk segi enam beraturan.
·         Susupkan iratan kecil/halus pada lubang segi tiga.
·         Susupkan iratan kecil/halus pada persilangan segi tiga.

D.PENGEMBANGAN KERAJINAN ANYAMAN UNTUK ANAKUSIADINI
A.Pembinaan Ekspresi Pada Kerajinan Menganyam
Membina ekspresi dalam seni rupa merupakan proses pengungkapan perasaan melalui berbagi jenis dari senirupa yang termasuk pada kerajinan menganyam. Victor Lowenfel dmengatakan bahwa self exspresion. Yang berarti suatu pernyataan tentang isi jiwa (termasuk di dalam nya adalah: pikiran, perasaan dan kehendak) dengan melalui caranya sendiri. Hal ini sangat diperlukan bagi perkembangan dirinya yang harmonis.
Pembinaan ekspresi dapat Anda lakukan melalui dua hal, adalah sebagai berikut:
1.Memberikan stimulus yang berupa rangsangan kepada anak untuk mengaktifkan dalam pengungkapan perasaannya. Pemberian stimulus ini ada beberapa cara, diantaranya adalah:
v Pendekatan  secara langsung pada objek yang dikerjakan.  Untuk anak usia dini pendekatan langsung merupakan cara yang paling efektif. Pada pokok kegiatan menganyam, Anda dapat melakukannya dengan cara bekerja bersama-sama sambil Anda ikut terlibat dengan anak memegang sambal membimbing anak dalam berkarya.
v Membangkitkan minat anak. Dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh anak, yaitu berkarya sambil bermain. Dengan melalui bermain kegiatan mengayamakan lebih mudah dan bersemangat sehingga akan mempermudah tercapainya  tujuan kegiatan sehingga mempermudah tujuan kegiatan pembelajaran kerajinan  mengayam bagi Anak Usia Dini.
2.      Melatih keberanian secara spontanitas dan terampil menggunakan berbagai macam media sebagai sarana mengekspresikan perasaan yang dimilikinya. Untuk melatih keberanian Anda lakukan  sebagai berikut:
v  Melalui ekspresi, dengan cara mencoba-coba, meniru atau memodifikasi karya yang sudah ada. Pada saat eksplorasi media ungkap anak akan menemukan beragam teknik dalam menggunakan alat tertentu, bahkan mereka sering kali dapat mengembangkan keterampilan yang lainnya.
v  Melalui eksperimen. Penemuan hal-hal yang baru dapat ditemukan dalam proses mencoba tentang berbagai media ungkap. Dapat Anda contohkan dengan pada penggunaan media anyam dari daun pisang, karet, atau kertas. Siswa akan mengenali bahwa karakter dari media ungkap tersebut maka ia akan menyesuaikan sehingga dapat  memperoleh hasil yang maksimal.
B.Pembinaan Kreativitas Kerajinan Tentang Menganyam
Semua orang/anak mempunyai bakat atau potensi dalam seni (senirupa), walaupun seberapa potensinya tidak sama. Potensi itu ada yang dikembangkan secara optimal ada juga yang sama sekali tidak dikembangkan. Setiap orang mempunyai pengalaman estetis, imajinasi tentang keindahan.Masalahnya orang tersebut mampu dan tidak mampu mengungkapkan untuk di tunjukkan kepada orang lain. Proses kemampuan menunjukkan ini dapat kita sebut sebagai kreativitas. Kreativitas dapat diartikan dengan kemampuan mencipta, kemampuan menanggapi persoalan, kemampuan berpikir, dan kemampuan menyesuaikan diri.
Kreativitas sangat erat hubungannya dengan fantasi atau daya khayal.Daya khayal yang dimiliki oleh setiap orang ini diperlukan dalam setiap penciptaan karya seni. Untuk melatih dalam pembinaan kreativitas kepada anak, salahsatucontohnyaadalahtugaskankepadasiswaAndauntukmencariberbagaikemungkinanbentuk-bentuktrimartadaripembuatananyaman: sepertikotak, bentukburung, bola, hiasan-hiasan.
Dari  uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap manusia mempunyai potensi berimajinasi, berkhayal, mempunyai pengalaman estetik. Masalahnya potensiitu dapat diungkapkan dan tidak dapat diungkapkan karena tidak dilatih untuk mengungkapkan. Karena tidak pernah melatih diri maka orang tersebut tidak mempunyai kreativitas.Jadi untuk kreatif dan terampil diperlukan latihan yang rutin dan berkesinambungan, apa bila seseorang/anak memiliki keterampilan pastiakan kreatif.
C.Pembinaan Sensitivitas Melalui Keterampilan Menganyam
Kepekaan  anak dalam menerima stimulus atau rangsangan dari luar yang harus diserap melalui panca indra. Kepekaan ini kita namakan sensitivitas.Setiap anak memiliki kepekaan yang berbeda-beda.Ada yang tajam kepekaannya tetapi ada pula yang kepekaannya tidak tajam.Pendidikan kesenian adalah salah satu yang dapat mengembangkan kepekaan.Melalui keterampilan seni rupa pada anak usia dini diharapkan anak akan dapat menangkap rangsangan serta dapat dengan cepat dan terampil mengolahkan menjadi hasil seni berupa kerajianan anyam yang bermanfaat sebagai sarana, proses untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya.
Yang perlu ditempuh dalam pembinaan sensitivitas anak melalui kegiatan pembelajaran kerajianan menganyam, diantaranya:
·         Perhatikan oleh Anda kepada anak beberapa anyaman yang sudah jadi baik berbentuk anyaman yang berbentuk tiga dimensi. Tugas anak adalah mengamati secara seksama mengenai macam-macam bentuk, warna, tekstur kemudian siswa akan menyerap yang akhirnya akan menimbulkan berbagai tanggapan dan perasaan.
·         Setelah anak mengamati objek karya anyaman maka dilanjutkan mengamati susunannya yang diteruskan pula untuk menganali siskon disikarakter objek. Selanjutnya anak diminta untuk mengungkapkan kepada gurunya tentang hasil pengamatan terhadap susunan anyaman (teknik anyaman tersebut) hadapkan langsung dengan meraba objek.
·         Meraba samba lmengamati karya anyam atau media bahan untuk dirasakan, guru mengetahui karakter tekstur tentang  media daun, iratan bambu, guntingan kertas, guntingan karet, janur dan lain sebagainya.  Hal ini dimaksudkan untuk latihan merespons pengalaman sensori. Maka sensasi yang ditimbulkan akibat rabaan tersebut dapat membangkitkan berbagai tanggapan atau kesan terhadap apa yang mereka hadapi yang akhirnya siswa tersebut mampu belajar memutuskan melalui sikapnya.
D.Praktik Kerajinan Anyam Pada Anak Usia Dini
Kerajinan menganyam dapat dikatakan berhasil apa bila anak dapat menghasilkan karya anyaman karya.Keterampilan dalam menggunakan alat (menggunting kertas, menggunting, karet, dan lain-lain) sangat dibutuhkan di samping mempermudah dan memperlancar, kegiatan ini juga merupakan keterampilan motorik yang tidak kalah penting manfaatnya bagi perkembangan anak.Derajat kesulitan dalam mempraktikkan kerajinan anyam pada siswa Anda hendaknya memulai dari tingkatan yang paling rendah menurut kemampuan anak.Anda memberikan contoh dengan cara menuntun proses, urutan berkarya yang kemudian diikuti oleh anak dengan cara satu persatu. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua guru, yaitu satu guru memperagakan guru satunya lagi menuntun sambil memeriksa satu persatu.Dibawah ini akan diberikan contoh beberapa cara menganyam:
·         Anyaman Sasag
Anyaman ini adalah teknik susup menyusup antara pakan dan lungsi dengan langkah satu-satu.Artinya angkat satu dan di tinggal satu (dengan rumus AI, TI, AI …. Dan seterusnya, kemudian diatasnya TI, AI, TI …. Dan seterusnya).
·         AnyamanBervariasiPolos
Anyaman ini dengan teknik susup menyusup antara pakan dan lungsi, tetapi berselang dua-dua.Artinya lungsi diangkat dua dan ditinggal dua begitu seterusnya kearah samping.Untuk kegiatan pembelajaran menganyam pada anak usia dini agar lebih aman Anda dapat menggunakan  media bahan; daun pisang yang telah disobek kecil-kecil selebar kurang lebih 1cm, janur yang di irat menjadi kecil-kecil yang lebarnya kira-kira 1cm, kertas yang digunting memanjang yang lebarnya kira-kira 1cm, lembaran karet yang lebarnya kira-kira 1cm


























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara definisi dapat disimpulkan bahwa:
1)      Mengayam baik yang menggunakan teknologi tradisional sampai modern mempunyai prinsip kerja yang sama, yaitu adanya lungsi sebagai bagian anyam yang menjulur ke atas ( vertical ),dan pakan sebagai bagian anyam yang menjulur kesamping (horizontal) yang akan menyusup pada lungsi.
2)      Kualitas media anyaman menentukan kualitas berkarya dan hasil karya anyaman.
3)      Proses terjadinya anyaman harus mulai dari penyiapan bahan,karena bahan anyaman jarang sudah siap langsung digunakan . jadi media bahan melalui proses dari awal di rubah sebagai bahan yang siap diproses menjadi karya.
B.     Saran

Menganyam yang kegiatan praktiknya banyak di dominasi tentang kerajinan tangan serta kretivitas selalu berhubungan dengan tradisional.
Sarannya yaitu :
1)      Untuk menganyam di butuhkan dua bagian bahan, yaitu  lungsi dan pakan. Lungsi adalah bagian yang akan disusupi pakan , sedangkan pakan yang akan mengisi lungsi.





Daftar Rujukan
Affandi & Dewobroto.(2004). Menegenal Seni Rupa Anak .yogyakarta:Gama Media
Abdulhamid.(1995).Pengantar Estetika.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Pustaka. Kementerian Malaysia.
Cut Kamaril dkk. (2007).Pendidikan Seni Rupa Dan Kerajinan Tangan .Jakarta: Universitas Terbuka.
Dedi Nurhadiah. ( 1991) . Seni Rupa Teori Dan Praktik.Bandung :Internusa.
Oho Garha. (1983). Seni Rupa , Media Pengajaran Dengan Kreativitas . Jakarta : Depdikbud.