welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Minggu, 09 September 2012

Peran Keluarga dalam Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak

Peran Keluarga dalam Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak

1.TEORI PERSIMPANGAN KREATIVITAS
          Dalam membanru anak mewujudkan kreativitasnya, anak perlu dilatih dalam keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Tidak hanya sarana dan prasarana dari pendidik dan orangtua yang perlu untuk merangsang pemikiran dan keterampilan anak tapi juga yang perlu adalah motivasi intrinsik pada anak.
2. KARAKTERISTIK KELUARGA YANG KREATIF
2.1 Penelitian Dacey Mengenai Keluarga Kreatif
      Dacey (1989) telah melakukan penelitian di inggris terhadap kehidupan keluarga yang berbeda dari keluarga biasa. Penelitian ini melipuri pengetesan terhadap sampel remaja, dilanjutkan dengan wawancara terhadap anggota keluarga tentang topik mengenai gaya hidup keluarga.
Kesimpulan yang ditarik dari studi diatas adalah :
Ø  Faktor genetis versus lingkungan
Dalam keluarga yang dipilih karena salah seorang dari orangtua dinilai kreatif, lebih dari separohanak mereka juga di atas rata-rata dalam kreativitas. Meskipun hasil ini belum tuntas memecahkan masalah nature versus nurture.
Ø  Aturan Perilaku
Orangtua dari remaja kreatif tidak banyak menentukan aturan perilaku di dalam keluarga. Kelompok orangtua ini rata-rata hanya menetukan kurang dari satu aturan, seperti jumlah jam belajar, waktu tidur dan aturan untuk kegiatan lainnya.
Ø  Tes Kreativitas sebagai predator prestasi kreatif remaja
Enam tes kreativitas yang dipersingkat diberikan kepada sampel remaja dalam studi ini yang bermakna dengan penilaian kreativitas , secara keseluruhan kolerasinya rendah. Hal ini disebabkan karena yang digunakan adalah tes kreativitas singkatan, penilaian kretivitas kurang abstrak, tapi kolerasi yang tinggi dengan faktor lain. Kreativitas merupakan cirri yang relatif kurang stabil, teruta pada masa remaja (Dacer, 1986).
Ø  Masa kritis
Berdasarkan pernyataan dari subjek, dan juga berdasarkan penemuaan baru tentang perkembangan kepribadian oleh penelitian lain (Gould, 1978; Levinson 1978).
Ø  Humor
Bercanda berolok-olok dengan orang terdekatnya dan memperdayakan sebagai lelucon biasa terjadi pada keluarga kreatif.
Ø  Ciri-ciri menonjol lainnya
Bertentangan dengan pendapat stereotif, anak-anak kreatif melihat dirinya mudah bergaul dengan orang lain dan menilai tinggi cirri ini. Kebanyakan memberi peringkat sedang terhadap ciri-ciri, sebagaimana ditemukan pada studi lainnya (Mackinno, 1978; Taylor dan getzels, 1975) cirri-ciri seperti Imajinasi dan Kejujuran.
Ø  Perumahan
Kebanyakan dari keluarga kreatif menemukan rumah yang nyaman dan aman serta berbeda daripada yang lainnya. Ada yang modern dan tidak, ada juga menempatkan rumahnya dihutan dengan perabotan yang antik dan konvensional, dengan taraf sosial-ekonomi yang tergolong menengah atau menengah tinggi.
Ø  Pengakuan dan penguatan pada usia dini
Orang tua dalam studi ini diminta menyatakan pada usia berapa mereka pertama kali menduka bahwa anak mereka memilikikemampuan yang luar biasa dan apa yang membuat mereka berpikir demikian. Kebanyakan memperhatikan tanda-tanda seperti pola pikiran khusus atau kemampuan memecahkan masalah yang tinggi sebelum anak mencapai umur tiga tahun. Kebanyakan anak menyatakan mereka merasakan mendapat dorongan kuat dari orangtua mereka.
Ø  Gaya hidup orangtua
Kebanyakan orangtua dari keluarga kreatif dapat menceritakan salah satu asfek kehidupan mereka yang tidak biasa. Praktis semua orangtua mempunyai minat yang dikembangkan disamping pekerjaannya, dan kebanyakan dari minat ini luar biasa.
Ø  Trauma
Anak kreatif banyak mengalami trauma daripada anak biasa; peristiwa yang menyebabkan kesedihan, kemarahan, atau keduanya, atau sangat mengganggukehidupan anak. Beberapa teoritis percaya bahwa mengalami trauma masa kanak-kanak merupakan sebab utama dari kreativitas, terutama pada para penulis (Kris, 1965; Geortzel, 1978)
Ø  Dampak dari sekolah
Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian bahwa korelasi antara penilaian kreativitas oleh Panel Boston College dan keinovatifan termasuk rendah.
Ø  Bekerja keras
Thomas Edison mengungkapkan bahwa kreativitas itu “one part insparitions and 99 parts perspiration”. Kreativas itu hanya sedikit sekali merupakan hasil kerja dari ilham, lebih banyak hasil dari kerja keras. Hal ini belaku juga untuk macam-macam pekerjaan rumah dan tugas dalam keluarga.
Ø  Domonansi lateral
Beberapa teoretikus berpendat bahwa kekidalan lebih banyak ditemukan pada pribadi-pribadi kreatif, karena merupakan petunjukbahwa mereka lebih dikuasai oleh belahan otak kanan. Belahan otak kiri lebih dilihat sebagai bagian yang logis sedangkan belahan kanan sebagai bagian yang intuitif. Pada populasi umum 5% sampai dengan 10% adalah kidal. Nilai kreativitasnya rendah, 8% kidal, sedangkan dari mereka yang kreativitasnya dinilai tinggi, 20% adalah kidal.
Ø  Perbedaan jenis kelamin
Dalam studi Dacey (1989) kedua orangtua sepakat bahwa hamper dua kali kebanyakan dari remaja kreatif mempunyai rasa identifikasi yang kuat dengan ibu mereka. Keberhasilan remaja banyak meniru ke ayah tetapi lebih mengandalkan pada ibu untuk mendapat dorongan. Pendapat ikeda dari Jepang bahwa ibu mempunyai peranan penting/utama dalam pengembangan kreativitas keluarganya, kehidupan kreatif ibu secara alamiah akan tertanam dalampikiran anak-anaknya, menjadi bagian yang hidup dari pemikiran mereka.
Ø  Penilaian orangtua mengenai kreativitas anak
Orangtua disuruh untuk menilai dari keempat jenis kreativitasdi atas ini setuju dengan penilian panel dari Boston College.
Ø  Jumlah lokasi
Makin tinggi kreativitas remaja semakin banyak juga jumlah koleksi mereka yang tidak lazim/biasa pada umur mereka, karena Dacey terutama berdasarkan laporan diri dan data studi kasus retrospektif. Menyatakan hubungan kausal antara gaya hidup keluarga dan kreativitas tinggi dan rendah dalam keluarga, cukup menjadi petunjuk kuat bahwa keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan paling utama dalam pengembangan bakat dan kreativitas.
2.2 Hubungan Antara Latar Belakang Keluarga dan Kinerja Anak
      Pada tahun 1977 penulis melakukan studi di Jakarta terhadap 128 siswa kelas enam SD dan 138 siswa kelas tiga SMP dan orangtua mereka untuk melihat hubaungan antara  beberapa perubah lingkungan keluargadan kinerja anak, termasuk intelegensi, kreativitas, dan prestasi belajar (Utami Munandar,1977).
Beberapa kesimpulan yang perlu ditarik dari studi ini adalah :
-         Pada umumnya makin tinggi pendidikan orantua,makin baik prestasi anak.
-         Bahasa apa yang dipakai dalam sehari-hari.
-         Siswa sebagaimana nyata dari kuesioner tergolong cukup rajin ; 66% bekerja lebih dari satu jam sehari untuk membuat pekerjaan rumah. Pada umumnya tidak ada hubungan nyata antara jumlah waktu untuk membuat pekerjaan rumah dan kinerja anak.
-         Pada tingkat SD kecendrungannya adalah bahwa perhatian dan pengawasan terhadap pekerjaan rumah sedangkan tingkat SMP orangtua lebih pengawasan pada prestasi.
-         Fasilitas yang ada dirumah.
-         Melakukan kegiatan di waktu senggang.
-         Perhatian dari orangtua merupakan faktor penentu yang positif dari kinerja seorang anak.
-         Terlalu banyak campur tangan orangtua.
Kreativitas merupakan manifestasi dari aktualisasi diri individu yang berfungsi sepenuhnya (Maslow,1962)

2.3 Studi Tentang Keluarga Anak Berbakat Di Indonesia
      Hasil studi menunjukkan bahwa orangtua anak berbakat mempunyai tingkat pendidikan, jabatan profesional dan penghasilan yang lebih tinggi. Taraf aspirasi orangtua anak berbakat sehubungan terhadap dengan pendidikan anak lebih tinggi.
Nyatanya bahwa orangtua anak berbakat lebih mementingkan ciri “ketekunan” dan “inisiatif” dibandingkan dengan kelompok anak dengan kecerdasan rata-rata. Anak berbakat tidak  banyak dituntut orangtua untuk mengerjakan tugas-tugas dirumah dibandingkan dengan anak dengan IQ rata-rata, sehingga mereka lebih banyak waktu melakukan hal-hal yang mereka senangi.

2.4 Penelitian Tentang Latar Belakang Keluarga Para Finalis LKIR dan LPIR
      Mengutip dari Dedi Supriadi (1994), hasil studi ini menemukan bahwa sebagian finalis LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) dan LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja) adalah laki-laki, anak pertama dan kedua, mempunyai orangtua berpendidikan dan berpenghasilan baik, menempuh pendidikannya dikota, berasal dari iklim kehidupan yang baik dan memiliki pengalaman bermakna dalam hidupnya. Secara umum, mereka memiliki latar belakang kehidupan dan lingkungan yang lebih  unggul daripada kelompok pembanding.

3. MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK DIRUMAH
3.1 Mendukung Pertumbuhan Intelektual Anak
      Setiap orang memiliki profil kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Anak-anak dalam keluarga walaupun saudara sekandung mungkin saja memiliki bakat, kemampuan, dan minat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sebaiknya orantua menghargai keunikan setiap anak dan memberikan pengalaman beragam yang memungkinkan bakat dan kemampuannya berkembang. Orangtua dapat mendukung perkembangan anak dengan mengamati perilaku dan kesibukab anak dalam kegiatan yang beragam. Memperhatiakn cara-cara anak mengatasi masalah dan menghadapi tugas-tugas baru akan membuat orangtua memahami potensi dan bakat anak.
3.2 Memotivasi Anak untuk Belajar
      Bagaimana orangtua dapat membantu membina anak agar bermotivasi untuk belajar? Hal-hal yang perlu diperhatiakn dan diupayakan adalah (Shapiro,1997) :
(1) Ajarkan anak untuk mengharapkan keberhasilan.
(2)  Sesuaikan pendidikan anak dengan minat dan gaya belajarnya,
(3)  Anak harus belajar bahwa diperlukan keuletan untuk mencapai keberhasilan.
(4)  Anak harus belajar menghadapi kegagalan.

4. DAMPAK ORANGTUA TERHADAP KREATIVITAS ANAK
4.1 Beberapa Faktor Penentu
       Beberapa faktor diantaranya :
(1)  Kebebasan
Orangtua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak cenderung mempunyai anak kreatif.
(2)  Respek
Anak yang kreatif biasanya mempunyai orangtua yang menghormati mereka sebagai individu, percaya akan kemampuan mereka, dan menghargai keunikan anak.
(3)  Kedekatan emosi yang sedang
Memberikan kebebasan kepada anak untuk tidak bergantung kepada orang lain dalam menentukan pendapat atau minat. Anak perlu merasa bahwa ia diterima dan disayangi tetapi seyogyanya tidak menjadi terlalu tergantung kepada orangtua.
(4)  Prestasi, bukan angka
Orangtua anak kraetif menghargai prestasi  anak; mereka mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya dan menghasilkan karya-karyanya yang baik.
(5)  Orangtua aktif dan mandiri
Orangtua anak yang kreatif merasa aman dan yakin tntang diri sendiri,tidak memperdulikan status sosial dan tidak terlalau terpengaruh oleh tuntutan sosial.
(6)  Menghargai kretivitas
Anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orangtua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.
4.2 Orangtua Sebagai Model
       Penelitian menunjukkan bahwa anak  kreatif  mengidentifikasikan diri dengan banyak orang dewasa dari dua jenis kelamin dan bahwa komunikasi dengan orang dewasa yang menarik, aktif, dan berprestasi dapat merangsang kreativitas anak. Semua orang dewasa dapat menjadi model bagi anak: guru, anggota keluarga, teman orangtua, atau kakek-nenek.
Orangtua dapat membantu anak untuk menemukan minat-minat mereka yang paling mendalam dengan mendorong anak melakukan kegiatan yang beragam, menunjukkan kesempatan dan kemungkinan yang ada.
4.3Sikap Orangtua yang Menunjang
     Sikap orangtua penelitian diperoleh hasil bahwa sikap orangtua yang memupuk kreativitas anak adalah :
 . menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk  mengungkapkannya,
 . memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal.
 . membolehkan anak mengambil keputusan sendiri.
 . memberikan pujian yang sungguh-sungguh kepada anak.
 . menjalin kerjasama yang baik dengan anak.
 .menunjang dan mendorong kegiatan anak.
 . meyakinkan anak bahwa orangtua menghargai apa yang ingin dicoba dilakukan dan apa yang dihasilkan.

4.4 Kreativitas dan Disiplin
      Kreativitas menuntun disiplin agar dapat diwujudkan menjadi produk yang nyata dan bermakna, karena kreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domain tertentu dan kreativitas menuntut sikap disiplin internal untuk tidak hanya mempunyai gagasan, tetapi juga dapat sampai tahap proses kretivitas yang kelima yaitu elaborasi, mengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tugas sampai tuntas.

5. ORANGTUA SEBAGAI PENDUKUNG PROGRAM ANAK BERBAKAT
          Kelompok orangtua dapat membantu menyadarkan orangtua lain akan masalah dan kebutuhan anak berbakat dan kesempatan pendidikan yang dapat diberikan kepada mereka. Kelopmpok orangtua dapat membantu mengorganisasi kegiatan pengayaan bagi anak berbakat, seperti program akhir minggu, program liburan atau program mentor.