welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Sabtu, 08 September 2012

DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS


DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Pengembangan Kreativitas AUD

Dosen: Dra. Srie Lestari,M.Pd



Oleh:

Ardila Utami                                                                 F54011001
Okviriana Providensia Majisa                                     F54011010
Asniati                                                                           F54011014
Endang Kustika Sari                                                   F54011015
Eva Anindia Putri                                                        F54011019
Angelina Larasati                                                                  F54011025
Zakiah Hairunissa                                                        F54011036
Mustamiroh                                                                  F54011041

PROGRAM STUDI PG-PAUD
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2012





BAB II
PEMBAHASAN
A.    DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS
1.                  Hakikat Pendidikan
Kemajuan suatu kebudayaan bergantung pada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai , dan memanfaatkan sumber daya manusia dan hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakatnya, kepada peserta didik.
      Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan  memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan bertanggung jawab untuk memandu-yaitu mengidentifikasi dan membina-serta memupuk-yaitu mengembangkan dan meningkatkan-bakat tersebut, termasuk bakat yang ada pada mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (gifted and talented).


2.         Kebutuhan akan Kreativitas
Meningkatnya otomatisasi dalam perusahaan modern membawa dampak bahwa pengambilan keputusan perorangan  dan pemikiran konstruktif dalam bekerja tidak diperlukan lagi, kecuali pada jabatan-jabatan tertentu saja. Semakin panjangnya waktu luang menyebabkan kita membutuhkan penyaluran energi ke usaha atau kegiatan kreatif.
                        Bahkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga tampak ada kecenderungan kuat kearah penstereotipan ( perilaku klise ), seakan-akan  perilaku orisinal atau yang “ lain daripada yang lain “ di pandang  sebagai  aneh bahkan dapat berbahaya. Meningkatnya kemajuan teknologi dan meledaknya jumlah penduduk yang disertai berkurangnya persediaan sumber-sumber alami.
3.         Masalah  Penelitian dan Pengembangan Kreativitas
Salah satu kendala konseptual  utama terhadap studi kreativitas adalah pengertian tentang kreativitas sebagai sifat yang diwarisi oleh  orang yang berbakat luar biasa atau genius.kreativitas di asumsikan sebagai sesuatu yang di miliki atau tidak di miliki dan tidak banyak yang dapat di lakukan melalui pendidikan untuk mempengaruhi nya.
                        Kendala konseptual lain nya terhadap”gerakan kreatifitas” terletag pada alat-alat ukur (tes) yang biasa nya di pakai di sekolah-sekolah,yaitu tes intelegensi tradisyonal yang mengukur kemampuan murid untuk belajar dan tes prestasi belajar untuk menilai kemajuan siswa selama program pendidikan.                                Kemampuan berfikir divergen dan kreatif, yaitu menjajaki berbagai kemungkinan jawaban atau suatu masalah,jarang diukur.
                        Sebab utama dari kekurangan perhatian dunia pendidikan dan fsikologiterhadap kreatifitas terletag pada kesulitan merumuskan konsep kretifitas itu sendiri.
                        Sebab lain dari kelalaian terhadap masalah perkembangan kreativitas adalah metodelogi. Tuntutan akan alat-alat ukur yang mudah di gunakan dan objektiv telah mengalihkan perhatian dari upaya untuk mengukur kemampuan kreatif tang mengharuskan di gunakan nya jenis tes berfikir difergen.
                        Penggunaan model stimulus-response dalam teori belajar merupakan sebab lain dari kurang nya perhatian psikolagi dan pendidikan terhadap kreatifitas (Guilford,1959)
4.            Hubungan Kreatifitas-Intelegensi
        Asumsi bahwa intelegensi adalah kualitas yang tunggal (unitari), diwariskan secara genetis,dan dapar diukur.Spearman (1929) percaya  bahwa intelegensi mencakup faktor (daya penalaran abstrak) yang konsisten,dan faktor spesifik  (s) yang berbeda pada kinerja yang berbeda.Thurstone (1938) sebalikanya percaya bahwa intelegensi bersifat multi demensi,mencakup tujuh kemampuan mental primer (primary mental abilities).Teori-teori dewasa ini lebih condong meluaskan condong meluaskan konsep intelegensi,meskipun dengan cara-cara yang berbeda.Kreativitaspun merupakan konsep yang bersifat multidemensi,yang dapat ditinjau dari demensi-demensi berbeda.Guliford dengan pidatonye yang terkenal pada tahun 1950 berupaya menarik perhatian tehadap masalah kreativitas dalam pendidikan,yaitu bahwa pengembangan kreativitas ditelantarankan dalam pendidikan formal padahal ini amat bermakna bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya.Teori ‘’ambang intelegensi untuk kreativitas ‘’ dari Anderson memaparkan bahwa sampai tingkat intelegensi tertentu,yang di perkirakan seputar IQ 120,ada hubungan yang erat antara intelegensi dan kreativitas.Penelitian Utama Munandar (1977) ditunjukan bahwa hasil studi kolerasi dan analisis faktor membuktikan tes kreativitas  sebagai demensi fungsi kognitif yang relatif bersatu  yang dapat dibedakan dari tes intelegensi,tetapi berfikir divergen (kreatifitas)juga menunjukan hubungan yang bermakna dengan berfikir konvergen (intelegensi).
5.         Peranan Inteligensi dan Kreativitas terhadap Prestasi Belajar
                        Masalah dimensionalitas kreativitas dan intelegensi dalam pendidikan adalah masalah peranan kreativitas dan intelegensi dalam prestasi di sekolah.
                        Torance (1959) , Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamoto (1959) berdasarkan studinya masing-masing sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dalam prestasi sekolah dari kelompok siswa yang intelegensi nya relatif lebih tinggi.
                        Milgram (1990) menekankan bahwa intelegensi atau IQ  semata-mata tidak dapat meramalkan kreativitas dalam kehidupan nyata. Demikian pula tes kreativitas sendiri.
                        Menurut Cropley (1994) true giftedness ( keberkatan sejati ) merupakan gabungan antara kemampuan konvensional ( ingatan baik, berpikir logis,pengetahuan faktual,kecermatan , dan sebagainya) dan kemampuan kreatif ( menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif,melihat kombinasi yang tidak diduga,memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya.
                        Dengan mengetahui hubungan antara kreativitas, intelegensi, dan ingatan dengan prestasi belajar, serta bagaimana sumbangan relatif masing-masing terhadap keberhasilan sekolah, kita dapat menarik kesimpulan mengenai corak dan tujuan sistem pendidikan disebut  diagnostik terbalik (inverted diagnostics) oleh Hofstee (1969). Dalam asesment siswa maupun penilaian sistem pendidikan sebaiknya digunakan berbagai tes yang yang mempunyai arti psikologis yang bermakna dan yang cukup beragam, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai  kualitas sistem pendidikan. Akhir-akhir ini indonesia tampak peningkatan penggunaan tes kreativitas baik dalam bidang pendidikan untuk seleksi  penerimaan siswa, calon mahasiswa dan calon guru-guru maupun dalam perusahaan seleksi karyawan,staf, dan manajer.
6.         Sikap Kreatif Sebagai Ciri Non-Bakat (Non-AptitudeTraid ) dari Kreatifitas
                        Produktifitas kreatif dipengaruhi oleh peubah (Variable) majemuk yang meliputi factor sikap,motifasi,dan tempramen di samping kemampuan kognitif.
Studi yang di lakukan Roe (1952),MacKinnon(1962),dan Cattell(1968),  semuanya menunjukan bahwa profil kepribadian dari tokoh-tokoh yang unggul kreatif berbeda dari profil kepribadian rata-rata. Factor analisis seputar cirri-ciri utama dari kreatifitas,membedakan GuilFord (1956) membedakan antara cirri bakat (Aptitude traid) dan cirri non-bakat (Non-Aptitude Traide) yang berhubungan dengan kreatifitas.
                        Ciri-ciri aptitude dari kreatifitas (berfikir kreatif) meliputi kelancaran,kelenturan atau keluesan (fleksibilitas),dan orisinalitas dalam berfikir,dan cirri-ciri ini di oprasional kan dalam tes berfikir difergen. Antar cirri-ciri non-uptude atau efektif ini misalnya kepercayaan diri,keuletan,apresiasi estetika,kemandirian dan cirri-ciri uptitude dari klreatifitas misalnya kelancaran,kelnturan,dan orisinalitas dalam berfikir. Keberbakatan atau (giftedness) merupakan perpaduan antara kemampuan umum atau kecerdasan (inteligensi), kreatifitas(kemampuan berfikir kreatif dan bersikap kreatif),dan pengikatan diri terhadap[ tugas (taskcomitment) atau motifasi internal,yang juga merupakan non-aptitude traid.

7.         Sikap Guru dan Orangtua mengenai Kreativitas
Ciri-ciri kepribadian di pengaruhi oleh factor lingkungan seperti, keluarga dan sekolah. Kedua lingkungan pendidikan ini dapat berfungsi sebagai pendorong (press) dalam pengembangan kreatifitas anak . pendidikan adalah mengembang kan sikap dan kemampuan peserta didik yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan di masa mendatang secara kreatif dan inofatif. Menjejalkan bahan pengetahuan semata-mata tidal akan banyak menolong peserta didik,karna belum tentu di masa mendatang ia dapat menggunakan informasi tersebut. Penelitian menunjukan bahwa perkembangan optimal dari perkembangan berfikir kreatif berhubungan erat dengan cara mengajar.
Getzels dan jacksoon (1962) guru lebih menyukai siswa dengan kecerdasan.
8.         Dasar Pertimbangan yang Berkaitan dengan Perkembangan Kreativitas
   (1) Dewasa ini dampak adanya kesenjangan antara kebutuhan akan kreativitas dan perwujudanya di dalam masyarakat pada umumnya,dan dalam dipendidikan sekolah pada khisusnya.
                        (2)  Pendidikan disekolah lebih berorientasai pada pengembangan kecerdasan (intelegensi) dari pada pengembangan kreativitas sedangkan keduanya  sama pentingnya untuk mencapai keberhasilan dalam belajar dan dalam hidup.
                        (3 ) Pendidikan (guru dan orangtua) masih kurang memahami arti kreativitas yang meliputi ciri bakat dan non bakat dan bagaimana mengembangkan pada anak dalam lingkungan pendidikan: dirumah,diseko;lah dan dalam masyarakat.
                        (4) Masih sangat kurang pelayanan pendiddikan khusus bagi mereka yang berbakat istimewa sebagai sumber daya manusia yang sesuai dengan potensinya, dapat memberikan konstribusi yang bermakna kepada masyarakat. Akibatnya banyax anak berbakat  berprestasi dibawah potensi mereka.
                        (5) Dalam pelayanan pendidikan bagi anak berbakat,pengembangan kreativitas sebagai salah satu faktor utama yang menentukan keberbakatan merupakan suatu tuntutan.
B.     DASAR PERTIMBANGAN UNTUK PENDIDIKAN KEBERBAKATAN
Pada konferensi Asia-Pasifik ke-4 tentang keberbakatan di Jakarta, 4-8 Agustus 1996,Prof.Dr.Wardiman Djojonegoro sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan dalam pidato kuncinya yang berjudul ‘’Gifterdnees: A Gift and a Challenge’’,menyatakan bahwa keberbakatan merupakan karunia dan juga tantangan bagi setiap bangsa (Gift berarti bakat maupun karunia).
 
Pertimbangan atau alasan mengapa pelayanan pendidikan khusus bagi yang berbakat memang di perlukan:
(1)               Keberkatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang dan kemampuan pembawaan dan prosesnya
(2)               Pendidikan atau sekolah hendaknya dapat memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada semua anak untuk mengembangkan potensinya ( bakat-bakat ) secara penuh.
(3)               Jika anak berbakat dibatasi dan dihambat dalam perkembangannya, jika mereka tidak dimungkinkan untuk maju lebih cepat dan memperoleh materi pengajaran sesuai dengan kemampuannya, sering mereka menjadi bosan,jengkel,atau acuh tak acuh.
(4)               Terhadap kekhawatiran bahwa pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat akan membentuk kelompok elite, perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan elite adalah “golongan atas” maka memang di tinjau dari keunggulan bakat dan kemampuannya mereka tergolong elite.
Sehubung dengan pembentukan kelompok elite, sering kekhawatiran ini adalah berdasarkan salah paham bahwa mereka yang berbakat adalah dari golongan sosial ekonomi tinggi.pendapatan ini tidak sesuai dengan kenyataan.
(5)               Anak dan remaja berbakat merasa bahwa minat dan gagasan mereka sering berbeda dari teman sebaya; hal ini dapat membuat mereka merasa terisolasi, merasa diriny “lain daripada yang lain”, sehingga tidak jarang mereka membentuk konsep diri  yng negatif (Yaumil Achir,1990).
(6)               Jika kebutuhan anak berbakat dipertimbangkan, dan dirancang program untuk memenuhi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka sejak awal, maka mereka menunjukkan peningkatan yang nyata dalam prestasi, sehingga tumbuh rasa kompetensi dan rasa harga diri
(7)               Mereka yang berbakat jika diberi kesempatan dan pelayanan pendidikan yang sesuai akan dapat memberi sumbangan yang bermakna kepada masyarakat dalam semua bidang usaha manusia.
(8)               Dari sejarah toko-toko yang yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seseorang yang menonjol dalam prestasi sekolah (antara lain Albert Einstein dan Thomas Edison), namun mereka berhasil dalam hidup.
Jadi tidak benar bahwa anak yang berbakat akan dapat mencapai prestasi tinggi dengan sendirinya dan tidak memerlukan perhatian dan pelayanan pendidikan khusus.
C.    KEBIJAKAN
1.               Kebijakan tentang Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat
Karena peserta didik berbeda-beda dalam bakat,minat,dan kemampuan,mka implikasinya adalah bahwa perlakuan pendidikan perlu di sesuaikan dengan potensi setiap peserta didik. Sebagai mana mereka yang tingkat kecerdasan nya jauh di bawah rata-rata (tuna grahita) tidak dapat menarik manfaat seutuh nya dari pendidikan biasa (reguler) dan memerlukan pendidikan luar biasa agar kemampuan nya dapat di kembangkan secara optimal,demikian pula peserta didik dengan tingkat kemampuan intelegtual jauh di atas rata-rata (anak berbakat) memerlukan perlakuan pendidikan khusus agar bakat dan potensinya yang unggul dapat di wujudkan sepenuhnya UUSPN 1989 maupun GBHN 1993  amat mendukung p[emberian perhatian dan pelayanan pendidikan khusus tidak hanya bagi anak berbakat tetapi bagi setiap peserta didik dan warga Negara yang memiliki kemampuan dalam kecerdasa luar biasa
2.        Kebijakan tentang Pengembangan Kreativitas
                        Dalam GBHN 1993 (kaidah penuntun)termasuk bahwa “pembangunan ekonomi harus mengaruh pada mantap nya system ekonomi nasyonal berdasarkan pada pancasila dan undang-undang dasar 1945 yang disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi yang haruis di jadikan dasar pelaksanaan pembangunan yang memiliki ciri, antara lain,potensi,inisiatif,dan daya kreasi setiap warga Negara di perkembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum”. Dalam GBHN 1993 dinyakan bahwa/ pengembangan kreatifitas hendak nya di mulai pada anak usioa dini,yaitu di lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan dalam pendidikan prasekolah./kreatifitas perlu di pupuk,di kembangkan dan dikembangkan.
3.        Peranan Kreativitas dalam Program Pendidikan Keberbakatan
                        Kreatifitas biasanya di sebut sebagai priopritas. Kreatifitas hendaknya meresap dalam seliruh kurikulum dan iklim kelas melalui factor-faktor srperti sikap menerima keunikan individu, pertanyaan yang berakhir terbuka, penjajakan (eksplorasi) dan kemungkinan membuat pilihan.
D.    KONSEP KREATIVITAS
1.                  Kreativitas dan Aktualisasi Diri
            menurut fisikolog humanistic seperti Abraham maslow dan carl rogers, aktualisasi diri adalah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talenta nya untuk menjadi apa yang dia mampu menjadi mengaktualisasikan atau mewujudkan pontensi nya. Pribadi yang dapat mengaktual;isasikan dirinya adalah terutama seseorang yang sehat mental dapat menerima dirinya,selalu tumbuh,berfungsi  sepenuhnya,dan berfikir demokratis. Menurut maslow 1968 aktualisasi diri merupakn karakteristik yang pundamental,suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat di lahirkan,tetapi yang sering hilang,terhambat atau terpendam dalam proses “pembudayaan”.
            Kreativitas aktualisasi  diri adalah banyak program kreatifitas yang bnerhasil dilandasi oleh tujuan meniingkatkan kesadaran kreatifitas , memperkokh sikap kreatif seperti menghargai gagasan baru . mengajarkan tehnik menemukan gagasan dan memecahkan masalah secara kreatif,dan melatih kemampuan kreatif secara umum.
2.         Konsep Kreativitas dengan Pendekatan Empat P
                        salah satu masalah penting dalam meneliti, mengidentifikasi,dan      mengembang kan kreatifitas adalah bahwa ada begitu banyak definisi tentang      kreatifitas, tetapi tidak ada satu definisi pun yang dapat di terima secara   unifersal  Rhods menyebut keempat jenis devinisi tentang kreatifitas ini      sebagai “fourP’s of Creatifity: Person,Process,Press,Product”.
1)      Definisi Pribadi
Tindakan kreatifitas muncul dari keunikan keseluruhan pribadian dalam interaksi dengan lingkungan nya.fokus pada aspek pribadi jelas dalam definisi ini. Definisi (teori) mutakhir tentang kreatifitas yang juga menekan kan penting nya aspek pribadi di berikan sternbreg dalam “Threefacet model of kreatifity” 1988yaitu kreatifitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: intelegensi ,gaya kognitif, dan kepribadian/ motivasi. Secara bersamaan ketiga segi dalam alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif.
2)      Definisi Proses
Definisi Torrance ini meliputi seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil. Adapun langkah-langkah proses kreatif menurut Wallas  ( 1926, dalam Vernon, 1982) yang sampai sekarang masih banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas meliputi tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan vertifikasi.
3)      Definisi Produk
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menenkankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan, seperti definisi dari
                        Rogers (1982) mengemukakan kreteria untuk produk kreatif adalah:
                        (1) Produk itu harus nyata (observable)
                        (2) Produk itu harus baru
                        (3) Produk itu adalah hasil dari kualitas unik unik individu dalam                            interaksi dengan lingkunganya.
4)      Definisi Pendorong
Kreativitas tidak hanya tergantung pada keterampilan dalam bidang dan dalam berfikir kreatif,tetapi juga pada motivasi intrinsik (pendorong internal) untuk bersibuk diri dalam bekerja,dan pada lingkungan sosial yang kondusif (pendorong eksternal).Masyarakat yang menentukan Apa dan Siapa yang dapat disibut kreatif.
E.     KONSEP KEBERBAKATAN DAN ANAK BERBAKAT
Dalam keperpustakaan ditemukan berbagai dari pendekatan ‘’unidimensional’’(seperti definisi dari Teman yang menggunakan intelegensi sebagai kriteria tunggal untuk mengidentifikasi anak berbakat,yaitu IQ 140 kependekataan ‘’multidimensional’’ yang memerlukan cara-cara dan alat-alat yang berbeda-beda pula untuk mengidentifikasinya.  
1                    Definisi U.S.O.E  tentang Keberbakatan
                        Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi            karena mempunyai kemampuan –kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jaungkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbngan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
                        Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang telah nyata, meliputi:
·         Kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau intelegensi)
·         Kemampuan akademik khusus
·         Kemampuan berpikir kreatif-produktif
·         Kemampuan memimpin
·         Kemampuan dalam salah satu bidang seni
·         Kemampuan psikomotor (seperti dalam olahraga)
2.         Konsepsi Renzulli tentang Keberbakatan
            Tiga ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan adalah keterkaitan antara:
·         Kemampuan umum di atas rata-rata
·         Kreativitas di atas rata-rata
·         Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment) yang cukup tiggi.
                        Suatu definisi memenuhi kriteria berikut:
·         Harus berdasarkan riset tentang karakteristik orang berbakat.
·         Memberi arah dalam seleksi dan / atau pengembangan instrumen dan prosedur identifikasi.
·         Memberi arah dan berkaitan dengan praktek program, seperti seleksi materi dan metode instruksi serta seleksi dan pelatihan guru anak berbakat.
1)      Kemampuan di Atas Rata-rata (Inteligensi)
Salah satu kesalahan dalam identikasi anak berbakat adalah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes intelegensi dan tes prestasi belajar menentukan kebersamaan dan prokdutivitas kreatif seseorang.
2)      Kreativitas
Tandan ciri kedua yang dimiliki anak/orang berbakat  adlah kreativitas,sebagai kemampuan umum untuk mencipta suatu yang baru,sebagai kemampuan untuk memberi gagasan –gagasan yang dapat  ditepkan dalam pemecahan masalah atau sebagai  kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan  baru antara  unsur-unsur  yang sudah ada sebelumnya.