welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Senin, 04 Maret 2013

imbalan, motivasi dan kreativitas



IMBALAN, MOTIVASI, DAN KREATIVITAS
A.    KEKELIRUAN MELABELI PEMBELAJARAN
Pelabelan dalam pembelajaran tidak pantas dilakukan. Begitu seorang pembelajar ada ditemat duduknya. Pern guru adalah menimbulkan motivasi ilmiah dari segala pembelajar merasa sangant tertekan, mereka tidak mampu memproses informasi seefisien pembelajar lainnya. Namun mereka tetap harus dimotivasi untuk menyelesaikan masalah. Ada dua sumber motivasi yaitu muncul dari dalam (intrinsik) dan yang didorong dari luar (ekstrinsik). Sumber motivasi pembelajar yang ideal adalah yang intrinsik.
Berikut ini adalah teknik-teknik yang dapat menghilangkan motivasi intrinsik pembelajar :
1.      Pemaksaan pengendalian dan manipulasi
2.      Lingkungan yang kurang mensuport dan penuh kritik persaingan yang tidak sehat
3.      Umpan balik yang kurang atau janggal
4.      Rasisme, pembedaan jenis kelamin
5.      Pendidikan berbasis hasil ( kecuali bila pembelajar ikut membentuk mewujudkan hasil)
6.      Peraturan dan kebijakan yang tidak konsisten
7.      Presentasi dengan media tunggal yang membosankan
8.      Kurangnya sistem penghargaan dalam bentuk apapun
Kebanyakan lingkungan pembelajaran yang baik akan mendorong pembelajaran siswa aktif dan otak yang sehat biasanya dapat membuat pilihan yang baik. Akan tetapi otak yang tidak sehat seringkali membuat pilihan yang buruk. Para pembelajar yang telah memiliki kondisi “ketidakmampuan belajar” biasanya akan terjebak dalam kategori kedua.


B.     KETIDAKMAMPUAN BELAJAR
Ketidakmampuan dapat membuat putus asa, bahkan para pembelajar cemerlang sekalipun. Gejala-gejala ketidakmampuan dalam belajar :
1.      Tidak peduli apa yang sedang terjadi
2.      Sudah menyerah sebelum dimulai
3.      Kurang motivasi, dan emosi, depresi dan gelisah
4.      Tidak bertindak ketika diminta atau tidak mengikuti pengarahan
5.      Gangguan kognitif
-          Fisik (capek, sakit, insomnia, kecelakan)
-          Psikologis (stress, emosi labil)
6.      Lebih pasif bukan aktif
Beberapa penyebab ketidakmampuan belajar yaitu :
1.      Mengalami trauma dan stress yang lama/ berulang-ulang
2.      Ketidakmampuan dapat dipengaruhi oleh masyarakat setempat
3.      Pengalaman yang berulang-ulang kali terhadadap kegagalan sebelumnya
4.      Melihat dari kegagalan orang lain sehingga berpendapat bahwa diapun akan gagal seperti orang lain
5.      Selalu megajak atau meyelesaikan tugas-tugas anak sehingga anak menjadi malas menyelesaikan tugasya sendiri

C.     PERUBAHAN DALAM OTAK
Beberapa perubahan otak yang menyebabkan ketidakmampuan belajar yaitu :
1.      Penurunan kadar neropinefrin, yaitu zat kimia yang penting dalam membantu sistem stimulasi
2.      Menurunnya kadar serotonin dan dopamin yaitu neurotransmiter untuk membuat orang merasa nyaman
3.      Peningkatan leaqktifan amigdala yaitu srtuktur berbentuk biji almon yang terlibat dalam emosi yang intens
4.      Peningkatan baik dalam sistem saraf otomatis maupun simpatetis, dimana keduanya terlibat dalam menstimulasi hormon yang berkenaan dengan stres yakni kortisol

D.    BELAJAR MENINGGALKAN KETIDAKMAMPUAN BELAJAR
Ketidakmampuan belajar sesungguhnya adalah sebuah kondisi serius dan kronis. Ia tidak dapat diperlakukan hanya dengan beberapa senyuman dan pujian. Para guru perlu meningkatkan persepsi siswa tentang kemampuan mereka untuk dapat belajar. Doronglah keterlibatan dalam jenis pengalaman berikut yaitu :
1.      Peran-peran aktivis (mengubah kebijakan komunitas atau sekolah)
2.      Kegiatan-kegiatan kelas dengan melibatkan beberapa pilihan (kunjungan lapangan , kerja kelompok dan lain-lain)
3.      Kegiatan-kegiatan yang menuntut kemampuan fisik (kegiatan dialam, berkemah, latihan fisik).
4.      Hobi aktif (memelihara binatang, olahraga dan lain-lain)

E.     BAHAYA PUJIAN YANG BERLEBIHAN
Peniliti Alfie Kohn (1993) mengatakan bahwa anak-anak dapat menjadi tergantung secara negatif terhadap pujian sama halnya dengan ketergantungan mereka pada penghargaan eksternal lainnya. Ketergantungan ini dapat membawa pada rendahnya rasa percaya diri. Hilangnya kesenangan intrinsik dalam proses pembelajaran dan menurunkan penghargaan diri. Ketika penghargaannya dihilangkan, siswa akan merasa dikecewakan.


F.      MOTIVASI DAN IMBALAN
Dalam usaha untuk mengontrol, memanipulasi, mengelola dan mempengaruhi pembelajar, pendidik menjadi terbiasa menggunakan imbalan. Tetapi mengingat prinsip-prinsip operasional otak, teknik ini sebetulnya tidak produktif.
Jika ia hanya bersifat terprediksi tetapi tidak memiliki nilai jual (misalnya senyuman, pelukan, pujian dan lain-lain), maka ia hanya sekedar penghargaan bukan imbalan. Jika ia memiliki nilai jual tetapi tidak sama sekali terprediksi (misalnya sebuah pesta, piagam, perjalanan, tiket dan sebagainya), maka itu disebut peringatan bukan imbalan. Akan tetapi jika siswa tahu bahwa dengan berprilaku tertentu mungkin ada kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan hadiah, ini cukup terprediksi untuk disebut imbalan.

G.    IMBALAN DAN OTAK MANUSIA
Otak memiliki sistem imbalan bawaan yang bersifat sangat dibiasakan pada masing-masing individu. Sistem imbalan yang telah dibiasakan ini dibangun dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman-pengalaman serta persepsi dari masing-masing orang. Setiap sistem dari seseorang berespon terhadap imbalan secara berbeda-beda. Peristiwa dan pemikiran dapat mengubah sistem tersebut dengan mengubah penerimaan bagian reseptor terhadap pemicu indogenus otak. Sistem imbalan ini mudah untuk menjadi terbiasa yang berarti bahwa meskipun imbalan tersebut pada awalnya bersifat motivasional, tak lama kemudian pasti akan meningkat supaya kesenangan tetap stabil, tidak berbeda seperti seorang pecandu yang membutuhkan jumlah obat yang lebih besar untuk mendapatkan tingkat ketinggian yang sama.



H.    PENGARUH MERUSAK DARI IMBALAN
Sistem imbalan menghalangi pembentukan motivasi intrinsik karena dengan begitu hanya akan ada sedikit intensif untuk menjadi kreatif, hanya untuk memperlihatkan perilaku yang diminta. “Kreativitas” jarang dapat diukur bila ada kaitannya dengan sistem imbalan, karena keduanya biasanya berada pada ujung skala yang berbeda. Anda mampu menunjukkan perilaku-perilaku yang berulang yang dimotivasi secara intrinsik. Imbalan berkonflik dengan sasaran pembelajar ketika :
1.      Pembelajar merasa dimanipulasi oleh imbalan tersebur
2.      Imbalan tersebut dikacaukan dengan alasan pembelajaran yang sesungguhnya
3.      Imbalan tersebut menurunkan nilai tugas dan pembelajar merasa disuap

I.       BEBERAPA STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI INTRINSIK
1.        Penuhi kebutuhan dan sasaran pembelajar
2.        Berikan rasa memiliki kontrol dan pilihan
3.        Doronglah dan berikan ikatan sosial yang positif
4.        Dukunglah rasa ingin tahu
5.        Libatkan emosi yang kuat
6.        Dukunglah asupan nutrisi yang layak
7.        Berbagi cerita sukses
8.        Sertakan intelegensi berganda (multiple intelegensia)
9.        Berikanlah penghargaan
10.    Tingkatkan frekuensi umpan balik
11.    Kelola kondisi psikologis
12.    Berikan harapan untuk sukses
13.    Mode peran kesenangan dalam pembelajaran
14.    Tandai kesuksesan dan pencapaian dengan kegembiraan
15.    Peliharalah lingkungan pembelajaran yang aman secara fisik dan emosional
16.    Sertakan gaya belajar individu siswa
17.    Tanamkan keyakinan positif tentang kemampuan

J.       PERBUATAN YANG DIBERI IMBALAN KEHILANGAN DAYA TARIK
Setiap pembelajar mempunyai kebiasaan masing-masing yang mereka bawa kepada konteks tertentu . kebiasaan tersebut membangun keyakinan pribadi, espektasi, rasa takut, nilai dan emosi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya sebuah perilaku Leslie Hart (1983) mengatakan bahwa untuk mengubah perilaku, kebiasaanlah yang harus diubah terlebih dahulu, bukan langsung mengubah perilaku. Imbalan dirancang untuk mengubah perilaku bukan kebiasaannya. Oleh sebab itu aktivitas apapun digerakkan oleh imbalan cenderung akan gagal dalam jangka panjang.

K.    MENGGANTI IMBALAN DALAM PEMBELAJARAN
Dr. Kohn (1993) “Jika tujuan anda adalah agar orang-orang mematuhi sebuah perintah, datang tepat waktunya dan melakukan apa yang dikatakan, untuk sementara imbalan memang dapat bekerja. Akan tetapi bila mengubah perilaku yang spesifik, bukan dengan cara memberikan imbalan. Jika tujuan anda adalah untuk membantu para pembelajar, anda mampu membuat pencapaian secara autentik, imbalan sesungguh tidak dapat bekerja.
Jika anda menggantikan imbalan dengan lebih banyak pilihan, umpan balik serta pemberdayaan bagi siswa, mereka akan mulai emilih untuk belajar dengan alasan dan diri mereka sendiri. Transisi pembelajaran untuk kepentingan pembelajaran seperti ini tidak akan terjadi dalam semalam. Para siswa akan perlu waktu dan dukungan dalam mengarahkan fokus dalam diri mereka berdasarkan kebutuhan, nilai-nilai sasaran, keyakinan, sistem, dan emosi mereka sendiri sehingga peniadaan imbalan eksternal hanyalah langkah pertama. Sekarang para siswa perlu didukung sementara fokus kontrol mereka berganti dari eksternal menjadi internal.