welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Rabu, 09 April 2014

layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di TK - PAUD

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut pasal 15 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa jenis pendidikan bagi Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus. Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Teknis layanan pendidikan jenis Pendidikan Khusus untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Jadi Pendidikan Khusus hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Untuk jenjang pendidikan tinggi secara khusus belum tersedia.
Untuk itu kita harus mengidentifikasi layanan yang cocok diberikan kepada anak berkebutuhan khusus.

B.     Masalah Penulisan
1.      Bagaimana cara mengidentifikasi ?
2.      Apa saja langkah-langkah dalam identifikasi ?
3.      Teknik apa yang digunakann dalam identifikasi ?
4.      Bagaimana cara mengasesmen ?
5.      Apa saja langkah-langkah dalam asesmen ?
6.      Teknik apa yang digunakann dalam assessmen ?

C.     Tujuan
1.      Membantu orang tua dan guru mengidentifikasi layanan yang akan diberikan pada anak berkebutuhan khusus.
2.      Membantu orang tua dan guru mengerti langkah dan teknik dalam identifikasi gangguan pada anak.
3.      Membantu orang tua dan guru mengerti langkah dan teknik dalam assessmen gangguan pada anak.

BAB II
ISI
LAYANAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
DI TK DAN PAUD
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lainm adalah tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajargangguan prilakuanak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakanbahasa isyarat.
Pendidikan anak berkebutuhan khusus pada taman kanak – kanak atau pada anak usia dini memerlukan perhatian dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi kekhususannya. Masing – masing anak memiliki karakteristik dan keunikan sendiri, khususnya mengenai kebutuhan dan kemampuannya dalam belajar di sekolah.
Sebagai pendidik / guru seharusnya dapat memberikan layanan pendidikan pada setiap anak berkebutuhan khusus, namun kenyataannya masih banyak ditemui guru – guru yang belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus. Hal ini akan berpengaruh dalam memberikan layanan terhadap anak berkebutuhan khusus. Agar pendidik / guru dapat memberikan layanan terhadap anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kekhususannya maka diperlukan langkah – langkah berikut :
1.      Langkah Indentifikasi
Identifikasi adalah usaha untuk mengenali atau menemukan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan ciri – ciri yang ada dengan mengenali kondisi dan perkembangan anak melalui kegiatan sehari – hari. Selain mengamati perlu juga mewawancarai orang tuanya ataupun keluarganya yang dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk kepentingan anak berkebutuhan khusus tersebut.
a.       Pada langkah identifikasi ini akan mencari / mengungkap ciri – ciri atau karakteristik pada anak berkebutuhan khusus diantaranya :
-          Kondisi fisik.
Yang mencakup keadaan fisik secara umum dan kondisi fisik indra seorang anak, baik secara organik maupun fungsional, maksudnya adalah apakah kondisi yang ada mempengaruhi fungsinya atau tidak.
-          Kemampuan intelektual
Maksudnya adalah kemampuan anak dalam menerima pelajaran / mengerjakan tugas – tugas akademik di sekolah.
-          Kemampuan komunikasi
Adalah kesanggupan seorang anak dalam memahami dan mengekspresikan gagasannya dalam berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya, baik secara lisan maupun tulisan.
-          Sosial emosional
Adalah kegiatan / aktivitas yang dilakukan seorang anak dalam kegiatan interaksinya dengan teman atau gurunya yang dapat dilihat melalui pergaulannya baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan lainnya.

b.      Teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi yaitu teknik observasi, wawancara, tes buatan sendiri dan tes psikologi.
-          Teknik observasi
Merupakan salah satu tehnik yang digunakan untuk melakukan identifikasi anak – anak berkebutuhan khusus, dengan cara mengamati kondisi atau keberadaan anak – anak berkebutuhan khusus pada saat di dalam kelas ataupun diluar kelas.
-          Teknik wawancara
Merupakan salah satu teknik untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan anak – anak berkebutuhan khusus dalam upaya melakukan identifikasi.
-          Teknik testing
Adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berupa suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak dan akan menghasilkan suatu nilai tentang kemampuan atau perilaku anak yang kita tes. Melalui tes ini akan diperoleh gambaran tentang apakah seseorang anak berkebutuhan khusus atau tidak.
-          Tes psikologi
Merupakan teknik yang sering digunakan dalam mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus, karena tingkat akurasinya lebih baik jika dibandingkan dengan Tes buatan guru. Melalui tes psikologi dapat diprediksikan apa – apa yang akan terjadi dalam belajar anak pada tahapan berikutnya. Selain dapat memprediksi tingkat kecerdasan anak, dapat juga untuk melihat bakat, minat serta kepribadian anak.


2.      Langkah Asesmen
Pengertian asesmen dalam kerrangka pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah sebagai usaha untuk memperoleh informasi yang relevan guna membantu seseorang dalam membuat suatu keputusan. Penilaian yang dimaksudkan pada anak berkebutuhan khusus adalah menilai suatu keadaan atau kondisi pada anak berkebutuhan khusus, jadi bukan merupakan penilaian terhadap hasil atau aktivitas pembelajaran di sekolah. Hasil dari penilaian ini sangat bermanfaat bagi guru sebagai panduan untuk membuat perencanaan program dan implementasi program pengajaran.
a.       Tujuan asesmen
-          Melihat kemampuan anak pada setiap aspek.
-          Untuk mengelompokkan anak sesuai dengan karakteristiknya dan penentuan programnnya.
-          Untuk menentukan arah dan tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan berat / ringannya kelainan yang disandang anak berkebutuhan khusus.
-          Untuk pengembangan program pendidikan yang dirancang khusus secara individu untuk anak – anak berkebutuhan khusus.
-          Untuk penentuan strategi, lingkungan belajar, dan penilaian pembelajaran.
-          Untuk memantau perkembangan belajar siswa.

b.      Langkah Pelaksanaan
-          Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang akan diajarkan. Guru sebelum mengadakan evaluasi sebaiknya memahami dulu tahapan kompetensi pembelajaran siswa dalam bidang pembelajaran tertentu. Untuk mengetahui keterampilan apa yang sudah dikuasai oleh anak.
-          Menentuka perilaku yang akan diakses. Guru dalam mengevaluasi harus diawali dari tahapan yang paling umum menuju tahapan yang khusus.
-          Memilih aktivitas penilaian. Guru harus mempertimbangkan kegiatan yang akan dilakukan yang berhubungan dengan kompetensi umum dan khusus. Evaluasi secara umum dilakukan secara periodik, sedangkan kompetensi secara khusus dilakukan secara formatif dan berkesinambungan.
-          Pengorganisasian alat evaluasi. Berkenaan dengan evaluasi pendahuluan yang mencakup identifikasi masalah, pencatatan bentuk – bentuk kesalahan yang terjadi, dan evaluasi keterampilan – keterampilan tertentu. Setelah evaluasi awal dilakukan selanjutnya penentuan tujuan dan strategi pembelajaran beserta implementasinya dan pemantauan terhadap kemajuan belajar siswa.
-          Pencatatan kinerja siswa. Sangat membantu guru dalam mengadakan evaluasi kepada siswa. Adapun yang dicatat yaitu kinerja siswa pada pelaksanaan tugas sehari – hari, dan penguasaan keterampilan secara keseluruhan, yang umumnya dicatat pada laporan kemajuan belajar siswa.
-          Penentuan pembelajaran untuk jangka pendek dan jangka panjang. Guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran khusus jangka pendek secara spesifik, tetapi harus tetap berkontribusi dalam tujuan jangka panjang.

c.       Teknik Pelaksanaan Asesmen
-          Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dapat digunakan oleh guru untuk mengamati aktivitas belajar siswa, seperti; cara belajar siswa, perilaku siswa, kompetensi yang dicapai oleh siswa.
-          Tes Formal, yaitu merupakan suatu bentuk tes yang sudah terstandarkan, memiliki acuan norma atau acuan tolak ukur yang telah ditetapkan.
-          Tes Informal, yaitu merupakan suatu tes yang sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus. Tes ini yang membuat adalah guru pada sekolah yang bersangkutan digunakan secara intensif untuk mengetahui kompetensi – kompetensi khusus pada anak.
-          Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber data, diantaranya; orang tua siswa, keluarga, guru, teman sepermainan, dsb.

d.      Pemberian Layanan Pendidikan
Langkah awal untuk memberikan layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di PAUD adalah melakukan klasifikasi dan dilanjutkan mengasesmen terhadap kebutuhan pendidikan kepada siswa yang bersangkutan. Dalam melakukan asesmen dapat menggunakan teknik observasi dan tes formal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi tentang kondisi umum, perkembangan belajar seorang siswa dan keterampilan – keterampilan yang belum mampu ataupun sudah mampu dilakukan oleh seorang siswa.
Setelah guru mendapatkan berbagai informasi tentang kondisi siswa, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Program pembelajaran dirancang untuk anak – anak berkebutuhan khusus adalah program pembelajaran individual (PPI). Program ini disusun sesuai dengan anak berkebutuhan khusus yang dibuat untuk pendidikan jangka panjang dan jangka pendek. Dalam pelaksanaan layananannya terlebih dahulu disusun rencana kegiatan, aktivitas kegiatan dan melakukan evaluasi. Semua program yang akan dilakukan untuk anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan persetujuan dari orang tua siswa, karena program PPI pada dasarnya tidak dapat dilaksanakan oleh guru sendiri melainkan melibatkan berbagai pihak yang terkait.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual maupun intraindividual yang signifikan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan dan pengajaran.
Berkebutuhan khusus merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan anak-anak luar biasa atau mengalami kelainan dalam konteks pendidikan. Ada perbedaan yang signifikan pada penggunaan istilah berkebutuhan khusus dengan luar biasa atau berkelainan. Berkebutuhan khusus lebih memandang pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi dan mengembangkan kemampuannya secara optimal, sedang pada luar biasa atau berkelainan adalah kondisi atau keadaan anak yang memerlukan perlakuan khusus.
Memahami anak berkebutuhan khusus berarti melihat perbedaan individu, baik perbedaan antar individu (interindividual) yaitu membandingkan individu dengan individu lain baik perbedaan fisik, emosi maupun intelektual, dan perbedaan antar potensi yang ada pada individu  itu sendiri (intraindividual).
B.     Saran
Orang tua atau guru sebaiknya mengidentifikasi dan mengasesmen anak terlebih dahulu sebelum memberikan pelayanan.













DAFTAR ISI
Drs. Uyoh Sadulloh. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabet.