Rabu, 29 Mei 2013

ASESMEN FORMAL DAN ASESMEN INFORMAL



ASESMEN INFORMAL DAN ASESMEN FORMAL
            Cakupan asesmen amat luas, meliputi berbagai aspek pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Berbagai metode dan instrumen, baik formal maupun non formal digunakan dalam asesmen untuk mengumpulkan informasi. Informasi yang menyangkut semua perubahan yang terjadi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. (Johnson & Johnson, 2002; Gronlund, 2003: Oosterhof, 2003). Asesmen yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung disebut dengan asesmen proses, sedangkan asesmen yang dilakukan setelah pembelajaran usai dilaksanakan dikenal dengan istilah asesmen produk. Asesmen proses dibedakan menjadi asesmen proses informal dan asesmen proses formal.
1.      ASESMEN INFORMAL
            Asesmen informal adalah asesmen yang dibuat dan dikembangkan oleh guru berdasarkan aspek-aspek perkembangan atau kurikulum yang berkaitan dengan kemampuan belajar anak. Asesmen informal ini hanya berlaku kasuistis, maksudnya berlaku pada komunitas anak dimana guru itu membuat dan menerapkan asesmen. Belum tentu sesuai atau cocok diterapkan pada komunitas anak ditempat lain.
            Asesmen informal bisa berupa komentar komenter guru yang diberikan atau diucapkan selama proses pembelajaran. Saat seorang peserta didik menjawab pertanyaan seorang guru, saat seorang peserta didik atau beberapa peserta didik  mengajukan pertanyaan kepada guru atau temannya, atau saat seorang peserta didik memberikan komentar terhadap jawaban guru atau peserta didik lain, guru telah melakukan asesmen informal terhadap performansi peserta didik peserta didik tersebut.
            Asesmen informal dilakukan bukan untuk menentukan ranking peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakukan dengan cara lebih terbuka, seperti kegiatan observasi, inventori, partisipasi, dan diskusi.
            Metode asesmen informal dilaksanakan lebih spontan dan kurang kentara/terlihat. Biasanya terjadi selama proses pembelajaran. Contoh metode ini seperti: observasi dan pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran, dan refleksi siswa. Kebanyakan asesmen yang digunakan di kelas adalah asesmen informal. Asesmen ini terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, dan dilakukan secara berkelanjutan.
a.      Tujuan Asesmen Informal
            Asesmen informal dapat digunakan untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
·         Evaluasi penempatan (placement evaluatoin);
·         Evaluasi diagnostik dan perencanaan pengajaran;
·         Evaluasi formatif dan sumatif.




b.      Strategi Asesmen Informal
Strategi Asesmen Informal,  mencakup berbagai cara seperti berikut:
·         Observasi
Observasi adalah metode informal yang paling sering digunakan dalam mengakses kemajuan perkembangan anak. Ada berbagai macam jenis observasi, antara lain adalah observasi, antara lain adalah observasi naturalistik (contoh: catatan anekdot, dan running record) dan observasi terstruktur (contoh: event sampling dan time sampling).
·         Pengukuran yang dirancang guru
·         Checklis perkembangan
Cheklist/Flowsheet merupakan salah satu bentuk catatan perkembangan yang berisi hasil observasi dan tindakan. Flow sheet memungkinkan pendidik untuk mencatat hasil observasi atau pengukuran yang dilakukan secara berulang yang tidak perlu ditulis secara narative, termasuk data anak.
·         Skala rating
Adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kuantitatif.
·         Rubrik
Rubik merupakan instrument kualitatif yang dapat digunakan dalam menilai kemajuan siswa atau pekerjaan mereka. Tujuannya adalah untuk menilai pekerjaan siswa, membedakannya dari instrument seperti ceklis dan skala penilaian.
·         Performansi dan asesmen portofolio
Asesmen Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja yang menyediakan bukti-bukti kompetensi siswa. Portofolio juga menunjukkan inisiatif, kemampuan dan keterampilan siswa.
Performansi adalah cacatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama suatu periode waktu tertentu. (Bernandin & Russell). Sedangkan yang dimaksud dengan penilaian performansi adalah suatu cara mengukur kontribusi-kontribusi dari individu-individu anggota organisasi kepada organisasinya. (Kae E. Chung & Leon C. Megginson).
·         Asesmen bardasarkan teknoogi

c.       Kelebihan Asesmen Informal
Adapun kelebihan dari asesmen informal adalah sebagai berikut:
·         Fokus informal asesmen adalah untuk mendorong para pelajar mengahasilkan pengetahuan;
·         Menurut Piaget melalui asesmen informal anak-anak membangun pengetahuan.
·         Tujuan evaluasi informal adalah untuk mengukur perkembangan dalam jangka panjang, secara perlahan dalam satu periode ketimbang pembelajaran jangka pendek yang diukur tanpa memperharikan antara hubungan dalam perkembangan.
·         Asesmen informal dapat diperoleh secara langsung dari guru melalui objektif (tujuan pengejaran), kurikulum, dan buku-buku teks.
·         Asesmen informal berkaitan langsung dengan situasi pembelajaran di dalam kelas.
·         Asesmen informal segera bisa dilaksanakan, ketimbang tes standar butuh waktu yang panajng, bisa lebih dari dua tahun baru dapat digunakan setelah dikembangkan.
·         Asesmen informal dapat dihubungkan dengan kebutuhan-kebutuhan diagnostik.
·         Asesmen informal lebih fleksibel, sedangkan tes standar lebih kaku, semoa objektif yang telah direncanakan tidak bisa diubah sesuai keperluan pembelajaran di dalam kelas.

d.      Kelemahan Asesmen Informal
Sedangkan kelemahan dari asesmen informal adalah sebagai berikut:
·         Asesmen informal rawan terhadap stabilitas dan ketepatan.
·         Dengan asesmen informal dikhawatirkan terjadi penyalahgunaan oleh guru-guru.
·         Kelemahan utama adalah guru-guru belum siap mengembangkannya dan menggunakannya.



2.      ASESMEN FORMAL
Asesmen formal merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang dirancang untuk mengidentifikasi dan merekam pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Berbeda dengan asesmen proses informal, asesmen proses formal merupakan kegiatan yang disusun dan dilakukan secara sistematis dengan tujuan untuk membuat suatu simpulan tentang kemajuan peserta didik.
Asesmen formal merupakan standar atau asesmen yang menggunakan instrumen baku, misalnya WISC (tes kecerdasan), PMC, Basal Reading Tes Minosetta, dll. Instrumen tersebut telah mengalami standarisasi melalui eksperimen yang ketat dengan jumlah sampel yang sangat banyak. Asesmen formal biasanya diwujudkan dengan dokumen tertulis, seperti tes tertulis dan skor yang diberikan dalam bentuk angka.
Metode asesmen formal direncanakan lebih bagus dalam pengadministrasiannya. Metode ini kurang spontanitasnya dan biasanya dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran. Para siswa menyadari atau mengetahui tentang penggunaan metode asesmen formal ini. Contoh metode ini diantaranya adalah tes meliputi beberapa bab, ujian final, PR terstruktur dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar