welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 01 Januari 2013

A. Pendekatan Perkembangan Interaksi di Bank Street College of Education



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Banyak pengamal dan penyokong lebih suka istilah pendekatan pembangunan-interaksi. Walaupundiakui lebih rumit, perkembangan-interaksi menetapkan ciri-ciri kunci dari pendekatan dan jugamemadamnya dari situsnya asal geografi yang spesifik. Banyak sekolah untuk anak-anak, serta gurukelas individu, menganggap dirinya naskhah dari pendekatan mengajar, walaupun Bank StreetPendidikan tuntutan hubungan konsisten terpanjang dengan cara berfikir tentang dan berlatihpendidikan.
The perkembangan istilah-interaksi meminta perhatian segera untuk keutamaan dari konsep pembangunan, cara-cara di mana (dan 'orang dewasa) anak-anak mode menahan, memahami,dan menanggapi perubahan dunia dan tumbuh sebagai akibat dari pengalaman mereka terushidup . Interaksi merujuk pada prinsip bahawa berfikir dan emosi saling berkaitan, berinteraksi bidang pembangunan dan menyoroti tumpuan pada pentingnya penglibatan dengan persekitaranmasyarakat dan dunia material.
Istilah ini telah digunakan sejak 1971 (lihat, misalnya, Biber, Shapiro, & Wickens, 1971; Goffin, 1994;Shapiro & Weber, 1981), tetapi idea asas mempunyai sejarah yang lebih panjang. Kita mulai denganasal-usul prinsip-prinsip dan amalan baik untuk menunjukkan pelopor dari beberapa idea-ideapendidikan dan juga untuk menunjukkan bahawa program-program untuk anak-anak muda mempunyaisejarah yang lebih luas daripada sering syarikat mengakui.

B.     MASALAH
Adapun masalah yang dihadapi dalam materi ini hanya membahas tentang Pendekatan Perkembangan Interaksi di Bank Street College of Education yang berupa sejarah dan evaluasi, prisnsip-prinsip dasar, kurukulum, pemelajaran, guru, lingkungan pemelajaran, merasakan dan mengabungkan pengetahuan, keluarga, masyarakat, masyarakat masa lalu, penilaian, dan pengaruh bagi pendidikan guru.
C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulis dalam mengambil tema ini adalah memberi pengetahuan kepada pembaca tentang Pendekatan Perkembangan Interaksi di Bank Street College of Education.



















BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

A.    Pendekatan Perkembangan Interaksi di Bank Street College of Education
Meskipun beberapa orang menggunakan istilah pendekatan Bank Street untuk menjelaskan metode pendidikan anak usia dini, banyak praktisi dan pendukungnya lebih memilih istilah pendekatan-pendekatan perkembangan-interaksi.Meskipun diakui lebih tidak praktis, perkembangan-interaksi menentukan fitur kunci perkembangan tersebut dan juga kekhususan geografis yang menjadi tempat asalnya.Banyak sekolah anak usia dini dan sekolah dasar, serta guru individual, yang menggangap diri mereka sebagai contoh pendekatan ini dalam mengajar, meskipun Bank Street College of Education mengklaim asosiasi terlama konsisten dengan cara berpikir tentang pendidikan dan pelaksanaannya.
Istilah perkembangan-interaksi memerlukan perhatian segera pada keberpusatan konsep perkembangan ini, dimana cara-cara anak-anak (dan orang dewasa) memandang, memahami, dan merespon perubahan dunia dan tumbuh sebagai akibat dari pengalan hidup mereka yang berkelanjutan. Istilah interaksi merujuk pada prinsip bahwa pemikiran dan emosi terkait satu sama lain, menghubungkan lingkungan-lingkungan perkembangan dan menyoroti pentingnya keterlibatab dengan lingkungan manusia dan dunia jasmani.
Sejarah Dan Evolusi
Satu aspek masa-masa abad ke-20 yang diingat, satu periode yang kini dikenal sebagai era Progresif adalah bahwa banyak wanita memberontak melawan kekangan konvensional pada kehidupan wanita. Contohnya, Jane Addams dan Lillian Wald memelopori pekerja social; Susan B. Anthony, Lucretia Mott, dan Elizabeth Cady Stanton berjuang untuk hak pilih wanita. Di New York City saja, ada pendidik-pendidik inovatif seperti Caroline Pratt, yang mendirikan Play School, yang kemudian dikenal sebagai City dan Country school, Elisabeth Irwin, yang mendirikan Little Red School House; dan Margaret Naurnberg, yang memulai Walden School.
Diantara perusahaan pendidikan mandiri yang kecil yang dirancang untuk memberi contoh carabaru mengajar dan peraturan social baru adalah Bureau of Education Experiments (Biro Eksperimen Pendidikan). Didirikan pada tahun 1916 oleh lucy Sprague Mitchell, biro ini kemudian menjadikan Bank Street College of education.Mitchell mendapat pengaruh kuat dari karya John Dewey, seorang filsuf, psikolog, pendidik, dan penulis aktif yang gagasan-gagasannya masih menginformasikan pemikiran tentang pendidikan.
Ny. Mitchell mendirikan Biro ini sebagai organisasi penelitian; Harriet Johnson, yang telah bekerja untuk public Education Association (Asosiasi Pendidikan Publik), menjadi direktur pendiri taman kanak-kanak Biro ini pada tahun 1919. Sekolah ini dirancang sebagai arena belajar anak-anak dan untuk merencanakan praktik pengajaran yang membantu pertumbuhan dan perkembangan.Saat staf Biro-guru dan peneliti- bicara tentang perkembangan atau persekolahan, mereka tidak hanya merujuk pada pencapaian kognitif.Mereka memandang bahwa perkembangan anak-anak meliputi bidang fisik, social, emosional, estetika, dan kecerdasan.
Mitchell menggabungkan karier skala penuh dengan kehidupan keluarga yang aktif, ia adalah pelopor sesuatu yang oleh penulis biografinya, Joyce Antler (1981, 1987), disebut sebagai “feminisme (pejuang kaum wanita) sebagai proses kehidupan.” Seperti Dewey, ia yakin sepenuhnya pada gagasan yang luar biasa saat itu bahwa skolah yang akan mendorong dan membantu pertumbuhan anak harus berdasarkan pada pengetahuan yang lebih banyak tentang bagaimana anak belajar, bagaimana mengembangkan minat mereka, dan bagaimana mengenalkan konsep dan pengetahuan dalam cara-cara yang masuk akal bagi anak-anak.
Seiring waktu semakin bertambah pula minat untuk menyediakan jeni pendidikan seperti ini kepada anak-anak usia prasekolh dan memperluasnya ke masa-masa sekolah dasar. Pada 1930 Cooperative School for teacher (Sekolah Koperasi untuk Guru) didirikan untuk mempersiapkan guru bekerja dengan cara-cara baru ini dan  membantu guru belajar sebagaimana yng dilakukan anak-anak: dengan eksperimen aktif. Pendekatan ini sesuai dengan apa yang kini dikenal sebagai constructivism (konstruktivisme).
Dua konsep lingkup yang luas adalah inti bagi pendekatan perkembangan-interaksi yang terus berkembang yaitu progresivisme dan kesehatan mental.Meskipun istilah kesehatan mental tidak umum lagi digunakan, maknanya telah dimasukkan kedalam pandangan yang lebih diterima secara umum mengenai potensi bersekolah untuk membantu perkembangan yang sehat. Sekolah dipandang sebagai kendaraan untuk meningkatkan kesehatan mental dengan memberi kesempatan bagi karya kreatif dan memuaskan dengan; memperkuat kerja sama alih-alih persaingan; dengan menawarkan pemelajaran yang bermakna dan mendorong bagi anak-anak alih-laih pemelajaran hafalan dan tercerai berai; dengan memelihara sifat individual; dan dengan mengembangkan nilai-nilai demokrasi social. Sekolah dahulunya, dan sekarang dipandang lebih dari sekedar tempat untuk belajar keterampilan kognitif dasar.
Prinsip-Prinsip Dasar
Seperti yang tercatat, akar pendekatan perkembangan-interaksi ditemukan dalam dua bidang utama: teoretikus pendidikan dan praktisi-terutama John Dewey dan pelopor gerakan progresif awal seperti Lucy Sprague Mitchell, Harriet Johnson, Caroline Pratt, dan Susan Isaacs- dan teoretikus perkembangan, khususnya mereka memandang perkembangan dari segi dinamis dan dalam konteks social-seperti Anna Freud (1974), Erik Erikson (1963), Heinz Werner (1961), Jean Piaget (1952), dan Kurt Lewin (1935).
Beberapa prinsip umum tentang perkembangan dan interaksi anak-anak dengan lingkungan social dan fisik adalah hal dasar bagi pemahaman pendekatan perkembangan-interaksi. Sebuah prinsip dasar telah disebutkan dalam definisi tapi terus diulang-ulang karena merupakan ciri istimewa pendekatan ini: “bahwa pertumbuhan fungsi kognitiftidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan proses antarpribadi.
Konsep ini bukanlah pembentangan kematangan semata, tapi, sebaliknya, melibatkan pergeseran dalan cara individu mengatur dan merespon pengalaman. Sesuai dengan  kerangka berpikir konstruktivis, anak dipandang sebagai pembuat makna aktif; dan karena itu sekolah harus member kesempatan pada pemecahan masalah yang nyata.
Prinsip dasar lainnya adalah bahwa terlibat secara aktif dengan lingkungan bersifat bawaan pada motivasi manusia. Selanjutnya, saat anak-anak tumbuh, mereka membentuk cara yang semakin rumit dalam memahami dunia. Secara umum, arah pertumbuhan mencakup gerakan dari yang paling sederhana ke yang lebih rumit dan cara terintegrasi.
Gagasan utama yang sama dengan sejumlah pendekatan lainnya adalah pentingnya perkembangan pemahaman akan diri sebagai pribadi yang unik dan mandiri. Pertumbuhan dan pendewasaan melibatkan konflik. Konflik adalah hal penting dalam perkembangan-terkadang didalam diri, terkadang dengan orang lain. Sifat dasar interaksi dengan figure penting dalam kehidupan anak dan tuntutan budaya akan menenukan bagaimana konflik diatasi.
Dari semua prinsip umum perkembangan dan interaksi ini, muncullah sebuah gambaran tentang pembelajar dan warga Negara masa depan. Sekolah menjadi tempat untuk meningkatkan perkembangan kemampuan disemua bidang kehidupan anak-anak dan membantu mereka meraih rasa otonomi dan identitas pribadi serta kelompok.Sekolah adalah lingkungan yang aktif, terhubung dengan dunia sosial dimana sekolah adalah bagiannya, dan bukannya sebuah tempat yang terpisah untuk belajar. Ini berarti bahwa sekolah memiliki tanggunga jawab yang sama degan keluarga anak-anak dan institusi lingkungan sekitar. Tanggung jawab bersama dan mencoba keterlibatan secara aktif.Saat imigrasi meningkat dan ada semakin banyak perbedaan di populasi sekolah, semua hal ini maknanya semakin bertambah.
Kurikulum
Secara eksplisit atau implisit, teori atau filosofi pendidikan apa pun mengandung  pandangan pembelajaran, pertimbangan hubungan antara pembelajaran dan pengajaran, dan pernyataan tentang pengetahuan apa yang dianggap paling pantas untuk diketahui
Pemelajar
Sejak lahir, anak-anak dianggap sebagai makhluk yang ingin tahu yang terlibat secara aktif dalam interaksi dengan lingkungan sosial dan fisik mereka , dan yang melalui eksplorasi dan eksperimen, berusaha dengan giat untuk menemukan makna dunia tempat mereka tinggal.  Dalam pertemuan mereka dengan lingkungan sosial dan fisik anak-anak merespon dengan keseluruhan diri mereka, Lucy Sprague Mitchell (1951)
[seorang] anak tidak dianggap sebagai sekumpulan kecakapan untuk dilatih atau dikembangkan secara terpisah; [anak] harus dianggap sebagai seseorang. Sebuah organisme, yang bereaksi pada pengalaman secara keseluruhan... untuk diskusi seorang anak dapat dibagi ke dalam raga fisik; sebuah kecerdasan dengan kemampuan dan keterbatasan tertentu; makhluk sosial yang bereaksi  pada orang lain baik orang dewasa atau teman sebayanya ; makhluk yang mampu memberi respons sosial pasti. Tapi tidak seorang pun yang pernah mendapati pembagian terpisah pada diri seorang anak oleh dirinya sendiri.”
Konsep masyarakat demokratis menuntut perkembangan dan pendidikan pembelajar dalam pendekatan perkembangan-interaksi, mempengaruhi keputusan kurikulum tentang muatan, praktik, dan kualitas lingkungan sosial dan fisik. Konsep yang berkembang luas ini mencerminkan akar sejarah Bank Street dalam gerakan Progresif dan pengaruh filosofi pendidikan Dewey dimana sekolah dan masyarakat, demokrasi dan pendidikan,semua terkait secara instrinsik.
Jika kita benar-benar ingin mengetahui demokrasi itu seperti apa, pertama-tama kita harus menyentuh demokrasi-yaitu, kita harus hidup secara demokratis. Hal ini berlaku bagi guru dan anak-anak (Mitchell, 1942, hal 1).
Pengetahuan Dan Pengalaman
Dalam pendekatan Bank Street, penelitian-penelitian sosial adalah inti atau pusat kurikulum.Penelitian sosial adalah inti atau pusat kurikulum.Penelitian sosial adalah tentang hubungan antara dan diantaranya banyak orang dan lingkungan mereka.Yang mendasar pada pendekatan ini adalah sekolah memberikan kesempatan terus-menerus bagi anak-anak untuk merasakan kehidupan demokratis.
[T]anggung jawab program penelitian sekolah adalah memberikan anak-anak pemahaman tentang pengguanaan bagi lingkungannya oleh manusia dan peran teknologi dalam perkembangan lingkungan tersebut, dan pemahaman makna dan struktur masyarakat serta penghargaan atas usaha manusia menuju keindahan, pencapaian tujuan-tujuannya. (Winsor, 1957, hlm 397)
Yang penting adalah bahwa apa dan bagaimana dalam pembelajaran harus saling terkait. Apa yang dipelajari tentang dunia tidak terpisah dari bagaimana pengetahuan itu diperoleh dan digunakan. “Belajar dari pengalaman” adalah membuat hubungan ke belakang dan ke depan antara apa yang kita lakukan dengan hal-hal dan apa yang kita nikmati dari hal-hal dan apa yang kita nikmati dari hal-hal yang berurutan.  Dalam keadaan seperti itu, melakukan adalah mencoba, sebuah percobaan dengan dunia untuk menemukan seperti apa dunia untuk menemukan seperti apa dunia itu; menjalani adalah pengajaran-penemuan hubungan antara banyak hal (Dewey, 1966, hlm. 140). Untuk membuat apa yang dipelajari dan menemukannya sendiri, anak-anak juga memerlukan kesempatan untuk membentuk dan mengungkapkan hubungan yang mereka bina. Mitchell (1951) menyebut proses ini sebagai intake (asupan) dan outgo (pengeluaran) – mengalami saat anak-anak “menerima” dunia dan “pengeluaran” yang diperlukan sementara anak-anak mengungkapkan, melaui kesenian, menulis, merakit balok dan diskusi, serta pandangan mereka tentang dunia yang sedang mereka bangun. Pengalaman, masyarakat, komunikasi, hubungan, relasi, percobaan, dan pemecahan masalah adalah istilah kunci dalam pendekatan perkembangan interaksi.
Guru
Ruang kelas adalah situasi belajar dimana guru menjadi mata rantai antara dunia minat dan pengalaman pribadi anak dan dunia bidang studi yang teratur dan objektif (Dewey, 1959).Pengajaran adalah hal yang rumit dan menuntut, memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan pengaturan. Guru harus mengetahui banyak tentang isi studi sosial bukan untuk memberikan informasi pada anak-anak tapi sebagai pedoman dalam mengajukan pertanyaan yang bermakna; untuk merencanakan kesempatan pengalaman anak-anak (kegiatan berjalan-jalan, buku, kegiatan); untuk mengetahui sumber daya yang tersedia; dan untuk menilai perkembangan studi tersebut.
Lingkungan Pemelajaran
Kelas perkembangan interaksi adalah lingkungan dinamis yang menerima peran serta aktif, kerjasama dan kemandirian, dan keragaman dalam ekspresi dan komunikasi.Permainan seperti puzzle, manipulative (berbagai benda untuk bermain dengan bentuk berbeda, seperti segitiga, kubus, lingkaran, dan sabagainya),batang Cuisenaire (batang kayu warna warni untuk belajar matematika), balok dienes, materi yang dibuat oleh guru, kertas dan pensil unuk menulis, dan berbagai jenis buku. Ada juga kegiatan seperti memasak, bercocok tanam, menganyam, dan menggunakan komputer di kelas sekolah dasar.Alokasi ruang memberikan tempat yang cukup untuk permainan sandiwara,menyusun balok, dan pertemuan kelompok, serta ruang untuk bekerja sendiri atau dalam kelompok kecil. Keluwesan jadwal memberikan waktu tambahan bagi anak-anak untuk menggali potensi materi secara aktif, untuk berjalan-jalan, untuk terlibat dalam perluasan ide dan minat, dan bekerja sama. Keluwesan terdapat dalam konteks familier rutinitas waktu makan camilan, makan siang, bercerita, istirahat, waktu khusus, dan waktu di luar ruanagan.
Bagian tetap kehidupan harian kelas adalah menciptakan lingkungan yang merangsang keterampilan baca tulis dengan banyak kesempatan yang beragam untuk bicara dan menyimak, percakapan dan diskusi, menyimak dan menulis cerita, menyanyi dan berpantun.Apa yang dilakukan anak-anak saat mereka merespon dan berinteraksi dengan semakin banyaknya komputer, video, dan televisi dalam kehidupan mereka. Kata-kata tercetak dan tertulis kini mencakup gerakan, tindakan, bunyi dan gambar. Memahami bahwa kata, tertulis atau lisan, mungkin tidak cukup bagi anak-anak untuk menyampaikan pertanyaan dan kekhawatiran mereka yang rumit, kesempatan komuniksai lain ditawarkan melalui materi kesenian. Dengan cat, tanah liat, krayon, kertas dan kayulah anak-anak memiliki berbagai kesempatan untuk membentuk dan mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka. Sejak awal krayon warna menggoreskan “hujan” di atas kertas, hingga lukisan yang mengisahkan sebuah cerita, ke mural dan model yang menggabungkan perjalanan dan informasi yang terkumpul mengenai studi sosial merka anak-anak membangun dan menyampaikan pemahaman mereka tentang dunia (Gwathmey & Mott, 2000; Levinger & Mott, 1992)
Merasakan Dan Menggabungkan Pengetahuan
Dalam status sosial, sejarah, dan kisah kehidupan manusia (perjuangan mereka, aspirasi, pencapaian, harapan) dipandang dari perspektif bidang pengetahuan yang berbeda.Seperti yang ditulis Dewey dalam diskusi geografi, salah satu disiplin ilmu dalam studi sosial berbalik menimbulkan pertanyaan dan gagasan pada banyak orang. Seperti yang ditulis Dewey dalam diskusi geografi, salah satu disiplin ilmu dalam sosial, “kepentingan utama danau, sungai gunung dan daratan tidak bersifat fisik, tapi sosial;yaitu perannya dalam mengubah dan mengarahkan hubungan manusia. (Lucy Sparague Mitchell (1934) menambahkan catatan lebih lanjut pada perspektif ini dalam pembahasannya tentang “geografi manusia”
Karena geografi  manusia berhubungan dengan hubungan timbal balik antara kebutuhan umat manusia dan lingkungan luar tempat dimana mereka harus memuaskan kebutuhan mereka. Separuh dari  geografi manusia adalah apa yang dilakukan manusia untuk mengubah permukaan bumi; separuh lainnya adalah peran fenomena permukaan bumi untuk mengkondisikan kegiatan manusia, yang sebagian besar terkait dengan pekerjaan mereka
Dalam studi sosial banyak ditawarkan kesempatan untuk bertanya, memecahkan masalah, dan memahami lingkungan sosial dan fisik dalam interaksi kita yang terdapat bentuk spiral pembelajaran dan pemahaman diri dan dunia yang terus berkembang, misalnya minat dan penggalian anak-anak usia 5 tahun: penelitian anak-anak usia 8 tahun tentang sejarah penduduk asli di daerah tempat tinggal mereka.
Keluarga
Guru harus menyadari beragam makna keluarga bagi anak-anak dalam kelas dan tidak membuat anggapan mengenai susunan keluarga ataunilai-nilai yang dianut. Contoh, nilai keluarga bisa berbenturan dengan nilai-nilai sekolah dan budaya yang lebih luas.(Delpit, 2006: Ramsey, 2004; Wasow, 2000).
Diri sendiri dan keluarga adalah topik yang tak kunjung habis bagi anak-anak dan sebuah tempat yang familier untuk menjangkau dunia yang lebih luas.Dari setiap keluarga dalam kelompok terdapat lagu dan kisah tuk didengar, makanan favorit untuk dicicipi, dan hari libur serta tradisi yang dipelajari.Kegiatan berjalan-jalan di dalam sekolah dan di lingkungan terdekat mulai memperluas dunia anak-anak.Dan dalam permainan sandiwara mereka, anak-anak mengulang pengalaman dan percobaan mereka dengan pemahaman mengenai dunia terdekat yang semakin bertambah.Dalam berbagai begitu banyak minat dan cerita semacam itu, mengenai diri sendiri dan keluarga, pemahaman tentang masyarakat mulai tumbuh.

Masyarakat
Perlahan-lahan, minat anak-anak pada dunia luar selain keluarga mulai meluas.Saat guru memberikan, menyusun, dan mengarahkan rasa ingin tahu dan minat anak-anak dan memulai studi tentang hidup masyarakat.Dalam pembahasan berikutnya, anak-anak memiliki kesempatan untuk berpikir dan mengungkapkan gagasan mereka, informasi mereka, dan kekeliruan informasi. Melalui kegiatan berjalan-jalan dan diskusi, satu pertanyaan mengarah ke pertanyaaan lain, meningkatkan lingkup dan kedalaman  pembelajaran anak-anak. Anak-anak tidak hanya mencari fakta dan informasi tapi juga pemahaman tentang hubungan.Sementara pengetahuan dibentuk melalui kegiatan berjalan-jalan di lingkungan sekitar, yang dicatat dalam lembar grafik, bagan, cerita tertulis dan gambar anak-anak, serta moral.Hubungan diperluas dan diperkuat dalam pertemuan kelompok harian dan dalam sandiwara khayalan anak-anak dengan balok mainan sementara mereka secara simbolis membentuk dunia sosial dan fisik suatu lingkungan.Contohnya, pada suatu senin pagi selama pertemuan kelompok anak usia 5tahun, anak-anak memilih apa yang mereka bangun
Interaksi baru berlanjut dan bertambah.Dengan mengamati setiap anak dan dinamika kelompok, guru mencatat perjalanan yang mungkin dilakukan dan pertanyaan yang diajukan dalam pertemuan kelompok selanjutnya.Semua pertanyaan ini sifatnya mendasar pada perencanaan kurikulum dan terhubung secara jelas pada pertanyaan mengapa. Mengenai hal apa yang pantas diketahui. Pertanyaan semacam itu jauh melampaui kejadian dalam suatu perjalanan karena dunia dengan semua kerumitan dan masalah selalu ada dalam kelas.Mereka mendengar orang dewasa berbicara. Mereka menonton tv. Mereka merasakan ketenangan dan kecemasan orang dewasa.Mereka mendengar kata-kata yang tidak mereka fahami.Mereka mempunyai pertanyaan.Anak–anak menemukan dan dipengaruhi isu dan sikap social, baik langsung maupun tidak langsung.
Agar anak-anak mampu memahami makna dunia, atmosfer sesuai harus menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk mengungkapkan pikiran, dan perasaan mereka.Sebuah masyarakat demokratis mengundang dan bukannya mendiamkan pertanyaan dan diskusi.
Masyarakat Masa Lalu
Mitchel (1934) menyatakan “Dimana-mana manusia telah terkondisi oleh kekuatan bumi di sekeliling mereka dan di mana-mana mereka harus sedikit atau banyak untuk mengubah bumi tempat mereka tinggal”
Tujuan pendidikan  adalah untuk menciptakan lingkungan pembelajaran dinamis yang menawarkan banyak kesempatan untuk perluasan dan perwujudan potensi serta kapasitas anak-anak. Dengan dibimbing oleh prinsip-prinsip filosofi pendekatan perkembangan interaksi, isi yang dipilih oleh guru akan memperluas dan memperdalam pandangan anak-anak mengenai dunia dan tempat mereka tinggal, sambil mendorong pertanyaan, refleksi, tanggung jawab, kerja bersama dan komunitas. Semua sikap dan kegiatan ini penting untuk merasakan kehidupan demokratis.
Penilaian
Sejumlah penilaian yang dilekatkan dengan kurikulum memberikan guru sarana yang penting untuk mengetahui bagaimana anak-anak belajar dan tumbuh dan oleh karena itu bagaimana membimbing keputusan kurikulum dalam siklus dinamis yang halus, seiring dengan apa yang disebut sebagai penilaian autentik atau pendekatan yang terpusat pada pembelajaran (Cenedella, 1992; McCombs & Whisler, 1997; Meier, 2000; Perrone, 1991). Bank Street sudah lama menyokong berbagai pendekatan pada penilaian, berdasarkan pemahaman bagaimana anak yang sedang tumbuh memahami dunianya dan memberikan sejumlah kesempatan bagi siswa untuk mewakili pemahaman tersebut.Penekanan pada dimensi social dan emosional dalam pembelajaran seiring dengan hasil polling nasional yang menunjukkan warga Amerika yang mengatakan bahwa tujuan utama satu-satunya dalam persekolahan umum adalah untuk mempersiapkan anak-anak dan remaja menjadi warga Negara yang bertanggung jawab (Cohen, 2006).
Sebaliknya, kebijakan federal saat ini mendefinisikan hasil yang diharapkan dari siswa dalam bentuk nilai tes, khususnya kemampuan untuk membaca dan menulis dan matematika, yang mendorong gerakan reformasi sekolah menempatkan penilaian digaris depan perubahan pendidikan untuk meraih standar prestasi akademik yang lebih tinggi. Banyak sekolah yang merespon dorongan ini dengan mengajarkan tes dan sebagai akibatnya, menggunakan kurikulum yang lebih rumit.Penggunaan tes sebagai rintangan yang besar taruhannya untuk naik kelas atau menyelesaikan suatu program belajar merefleksikan pendekatan yang sangat tidak demokratis pada pendidikan anak-anak (Cuffaro, 2000; Perrano, 1989).
Sebuah penekanan yang dikemukakan oleh Zimiles (1987) bahwa tidak ada penilaian yang siap dilaksanakan yang mengukur semua atribut pemelajar ini dengan pantas. Guru kelas didesak untuk menyongkong anak-anak dalam dua cara penting yaitu;
1.      Dengan memeriksa kualitas peranti penilaian dan mengajukan pertanyaan yang sesuai mengenai pelaksanaan.
2.      Dengan mempersiapkan anak-anak untuk menjalani tes tanpa mengorbankan kurikulum yang kaya dengan kesempatan untuk pembelajaran akademik, social, emosional dan fisik.
Menjelaskan tujuan persiapan guru di Bureau of Educational Experiment (Biro Percobaan Pendidikan) (nama asli Bank Street), Mitchell (1931) menjelaskan, “Tujuan kami adalah mengubah guru yang sikapnya terhadap pekerjaan dan hidup mereka bersifat ilmiah. Bagi kami ini sifat penuh semangat, pengamatan yang waspada, terus-menerus menanyakan prosedur lama dengan pengingat pengamatan yang baru, penggunaan dunia serta buku sebagai materi sumber, keterbukaan fikiran pada pervcobaan, dan upaya menjaga catatan yang dapat diandalkan sesuai keadaan untuk mendasari masa depan dengan pengetahuan yang akurat tentang apa yang telah dilakukan.
Pengaruhnya Bagi Pendidikan Guru
Pembentukan konsep Bank Street pada pendidikan berlaku sama pada pendidikan anak-anak dan orang dewasa, meskipun landasan teoretis dan penerapan praktisnya telah diuraikan lebih jelas dalam hubungannya dengan anak-anak. Menanggapi kesenjanagan ini, Nager dan Shapiro (2007) menentukan lima prinsip yang saling terkait bagi pendidikan guru yang muncul dari sejarah dan praktik Bank Street.
1.      Pendidikan adalah sarana untuk membentuk dan meningkatkan keadilan social dan mendorong peran serta dalam proses demokrasi.
2.      Guru memilliki pengetahuan mendalam tentang bidang subjek dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran melalui studi formal, pengamatan langsung dan peran serta.
3.      Pemahaman mengenai pembelajaran dan perkembangan anak dalam konteks keluarga, masyarakat, dan budaya diperlukan dalam mengajar.
4.      Guru terus tumbuh sebagai pribadi dan sebagai seorang yang professional.
5.      Mengajar memerlukan filosofi pendidikan sebuah pandangan mengenai pembelajaran dan pembelajar, pengetahuan dan mengetahui yang membertahukan semua elemen pengajar.
Semua perinsip ini memberikan pandangan mengenai pengajaran yang baik yang menanamkan persiapan guru dan terwujudnya sekolah untuk anak-anak, serta didalam kelas orang dewasa yang belajar untuk mengajar. Berbekal informasi keyakinan Lucy Sprague Mitchell bahwa proses pembelajaran bagi orang dewasa dan anak-anak pada dasarnya sama, program pendidikan guru berupaya “memberikan pengalaman langsung disemua bidang (di studio, laboratorium dan kerja lapangan) untuk melengkapi “pembelajaran dari buku” (Mitchell, 1953). Anggapan perkembangan adalah bahwa untuk menjadi guru yang komponen tidak hanya pada informasi tapi juga cara guru mengalami, memasukkan ke dalam diri, dan membangun pengetahuan yang terus tumbuh dan pemahaman diri sebagai pembuatan makna. Ini adalah proses pengembangan epistomologi di aman guru dapat menghargai suara, diri, dan pikiran mereka sendiri, membuat mereka mampu menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh proses penemuan dan penciptaan yang sama (Nager, 1987).
Sistem perkembangan meliputi keseluruhan program siswa, strata satu di Bank Street dan arena itu berfungsi integrative.Pertimbangan menggabungkan kerja lapangan, kelompok pertemuan dan tugas sekolah.
Prinsip-prinsip pendekatan ini berperan sebagai konteks bagi pengambilann keputusan guru mengenai pilihan isi, metodologi, dan lingkunagn fisik dan social kelas. Pendekatan perkembangan interaksi bukanlah serangkain prosedur yang baku. Guru memiliki tugas rumit untuk menggunakan semua nilai dan prinsip ini untuk membimbing perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kurikulum dan pertumbuhan anak-anak.

















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Salah satu aspek penting dari hari-hari awal abad kedua puluh, masa sekarang dikenali sebagaiera Progresif, adalah bahawa banyak perempuan yang memberontak terhadap sekatankonvensional dalam kehidupan perempuan.
kehidupan keluarga yang aktif, ia adalahseorang pelopor dari apa yang penulis biografi nya, Joyce Antler (1981, 1987), panggilan"feminisme sebagai proses kehidupan." Seperti Dewey, ia sangat percaya pada gagasankemudian luar biasa bahawa sekolah-sekolah yang akan meningkatkan dan menyokong pertumbuhan anak-anak harus didasarkan pada mengetahui lebih banyak tentang bagaimanaanak-anak belajar, bagaimana membina pada kepentingan mereka, dan bagaimanamemperkenalkan konsep-konsep dan pengetahuan dengan cara yang masuk akal untuk anak-anak.
Sistem perkembangan meliputi keseluruhan program siswa, strata satu di Bank Street dank arena itu berfungsi integrative.Pertimbangan menggabungkan kerja lapangan, kelompok pertemuan dan tugas sekolah.














DAFTAR PUSTAKA
Roopnarine, J. Dkk. 2004. Pendidikan Anak Usia Dini. Amerika: Kencana