welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 01 Januari 2013

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI



BAB II
PEMBAHASAN

1.      TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
            Semua anak di dunia ini dari kalangan manapun mereka berasal, pasti gemar bermain. Berrmain merupakan sesuatuaktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti berkerja yang selalu dilakukan orang dewasa dalam rangka mencapai suatu hasi akhir.
            Pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran bagi anak usia dini bermanfaat tidak tidak saja bagi guru pada lembaga PAUD, tetapi juga bermanfaat bagi para orang tua dan orang dewasa lainnya yang memiliki tanggung jawab  dalam membelajarkan anaknya dimanapun dan kapanpun.
A.    Makna Belajar melalui Bermain bagi Anak.
          Menguti pernyataan Mayesty (1990:196-197) bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan. Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar dan berkerja. Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya dimanapun mereka memiliki kesempatan; sehingga bermain adalah salah satu cara anak usia dini belajar, karena melalui bermainlah anak belajar tentang apa yang ingin mereka ketahui dan pada akhirnya mampu mengenal semua peristiwa yang terjadi disekitarnya.
          Piaget dalam Mayesty (1990:42) bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/kepuasan bagi diri seseorang; sedangkan partner memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, di harapkan melalui bermain dapat memberikan kesempatan anak bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan (Mayesty:61-62). Selain itu kegiatan bermain dapat membantu anak mengenal diri sendiri, dengan siapapun ia hidup serta lingkungan dimanapun ia hidup.
          Setiap anak tentu saja sangat menikmati permainannya, tanpa terkucuali. Melalui bermain anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan dapat menjadi lebih dewasa.
          Buhler dan Danziger dalam Roger dan Sawyers(1995;95), berpendapat bahwa bermain adalah kegiatan yang menimbulakan kenikmatan; sedangkan Freud meyakini bahwa walaupun bermain tidak sama dengan berkerja tetapi anak menganggap bermain sebagai sesuatu yang serius.
          Docket dan Fleer (2000:41-43) bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat berbeda denganaktivitas lain seperti belajar dan berkerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai  sesuatu hasil akhir.
           Vygotsky dalam Naughton (2003:46) percaya bermain membantu perkembangan kognitif anak secara langsung., tidak sekedar hasil dari perkembangan kognitf seperti yang dikemukakan oleh piaget. Ia menegaskan bahwa bermain simbolik memaionkan peran yang sangat penting dalam perkembangan berfikir abstrak. Sejak anak mulai bermain pura-pura, maka anak menjadi mampu berfikir tentang makna-makna objek yang mereka representasikan secara independen.
          Berhubung dengan pembelajaran, Vygotsky dalam Naughton (2003:52) berpendapat bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak. Dalam bermain, anak selalu berprilaku diatas usia rata-ratanya, di atas prilaku sehari-hari, dalam bermain anak dianggap ‘lebih’ dari dirinya sendiri.
          Dua ciri utama bermain, yaitu pertama semua aktivitas bermain representasional menciptakan imajiner yang memungkinkan anak untuk menghadapi keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata, dan kedua bermain representasional memuat aturan-aturan prilaku yang harus diikuti oleh anak untuk dapat menjalankan adegan bermain.
          Irawati berpendapat bermain adalah kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada direntang usia 3-6 tahun. Bermain adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan anak-anak dengan atau tanpa mepergunakan alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, memberikan kesenangan dan mengembangkan imajinasi anak secara spontan dan tanpa beban. Pada saat pembelajaran berlangsung hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan kreativitas (http://groups,yahoo.com/group /ppindia/).
          Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Carton dan Allen (1999:21) yang mengmukakan bahwa bermain dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap semua area perkembangan. Anak-anak dapat mengambil kesempatan untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan

B.     Periode Sensitif untuk Belajar
          Anak  dalam tumbuh kembangnya melewati “periode sensitif” yang merupakan ,masa awal untuk belajar. Periode dan kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Selama periode sensitif, anak menjadi peka atau mudah terstimulasi oleh aspek-aspek yang berada dilingkungannya.
          Montessori telah menandai bahwa anak-anak tumbuh dan berkembang melalui sejumlah tahapan berupa ketertarikan dan keingintahuan terhadap sesuatu yang disebut sebagai “periode sensitif”, dimana mereka menjadi bangkit minatnya terhadap aspek-aspek tertentu dan lingkungannya.
          Montessori dalam Seldin (2007:14-17) telah mengidentifikasikan beberapa perbeddaan dalm periode sensitif yang terjaddi dari mulai lahir sampai usia 6 tahun. Setiap perbedaan itu mengacu pada kecendrungan yang mendorong un tuk memperoleh karekter khusus. Contoh: pada masa-masa awal tahun pertama kehidupan anak, umumnya mereka berada dalam periode sensitif dalam bahasa. Mereka sangat perhatian pada apa yang diucapkan seseorang dan bagaimana cara orang mengucapkannya.
          Setiap periode sensitif adalah khusus dan bersifat ‘mendesak-memaksa’, dan sekaligus memotivasi anak untuk fokus secara sungguh-sungguh pada beberapa aspek tertentu pada lingkungannya, setiap harinya tanpa menjadi lelah atau bosan (Montessori dalam Seldin, 2007:15). Jelasnya, ini merupakan alamiah yang pasti pada anak,yang membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan dan bakatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan faktor-faktor keturunan sebagai manusia.
          Montessori dalam Seldin ( 2007:15) mengatakan masa ini merupakan “kesempatan yang terbatas”. Selama periode sensitif, anak dapat belajar sesuatu yang baru, memperbaiki keterampilan baru atau mengembangkan aspek kemampuan berpikir- otaknya tanpa “rasa sakit” dan hampir tanpa disadarinya. Bagaimanapun periode sensitif adalah sesuatu tanpa transisi,sekali anak telah menguasai keterampilan atau konsep yang telah diresapnya,periode sensitif terlihat lenyap, sehingga jika anak tidak diperlihatkan pada pengalaman stimulasi yang benar, kesempatan itu akan hilang begitu saja.

C.    Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini.
          Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasai dalam rangka pencapaian kopetensi yang harus dimiliki oleh anak (Sujiono dan Sujiono,2007:206).

1.1  Hakikat Program Pembelajaran pada Anak Usia Dini
          Bennett, Finn dan Cribb (1999:91-100),menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang dapat memperkaya pengalaman bermain anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir teentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumen untuk mencari berbagai alternatif.
          Mengutif pendapat Kitano dan Kirby (1989:127-167), pembelajaran haruslah terkait dengan pengembangan kurikulum yang merupakan rencana pendidikan yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi pembelajaran dalam rangka menghasilkan perubahan prilaku yang potensial. Kurikulum yang komprehensif seharusnya memiliki elemen utama dari setiap bidang pengembangan yang disesuaikan dengan tingkat atau jenjang pendidikannya serta mengetengahkan target pencapaian perserta didik yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran dilembaga pendidikan.
          Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini adalah bermain. Allbrecht dan Miller (2000:216-218) berpendapat bahwa dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan program adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
1.2  Tujuan dan Fungsi Program Pembelajaran
          Catron dan Allen (1999:23) tujuan program pembelajaran yang utama adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadi komunikasi interaktif.
          Tujuan program pembelajaran adalah membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahap berikutnya. Untuk mencapai tujuan progran pembelajaran tersebut, maka diperlukan strategi pembelajaran bagi anak usia dini yang berorientasi pada: (1) Tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia anak; (2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karekteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak (DAP=Developmentally Approriate Praciticce) ; (3) metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif dan kreatif serta menyenangkan; (4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi; (5) evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assesment melalui observasi parsitipan terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar dan diperbuat oleh anak (Bredekamp,1998:30-31).

1.3  Fungsi Program Pembelajaran
          Fungsinya antara lain adalah (1) untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, (2) mengenalkan anak dengan dunia sekitar, (3) mengembangkan sosial anak, (4) mengenalkan peratuan dan menanamkan disiplin pada anak, (5)memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya.
          Berdasarkan paparan diatas, maka tujuan program pembelajaran pada  anak usia dini adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh berdasarkan berbagai dimensi perkembangan anak usia dini baik perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta untuk pertumbuhan dan perkembangan pada tahap selanjutnya.

D.    Model Pembelajaran Anak Usia Dini
          Model pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model pembelajaran yang berpusat pada Guru dan pembelajaran berpusat pada Anak. pembelajaran yang berpusat pada Guru diprakasai oleh Povdov, Skinner, dan tokoh-tokoh behavioris lainnya. Adapun pembelajaran berpusat pada Anak diprakasai oleh Piaget, Erikson dan Isaacs.
          Teori Behavioris, berdasarkan penelitian pavlov dalam mengamati prilaku hewan, bahwa jika hewan diberikan stimulasi tertentu, maka menimbulkan respon yang tertentu sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh prilaku manusia dapat dijelaskan atau diamati sebagai respon yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterima dari lingkungannya.
          Teori Perkembangan, para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak memiliki motivasi diri yang dimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu. “Motivasi berkemampuan”  inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli psikologi sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berepusat pada anak, dengan mengharrgai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan berkembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masing-masing anak, dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang.
          Para ahli psikologi telah menemukan pola dan tahapan dalam perkembangan yang berasal dari pengendalian yang muncul dari dalam diri anak, seperti kognitif, sosial-emosional, dan perkembangan fisik. Melalui pengetahuan ini dapat diciptakan lingkungan bekajar yang berbasis bermain untuk anak sehingga dapat mendukung perkembangan anak.

1.1  PENERAPAN PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA ANAK DAN GURU
          Metode pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk menggunakan pikirannya, mereka menggunakan pikirannya sendiri dan mengidentifikasi kegiatannya. Segala sesuatu yang munculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang terpenting dalam metode yang berdassarkan permainan adalah kebebasan anak dalam bermain. Kebaikan dari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai.
          Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istilah, pengajaran langsung, dimana guru atau instruktur memberikan petunjuk atau instruksi langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak.


Pembelajaran berpusat pada anak
Pembelajaran berpusat pada guru
Bahan, ruang dan waktu.
Peran guru.


Keranjang kerja pengajaran.

Motivasi.
Konsep belajar.



Individu vs fokus kelompok.

Metodologi.
Dapat digunakan secara bebas.

Mengikuti minat dan keinginan anak, pengalaman langsung. Berpusat pada anak.
Beroriantasi pada kegiatan: menguji, menggali, dan mempunyai tantangan.
Keinginan belajr instrinsik.
Pengalaman langsung menggunakan untuk dalam bermain untuk memahami situasi yang nyata.
Individual, berdasarkan kebutuhan anak.

Kebebasan sepenuhnya bagi guru untuk menggunakan instuisi, perasaan dan penilaian.
Berdasarkan petunjuk guru.

Lansgung, inisiasi, mengevaluasi, menekan, dan berdasarkan penampilan anak.
Memiliki tahapan berdasarkan tujuan akhir yang akan dicapai.

Eksternal,berdasarkan penghargaan Drill atau pengulangan untuk menguasai keterampilan.

Kebutuhan kelompok sebagai sati kesatuan.
Kemampuan untuk berkelompok berdassarkan model/contoh yang dilihat.

Secara khusus proses pembelajaran pada anak usia dini haruslah didasarkan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, berikut ini : (1) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus didasarkan prinsip belajar melalui bermain, (2) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inofatif baik didalam ruangan ataupun diluar ruangan, (3) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini dilaksanakan pendektan tematik dan terpadu, (4) proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluru dan terpadu.

E.     Beberapa Pokok Pikiran Tentang Belajar Dan Pembelajaran
Berbagai teori tentang belajar terkait dengan penekanan terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi itu biasanya merupakan kemungkinan kemampuan umum. Seseorang secara genetis telah lahir dengan suatu organ yang disebut kemampuan umum (intelegensi) yang bersumber dari otaknya. Dan Otak yang dibawa sejak lahir tersebut terdiri dari dua belahan otak kiri dan kanan yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Kedua belahan otak tersebut mempunyai fungsi, tugas dan respon yang berbeda dan seharusnya tumbuh dalam keseimbangan (semiawan, C., 1997). Kedua belahan otak itu dalam pembelajaran sebaiknya berfungsi dalam keseimbangan, jadi konsep mengandung implikasi memberfungsi aspek nalar, logis maupun kreatif.
1.1  Belajar Menurut Visi Behaviorisme
            Behaviorisme adalah aliran psikologi yang percaya bahwa manusia terutama belajar karena pengaruh lingkungan. Belajar menurut teori behaviorisme yang agak radikal adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Dua tokoh terkenal dalam behaviorisme yang mempelopori teori ini dan mempunyai perbedaan dalam menjelaskan proses terjadinya belajar.
a.       Adalah  pavlov yang berbicara tentang stimulus yang dipersyaratkan untuk memberikan respons yang diharapkan oleh lingkungan sesuai dengan tuntutan lingkungan selanjutkan disebut classical conditioning.
b.      Adalah skinner yang agak berbeda pendiriannya dengan pavlov. Skinner beranggapan bahwa perilaku menusia yang dapat diamati secara langsung, adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Konsekuensi-konsekuensinya adalah kekuatan pengulang (reinforcement) untuk berbuat sekali lagi.
1.2  Sekelumit Tentang Belajar Menurut Konstruktivisme
Berbeda dari pendapat behaviorisme adalah konstruktivisme yang merupakan salah satu pandangan psikologi kognitif. Konstruktivisme bertolak dari pendapat bahwa belajar adalah membangun (to construct) pengetahuan itu sendiri (Bootzin, 1996), setelah dipahami, dicernakan dan merupakan perbuatan dari dalam diri seseorang  (from within).

F.     Konsep Belajar Sepanjang Hayat
            Artinya memang belajar tidak terjadi hanya karena proses kematangan dari dalam saja (innate tendencies, yang merupakan faktor genetis), melainkan juga karena pengalaman yang perolehannya bersifat eksistensial. Psikologi tersebut ditinjau dari perspektif humanistik eksistensial dilandasi oleh asumsi yang bersumber dari pendekatan fenemenologis, yaitu suatu pendekatan yang menekan persepsi individualnya sendiri.
            Aktualisasi diri yang berawal dari tergeraknya potensi dari dalam (from within), adalah permulaan manusia belajar mencapai realisasi diri secara optimal. Untuk itu, ia belajar bagaimana ia harus belajar sepanjang hayat.
           
2.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR ANAK
            Pada bulan mei 1996 telah diadakan seminar setengah hari oleh majalah intisari dengan tema “Mana yang lebih penting: IQ atau EQ.” judul tersebut agak mengherankan saya, karena IQ dan EQ bukanlah dua hal yang saling bertentangan, bahkan sering kali saling menunjang. Namun dapat dimengerti bahwa dalam upaya agar dengan dimunculkannya tema yang amat catching (menarik perhatian) ini, perhatian terhadap seminar tertingkatkan.
a.      TUMBUH KEMBANG ANAK
            Manusia belajar, tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya melalui kehidupan keluarga, untuk sampai pada penemuan bagaimana ia menempatkan dirinya ke dalam keseluruhan kehidupan dimanaia berada. Namun perkembangan manusia tidak dimulai dari suatu tabula rasa melainkan mengandung sumber daya yang memiliki kondisi social cultural, fisik dan biologis yang berbeda-beda, yang tidak dapat dilihat terlepas dari kondisi social, cultural, fisik dan biologis dalam lingkungannya. Dengan demikian selain sekolah dan guru, lingkungan keluarga dan orang tua  juga memainkan peranan penting dalam tumbuh kembang putra-putrinya. Berbagai perbedaan cirri ini berkenaan dengan factor perkembangan yang ikut mempengaruhi peserta belajar yang akan dijelaskan pada uraian di bawah ini.

b.      FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
            Piaget berbicara tentang skema (scheme), yang adalah unit dasar kognisi seorang. Istilah behavioristic untuk skema ini adalah respons atau kebiasaan (habit) (Good dan Brophy, 1990). Namun Piaget membedakan dua jenis scheme, yaitu yang sensorimotorik umpama keterampilan berjalan, membuka botol, dan cognitive scheme seperti pengembangan konsep, berpikir, pemahaman dan sebagainya.
            Dua mekanisme adaptasi terkait dalam setiap tindakan, yaitu yang disebut akomodasi dan asimilasi. Akomodasi adalah perubahan respons terhadap tuntutan lingkungan yang mencakup perkembangan scheme baru dari adaptasi scheme yang sudah ada, terhadap situasi baru. Asimilasi secara umum diartikan dalam istilah behavioristic sebagai transfer atau proses member respons terhadap stimulus tertentu. Dengan menggunakan scheme yang sudah ada, semua tindakan yang disebut belajar mencakup asimilasi dan akomodasi (Hall, 1983). Maka belajar menurut aliran Piaget adalah adaptasi yang holistic dan bermakna yang dating dari dalam diri seseorang terhadap situasi baru, sehingga mengalami perubahan yang relative permanen. Berbeda dari para behavioris, Piaget percaya bahwa harus ada kesiapan (readiness) dan kematangan (maturity) dari dalam diri seseorang sebelum perubahan tersebut terjadi.
c.       FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR ANAK
1.1  Pemenuhan kebutuhan psikologis
            Secara umum diketahui bahwa dalam perkembangan anak perlu dipenuhi berbagai kebutuhan, yaitu primer, pangan, sandang dan perumahan serta kasih sayang, perhatian, penghargaan terhadap dirinya dan peluang mengaktualisasikan dirinya.
            Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan ini banyak tergantung dari cara lingkungannya berinteraksi dengan dirinya. Sebagaiman orgenisme ditentukan secara alamiah oleh sifat-sifat keturunan dan ciri-ciri yang unik yang dibawa sejak lahir, perkembangan organism itu juga ditentukan oleh cara-cara lingkungan berinteraksi dengan individu, yaitu melalui pendekatan yang sifatnya memberikan perhatian, kasih sayang dan peluang mengaktualisasikan diri.
1.2  Inteligensi, emosi dan motivasi
            Prestasi belajar, kita ketahui semua, bukan saja dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh factor-faktor non-kognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta juga berbagai pengaruh lingkungan.
            Pengembangan potensi anak mencapai aktualisasi optimal bukan saja dipengaruhi factor bakat, melainkan juga faktor lingkungan yang membimbing dan membentuk perkembangan anak. Perkembangan seluruh kepribadiannya selain dilator belakangi kedua faktor tersebut di atas juga terkait dengan kemampuan intelektual, motivasi, pengetahuan dan konsep dirinya.
1.3  Pengembangan kreativitas
            Setiap anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent component of ability) yang berbeda-beda dan yang terwujud karena interaksi yang dinamis antara keunikan individu dan pengaruh lingkungan.
            Berfungsinya otak kita, adalah hasil interaksi dari cetakan biru (blue print) genetis dan pengaruh lingkungan itu.
1.4  Interpretasi
            Mencatat ciri khas suatu obyek suatu tahap perkembangan atau kejadian untuk menghubungi pengamatan yang satu dengan yang lain, merupakan pola-pola yang harus dideteksi dalam suatu rangkaian pengamatan (beberapa kejadian berkaitan harus ditemui).


1.5  Ramalan
Pola dan hubungan yang sudah diamati digunakan untuk meramalkan kejadian yang belum diamati. Suatu ramalan adalah suatu terkaan bila tidak didasarkan pada hubungan yang diketahui ada, melalui observasi hari ini atau pada masa yang lalu.
            Ramalan ini bisa merupakan prakiraan secara analogi atau merupakan tindakan menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru, maupun  menggunakan pengalaman baru sebagaiman timbul dalam usaha menterjemahkan apa adanya.
1.6  Eksperimen dan/atau penerapan konsep/teori
            Perencanaan penelitian yang bertolak dari pertanyaan apa yang harus dijawab secara jelas (penemuan masalah), hipotesa apa yang mau dicoba atau apa yang diujicobakan, nilai apa yang dianut, kejelasan tentang dan mempu melihat persoalan apa yang harus dijawab dalam arti penelitian empirik atau penyajian nilai, adalah bagian dari keseluruhan kegiatan intelektual yang memiliki kadar mental yang tinggi dalam pembelajaran.