welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Minggu, 03 November 2013

konsep pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pandangan filsafat pendidikan sama dengan perananya merupakan landasan filosofi yang menjiwai seluruh kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan.pendidikan adaah upaya mengembangkan potensi – potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita – cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup.
B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini :
1.      apa yang dimaksud dengan pendidikan ?
2.      apa fungsi dari pendidikan ?
3.      Apa tujuan dari pendidikan ?
4.      Apa saja factor – factor pendidikan dan permasalahannya?
5.      Bagaimana hubungan antara filsafat terhadap kebutuhan manusia?
C.     Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari makalh ini yaitu :
1.      Mengetahui apa itu pendidikan
2.      Mengetahui fungsi dari pendidikan
3.      Mengetahui tujuan dari pendidikan
4.      Mengetahui factor – factor pendidikan dan permasalahan yang ada
5.      Mengetahui hubungan antara filsafat terhadap kebutuhan manusia







BAB II
PEMBAHASAN
I.       Pengertian pendidikan

A.    Pengertian pendidikan ditinjau dari istilah
1.      Bahasa Indonesia: WYS Purwodarminto (kamus, 1979) mengartikan kata pendidikan sebagai perbuatan (hal, cara) mendidik.
2.      Bahasa Jawa: Panggulawentah berate mengolah, membina kejiawan dengan mematangkan perasaan, kemauan dan watak sang anak.
3.      Bahasa Belanda: istilah opevoending berarti tindakan untuk membesarkan anak dalam arti geestelyk (kebatinan, jawa).
4.      Bahasa Romawi: Istilah educare yang berarti mengeluarkan dan menuntun.

B.     Devinisi Pendidikan
Devinisi pendidikan menurut Langeveld yaitu mendidik adalah memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seseorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti berdiri sendiri dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan-tindakannya menurut pilihannya sendiri.
Tiga inti hakikat manusia menurut Langeveld:
1.      Manusia pada hakikatnya sebagai mahluk individual.
2.      Manusia pada hakikatnya sebagai mahluk sosial.
3.      Manusia pada hakikatnya sebagai mahluk susila.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962). Semboyan Ki Hajar Dewantara adalah Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso tut wuri handayani.

Devinisi pendidikan menrut pandangan Mono Displiner, mereka antara lain adalah:
1.      Pandangan sosiologi
2.      Menurut pandangan antropologi (budaya)
3.      Menurut pandangan psikologi
4.      Pandangan dari sudut ekonomi
5.      Menurut pandangan polotik
6.      Menurut pandangan filosofi tentang hakekat manusia (antropologi filsafat)

Sedangkan menurut pandangan Multi Disipliner mengenai pendidikan diungkapkan oleh Redja Mudyahardjo (1986:3). Pendidikan adalah keseluruhan kerja insane yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fugsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang diharapkan.  

C.     Fungsi Pendidikan.
Dalam UU no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

1.      Pendidikan Sebagai Penegak Nilai
Pendidikan merupakan penegak nilai dalam masyarakat dengan artian memelihara serta menjaga tetap lestarinya nilai-nilai tersebut dalam masyarakat. Untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai ini dengan sendirinya dunia pendidikan harus selektif agar tidak menimbulkan gejolak-gejolak dalam masyarakat.
Macam-macam nilai budaya menurut Eduard Spanger:
1.      Nilai Politik
2.      Nilai Ekonomi
3.      Nilai Sosial
4.      Nilai Ilmu Pengetahuan
5.      Nilai Etika
6.      Nilai Seni
2.      Pendidikan Sebagai Sarana Pengembangan Masyarakat
Proses pendidikan selalu terjadi dalam lingkungan masyarakat, dan pendidikan bertujuan untuk mengembangkan masyarakat itu sendiri. Proses tersebut akan berlangsung terus-menerus selama masyarakat tertentu akan menjadi pendidik dalam lingkungan keluarga masing-masing.
3.      Pendidikan Sebagai Upaya Pengembangan Potensi Manusia.
Dalam mengembangkan nilai-nilai yang hidup ditengah-tengah masyarakat ini secara langsung ataupun tidak langsung akan terkait dengan pengembangan kemampuan masyarakat., dan sangat erat hubungannya dengan pembentukan anggota masyarakat yang luwes yang bisa berperan sebagai anggota masyarakat yang baik dan bisa berperan sebagaimana mestinya.
D.    Tujuan Pendidikan
Di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."
Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah seperangkat sasaran kemana pendidikan itu diarahkan. Wujud tujuan pendidikan dapat berupa pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap. Maka tujuan pendidikan merupakan suatu sistem nilai yang disepakati kebenaran dan kepentingannya dan ingin dicapai melalui berbagai kegiatan, baik didalam jalur pendidikan sekolah maupun di jalur pendidikan luar sekolah (Drs. Dirto Hadisusanto, Pengantar Ilmu Pendidikan, 1995: 59).
Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:
a. Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
b. Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
c. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha. [1]
d. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan.
II. Faktor-Faktor Pendidikan dan Permasalahannya
I.    Pengertian Faktor Pendidikan
Faktor pendidikan adalah unsur-unsur yang ada dalam pendidikan yang berkaitan secara fungsional dengan jalannya proses pendidikan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.

A.    Faktor Tujuan

Di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan."
Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:
a. Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
b. Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
c. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.
d. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan

B. Faktor Pendidik

Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. Dwi Nugroho Hidayanto, menginventarisasi bahwa pengertian pendidik meliputi:
a. Orang Dewasa
b. Orang Tua
c. Guru
d. Pemimpin Masyarakat
e. Pemimpin Agama
Karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik, yaitu
a. kematangan diri yang stabil, memahami diri sendiri, mandiri, dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan.
b. kematangan sosial yang stabil, memiliki pengetahuan yang cukup tentang masyarakat, dan mempunyai kecakapan membina kerjasama dengan orang lain.
c. kematangan profesional (kemampuan mendidik), yaitu menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunkan cara-cara mendidik.

Kriteria kualitas guru yang dibutuhkan dalam pendidikan adalah
a. Guru sebagai perencana
b. Guru sebagai penginisiasi
c. Guru sebagai pemotivasi
d. Guru sebagai pengamat
e. Guru sebagai pengantisipasi
f. Guru sebagai model
g. Guru sebagai pengevaluasi
h. Guru sebagai teman berjelajah bersama anak didik
i. Promotor agar anak menjadi pembelajar sejati

C. Faktor Anak Didik

Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.  Sedang dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Dengan demikian, pendidikan berusaha untuk membawa anak yang semula serba tidak berdaya, yang hampir keseluruhan hidupnya menggantungkan diri pada orang lain, ke tingkat dewasa, yaitu keadaan di mana anak sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, baik secara individual, secara sosial maupun secara susila.


D.Faktor Alat Pendidikan

Pengajaran yang baik adalah Alat Pendidikan yang terutama. Alat Pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Ditinjau dari wujudnya aalat pendidikan dapat berupa:
a. Perbuatan Mendidik (biasa disebut piranti lunak); mencakup nasihat, teladan, larangan, perintah, pujian, teguran, ancaman, dan hukuman.
b. Benda-benda sebagai alat Bantu (biasa disebut piranti keras); mencakup meja kursi, belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, OHP, dan sebagainya.

E. Faktor Lingkungan

Pada dasarnya lingkungan mencakup:
1.      1 Tempat (Lingkungan Fisik); keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
2.      Kebudayaan (Lingkungan Budaya); dengan warisan budaya tertentu bahasa, seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, keagamaan.
3.      c. Kelompok hidup bersama (Lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain,desa,perkumpulan.

Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan organisasi pemuda, yang ia sebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

a. Lingkungan Keluarga (Komunitas utama)
Pendidikan Keluarga berfungsi:
1. Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak.
2. Menjamin kehidupan emosional anak.
3. Menanamkan dasar pendidikan moral.
4. Memberikan dasar pendidikan sosial.
5. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
b. Lingkungan Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan.  Karena jika ditilik dari sejarah perkembangan profesi guru, tugas mengajar sebenarnya adalah pelimpahan dari tugas orang tua karena tidak mampu lagi memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap-sikap tertentu sesuai dengan perkembangan zaman.
Fungsi Sekolah antara lain:
1. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
2. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
3. Sekolah melatih anak-anak memperoleh keahlian-keahlian seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
4. Di sekolah diberikan pelajaran etika , keagamaan , estetika , membedakan moral .
5. Memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan kepada generasi muda, dalam hal ini tentunya anak didik.


c. Lingkungan Organisasi Pemuda
Peran organisasi pemuda yang terutama adalah mengupayakan pengembangan sosialisasi kehidupan pemuda. Melalui organisasi pemuda berkembanglah semacam kesadaran sosial , keahlian-keahlian di dalam pergaulan dengan sesama kawan (kemampuan bersosial) dan sikap yang tepat di dalam membina hubungan dengan sesama manusia (perilaku bersosial).
F. Permasalahan Pendidikan
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia yaitu :
- Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
- Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan
Semakin tertinggalnya pendidikan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain, harusnya membuat kita lebih termotivasi untuk berbenah diri. Banyaknya masalah pendidikan yang muncul ke permukaan merupakan gambaran praktek pendidikan kita. Berikut ini beberapa masalah pendidikan yang terjadi di Indonesia :

1. Masalah Kurikulum 
Kurikulum kita yang dalam jangka waktu singkat selalu berubah-ubah tanpa ada hasil yang maksimal dan masih tetap saja. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Perubahan kurikulum yang terus-menerus, pada prateknya kita tidak tau apa maksudnya dan yang beda hanya bukunya. Contohnya guru, banyak guru honorer yang masih susah payah mencukupi kebutuhannya sendiri. Kegagalan dalam kurikulum kita juga disebabkan oleh kurangnya pelatihan skill, kurangnya sosialisasi dan pembinaan terhadap kurikulum baru. Elemen dasar ini lah yang menentukan keberhasilan pendidikan yang kita tempuh.

2. Masalah Biaya 
Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal ,pendidikan yang baru akan membagi pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Ironis sekali bila kebijakan ini benar-benar terjadi.

3. Masalah Tujuan pendidikan 
Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat).

4. Masalah Disahkannya RUU BHP menjadi Undang- Undang 
DPR RI telah mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi Undang-Undang. Namun, disahkannya UU BHP ini banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya komersialisasi dan liberalisasi terhadap dunia pendidikan. Segala aspirasi dan masukan, sudah disampaikan kepada Pansus RUU BHP. UU BHP ini akan menjadi kerangka besar penataan organisasi pendidikan dalam jangka panjang.

5. Masalah Kontoversi diselenggaraknnya UN 
Kedua, aspek yuridis. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik. Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN.

III.             Kebutuhan Manusia Akan Filsafat
Filsafat sangat penting untuk membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya, manfaat filsafat bagi manusia antara lain :
a.  Manusia membutuhkan filsafat untuk mengambil keputusan dan tindakan yang bijaksana.
b. Keputusan yang diambil adalah keputusan sendiri tanpa paksaan atau tekanan orang lain.
c. Filsafat sebagai salah satu alat terbaik untuk memelihara dan mengembangkan kebiasaan berpikir reflektif.
d. Membantu manusia dalam menghadapi kesimpangsiuran dan ketidakpastian dunia yang selalu berubah.
Melalui pengetahuan filsafat pendidikan para ahli teori pendidikan dapat menyaring apa yang cocok baginya, para ilmuwan pendidikan dapat mengadakan observasi, eksperimen dan demonstrasi pendidikan yang dibutuhkan, sedangkan para pendidik dapat melaksanakan pilihan yang cocok dalam mendidik.







DAFTAR PUSTAKA

konsep filsafat pendidikan



PENDAHULUAN

A.    LatarBelakang
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mothers of sciences) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematia dan kehidupannya. Diantara permasalahan yang tidak dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang ada dilingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filosof Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang terdapat dalam pengalaman pendidikan. Apakah yang dikatakan John Dewey memang benar. Dan karena itu filsafat dan pendidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban secara filosofis.
Filsafat, selain memiliki lapanangan tersendiri, ia memikirkan asumsi fundamental cabang0cabang pengetahuan lainnya. Apabila filsafat berpaling perhatiannya pada sains, maka akan lahir filsafat sains, maka lahirlah filsafat sains. Apabila filsafat menguji konsep dasar hukum, maka akan lahir filsafat hukum. Dan, apabila filsafat berhadapan dan memikirkan pendidikan, maka akan lahirlah filsafat pendidikan.

B.     MasalahPenulisan
Adapun masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.    Filsafat pendidikan harus dapat menjawab pertanyaan pendidikan secara menyeluruh:
a.       Apakah pendidikan itu?
b.      Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan?
c.       Apakah yang seharusnya dicapai oleh pendidikan?
2.    Apakah pengertian filsafat pendidikan?
3.    Apakah peranan filsafat pendidikan?
4.    Sebutkan dan jelaskan fungsi filsafat pendidikan?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah memberi pengetahuan kepada pembaca khususnya mahasiswa FKIP tentang filsafat pendidikan.
D.    Pembatasan Masalah
Dalam penulisan ini, penulis memberi pembatasan agar tidak terlalu luas yaitu hanya membahas tentang konsep filsafat pendidikan, yaitu: pengertian filsafat pendidikan, peranan filsafat pendidikan dan fungsi filsafat pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A.    PengertianFilsafatPendidikan
IstilahfilsafatberasaldaribahasaYunani “philosophia” yang dalamperkembanganberikutnyadikenaldidalambahasa lain yaituphilosophie (Jerman, Belanda, danPerancis); philosophy (inggris); philosophia (latin); danfalsafah (arab).
Berbagaipengertianfilsafatpendidikantelah di kemukakanolehparaahli.Menurut al-Syaibani (1979:36), filsafatpendidikanadalahaktivitaspikiran yang teratur, yang menjadikanfilsafatsebagaijalanuntukmengatur, menyelaraskandanmemadukan proses pendidikan. Artinya, filsafatpendidikandapatmenjelaskannilai-nilaidanmaklumat-maklumat yang diupayakanuntukpengalamankemanusiaan factor-faktor yang integral.
Filsafatpendidikanjugabisadidefinisikansebagaikaidahfilosofisdalambidangpendidikan yang menggambarkanaspek-aspekpelaksanaanfalsafahumumdanmenitikberatkanpadapelaksanaanprinsip-prinsipdankepercayaan yang menjadidasardarifilsafatumumdalammemecahkanpersoalan-persoalanpendidikansecarapraktis.
Menurut John Dewey (1957), filsafatpendidikanmerupakansuatupembentukankemampuandasar yang fundamental, baik yang menyangkutdayapikir (intelektual) maupundayaperasaan (emosional), maupuntabiatmanusia. Menurut Imam Barnadit (1993: 3) filsafatpendidikanmerupakanilmu yang padahakikatnyamerupakanjawabandaripertanyaan-pertanyaandalambidangpendidikan.Baginyafilsafatpendidikanmerupakanaplikasisesuatuanalisisfilosofisterhadapbidangpendidikan.SedangkanmenurutahlifilsafatAmerika, Brubachen (MuzayyinArifin, 1993: 3) filsafatpendidikanadalahsepertimenaruhsebuahkereta di depanseekorkuda, danfilsafatdipandangsebagaibunga, bukansebagaiakartunggalpendidikan. Filsafatpendidikanituberdirisecarabebasdenganmemperolehkeuntungankarenapunyakaitandenganfilsafatumum.Kendatikaitaninitidakpenting, tetapi yang terjadiialahsuatuketerpaduanantarapandanganfilosofisdenganfilsafatpendidikan, karenafilsafatseringdiartikansebagaiteoripendidikandalamsegalatahap.
Dalamhubunganantarafilsafat (umum) danfilsafatpendidikan, filsafatpendidikanmemilikibeberapabatasan. (1) filsafatpendidikanmerupakanpelaksanaanpandanganfilsafatdankaidahfilsafatdalambidangpengalamankemanusiaan yang disebutpendidikan. Maka, filsafatpendidikanberusahauntukmenjelaskandanmenerangkansupayapengalamanbermanusiainisesuaikehidupanbaru.Filsafatpendidikanmengandungupayauntukmencarikonsep-konsep yang menempatkanmanusiaditengah-tengahgejala yang bervariasidalam proses pendidikan. Kemudiandapat pula upayamenjelaskanberbagaimakna yang menjadidasardarikonsep-konseppendidikandenganaspek-aspektumpuanperhatianmanusia. (2) mempelajarifilsafatpendidikankarenaadanyakepercayaanbahwakajianitusangatpentingdalamupayamemperbaikikeadaanpendidikan. Persoalanpendidikan yang berhubungandenganbimbingan, penilaian, metodedan lain-lain merupakantanggungjawabfilsafatpendidikan yang sangatbergantungpadausahabimbingantingkahlakuanakdidikdansikapmerekaterhadapmasyarakat. (3) filsafatpendidikanmemilikiprinsip-prinsip, kepercayaan, konsep, andaian yang terpaduantarasatusamalainnya. Prinsip-prinsip yang di maksudkanialahkepercayaan-kepercayaan, andaian-andaianterhadapmasalahpendidikan.Hal itudiungkapkan agar menjadidasarpernyataan, rancangan, program, kurikulumdankaidah-kaidahpengajaran, yang tentunyadiharapkandapatmenemukansolusiataspersoalan-persoalanpendidikan.
Dengandemikian, dapatdipahamibahwafilsafatpendidikandapatdilakukangejalamacamdanbentukpendidikan, termasukpendidikanislam, denganmenentukanprinsip-prinsipdankepercayaan-kepercayaanyang bersumberdariajaranislamatausesuaidengannilai-nilaiajaranislam yang mengandungkepentinganpelaksanaandanbimbingandalampendidikan. Mengingatantarafilsafatdanpendidikanmempunyaiketerkaitaneratdankokoh, makatugasnya pun seiring, yakniberupayabersamadalammemajukanhidupumatmanusia (MuzayyinArifin, 1993; 2)
B.     PerananfilsafatPendidikan
Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu den seni mengajar materi sunyek terkait, agar tidak terjadi salah kinsep atau meskonsepsi pada diri peserta didik.
            Scope dan peranan pendidikan dalam arti luas seperti dimaksud diatas, dilukiskan oleh Prof.Richey dalam buku “Planning for Teaching. An Intriduction to Education”, antara lain sebagai berikut: Istilah “pendidikan” berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam masyarakattetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks/modern, fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi informal di luar sekolah. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang bekerja didalamnya. Hal tersebut akan mewarnai perbuatan mereka secara arif dan bijaksana, menghubungkan usaha-usaha pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
            Apabila kita mencoba mengerti persoalan-persoalan pendidikan saperti akan nyata dibawah ini, mengertilah kita bahwa analisa alamiah. Sebab masalahnya memang masalah filosofis, misalnya meliputi:
a.       Apakah pendidikan itu bermanfaat, atau mungkin berguna membina kepribadian manusia atau tidak. Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian ataukah faktor-faktor luar (alam sekitar dan kepribadian)
b.      Mengapa anak yang potensinya hereditas relatif baik, tanpa pendidikan dan lingkungan yang baik mencapai perkembangan kepribadian sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya, mengapa seorang abnormal, potensi-hereditas rendah, meskipun di didik dengan positif dan lingkungan yang baik, tak akan berkembang normal.
c.       Apakah tujuan pendidikan itu sesungguhnya. Apakah pendidikan itu berguna untuk individu sendiri, atau untuk kepentingan sosial, apakah pendidikan itu dipusatkan untuk pembinaan manusia pribadi, apakah itu masyarakat.
d.      Apakah hakikat masyarakat itu, dan bagaimana kedudukan individu di dalam masyarakat apakah pribadi itu independent atauah dependent di dalam masyarakat.
e.       Apakah hakikat pribadi itu, manakah yang utama untuk dididik, apakah ilku, intelek atau akalnya, ataukah kemauannya.
f.       Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik, sentralisasi atau desentralisasu dan otonomi, oleh negara ataukah oleh swasta. Apakah dengan kepemimpinan yang insruktif ataukah secara demokratis.
g.      Bagaimana metode pendidikan yang efektif untuk membina kepribadian.
Tiap-tiap pendidik seyogyanya mengerti bahwa jawaban-jawaban yang tepat atas problema di atas, sehingga dalam melaksanakan fungsinya akan lebih mantap. Mereka yang memilih profesi-keguruan sepantasnya mengert latar belakang kebijaksanaan strategi dan politik pendidikan pada umumnya, khususnya pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang menjadi tanggungjawabnya. Asas kesadaran kebenaran-kebenaran dari jawaban tersebut merupakan prisip-prisip yang fundamental untuk keberhasilan tugas pendidikan. Dengan mengerti asas-asa dan nilai filosofis itu mendasarkan segenap pelaksanaan pendidikan menjadi norma-norma pendidikan. Filsafat pendidikan dengan demikian asas normatid di dalam pendidikan, yaitu norma-norma yang berlaku di dalam dunia pendidikan.
PerananFilsafatPendidikandalamPengembanganIlmuPendidikan, Tujuanfilsafatpendidikanmemberikaninspirasibagaimanamengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teoripendidikanbertujuanmenghasilkanpemikirantentangkebijakandanprinsip-rinsippendidikan yang didasariolehfilsafatpendidikan.Praktikpendidikanatau proses pendidikanmenerapkanserangkaiankegiatanberupaimplementasikurikulumdaninteraksiantara guru denganpesertadidikgunamencapaitujuanpendidikandenganmenggunakanrambu-rambudariteori-teoripendidikan. Perananfilsafatpendidikanmemberikaninspirasi, yaknimenyatakantujuanpendidikannegarabagimasyarakat, memberikanarah yang jelasdantepatdenganmengajukanpertanyaantentangkebijakanpendidikandanpraktik di lapangandenganmenggunakanrambu-rambudariteoripendidik.Seorang guru perlumenguasaikonsep-konsep yang akandikajisertapedagogiatauilmudansenimengajarmaterisubyekterkait, agar tidakterjadisalahkonsepataumiskonsepsipadadiripesertadidik.
Filsafat termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu.
Analisa fillsafat berusaha untuk menganalisis dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendiikan yang realiisits dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik). Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, artinya mengarah agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kkependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidu dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan  hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
            Peranan pendidikan di dalam kehidupan manusia, lebih-lebih zaman modern ini, di akui sebagai sesuatu kekuatan yang menentukan pprestasi dan produktivitas seseorang. Tidak ada suatu fungsi di dalam masyarakat tanpa melalui proses pendidikan. Seluruh aspek kehidupan memerlukan proses pendidikan dalam arti demikian, terutama berlangsung di dalam berlangsung di dalam dan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal (sekolah, unversitas). Akan tetapi scope pendidikan lebih daripadanya hanya pendidikan formal itu. Di dalam masyarakat keseluruhan terjadi pula proses pendidikan kembangan kepribadian manusia. Proses pendidikan yang berlangsung di dalam kehidupan sosial yang disebut pendidikan informal ini, bahkan berlangsung sepanjang kehidupan manusia
            Meskipun pengaruh pendidkan informasi ini tak terukur dalam perkembangan pribadi, tapi tetap diakui adanya. Secara sederhana misalnya, orang yang tak pernah mengalami pendidikan formal, namun mereka tetap dapat hidup dan melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang sederhana. Alam dan lingkungan sosial serta kondisi dan kebutuhan hidup telah mendidik mereka. Akan tetapi, yang paling diharapkan ialah pendidikan formal yang relatif baik, dilengkapi dengan suasana pendidikan informal yang relatif baik pula. Ini ternyata dari usaha pemerintah, pendidik dan para orang tua untuk membina masyarakat sebagai satu kehidupan yang sehat lahir dan batin. Sebab, krisis apapun yang terjadi di dalam masyarakat akan berpengaruh negatif bagi manusia, terutama anak-anak, generasi muda.

C.    Fungsi Filsafat Pendidikan
Fungsifilsafatpendidikanadalahmenyelidikiperbandinganpengaruh-pengaruh (1) darifilsafat-filsafat yang kompetitifdalam proses kehidupandan (2) darikemungkinan proses-proses pendidikandanpembinaanwatakgunamenemukanpengelolaanpendidikan yang dikehendakiuntukmembinawatak yang paling konstruktifbagikaummudadantua. Di sampingitu, fungsifilsafatpendidikanjugauntukmembantutujuan-tujuanpedagogis yang meliputiempataspek yang salingberhubungan, yaitufungsianalisis, evaluasi, spekulatif, danintegratif.Hal senadajugaseperti yang diungkapkanBrameldbahwafungsifilsafatpendidikansebagaialatanalisis, kritik, sintesis, danpenilaian.
Brubachersecaraterperincimenyatakanbahwafungsifilsafatpendidikansebagaiberikut.
1.      FungsiSpekulatif
Fungsipendidikanberusahamengertiseluruhpersoalanpendidikandanmencobamerumuskannyadalamsatugambaranpokoksebagaipelengkap data-data ilmiah.Filsafatpendidikanjugaberusahamengertiseluruhpersoalanpendidikandanhubungannyadenganfaktor-faktor lain yang memengaruhipendidikan.
2.      FungsiNormatif
Fungsifilsafatpendidikanialahsebagaipenentuarah, pedomanuntukmerealisasikanpendidikan.Asasinitersimpuldalamtujuanpendidikan, yaknimembinamasyarakat ideal danmembentuknorma-norma yang dicita-citakan.Filsafatpendidikanmemberikannorma-normadanpertimbanganbagikenyataan-kenyataannormatifdankenyataan-kenyataanilmiahuntukmembentukkebudayaan.
3.      FungsiKritik
Fungsifilsafatpendidikanuntukmemberidasarpengertiankritisrasionaldalammempertimbangkandanmenafsirkan data-data ilmiah.Misalnya, data pengukurananalisisevaluasi, baikkepribadianmaupunachievement (prestasi).Fungsikritikberarti pula analisisdankomparatifatassesuatuuntukmendapatkesimpulan.Dalamhalini, filsafatpendidikandapatmenetapkanklasifikasiprestasisecaratepatdengan data-data objektif (angka-angka, statistik).Di sampingitu, filsafatpendidikanmampumenetapkanasumsiatauhipotesis yang lebihbaikreasonable.Filsafatharuskompetenmengatasikelemahan-kelemahan yang ditemukanolehbidangilmiahdanmelengkapinyadengan data danargumentasi yang takdidapatkandari data ilmiah.
4.      FungsiTeoribagiPraktik
Semua ide, konsepsi, analisis, dankesimpulan-kesimpulanfilsafatpendidikanberfungsisebagaiteori.Teoriiniadalahdasarbagipelaksanaan/praktikpendidikan.Filsafatmemberikanprinsip-prinsipumumbagisuatupraktik.
5.      FungsiIntegratif
Filsafatpendidikanmemilikifungsiintegratif yang didasarkanataspemahamanbahwafilsafatpendidikansebagaiasaskerohanianataurohnyapendidikan.Denganartilain, filsafatpendidikansebagaipemadufungsionalsemuanilaidanasasnormatifdalamilmukependidikan.

           



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Dalamhubunganantarafilsafat (umum) danfilsafatpendidikan, filsafatpendidikanmemilikibeberapabatasan. (1) filsafatpendidikanmerupakanpelaksanaanpandanganfilsafatdankaidahfilsafatdalambidangpengalamankemanusiaan yang disebutpendidikan. (2) mempelajarifilsafatpendidikankarenaadanyakepercayaanbahwakajianitusangatpentingdalamupayamemperbaikikeadaanpendidikan. (3) filsafatpendidikanmemilikiprinsip-prinsip, kepercayaan, konsep, andaian yang terpaduantarasatusamalainnya.
2.      Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik.
3.      Tujuanfilsafatpendidikanmemberikaninspirasibagaimanamengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal.
4.      Brubachersecaraterperincimenyatakanbahwafungsifilsafatpendidikan yaitu: fungsi spekulatif, normatif, kriik, teori bagi praktik, integratif
B.     Saran
Pada filsafat pendidikan ini guru/pendidik seharusnya menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi sunyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau mekonsepsi pada diri peserta didik sehingga dapat meningkatkan pendidikan nasional.





DAFTAR PUSTAKA
Jalaludin. 2011. Filsafat pendidikan. Palembang: Rajawali Pers
Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta
Sadulloh, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta