welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Kamis, 04 Oktober 2012

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

TEKNIK PENGUMPULAN DATA
A.   Teknik Testing
Teknik testing adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan alat test. Secara etimologis, istilah “tes“ berasal dari bahasa latin “testum“ yang berarti cangkir, mangkok atau cawan yang digunakan untuk memeriksa logam. Cronbach (1970) mengemukakan test adalah suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati tingkah laku seseorang dan menggambarkannya dengan skala angka atau sistem golongan. Sedangkan Soemadi Soerjabrata (1972) merumuskan test adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang berdasar atas bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu penyelidikan mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau tastee yang lain.
Berdasarkan batasan dari pengertian test tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
·      Test itu hanya merupakan alat bukan tujuan.
·      Alat tersebut disusun secara sistematis dan obyektif menurut syarat-syarat tertentu.
·      Merupakan serangkaian tugas yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah.
·      Diberikan kepada testee baik secara individu maupun kelompok.
·      Melalui test dapat diperoleh data secara cepat dan tepat.
·      Keterangan-keterangan yang diinginkan tergantung kepada maksud dan alat yang digunakan.
·      Tingkah laku testee  dapat menjalankan test dibandingkan dengan sesuatu, yaitu standar atau tingkah laku testee yang lain.

Berdasarkan pada aspek kepribadian yang diukur, test dibedakan atas test; intelgensi, bakat, kepribadian, minat dan prestasi belajar.
1.        Tes intelgensi
Kecerdasan atau intelgensi adalah merupakan suatu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Kecerdasan merupakan salah satu faktor yang menentukan bagi keberhasilan atau kegagalan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
Shertzer & Stone (1971), mendefinisikan intlgensi adalah kemampuan umum yang dimiliki individu untuk berperilaku yang jelas tujuannya, berfikir rasional serta dapat berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sedangkan test intelgensi adalah merupakan suatu teknik yang digunakan sebagai alat pengumpul data untuk mengungkapkan taraf kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berfikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif.
Test intelgensi berguna untuk membantu guru :
·         Menganalisis berbagai masalah yang dialami peserta didik, seperti masalah kesulitan belajar, masalah kedisiplinan, dan masalah kepribadian.
·         Memahami sebab-sebab terjadinya masalah pada diri peserta didik yang berkaitan dengan kemampuan dasarnya.
·         Mengenali peserta didik yang memiliki kemampuan sangat tinggi dan sangat rendah yang membutuhkan pendidikan khusus.
·         Menafsirkan kesulitan-kesulitan belajar yang dialami peserta didik.
Ada beberapa macam test kecerdasan yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan peserta didik, diantaranya yaitu :
·      Test SPM (Standart Progressive Matrices Test)
Diciptakan oleh JC. Raven yang digunakan untuk mengukur test kecerdasan umum. Test ini dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu : pertama untuk kelompok 5-11 tahun (CPM / Coloured Progressive Matrices), sedangkan kelompok kedua yaitu untuk usia 11-65 tahun (Standart Progressive Matrices Test). Berbentuk non verbal yaitu berupa pola-pola gambar yang di susun dari urutan yang paling mudah/sederhana sampai yang paling sulit.
·      Test Goodenaugh (Drawing Man Test)
Dapat dikenakan pada anak usia 2-10 tahun. Anak disuruh untuk menggambar seorang manusia, dari hasil gambar tersebut dapat di analisa untuk menentukan tingkat kecerdasannya.

·      Test Binet – Simon
Digunakan untuk mengetahui kecendrungan tingkat kecerdasan peserta didik 3-15 tahun. Dalam test ini diperhitungkan dua hal berikut :
-       Umur kronologis (“ cronological age “ CA), yaitu umur seseorang sebagaimana yang ditunjukkan dengan hari kelahirannya.
-       Umur mental (“ mental Age “ disingkat MA); yaitu umur kecerdasan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hasil test kemampuan akademik.
Untuk menghitung tingkat intelgensi digunakan rumus sebagai berikut :
Penjelasan :
IQ = Intelligence Quotient
MA = Mental Age
CA = Cronological Age
2.        Test Bakat
Bakat atau aptitude merupakan segi-segi yang terpenting untuk dijadikan dasar dalam membimbing peserta didik khususnya dalam hal pengarahan studi, jurusan dan pekerjaan. Jadi bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya menguasai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan tertentu: seperti kemampuan bermain musik, kemampuan berolah raga, dan lain-lain.
Untuk mengungkap bakat seseorang dapat diukur dengan menggunakan suatu alat yang disebut test bakat. Test bakat adalah suatu teknik yang digunakan sebagai alat pengumpul data untuk mengetahui kecakapan, kemampuan, dan keterampilan seseorang dalam bidang-bidang tertentu seperti kemampuan; berbahasa, bermain musik, menari, melukis, dll.
-            Hal-hal yang mempengaruhi bakat
Bakat dapat berkembang bila didukung oleh lingkungan yang memungkinkan untuk berkembangnya bakat. Pengaruh lingkungan dalam hal ini adalah latihan atau belajar. Bakat yang ada dalam perkembangannya bnyak dibatasi oleh lingkungan dengan cara :
·           Lingkungan memungkinkan munculnya kemampuan yang terpendam dan lingkungan dapat menekan munculnya kemampuan lainnya diakibatkan oleh tidak adanya kesempatan untuk berfungsinya kemampuan tersebut.
·           Lingkungan menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk melatih atau mengulang-ulang suatu keterampilan, baik keterampilan fisik maupun keterampilan mental.
·           Lingkungan membantu menjuruskan, menspesialisasikan, mengarahkan secara khusus terhadap bidang tertentu misalnya; keterampilan motorik.
-            Kegunaan Test Bakat
Tes bakat dapat digunakan untuk berbagai macam kepentingan antara lain:
·           Membantu dalam merencanakan dan membuat keputusan mengenai pemilihan jurusan, pendidikan dan pekerjaan.
·           Membantu memberikan gambaran terhadap kelebihan dan kekurangan diri peserta didik, yang dapat digunakan hanya sebagai bahan informasi yang berguna, bukan untuk membuat suatu keputusan, sebab keputusan terletak pada individu itu sendiri.
·           Hasil dari test bakat merupakan salah satu data atau bahan informasi yang masih perlu dikonsultasikan dengan data lain yang berkenaan dengan diri peserta didik.
-            Macam-macam Test Bakat
·           Rekonik, yaitu mengukur fungsi motorik, persepsi, dan berpikir mekanis.
·           Test bakat musik, yaitu mengukur kemampuan individu dalam aspek-aspek suara, nada, ritme, warna bunyi, dan memori.
·           Test bakat artistik yaitu, mengukur kemampuan menggambar, melukis, dan membuat patung.
·           Tes bakat klerikal (perkantoran), yaitu mengukur kemampuan “kecepatan dan ketelitian”.
·           Test bakat yang multifactor yaitu mengukur berbagai kemampuan khusus.

3.        Tes Kepribadian
Istilah “kepribadian” (personaloity) berasal dari kata latin Personality yang berarti “topeng”. Allport, mengatakan bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari sistem-sistem psikofisis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian-penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sedangkan Kartini Kartono (1991) mendefinisikan kepribadian adalah suatu totalitas terorganisir dari disposisi-disposisi psyihis manusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk membedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lainnya.
Test kepribadian dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu :
-            Tes kepribadian non proyektif
Yaitu tes kepribadian yang disusun dengan tidak mempertimbangkan adanya mekanisme proyeksi. Yang termasuk test ini, antara lain :
·           Tes kepribadian ARES, yaitu test kepribadian untuk mengungkap aspek kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, kestabilan emosi dan hubungan sosial.
·           Tes L & TW (Leandersip and Team Work), digunakan untuk mengungkap aspek sikap kepemimpinan dan kerja sama.
·           Tes WIGGLY BLOCK, test ini berbentuk potongan balok, untuk mengungkap aspek reaksi kerja, sistimatika kerja, ketenangan kerja, kecepatan kerja dan hasil kerja.
·           Tes EPPS (Edward Personal Preference Schedule), untuk melihat kebutuhan-kebutuhan khusus yang dimiliki seseorang.
·           Tes KRAEPELIN, merupakan tes kepribadian untuk mengungkap empat aspek kepribadian manusia yaitu, kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketaanan kerja.




-            Tes Kepribadian Proyektif
Yaitu tes yang disusun atas dasar penggunaan mekanisme proyeksi, yang termasuk tes ini adalah anatara lain :
·           Tes Rorschach, yaitu test yang digunakan untuk mendiagnosa atau menguraikan psyche seseorang.
·           Tes menggambar Wartegg, yaitu test yang digunakan untuk memperoleh insight mengenai struktur kepribadian yang diselidiki dan dinyatakan kedalam istilah berbagai fungsi dasar dari pribadi.
·           Test TAT (Thematic – Apperception Tes), yaitu suatu tes yang terdiri dari beberapa thema yang disajikan kepada OP (orang percobaan) dalam bentuk gambar, tujuannya adalah untuk menginterprestasikan kepribadiannya yang berupa; dorongan-dorongan, emosi-emosi, perasaan-perasaan, konflik-konflik yang terdapat dalam kepribadian OP.

4.        Test Minat
Minat adalah kecendrungan yang terarah pada obyek orang atau pekerjaan tertentu yang dinyatakan dalam berbagai kegiatan yang menarik dan memuaskan dirinya.
Hasil tes minat dapat dipergunakan untuk :
·           Mengelompokkan murid dalam suatu kegiatan disekolah.
·           Membantu murid menunjukkan jabatan-jabatan bagi studi lebih lanjut.
·           Membantu menyeleksi penerimaan murid baru, dsb.

5.        Test Prestasi Belajar
Adalah suatu alat (test) yang disusun untuk mengukur hasil-hasil pengajaran, kemajuan-kemajuan yang telah dicapai murid setelah ia mengikuti latihan atau pelajaran selama waktu tertentu. Test ini meliputi :
·         Test diagnostic, yang dirancang agar guru dapat menentukan letak kesulitan murid, terutama dalam mata pelajaran berhitung, dan membaca.
·         Test prestasi belajar kelompok yang baku dan test belajar yang disusun oleh para guru.
Dari hasil test prestasi belajar dapat digunakan untuk :
·         Mengelompokkan murid dalam suatu kelompok yang sama kemampuannya.
·         Untuk seleksi memasuki suatu sekolah.
·         Untuk menetapkan kenaikan kelas.
·         Untuk memperoleh data mengenai murid-murid yang lambat belajar maupun yang cepat belajar.
·         Untuk mendapatkan data mengenai bidang studi dimana mayoritas peserta didik berprestasi rendah.

PENTINGNYA BIMBINGAN KONSELING DI PAUD

A.    PENTINGNYA BIMBINGAN KONSELING di PAUD
BK selama ini terkesan hanya mengatasi siswa-siswa yang mempunyai masalah saja, padahal BK juga membantu tercapainya segala aspek perkembangan siswa. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek perkembangan siswa yang maksimal.
Dari semua itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di PAUD dalam membantu mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu tercapainya segala aspek perkembangan peserta didik di  PAUD.
Lembaga ini juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan mental spiritual.Agar apa yang dibebankan kepada guru PAUD dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan maka diperlukan bimbingan dan konseling (BK) dilembaga tersebut.
Program BK ini sebenarnya sama pentingnya dengan program BK di sekolah menengah.sama sama memiliki tujuan yang sama yaitu, membantu peserta didik agar bisa berkembang  sesuai bakat , minat serta kemampuannya secara optimal serta dapat mencegah terjadinya masalah yang mingkin akan muncul pada peserta didik.
Adanya bimbingan dan konseling di PAUD bukan berarti sekedar ikut-iktan saja. Keberadaan bimbingan konseling dilingkungan PAUD juga dibutuhkan. Sebab, banyak perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika dewasa yang disebabkan oleh masa lalunya diwaktu kecil. Hal ini menunjukan bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan dalam hal tindakan pencegahan terhadap munculnya perilaku bermasalah di masa depan.
Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya anak secara maksimal.

1.      Menjaga Originalitas kebribadian anak
Kepribadian anak masih luwes, mudah dibentuk, sangat fleksibel, dan belum mengalami peristiwa traumatik yang mengakar dalam hati sanubarinya atau alam bawah sadarnya. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang dijaga originalitas kepribadiannya akan tumbuh secara alamiah menuju tahap-tahap perkembangan kepribadian yang lebih baik. Semua ini dilakukan oleh anak yang bersangkutan dengan tanpa beban dan tanpa tekanan mental dari pihak manapun, sehingga nuansa kebebasan yang diperolehnya semakin mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya.
2.      Membina hubungan yang baik antar Orang Tua dengan Guru di PAUD
Umumnya, orang tua atau orang dewasa yang mengasuh anak didik masih menjalani komunikasi intens dengan pihak sekolah jika anak yang diasuhnya masih berada di lingkungan lembaga PAUD. Dalam hal ini, secara tidak disengaja telah terjadi interaksi yang sangat intens antara anak didik, guru dan orang tua. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah sehingga anak didik akan terjauh dari gangguan mental dan perilaku bermasalah dan mempercepat pertumbuhannya.
3.      Persiapan mental peserta didik untuk memasuki PAUD
PAUD selain mempunyai kepribadian yang matang untuk memasuki sekoilah dasar, mereka juga di tuntut untuk mrmpunyai kemampuan akademik,berupa membaca, menulis, berhitung denganbaik.adapun tujuan diberikannya bimbingan dan konseling bagi peserta didik.selain itu, bimbingan konseling juga membantu guru mengidentifikasi bakat,minat, dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
4.      Stabilitas perkembangan Fisik-Motorik Peserta didik
Bimbingan konseling menjaga stabilitas serta keseimbangan perkembangan peserta fisik-motorik peserta didik agar mereka dapat tumbuh kembang sesuai dengan tugas perkembangannya secara normal dan seimbang.
Dengan demikian bimbingan dan konseling pada aspek fisik-motorik harus dapat menekankan pada keseimbangan antara perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
a.       Motorik kasar
Motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya, berjalan, berlari, berlompat, dan sebagainya.
Perkembangan motorik kasar pada bayi memiliki rangkaian tahapan yang berurutan. Artinya setiap tahapan harus dilalui dan dikuasai dulu sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Tidak semua bayi akan menguasai suatu keterampilan di usia yang sama, karena perkembangan anak bersifat individual. Tapi perbedaan itu tidak disebabkan bayi yang satu lebih pandai daripada bayi yang lain. Perkembangan keterampilan tidak ada pengaruhnya langsung dengan kecerdasan.
Berikut merupakan tahapan perkembangan motorik pada anak sesuai dengan pertumbuhan usianya :

Ø  ANAK USIA 3 TAHUN
a. berbalik atau berhenti secara tiba-tiba atau cepat
b. melompat dengan lompatan kurang lebih 37-60 cm
c. naik tangga tanpa dibantu
d. meloncat dengan tambahan beberapa variasi lompatan
Ø  ANAK USIA 4 TAHUN
a.       sangat aktif, mampu meniru, mengikuti dan menikmati berbagai gerakan yang dicontohkan
b.      mampu mengontrol gerakan dan memberikan respon bila diberi petunjuk orang dewasa. Seperti berhenti, memulai, atau berputar yang lebih efektif
c.       naik turun tangga dengan langkah kaki yang saling bergantian

Ø  ANAK USIA 5 TAHUN
a.       mampu melakukan gerakan dengan konstan dan waktu istirahat yang pendek
b.      mampu mengikuti permainan fisik yang bersifat sosial
c.       mampu menaik sepeda roda tiga
d.      berjalan di garis lurus ke depan atau ke belakang
e.       lompat ditempat dengan 1 kaki
f.       berjalan di atas papan keseimbangan

b.      Motorik halus
Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatkannya. Lingkungan (orang tua) mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.
Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Di setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak, semakin banyak yang ingin diketahuinya. Jika kurang mendapatkan rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti anda boleh memaksa si kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat mengganggu usaha dilakukan si kecil.
Berikut perkembangan motorik halus anak berdasarkan tahapan usianya :

Ø  ANAK USIA 3 TAHUN
a.       menggambar mengikuti bentuk
b.      menarik garis vertikal, menjiplak bentuk lingkaran
c.        membuka menutup kotak
d.      menggunting kertas mengikuti pola garis lurus

Ø  ANAK USIA 4 TAHUN
a.       menggambar sesuatu yang diketahui, bukan yang dilihat
b.      mulai menulis sesuatu dan mampu mengontrol gerakan tangannya
c.        menggunting zig zag, melengkung, membentuk dengan lilin
d.      menyelesaikan pasel 4 keping


Ø  ANAK USIA 5 TAHUN
a.       Melipat
b.      menggunting sesuai pola
c.        menyusun mainan konstruksi bangunan
d.       mewarnai lebih rapi tidak keluar garis
e.       meniru tulisan.

5.      Stabilisasi Perkembangan Kognitif Peserta didik
Peran bimbingan dan konseling dalam perkembangan kognitif anak adalah memandu perkembangan kognitif anak agar tidak terjebak pada pola pikir mistik yang irasional.maka dari itu perkembangan kognitif anak masih sangat sensitif, sehingga mudah meyakini segala hal tanpa melalui pemahaman yang benar.oleh sebab itu peranan BK segaligus sebagai koselor memandu perkembangan kognitif peserta didik tahap demi tahap sehingga mampu berpikir secara logis atau rasional.

6.      Stabilitas perkembanhgan bahasa
Peranan BK dalam perkembangan bahasa adalah mendikteksi keterlambatan berbicara anak.Normalnya anak-anak mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasa dasar sebelum masuk sekolah. Perkembangan bahasa meliputi dua-duanya, komunikasi lisan dan tertulis. Kemampuan-kemampuan verbal berkembang amat dini, dan menjelang usia 3 tahun, peserta didik-peserta didik sudah menjadi yang terampil.
sekitar usia 1 tahun, anak-anak mengucapkan ungkapan-ungkapan satu-kata seperti “da-da” dan “mama”. Kata-kata ini secara khusus menyatakan objek-objek dan kejadian-kejadian yang penting bagi peserta didik tersebut. Menjelang waktu mereka mulai sekolah, anak-anak telah menguasai hampir seluruh aturan-aturan tatabahasa, dan perbendaharaan kata mereka terdiri dari ribuan kata-kata.

·         Bahasa Latin
Perkembangan bahasa lisan, tidak hanya memerlukan belajar kata-kata tetapi juga belajar aturan-aturan penyusunan kata dan kalimat. Sebagai misal, anak-anak Amerika belajar aturan-aturan bagaimana membentuk kata jamak sebelum mereka masuk taman kanak-kanak. Berko (1985) menunjukkan kepada anak-anak pendidikan anak usia dini  sebuah gambar burung, yang disebut “Wug”. Ia kemudian menunjukkanada mereka dua gambar seperti itu yang sama dan mengatakan “Sekarang ada satu lagi yang lain. Jadi ada dua .” Anak-anak itu menjawab, “Wugs”, ia menunjukkan bahwa mereka dapat menerapkan aturan-aturan umum untuk pembentukan kata jamak pada suatu situasi baru.

·         Membaca
 anak-anak kecil sering telah belajar konsep bahwa tulisan huruf cetak disusun dari kiri ke kanan, spasi antar kata-kata mempunyai maksud, dan buku dibaca dari muka ke belakang, banyak anak-anak masa usia dini  dapat “membaca” buku dari awal sampai akhir dengan menginterpretasikan gambar-gambar ada tiap halaman. Mereka memahami alur cerita dan sering dapat meramal  yang akan terjadi selanjutnya p ada cerita yang sederhana.

·         Menulis
Kebanyakan anak-anak mulai memahami dasar-dasar menulis selama masa awal. Anak-anak seusia 3 tahun mengenali perbedaan antara tulisan dan lukisan. Mereka secara bertahap mulai membedakan karakteristik tulisan yang khusus, misalnya apakah garis-garis itu lurus atau lengkung, terbuka atau tertutup, diagonal, horizontal, atau vertikal, dan bagaimana orientasi garis-garis itu. Namun p ada saat duduk di bangku sekolah dasar, banyak peserta didik  yang terus menerus bingung membedakan huruf-huruf seperti b dan d serta p dan q sampai mereka mey adari bahwa orientasi huruf-huruf itu merupakan karakteristik  yang penting .

7.      Stabilitas perkembangan sosial emosional
Perkembangan sosil emosonal terdiri dari dua kata, yakni perkembangan sosial  dan perkembangan emosional.perkembangan sosial berkaitan dengan peningkatan dalam hal interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat luas,
Peran BK dalam perkembangan sosial emosional ini adalah mengantisipasi perilaku sosial anak sejak dini dan memberikan terapi psikis agar anak yang mengalami masalah dapat mengendalikan emosinya.

·         Pergaulan Teman Sebaya.
Selama tahun-tahun pendidikan anak usia dini, teman sebaya (anak-anak lain yang sebaya dengan seorang anak) mulai memegang peran yang semakin penting dalam perkembangan sosial dan kognitif peserta didik (Garvey, 1990). Pergaulan anak-anak dengan teman sebaya mereka dalam beberapa hal berbeda dari interaksi mereka dengan orang dewasa. Bermain-main dengan teman sebaya memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan individu lain yang tingkat perkembangannya serupa dengan diri mereka sendiri.
 Pada saat anak-anak sebaya mengalami perselisihan di antara mereka sendiri, mereka harus membuat konsesi dan harus bergotong-royong dalam memecahkan masalah itu jika permainan itu hendak dilanjutkan; tidak seperti pada perselisihan orang dewasa- anak-anak, dalam suatu perselisihan sebaya tidak seorang pun dapat mengklaim memiliki otoritas menentukan. Konflik sebaya juga memungkinkan anak-anak melihat bahwa anak-anak lain memiliki pemikiran, perasaan, dan pandangan yang berbeda dengan milik mereka sendiri. Konflik juga menambah kepekaan peserta didik terhadap pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain. Dengan cara ini, pergaulan teman sebaya, membantu peserta didik-peserta didik mengatasi egosentrisme yang dideskribsikan Piaget sebagai suatu karakteristik pemikiran formal (Kutnick, 1988).

·         Perilaku prososial
adalah tindakan sukarela tertuju kepada orang lain seperti ngemong, berbagi, menyenangkan, dan kerja sama. Memahami akar perilaku prososial telah menyumbang kepada pengetahuan kita tentang moral di samping kepada pengetahuan kita tentang moral di samping juga perkembangan sosial anak-anak. Beberapa faktor tampaknya berhubungan dengan perkembangan perilaku prososial (Eisenberg & Mussen, 1989). Ini meliputi beberapa hal sebagai berikut:
Teknik-teknik pendisiplinan anak oleh orang tua yang menekankan pada konsekwensi-konsekwensi perilaku anak-anak terhadap orang lain dan teknik-teknik itu diterapkan dalam suatu hubungan orang tua peserta didik yang hangat dan responsif.

8.      Stabilitas Perkembangan Moral keagamaan
Peran Bk pada Perkembangan Moral keagamaan adalah membantu anak untuk menerima dan mengakui sumber moral tertinggi, yaitu TUHAN.Oleh karena itu sebagai pendidikdalm memberikan bimbingan harus selalu mengaitkan perilaku moral dengan agama kepercayaan terhadap tuhan, karewna sumber moral pada anak-anak berawal dari pengenalan dirinya dengan TUHAN.




B.     MASALAH PESERTA DIDIK di PAUD

1.      Pengertian Masalah
Masalah adalah perbedaan antara apa yang kita miliki.Jadi, bila kenyataan yang kita hadapi tidak identik denganapa yang kita inginkan, berarti kita punya masalah, bila apayang kita hadapi sekarang, tidak sesuai dengan yang kitainginkan, berarti kita punya masalah.
Peserta didik dikatakan bermasalah jika mereka mengalami ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan yang diinginkannya, tidak terpenuhinya kebutuhannya serta merasa ada sesuatu hal yang tidak mengenakan pada dirinya.

2.      Jenis-jenis masalah peserta didik di PAUD
a.       Pola pikir anak (aspek kognitif)
Perilaku bermasalah pada aspek kognitif, paling tidak terdiri dari sepuluh kejadian , yaitu :
-          Berpikir Irasional
Anak-anak PAUD terlebih lagi berusia 3 tahun, pikirannya masih sangat terbatas. Ia hanya bisa berpikir secar konkret mengenai benda-benda yang nyata di sekelilingnya.tetapi, sering kali anak anak PAUD telah “mengenal” kata kata abstrak yang sesungguhnya tidak diketahui.misalnya suara halilintar dikira suara bom, suara benda jatuh yang tidak kelihatan dikira suara amukan nenek sihir,dll.
dalam pandangan konseling behavior, pikiran-pikiran Irasional sebagaimana disebutkan di sebabakan oleh orang tua,termasuk guru dan orang-orang disekeliling anak juga perpikir secara tidak rasional.
-          Pikiran negatif
Apakah pikiran negatif itu?pikiran negatif adalah pikiran-pikiran buruk terhadap berbagai hal.misalnya, jika ada teman yang mendekatinya, dikira ada apa-apa(ingin meminjam mainan, misalnya), jika dirinya tidak diajak bermain bersama, takut atau khawatir akan dipermainkan, jika temannya menang dalam permainan, dikira ia curang.
Dalam pandangan konseling behavior,pikiran-pikiran negatif seperti itu akan menimbulkan perikalu bermasalah di kemudian hari.
-          Suka menyalahkan orang lain dan menganggap dirinyapaling benar.
Hal ini biasa terjadi ketika muncul peristiwa – peristiwa yang tidak diinginkan.model berpikir seperti ini berpotensi menimbulkan perilaku bermasalah di kemudian hari.
-          Malas masuk sekolah.
Fenomena ini sudah menjadi gejala umum, terutama di daerah perkotaan.ironisnya, banyak orang tua yang tidak mampu memberikan bimbingan dan konseling yang tepat, sehingga mengambil jalan pintas dengan cara memaksanya.
Sebenarnya kemalasan untuk sekolah pada anak usia dini bukanlah persoalan yang akut.tetapi karena orang tua menanggapinya dengan kekerasan atau kekasaran.
-          Tidak mau belajar.
Hal ini disebabkan karena orang tua memanjakan anaknya.akibatnya, anak menjadi cengeng, dan sulit diajak berpikir secara logis.
-          Sulit menghapal kata dan nama benda.
Kesulitan dalam menghapal disebabkan oleh pikiran irasional, berupa anggapan yang mengharuskan dirinya lebih kompeten, ideal dan sempurna dalam segala hal.menyebabkan anak menjadi tertekan oleh tuntutan dalam pikirannya sendiri.
-          Memperhatikan pelajaran.
Anak PAUD biasanya tidak mau memperhatikan pelajaran ketika mengajar.akibatnya anak anak enggan memperhatikan pelajaran sebagai bentuk pelampiasan mencari kemudahan.
-          Terlambat berpikir
Banyak anak-anak yang sulit memahami perintah-perintah tertentu atau penjelasan pelajaran.akibatnya ia tertinggal dengan teman-temannya.akibatnya ia tertinggal dengan teman-temannya.ia merasa malu,minder, lemah mental, rendah diri,dan lain sebagainya.
-          Pelupa
Anak-anak hanya mengingat peristiwa-peristiwa rutin sehari-hari akan sulit dilupakan begitu saja.akibatnya anak cenderung mengingat peristiwa penting yang mengesankan, dan mengesampingkan hal-hal yang kecil/ yang lebih kecil dari pada peristiwa besar yang mengesankan tadi.
-          Rendah rasa ingin tahunya
Hampir setiap anak memiliki fitrah rasa ingin tahu yang sangat tinggi.tetapi beberapa anak terutama yang bermasalah sangat rendah rasa ingin tahunya.akibatnya, anak tidak memiliki motifasi hidup dan bersikap acuh terhadap segala hal.
                                               
b.      Masalah fisik motorik
-          Tangannya kidal
-          Berjalan pincang
-          Buta,tuli,dan bisu
-          Terlalu gemuk
-          Berambut keriting

c.       Sosio emosional
-          Pendiam, pemalu, minder
-          Egois
-          Sulit berteman
-          Menolak realitas ( suka membuat kegaduan)
-          Bersikap kaku
-          Tidak objektif
-          Membenci guru tertentu
-          Citra diri yang negatif.

d.      Moral keagamaan
-          Anak nakal
-          Anak yang sombong dan congkak
-          Anak suka berbohong dan penipu
-          Bersikap kasar dan tidak sopan
-          Suka membantah perintah orang tua dan guru
-          Keras kepala
-          Kikir, iri, dan dengki
-          Sulit diajak belajar beribadah.
-          Terpengaruh ritual agama lain
3.      Langkah-langkah penanganan masalah peserta didik di PAUD

a.       gambaran masalah
b.      latar belakang dan latar depan masalah
c.       pengumpulan data
d.      usaha pencegahan
usaha pencegahan ini bisa dilakukan dengan cara :
-          menciptakan kondisi sekolah yang menyenangkan
-          menumbuhkan motifasi belajar yang kuaad pada peserta didik
-          menyediakan alat dan fasilitas belajar yang memadai.dll
e.       usaha pemecahan masalah
f.       pihak pihak yang terelibat

Adapun beberapa tugas-tugas bimbingan dan konseling dalam menangani masalah peserta didik di PAUD, yaitu :
-          buatlah anak sedikit bisa mendebat (disputing) terhadap keyakinannya tersebut.contohnya,buatlah anak mempertanyakan hal- hal yang rasional,termasuk hal-hal sebagaimana diatas.
-          Jika anak malas masuk sekolah,jelaskan kepada anak bahwa ia bukan sedang masuk sekolah,tetapi bermain.jadi,ketika anak berangkat sekolah, pada hakikatnya anak bermain.sebab kegiatan anak PAUD adalah bermain.
-          Proses komunikasi harus berjalan dengan baik sehingga anak tidag menunjukan sikap yang tidak sesuai dengan dirinya.