welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Senin, 04 Maret 2013

musik dan kecerdasan



KECERDASAN DAN MUSIK

Ada banyak jenis musik di dunia, antara lain rock, jazz, pop, keroncong, klasik, blues, country, folk, dance, techno, rap, heavy metal, reggae, dangdut atau musik melayu dan musik tradisional.
Di Jepang anak-anak usia 3 tahun sudah mulai belajar biola atau piano dengan metode Suzuki. Sementara di Bali, anak-anak penganut agama Hindu sudah diajarkan akrab dengan musik tradisional untuk mengiringi ritual ibadah mereka. Lalu anak-anak nasrani dilatih untuk mahir memainkan musik gospel, seraya menyanyikan  lagu-lagu rohani mereka. Dan anak-anak musllim mengenal nasyid yang mengadopsi musik accapella, agar lebih dekat dengan Tuhannya.

A.    Kegunaan Musik dalam Merangsang Kecerdasan
Belajar musik juga menggunakan beberapa kecerdasan yang lain. Ketika anak belajar menghitung ketukan musik dan menggali struktur serta pola-pola dalam musik, ia akan menemukan ternyata kecerdasan logika ikut berperan. Di lain waktu anak mengembangkan kecerdasan kinestetiknya dengan lebih menyadari pernapasan dan postur tubuhmnya saat bernyanyi. Atau meningskatkan keterampilan motorik dan koordinasi anggota tubuhnya untuk memainkan instrument musik.
Otak berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman belajar yang dimiliki. Menurut Harrel kemampuan dalam menyelesaikan masalah berhubungan dengan spasial temporal pada anak usia pra-sekolah, yang di ikutikursus piano akan memiliki hasil yang lebih tinggi di banding dengan anak yang belajar komputer.
Ketika anak lahir kedunia otak yang dimiliki belum berkembang sempurna. Kemudian sel-sel neuron belum saling terhubung. Dengan diberi stimulus berupa musik klasik dapat memperkuat hubungan antar neuron-neuron satudengan yang lainya, dalam menyelesaikan masalah yang abstrak.
Usia tiga sampai enam tahun adalah masa terbaik berkembang pendengaran. Alat musik yang direkomendasikan seperti organ, piano, biola dan gitar. Alat musik tersebut dapat merangsang otak untuk lebih kreatif.  Usia tiga tahun anak bisa diharapkan menguasaialah satu jenis alat musik dengan keordinasi semua pancaindra yang dimiliki dapat dipacu dengan baik.
Musik yang bisa digunakan untuk meningkatkan pendidikan dan kecerdasan adalah musik yang mempunyai tiga unsur yaitu melodi, retme dan timre. Unsure musik yang dapat mempengaruhi kecerdaan anak antara lain yang mengandung nada pendek dan panjang nilai ketukan. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan waktu, jarak dan urutan dalam logika berfikir.          
Beberapa penelitian yang paling dikenal meliputi :
·         Jean Houston, perintis terdepan dalam penelitian efek musik dalam kemammpuan fisik dan mental, menyatakan bahwa musik meningkatkan struktur molekuler tubuh. Musik dapat melakukan hal ini karena memiliki frekuensi sendiri. Ketika musik beresonasi dengan ritme tubuh kita, ia memiliki pengaruh luar biasa pada kewaspadaan dan kemampuan belajar. Sebagian besar musik klasik sesuai dengan ritme tubuh kita.
·         Sebuah penelitian oleh Graziano dkk.1997
Menunjukkan adanya efek pelajaran piano pada penalaran temporal spasial. Anak-anak berusia 4 tahun yang mempelajari piano selama 6 bulan memiliki nilai aktivitas-aktivitas  seusiamereka yang belajar menyanyi atau komputer selama 6 bulan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tampaknya mendengarkan musik selama 3 tahun pertama kehidupan membantu otak membentuk pola-pola yang penting bagi proses pembelajaran. Otak beradaptasi dengan mudah pada masa-masa awal kehidupan, sehingga anak perlu diperkenalkan pada berbagai jenis musik. Dalam catatan sejarah, tidak ada pemain musik klasik tingkat konser yang mulai berlatih setelah berusia 10 tahun.

B.     Pengaruh Musik bagi Kecerdasan Emosi
Bagaiman dengan pembentukan karakter anak?. Terkait dengan hal berikut ini, musik adalah cabang seni yang dapat memperhalus budi dan memperbaiki karakter anak-anak. Yang semula bandel, nakal dan susah diatur akhirnya menjadi bocah yang kreatif, penurut dan menghormati sesama. Jika anda menonton film musikal The Sound of Music, anda akan menjumpai semua itu tentang bagaimana ketujuh bocah super duper badung menjelma anak-anak dambaan orang tua di bawah asuhan Maria yang jago musik.
Stenberg dan Salovery mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri. Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaanya sendiri sehingga tidak berlebihan dan akhirnya dapat mempengaruhi prilakunya secara wajar.
Kepekaan akan rasa indah melalu pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengarahkan kepribadian meningkatkan kecerdasan hidup.
Menurut hasil penelitian ternyata organ pendengaran pada manusia lebih baik dari pada organ penglihatan dan salah satu kemampuan dasar indra pendengaran adalah mendengar irama pada saat telinga rangsangan otak memproses rangsangan akustik tersebut, seperti notasi musik pada piano dan membentuk peta-peta tonotopik yang lumayan besar. Neuron sel yang mentrasmisikan simpul-simpul saraf, dikelompokkan bersama dalam otak menurut pola nada tertentu.
Pengaruh musik pada kecerdasn anak tidak hanya kecerdasan berfikir saja namun juga kecerdasan emosi. Musik selain membantu meningkatkan pertumbuhan otak anak, karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik ternyata juga bisa melahirkan perasaan rilex dan senang hati, yang merupakan emosi positif.

C.     Keuntungan Belajar Musik
Hasil riset menyatakan, musik merangsang kesenangan otak dan pusat imbalan (sistem limbik yang terletak dibawah korteks selebri). Bila daerah yang berhubungan dengan kesenangan dan imbalan dirangsang secara berlebihan akan membuat gerakan ritmik seperti menggeleng-gelengkan kepala dan memutari lingkaran. Mendengarkan dan mengikuti irama musik merupakan aktivitas yang secara ritmik menyenagkan.
Beberapa penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa belajar alat musik sangat bermanfaat bagi otak. Planum temporal adalah bagian otak yang banyak berperan dalam proses verbal dan pendengaran, sedangkan corpus calasum adalah pengirim pesan berita dari otak kiri ke otak kanan atau sebaliknya.
Belajar untuk memainkan alat music memberikan manfaat antara lain :
1.      Bermain musik dapat membuat seseorang menjadi lebih pintar.
2.      Mengajarkan disiplin. Mereka yang ingin bermain musik harus menerapkan disiplin yang baik juga ingin menguasai alat musik yang di inginkan.
3.      Bermain alat musik dapat meringankan stres. Dengan bermain sebuah alat musik kita bahkan dapat lebih dari sekedar merasa rilex.
4.      Memperoleh rasa puas. Penguasaan alat musik akan menimbulkan kepuasan bagi dirinya sendiri.
5.      Memainkan alat musik adalah sebuah kesenangan. Setelah dapat memainkan alat musik lebih baik, akan muncul kesenangan bagi dirinya maupun orang lain.
Beberapa manfaat kecerdasan musical, antar lain :
1.       Membantu anak belajar lebih banyak dan lebih cerdas.
2.       Mengasah ketajaman daya ingat anak.
3.       Memungkinkan anak berkomunikas dengan car a yang berbeda-beda.
4.       Hidup anak akan bahagia dengan keceriaan dari musik.
5.       Membantu anak untuk membagi perasaan dan membangun ikatan dengan sesama.
6.       Anak membantu ketika ingin mecapaikan informasi kepada orang lain.
7.       Lewat musik, anak bisa beramal untuk meringankan derita sesama.
Masa depan bagi si jenius musikal, antara lain :
1.      Pencipta lagu.
2.      Ahli jikustik.
3.      Pelatih paduan suara.
4.      Disc jockey (DJ).
5.      Ahli  musik etnik.
6.      Penyanyi.
7.      Penulis jingle.
8.      Pembuat alat musik.
9.      Penulis lirik.
10.  Editor musik film, dll.
Kegiatan yang menggunakan kecerdasan musikal, antara lain :
1.      Mendengarkan musik.
2.      Memainkan alat musik.
3.      Menyanyi.
4.      Menciptakan lagu dan menulis liriknya.
5.      Main dalam grup band atau paduan suara.
6.      Bersandung, menyanyi, atau menghentakkan kaki saat melakukan kegiatan lain.
7.      Menghibur sesama atau menggelar konser musik untuk amal.
Orang dengan kecerdasan musikal yang berekembang baik mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1.      Mendengarkan dan merespon terhadap berbagai jenis suara.
2.      Menikmati dan mencari kesempatan untuk bisa mendengarakan musik atau suara alam.
3.      Mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam musik.
4.      Mengumpulkan  music baik dalam rekaman maupun dalam bentuk tulisan/cetak.
5.      Mampu bernyanyi atau bermain alat musik.
6.      Menggunakan kosakata dan notasi musik.
7.      Senang melakukan improvisasi dan melakukan dengan suara.
8.      Mampu menceritakan komposisi musik.
9.      Mampu melakukan analisis dan kritik terhadap suatu musik.
10.  Tertarik menerjuni karier sebagai penyanyi, pemain musik, produser, guru musik, konduktor atau neknisi musik.
Beberapa cara melejitkan kecerdasan musikal, antara lain :
1.      Cerita dengan diiringi musik.
2.      Dengarkan lagu indah.
3.      Ciptakan lagumu sendiri.
4.      Musik untuk aktivitasmu.
5.      Kenali musik di sekitatrmu.
6.      Koleksi album favorit.
Memori auditorial berkembang seiiringan dengan masuknya informasi auditori ke telinga, hingga diproses di dalam otak. Kemampuan anak mengembangkan memori auditori akan memperkaya wawasannya. Namun, ia tidak secara otomatis apa yang telah didengarnya. Karenanya pengulangan akan member anak peluang lebih besar untuk memiliki daya ingat super. Musik dan bahasa dalam dongeng dapat memicu memori ekspilit, yaitu memori yang tanpa petunjuk kuat akan mudah dihadirkan kembali. Dengan begitu proses belajar anak akan terbantu. Mengubah musik juga berhubungan dengan keterampilan matematika. Yaitu soal pola dan menghitung ketukan nada. Kebanyakan musik mempunyai tempo tertentu. Music klasik terutama musik barok, sangat baik untuk di dengar anak saat belajar. Keterampilan musik tak ubahnya dengan keterampilan bahasa. Keduanya tergantung pada kemampuan dasar berupa keterampilan mendengarkan, mencermati, mengenali suara dan memerhatikan rincian nada suara. Koleksi album musik dan lagu tak hanya menyediakan banyak informasi atau wawasan tentang dunia musik. Ia juga memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat disuatu massa dan bagaimana seorang musisi menjalankan proses kreatifnya dalam berkarya.
Contoh lagu yang mencerdaskan anak :
“Astaga”
Oleh : Ruth Sahanaya
Lagu ini dapat membangkitkan semangat untuk belajar
 Begitu banyak rintangan harus dihadapi
Lalu mengapa kau diam saja
Tak berdaya..
Di beli usia
Di masa yang paling indah
Kau tampak tak bergairah

Sementara yang lainnya hidup seenaknya
Seakan waktu tak kan pernah ada akhirnya
Hanya mengejar kepentingan diri sendiri
Lalu cuek akan derita sekitarnya

o..o…astaga !
apa yang sedang terjadi ?
o…o…astaga !
entah kemana semua ini ?
oh…astaga !
bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
mudah putus asa dan kehilangan arah

DAFTAR PUSTAKA
Sari, Nur Rahadani. 2005. Musik dan Kecerdasan Otak Bayi. Bogor: KH. Kharisma Buku Aksara.
Prasojo, Suminaring. 2011. Anakku Luar Biasa Jenius. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Nurjamika, Yusep. 2012.Ragam Aktivitas Harian untuk TK. Yogyakarta: Diva Press.
Schiller, Pam. 1999.start smart.Jakarta:Erlangga for kids
Rahmawati,shinta. 2001. Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif. Jakarta:Kompas
Einun, Dorothy. 2005. Permainan Cerdas. Jakarta:Erlangga
 Yuniarni, Desni. 2011. Neurosains Dalam Pembelajaran.


stres dan ancaman




STRES DAN ANCAMAN

Salah satu masalah kesehatan jiwa yang umum dialami masyarakat adalah stres. Menurut ilmu kedokteran, stres merupakan suatu tekanan pada manusia yang menimbulkan reaksi fisik maupun emsional yang non-spesifik keadaan tersebut bisa membuat orang yang mengalami menjadi rapuh. Namun dalam menghadapi sters, pada hakikatnya, laki-laki dan perempuan berbeda. Setidaknya ada 3 proses jasmani yang rumit, yang jelas-jelas membedakan mereka. Proses tersebut adalah haid, kehamilan, menopause. Ketiga proses tersebut menurut Dr. G. W. Lanoil dalam bukunya Coping With Stress, sesungguhnya merupakan anugerah yang berharga yang berkaitan dengan kemampuan reproduksi. Tetapi, “ketiga proses tersebut diduga merupakan penyebab utama terjadinya rangkaian stres pada kaum perempuan.
Stres yang dihadapi yaitu pola rasa takut yang dimulai sebagai suatu impuls dan otak kita, yang merangsang saraf simpatis untuk menggerakkan berbagai bagian ulit dan organ tubuh (jantung, paru-paru, usus besar), untuk menghasilkan tanda sdan gejala ketakutan: tangan berkeringat, jantung berdebar, nafas pendek, tenggorokan kering, dan sebagainya. Jika merasa takut, kita juga merasakan semacam sensasi mengerikan dalam rongga perut kita. Inilah unsur rasa takut yang paling menyebabkan stres. Namun demikian, gambaran lengkap dari rasa takut meliputi semua gejala yang didorong oleh keluarnya adrenalin.
Keadaan stres yang datang secara tiba-tiba dan berkepanjangan dapat membuat saraf pelepas adrenalinnya menjadi sensitif, sehingga menimbulkan gejala-gejala dangguan saraf secara berlebihan dan mengejutkan. Keadaan menjadi sensitif ini memang sudah dikenal baik oleh para dokter, tetapi kurang dimengerti oleh orang pada umumnya. Karenanya ketika pertama kali mengalaminya, orang akan menjadi bingung dan kemudian terperangkap rasa takut.
Depresi adalah salah satu tahap paling buruk dalam gangguan saraf, karena ini merampas begitu banyak keinginan untuk sembuh. Depresi disebabkan oleh keletihan jasmani.
Stres dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
1)      Ketakutan yang dulu datang lagi.
2)      Melihat sepintas sudut pandangan yang baru.
3)      Problem yang tak terpecahkan
4)      Bergantinya suasana
5)      Rasa bersalah dan malu
Ancaman dari stres yaitu:
1)      Perut mulas
2)      Tangan berkeringat dan gemetar
3)      Denyut jantung tidak teratur
4)      Sakit kepala
5)      Tenggorokan tersumbat
6)      Mual dan muntah berat badan menurun
7)      Kehilangan rasa percaya diri
Sedangkan Distres (stres yang negatif) yang terjadi secara berlebihan dan berkepanjangan akan berubah menjadi ancaman yang dapat membahayakan keselamatan seseorang yang mengalami distres. Ancaman adalah sesuatu yang tidak dapat diterima, berupa peristiwa intens yang melelahkan diluar kendali dan sangat mengganggu dan hal tersebut dapat mempertaruhkan nyawa dan keselamatan.
A.    Pembelajaran yang mengalami distres
Perbedaan antara stres positif (eustres) atau stres moderat dengan ancaman adalah gres yang moderat baik bagi siswa sedangkan distres dan ancaman tidak baik. Tubuh merespons pada stres kronis atau stres tingkat tinggi dengan melepaskan hormon kortisol dari kelenjar-kelenjar adrenal. Jumlah kartisol yang kecil terasa nyaman dan menjadi dorongan motivasi. Namun, jika terlalu banyak dapat menekan sistem kekebalan, menegangkan otot dan mengganggu pembelajaran. Akhirnya tingkat kortosol yang tinggi tersebut mengakibatkan munculnya perasaan putus asa atau terlalu terbebani. Namun yang lebih buruk lagi, pelepasan kortisol alam jangka panjang dapat menghancurkan neuron-neuron hipokampal yang berhubungan dengan pembelajaran (sapolky 1996, 1996;sylwester 1995).
Banyak siswa yang berperforma buruk barangkali hanya karena sedang dalam keadaan terlalu stres. Bagi pembelajar yang merasakan kesulitan untuk menemukan alternatif atau jalan keluar dari permasalahannya, yang berada dalam kondisi takut atau terancam, mereka mengalami bukan hanya berkurangnya kemampuan kognitif, tetapi sistem kekebalan tubuhnya juga berkurang.

B.     Otak yang mengalami stres
Wilayah otak yang paling terpengaruh oleh stres atau ancaman yang berat adalah pada hipokampus yang sangat sensitif terhadap kortisol. Kortisol dapat memperlemah tempat penyimpanan memori dan sistem pengindeks bagian terbesar dari kita, misalnya ketika siswa dalam menghadapi ujian ia stres, akibatnya siswa bisa menjadi sakit atau terkadang nilainya menurun.
Stres tingkat tinggi(distres). Keadaan stres yang berkepanjangan atau trauma akan berpengaruh pada memori. Memori sangat sensitif terhadap gangguan. Pengaktifan amigdala yang berlebihan melalui trauma dapat menghalangi berfungsinya hipokampal. Penelitian baru mengungkapkan bahwa lingkungan yang mengancam dapat memicu ketidak seimbamgan unsur kimiawi dan khususnya kekhawatiran. Serotin adalah modulator yang kuat dari emosi dan perilaku kita. Dan ketika tingkat serotin menurun, seringkali muncul kekerasan.
Perubahan aliran darah ke otak juga membawa pengaruh negatif pada pembelajaran yang terancam. Wayne Drevets.Ph.I) dari University of Pittsburgh (Drevets dan Raicle.1998). mengatakan bahwa ketika dihadapkan pada ancaman. Kita mengalami peningkatan aliran darah yang menuju ke lobus frontal (ventra) yang lebih rendah dan menurun aliran darah menuju wilayah bagian atas (dorsal) dari lobus frontal. Hal ini artinya wilayah otak yang memproses emosi mendapatkan pasokan darah yang sangat besar yang menciptakan rasa seperti meluap-luap. Sementara wilayah otak yang digunakan untk berfikir kritis, menilai dan kreativitas pasokan darahnya berkurang, sehingga kita kurang dapat berfikir kritis, menilai dan kurang dapat melakukan kreativitas.
Ancaman dapat didefinisikan sebagai segala macam stimulasi yang dapat menyebabkan /memicu rasa takut, tidak percaya, gelisah atau ketidakberdayaan pada umumnya. Keadaan ini merupakan akibat dari ancaman fisik atau bahaya yang dirasakan. Dalam keadaan terancaman, jenis apapun otak akan:
1)      Kehilangan kemampuan untuk menginterprestasi secara benar isyarat-isyarat dari lingkungan.
2)      Kembali kepada perilaku yang sudah terbiasa.
3)      Kehilangan beberapa kemampuan untuk mengindeks, menyimpan, mengakses informasi.
4)      Menjadi lebih otomatis dan terbatas dalam responsnya.
5)      Kehilangan beberapa kemampuan merasakan hubungan dan pola.
6)      Berkurangnya ketrampilan berfikir tinggi.
7)      Kehilangan jumlah kapasitas memori jangka panjang.

Tabel berikut menggambarkan gejala-gejala stres:
Gejala Emosional/Kognitif
Gejala Fisik
§  Mudah merasa ingin marah
§  Merasa putus asa saat harus menunggu sesuatu
§  Merasa gelisah
§  Tidak dapat berkonsentrasi
§  Sulit berkonsentrasi
§  Jadi mudah bingung
§  Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)
§  Setiap saat memikirkan hal-hal negatif
§  Berpikir negatif tentang diri sendiri
§  Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)
§  Makan terlalu banyak
§  Makan padahal tidak lapar
§  Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu
§  Merasa tidak  mampu mengatasi masalah
§  Sulit membuat keputusan
§  Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai- nya)
§  Biasanya merasa marah dan bosan
§  Kurang memiliki sense of humor
§  Otot-otot tegang
§  Sakit punggung bagian bawah
§  Sakit di bahu atau leher
§  Sakit dada
§  Sakit perut
§  Kram otot
§  Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya
§  Denyut jantung cepat
§  Telapak tangan berkeringat
§  Berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik
§  Perut terasa bergejolak
§  Gangguan pencernaan dan cegukan
§  Diare
§  Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan
§  Napas pendek
§  Menahan napas

 Adapun Gejala stres yang lain dari segi emosi dan tingkah laku yaitu :
a)      Gejala emosi yang paling sering terlihat ialah anak merasa bosan (bahkan dengan hal-hal yang selama ini cukup dia sukai), kemauan dan keingintahuannya melemah, tidak partisipatif dalam kegiatan di rumah atau sekolah, sering marah-marah dan menangis, sering berbohong, bersikap kasar terhadap teman atau anggota keluarga yang lebih kecil, suka melanggar dan memberontak terhadap aturan-aturan, serta sering bereaksi secara berlebihan terhadap masalah-masalah kecil.
b)      Gejala tingkah laku merupakan gejala yang lebih sering dikenali perubahannya dalam diri anak. Biasanya, anak menunjukkan rasa tidak senang dan memusuhi, menunjukkan ketidakmampuan mengontrol emosi, keras kepala, suka membantah dengan sikap dan kata-kata kasar, temperamen yang berubah-ubah dan perubahan dalam pola tidur, serta munculnya kebiasaan-kebiasaan baru seperti mengisap jempol, memutar-mutarrambutnya, atau mencubit-cubit hidung.

  1. Faktor-Faktor Penyebab Stres
Secara umum, ada 2 faktor penyebab sres pada anak, yaitu faktor internal, seperti rasa lapar, rasa sakit, sensitif terhadap suara gaduh, ribut, keramaian orang dan perubahan suhu, serta  faktor eksternal yang meliputi faktor orang tua, keluarga, sekolah, teman atau lingkungan anak tersebut.
  1. Faktor internal
Faktor ini berkaitan dengan kemampuan fisik dan kesiapan mental anak menghadapi hal-hal yang bisa membuatnya stress, sehingga anak perlu dibekali kesiapan menghadapi stres sejak masa kecilnya agar anak dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Dalam kondisi tertentu, rasa lapar dan rasa sakit seringkali memicu amarah si kecil, uring-uringan dan marah-marah. Dorongan rasa lapar atau rasa sakit yang sangat bisa membuatnya tidak mampu mengontrol emosi dan keinginan mengelurakan emosi negatifnya sangat tinggi. Tidak terpenuhinya keinginan akan makanan tertentu yang dia sukai atau rasa sakit yang tak kunjung hilang bisa membuatnya meledak-ledak karena daya tahannya menurun, sehingga stres dengan mudah menyerangnya. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu juga bisa membuat kita stres karena kita sulit menyesuaikan diri. Anak-anak pun demikian, sehingga hal ini berpengaruh terhadap semangat dan kemauannya. Banyak pula anak-anak yang mengalami stres di keramaian orang, dengan suasana keributan dan gaduh.
  1. Faktor eksternal
a)      Orang tua dan keluarga
Hubungan kedua orang tua yang tidak harmonis, konflik rumah tangga, pertengkaran, perceraian dan perubahan komposisi dalamkeluarga bisa membuat anak-anak stres. Selain itu, adanya tuntutan orang tua terhadap anak untuk selalu menjadi yang terbaik atau berprestasi akademik bagus bisa membuatnya tertekan. Serta  sikap orang tua yang suka melakukan labelling (seperti anak bodoh, anak nakal,dll.) atau membanding-bandingkan antaranggota keluarga.

b)      Sekolah
Tugas sekolah atau pekerjaan rumah (PR) yang bertubi-tubi dan bertumpuk, bisa membuat anak kewalahan, lelah dan stres. Di samping itu, suasanabelajar yang tidak nyaman dan metode pembelajaran yang kurang efektif (kurang menyentuh aspek emosional/afektifnya) bisa membuat anak sulit mengikuti dan menyesuaikan kemampuannya, sehingga lama-lama anak menjadi malas, jenuh dan stres menghadapi pelajaran di sekolah.

c)      Lingkungan
Pertengkaran yang berlanjut menjadi sebuah permusuhan hingga terjadi kekerasan sesama teman(bulliying) bisa membuatnya takut bermain di luar rumah dan enggan berteman. Tayangan atau tontonan yang tidak mendidik, menonjolkan kekerasan juga merupakan faktor yang perlu. Selain itu, kehilangan sesuatu yang berharga pun misalnya mainan atau hewan kesayangan, serta kehidupan sehari-hari yang cepat berubah dan tidak teratur (dengan baik) bisa menyebabkan stres.
Secara umum, faktor penyebab stres meliputi:
a)      Ancaman
Persepsi tentang adanya ancaman  membuat seseorang  merasa stres, baik ancaman fisik, sosial, finansial, maupun ancaman lainnya. Keadaan akan menjadi buruk bila orang yang mempersepsikan tentang adanya ancaman ini merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan tindakan apa pun yang akan bisa mengurangi ancaman tersebut.
b)      Ketakutan
Ancaman bisa menimbulkan ketakutan. Ketakutan membuat orang membayangkan akan terjadinya akibat yang tidak menyenangkan, dan hal ini membuat orang menjadi stres.
c)      Ketidakpastian
Saat kita merasa tidak yakin tentang sesuatu, maka kita akan sulit membuat prediksi. Akibatnya kita merasa tidak akan dapat mengendalikan situasi. Perasaan tidak mampu mengendalikan situasi akan menimbulkan ketakutan. Rasa takut menyebabkan kita merasa stres.
d)     Disonansi kognitif
Bila ada kesenjangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita pikirkan, maka dikatakan bahwa kita mengalami disonansi kognitif, dan hal ini akan dirasakan sebagai stres. Sebagai contoh, bila kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik, namun ternyata menyakiti hati orang lain, maka kita akan mengalami disonansi dan merasa stres. Disonansi kognitif juga terjadi bila kita tidak dapat menjaga komitmen. Kita yakin bahwa diri kita jujur dan tepat janji, namun adakalanya situasi atau lingkungan tidak mendukung kita untuk jujur atau tepat janji. Hal ini akan membuat kita merasa stres karena kita terancam dengan sebutan tidak jujur atau tidak mampu menepati janji.

  1. Stress Membuat Memori Otak Melemah
Hati-hati dalam menghadapi masalah. Terlalu banyak pikiran dan stress dapat berbahaya bagi kualitas kinerja otak. Sebuah penelitian dari State University of New York membuktikan, stress memicu kerusakan di bagian otak yang disebut prefrontal cortex. Area ini dijuluki sebagai bosnya otak, karena memimpin nyaris seluruh fungsi otak, termasuk mengatur pemikiran abstrak dan analisis kognitif.
Prefrontal cortex juga bertugas menentukan respon dalam menghadapi sesuatu. Jika otak terus-menerus diterjang stress, area prefrontal cortex akan melemah, begitu pula dengan memori otak. Kualitas memori otak menurun karena adanya campur tangan sinyal glutamate yang amat penting dalam menjaga agar kinerja prefrontal cortex tetap stabil. Seperti dimuat dalam jurnal Neuron, saat otak mengalami stress, penerimaan sinyal glutamate pun akan melemah dan menghasilkan proses negatif dalam kinerja otak. Hasil penelitian ini didukung riset serupa di tahun 2008. Dalam Journal of Neuroscience disebutkan, stress yang hanya berlangsung dalam waktu singkat dapat menyulut adanya miskomunikasi antar komponen otak.
            Gangguan tersebut berkaitan dengan kualitas memori dan proses pembelajaran dalam otak. Saat cortisol –hormon penyebab stress- berada dalam level tinggi, otak mulai kesulitan dalam mengingat sesuatu dan mengambil tindakan. “Hormon memang berpengaruh terhadap kinerja memori, tapi riset ini juga menunjukkan bahwa reseptor yang mengalami gangguan dapat mengubah otak yang semula bekerja dengan baik menjadi lemah seperti pada orang-orang lanjut usia,” papar ilmuwan Dr. Joyce Yau seperti dilansir Huffington Post.






Daftar Pustaka
Etty, Maria. 2004. Mengelola Emosi. Grasindo: Jakarta.
Mulyadi, Seto. 2004. Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya. Grasindo: Jakarta.
Supratiknya, A. 1995 Mengenal Perilaku Abnormal . interfidei: Yogyakarta
Weeks, Claire. 1991. Mengatasi Stres. Kanisius: Yogyakarta.
Yurisaldi, Arman . 2010. Metode aktivasi otak. Pustaka Widiyatama: Jakarta.

Dikutip dari:


http://lalaaliya.blogspot.com/2011/10/makalah-mengenal-stres-serta.html