welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 01 Januari 2013

Pendekatan Vygotsky pada Pendidikan Anak Usia Dini



Pendekatan Vygotsky pada Pendidikan Anak Usia Dini          
                                                      
Pandangan Perkembangan Budaya – Sejarah
  Lev Vigotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia yang meyakini bahwa bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognisi seorang anak. Menurut Vygotsky, anak kecil tidak mampu berpikir abstrak karena bagi mereka, meaning (makna) dan objek berbaur menjadi satu. Vygotsky sangat dikenal sebagai seorang ahli psikologi pendidikan yang memperkenalkan teori sosiobudaya. Teori yang dinyatakan oleh Vygotsky ini merupakan teori gabungan antara kognitif dengan sosial. Teorinya ini juga menyatakan bahwa perkembangan kanak-kanak bergantung kepada interaksi kanak-kanak dengan orang ada di sekitarnya yang menjadi alat penyampaian sesuatu budaya yang membantu mereka membina pandangan tentang sekelilingnya.
Pendekatan Vygotsky oleh para penganut teori Vygotsky itu sendiri dianggap sebagai pendekatan budaya – sejarah. Sejarah merujuk pada gagasan Vygotsky yaitu untuk benar – benar memahami proses psikologi yang unik pada manusia, seseorang harus mempelajari sejarah perkembangan proses ini. Sejarah ini memadukan dua aspek yang berbeda namun saling terkait yaitu sejarah perorangan atau ontogeny dan sejarah umat manusia atau filogeni. Menurut Vygotsky proses psikologi yang telah berkembang sepenuhnya sulit untuk dipelajari karena umumnya berada dalam bentuk yang terinternalisasi dan terlipat atau menurut istilah Vygotsky sendiri terfosil dimana banyak komponen proses yag tidak bias terlihat dengan mudah. Sebaliknya proses yang sedang berkembang masih memiliki komponen luar yang luas dan oleh karena itu dapat diakses untuk diamati yang memberikan pandangan kepada para peneliti mengenai sifat proses ini. para penganut teori Vygotsky percaya bahwa mempelajari proses membaca dari perspektif sejarah pribadi seseorang memungkinkan kita untuk memahami proses ini dengan lebih baik, begitu juga komponen dan dinamisannya.  Dalam cara yang sama, penelitiannya sejarah kemampuan membaca menulis umat manusia – mulai dari penulisan simpul suku Inca kuno hingga pictogram dan hieroglif mesir kuno hingga system abjad menunjukkan hubungan antara fungsi ujaran tertulis dan proses yang terlibat dalam penguasaan kemamapuan menulis.
Vygotsky lebih banyak berfokus pada komponen budaya beragam tanda dan symbol yang berfungsi sebagai peranti budaya dan peran mereka dalam perkembangan proses mental manusia yang unik yang ia sebut sebagai fungsi mental yang lebih tinggi. Budaya muncul dalam pendekatan budaya sejarah adalah saat para penganut teori Vygotsky memandang konteks sosiokultural khusus pembelajaran dan perkembangan untuk melihat bagaimana peranti budaya khusus serta praktik budaya khusus yang digunakan untuk mengajar dan mempelajari hal ini memengaruhi perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri perseorangan atau dalam kelompok tertentu.

Konsep “ Peranti”
            Vygotsky sependapat dengan pandangan diantara rekan – rekan dimasanya bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah manusia menggunakan peranti, membuat peranti dan mengajari yang lain untuk menggunakannya. Peranti ini memperluas kemampuan manusia dengan memungkinkan manusia untuk melakukan hal – hal yang tidak bisa mereka lakukan tanpanya. Vygotsky menerapkan gagasan manusia sebagai “ hewan pembuat peranti “ dalam cara yang unik berbeda dari rekan – rekan dizamannya dan memperlua gagasan ini untuk menyertakan satu jenis peranti baru yaitu peranti mental dan peranti pikiran. Sama halnya dengan peranti fisik yang menambah kemampuan fisik kita dengan berperan sebagai tambahan tubuh kita, peranti mental menambah kemampuan mental kita dengan berperan sebagai perluasan pikiran kita.
Seperti peranti fisik, peranti mental memudahkan hidup kita namun tidak seperti peranti fisik, semua tidak terlalu membantu kita mengubah lingkungan kita tapi membantu mengubah diri kita sendiri. Persamaan lain antara peranti fisik dan mental adalah manusia mengajari anak – anak mereka bagaimana menggunakan keduannya dengan kata lain anak – anak tidak terlahir dengan mengetahui bagaimana menggunakan peranti yang ada atau menemukan peranti baru. Bagi Vygotsky salah satu tujuan utama pendidikan baik formal maupun informal dalah membantu anak – anak menguasai peranti kebudayaan mereka. Mengajari anak – anak bagaimana menggunakan peranti mental berakibat pada penguasaan anak – anak atas perilakuan mereka sendiri, memperoleh kemandirian dan meraih tingkat perkembangan mental yang lebih tinggi. Saat anak – anak diajari dan melakukan semakin banyak peranti mental yang beragam, ini tidak hanya mengubah perilaku luar mereka tapi pikiran mereka yang mengarah pada munculnya kategori baru fungsi mental.
Fungsi Mental yang lebih rendah dan lebih tinggi
Vygotsky membagi proses mental kedalam fungsi mental yang lebih rendah dan yang lebih tinggi. Pada zaman Vygotsky sudah lazim untuk menggambarkan fungsi mental yang lebih tinggi sebagai sesuatu yang nyata terlihat dalam bentuk gerak reflex, kepekaan indra, dan perilaku motorik yang mudah untuk diamati dan diukur. Sebaliknyafungsi mental yang lebih tinggi dianggap sebagai proses yang lebih rumit dimana metode objektif penelitian tidak dapat digunakan dan hanya dapat dimasuki melalui laporan diri seseorang. Vygotsky tidak mengamggap bahwa fungsi mental yang lebih rendah dan lebih tinggi berdiri sendiri, tapi sebaliknya ia malah mengajukan sebuah teori dimana dua rangkaian fungsi ini berinteraksi.
Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan.
Vygotsky menggambarkan fungsi mental yang lebih rendah sebagai hal yang lazim pada manusia dan binatang. Fungsi – fungsi ini dibawa sejak lahir dan perkembangannya tergantung sepenuhnya pada proses kematangan. Contoh dari fungsi mental yang lebih rendah termasuk sensasi, perhatian spontan, ingatan asosiatif dan kepadaian sensorimotor.
Pada manusia fungsi mental yang lebih tinggi adalah proses kognitif yang diperoleh melalui pembelajaran dan pengajaran. Perbedaan utama antara fungsi mental yang lebih rendah dan lebih tinggi adalah adanya penggunaan peranti pikiran pada fungsi mental yang lebih tinggi. Fungsi mental yang lebih tinggi mencakup persepsi dengan perantara, perhatian yang terpusat, ingatan sadar dan pemikiran logis.
Vygotsky menggambarkan fungsi mental  yang lebih tinggi sebagai perilaku sadar, dengan perantara dan kebiasaan yang tertatih. Dengan menggolongkan fungsi mental yang lebih tinggi sebagai hal yang disadari, ia bermaksud bahwa semua fungsi itu dikendalikan oleh orang yang memilikinya dan bukan oleh lingkungan dan bahwa penggunaannya didasarkan pada pemikiran dan pilihan. Vygotsky menggambarkan proses ini sebagai internalisasi, menekankan bahwa saat perilaku dari luar tumbuh kedalam pikiran maka semua perilaku itu mempertahankan struktur, focus, dan fungsi yang sama seperti pendahulu mereka dari luar. Vygotsky fungsi mental yang lebih tinggi tidak muncul pada anak – anak dalam bentuk yang telah berkembang sepenuhnya. Sebaliknya semua fungsi itu melalui sebuah proses perkembangan yang panjang dimana selama prose itu terbentuklah sebuah pengaturan ulang mendasar dari fungsi mental yang lebih rendah.
Vygotsky menggambarkan mekanisme perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi sebagai perubahan bertahap mulai dari penggunaan secara bersamaan oleh seorang anak dengan dua orang atau lebih hingga hanya menjadi milik anak itu saja. Vygotsky menyebut pergeseran dari penggunaan bersamaan ke perorangan sebagai hokum umum perkembangan budaya dan menekankan hal setiap fungsi dalam perkembangan budaya anak muncul dua kali, pertama pada tingkat sosial dan selanjutnya pada tingkat perorangan, pertama diantara beberapa orang dan selanjutnya didalam diri anak. Hal yang sama berlaku pada perhatian yang disengaja, pada ingat logis,dan pada pembentukan konsep.
Pandangan Teori Vygotsky Tentang Pembelajaran Dan Pengajaran
Guru dan anak dapat bekerja dan bermain bersama untuk membangun pengetahuan dan pemahaman,demikian pandangan Vygotsky tentang pembelajaran dan pengajaran.
Pembelajaran Dapat Menuntut Perkembangan
Pendekatan budaya sejarah memiliki pendirian bahwa perkembangan manusia melibatkan sebuah hubungan saling mempengaruhi yang rumit antara proses perkembangan alami yang ditentukan secara biologis dan proses perkembangan budaya yang disebabkan oleh interaksi perorangan yang bertumbuh dengan orang lain dan benda hasil kebudayaan. Beberapa perkembangan tertentu dalam bidang kognitif, sosial atau bahasa tidak bisa muncul begitu saja sebagai hasil kematangan tapi cenderung tergantung pada apa yang dipelajari anak. Vygotsky menyimpulkan bahwa beberapa perkembangan yang dahulu dianggap ada secara universal pada usia tertentu seperti kemampuan menggunakan pertimbangan abstrak kenyataannya adalah pertumbuhan luar satu jenis pengalaman pembelajaran tertentu yang biasanya dikaitkan pembelajaran tertentu yang biasanya dikaitkan dengan sekolah formal.
Zona Perkembangan Dekat
Vygotsky membedakan 2 tahap perkembangan yaitu yang actual (independent performance) dan potensial ( assisten performance) dengan zone of proximal development / Z.P.D (dalam Hetherington & Parke, 1999; Johnson, 1999) Z.P.D adalah jarak antara tahap actual dan potensial. Menurut Vygotsky , bermain adalah self help tool. Seringkali keterlibatan anak dalam kegiatan bermain dengan sendirinya mengalami kemajuan dalam perkembangannya. Bahkan bermaain memajukan Z.P.D anak,membantu mereka mencapai tingkatan lebih tinggi dalam memfungsikan kemampuannya. Gagasan Zona Perkembangan Dekat ( ZPD) Vygotsky mencerminkan kerumitan hubungan antara pembelajaran dan perkembangan dan kedinamisan peralihan dari bentuk proses mental yang digunakan bersama kebentuk sendiri. Kata zona digunakan karena Vygotsky menggap perkembangan anak – anak bukan sebagai titik – titik dalam sebuah skala tapi sebagai sebuah rangkaian kesatuan keterampilan dan kemampuan pada tingkat penguasaan yang berbeda.
Dua tingkatan tindakan menentukan batasan ZTD seorang anak
·         Batasan yang lebih rendah ditentukan oleh tingkat perbuatan mandiri anak
·         Batasanyang lebih tinggi adalah yang terbanyak yang bisa dilakukan seorang anak bila dibantu oleh orang yang lebih berpengalaman
Diantara tingkatan tindakan mandiri dan tindakan dengan bantuan terdapat keterampilan dan kemampauan yang memerlukan tingkatan bantuan yang beragam. Keterampilan dan kemampuan yang lebih dekat dengan batasan yang lebih rendah hanya memerlukan sedikit bantuan dan yang terletak lebih dekat dengan batasan yang lebih tinggi tidak bisa ditunjukkan oleh anak tanpa bantuan dalam jumlah besar.
ZPD seorang anak tidak tetap dan berubah seiring dengan pembelajaran anak. Vygotsky menggunakan gagasan ZTD untuk menunjukkan mengapa metode penilaian anak yang terkenal pada masanya tidak dapat menghasilkan gambaran tepat tentang perkembangan anak. Vygotsky menyarankan pemberian bantuan orang dewasa dalam isyarat dorongan atau mengulang pertanyaan ujian menjadi prosedur penilaian yang sesungguhnya. 
Vygotsky juga menjelaskan ZPD sebagai bidang yang harus menjadi target dalam pengajaran. Ia menekankan bahwa agar menjadi efektif, pengajaran harus mengarah pada ZPD perorangan setiap anak (Vygotsky, 1978).
Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding adalah memberikan kepada seorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut serta memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, serta menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya. Pertama, menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dalam masing-masing zone of proximal development mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan scaffolding. Jadi teori belajar Vygotsky adalah salah satu teori belajar sosial sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif sosial yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah

Peran Guru dalam Pembelajaran dan Perkembangan Anak
Guru bisa membentuk perkembangan anak dengan membantu mereka menguasai peranti mental budaya mereka. Pandanagn ini dicerminkan dalam tiga prinsip utama pendidikan berbasis teori Vygotsky berikut ini:
Guru dan Anak-anak Membangun Pengetahuan. Vygotsky percaya bahwa anak-anak membentuk pemahaman mereka sendiri dan tidak secara pasif melakukan apa yang ditunjukkan kepada mereka. Namun bagi Vygotsky proses pembentukan anak-anak selalu terjadi dalam konteks budaya dan melalui perantara langsung atau tidak langsung oleh orang lain (Karpov,2005).Dalam lingkungan kelas, seorang guru bias memengaruhi pembentukan pengetahuan anak dengan memfokuskan perhatian anak pada objek khusus atau menggunakan kata-kata khusus. Guru juga bias emengaruhi pembentukan pengetahuan anak secara tidak langsung dengan menyusun konteks bagi interaksi abak dengan anak-anak lain atau memberi materi pengajaran tertentu.
Penopang Membantu Anak-anak Berpindah dari Tindakan dengan Bantuan ke Tindakan Mandiri
Bahkan setelah anak mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang cukup untuk melakukan tugas dengan bantuan orang dewasa, tidak berarti bahwa hari berikutnya mereka akan siap untuk melakukan tugas itu sendiri. Bagi sebagian besar anak, perpindahan dari pembelajaran dengan bantuan menjadi pembelajaran mandiri adalah proses bertahap yang melibatkan perpindahan dari penggunaan banyak bantuan menjadi mandiri perlahan-lahan hingga akhirnya tidak memerlukan bantuan sama sekali (Wood, Bruner, & Ross, 1979).
Pengajaran Harus Menguatkan Perkembangan Anak dan Bukan Mempercepatnya
Gagasan pengajaran efektif Vygotsky yang ditujukan bagi ZPD anak diperluas lagi oleh para siswanya yaitu Alexander Zaporozhets menyalahkan praktikpercepatan perkembangan yang bertujuan mengubah balita menjadi anak usia prasekolah dan anak prasekolah menjadi anak kelas satu secara premature (Zaporozhets, 1986). Menggunakan ZPD anak sepenuhnya memastikan bahwasemua keterampilan dan kemampuan yang memiliki potensi untuk muncul benar-benar muncul pada saat yang benar.
PANDANGAN PERKEMBANGAN ANAK MENURUT TEORI VYGOTSKY
Bagi Vygotsky, perkembangan anak pada masa awal menuju kesiapan bersekolah dipicu oleh jenis-jenis interaksi yang dimiliki anak dengan lingkungan social berpusat pada pencapaian tugas perkembangan penting.
Situasi Sosial Perkembangan sebagai Mekanisme Perkembangan Utama
Vygotsky percaya bahwa perkembanagn anak mencakup perubahan kulitatif dan kuantitatif. Kemajuan anak dari satu periode ke periode berikutnya disatu sisi ditentukan oleh interaksi antara kemampuan anak yang ada dan yang muncul dan di sisi lain oleh situasi social perkembangan. Situasi social perkembangan terdiri dari apa yang diharapkan oleh masyarakat pada anak di usia tertentu, jenis kegiatan dan interkasi apa yang ada untuk merekadan jenis peranti mental apa yang dibantu penguasannya oleh orang dewasa. Bagi Vygotsky, situasi social perkembangan “mewakili momen awal semua perubahan dinamis yang terjadi dalam perkembangan selama periode tertentu. Ini secara keseluruhan dan sempurna menentukan bentuk dan jalan yang dilalui anak untuk menguasai karakteristik kepribadian yang lebih baru, menarik mereka dari kenyataan social dari sumber dasar perkembangan, jalan yang dilalui dimana makhluk social menjadi pribadi” (Vygotsky, 1998, hlm.198). Vygotsky memandang perubahan dalam situasi social perkembangan sebagai mekanisme yang memajukan perkembangan dengan memberikan peranti mental yang baru dan lebih maju yang terus membentuk kemampuan anak yang berkembang.

Pencapaian Perkembangan dan Kegiatan Utama
Salah satu inovasi besar yang disumbangkan oleh penganut teori setelah masa Vygotsky adalah pengenalan gagasan kegiatan utama yang menggantiakan pemahaman asli situasi social perkembangn Vygotsky. Kegiatan utama diartikan sebagai jenis interaksi antara anak-anak dan lingkungan social yang mengarah pada kemunculan pencapaian perkembanagn dalam satu periode kehidupan yang akan mempersiapkan mereka untuk periode berikutnya (Leont’ev, 1981). Pencapaian perkembangan,  pada gilirannya diartikan sebagai keterampilan dan kemampuan yang tidak hanya baru bagi periode usia tertentu tapi juga kritis bagi kemampuan anak untuk terlibt dalam kegiatan utama periode berikutnya (Karpov). Misalnya, kemmpuan berpikir dalam gambar adalah pencapaian perkembangan bagi balita karena kemampuan  ini sifatnya kritis bagi perkembangn make-belive play (permainan berpura-pura) yang merupakan kegiatan utama usia prasekolah.
Pendekatan Vygotsky pada Kesiapan Bersekolah
Pandangan Vygotsky pada kesiapan bersekolah bermula dari gagasannya mengenai situasi social perkembangan anak sebagai kekuatan utama mendorong perkembangan anak. Perpindahan dari prasekolah menuju sekolah berarti perubahan besar dalam situasi social. Untuk mendapatkan kesadaran akan harapan masyarakat yang disosialisasikan dengan peran siswa dan untuk mengembangkan kemampuan guna mencapai ekspektasi tersebut. Dengan kata lain, bagi Vygotsky kesiapan bersekolah dibentuk selama bulan-bulan pertama persekolahan dan bukan sebelum masuk sekolah. Diantara sekian banyak pencapaian ini adalah penguasaan beberapa peranti mental, pengembangan pengaturan diri dan integrasi emosi serta kognisi. Dengan adanya semua prasyarat ini, seorang anak usi prasekolah bias melakukan perpindahan yang diperlukan dari pembelajaran yang “mengikuti agenda anak sendiri” ke “pembelajaran yang mengikuti agenda sekolah” (Vygotsky, 1956).
PENERAPAN TEORI VYGOTSKY DALAM KELAS ANAK USIA DINI
Filosofi pendidikan pengajaran anak-anak yang didasarkan pada teori Vygotsky dapat dirangkum sebagai berikut :
·         Guru meningkatkan dan membantu perkembangan dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan yang merupakan kegiatan utama bagi usia mereka, seperti permainan berpura-pura.
·         Guru berfokus pada peningkatan perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi dan pada penguasaan peranti budaya anak-anak dan bukan pada pembelajaran ketermapilan dan konsep yang berlainan.
·         Intervensi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus didasarkan pada gagasan perbaikan : anak-anak diajarkan untuk mengganti kekurangan fungsi mental mereka yang lebih rendah dengan mengembangkan fungsi mental yang lebih tinggi menggunakan peranti mental khusus.
Membantu Perkembangan Anak dengan Melibatkan Anak-anak dalam Kegiatan Utama
Dalam teori Vygotsky permainan berpura-pura adalah kegiatan utama bagi anak-anak usia prasekolah dan taman lanak-kanak.
Definisi Vygotsky tentang Permainan
 Saat Vygotsky mempelajari bagaimana permainan mempengaruhi fungsi mental lebih tinggi yang muncul pada anak, dia menyimpulkan bahwa permaian “bukan bentuk kegiatan utama, tapi dalam arti tertentu, sumber utama perkembangan dalam masa prasekolah. Vygotsky dan rekan-rekannya membatasi definisi mereka pada permainana make-belive atau dramatis anak –anak usia prasekolah dan anak-anak usia sekolah dasar. Permainan nyata menurut Vygotsky, memiliki tiga komponen:
·         Anak-anak menciptakan suasana khayalan
·         Anak-anak mengambil dan memainkan peran
·         Anak-anak mengikuti serangkaian aturan yang ditentukan oleh peran khusus.

Permainan Berpura-pura sebagai Sumber Perkembangan. Vygotsky member tempat khusus pada permainan dalam teorinya, menyebutkannya secara khusus sebagai salah satu konteks social yang bertanggung jawab untuk membentuk ZPD anak-anak.
Dalam permainan anak selalu berperilaku di luar usianya, diatas perilaku biasanya sehari-hari dalam permainan ia berada satu tingkatan diatas dirinya sendiri, seperti halnya permainan itu. Permainan berada pada bentuk padat, seperti pada titik focus kaca pembesar, semua kecenderungan perkembangan ; seolah-olah anak mencoba melompat ke atas tingkatan dimana ia berada. Hubungan permainan dengan perkembangan harus dibandingkan dengan hubungan antara pengajaran dan perkembanagn … Permaianan adalah sumber perkembanagn dan menciptakan zona perkembangan dekat. (Vygotsky, 1978, hlm.74)
Pernyataan Vygotsky mengenai permaianan sebagai sumber ZPD berarti bahwa prestasi anak-anak dalam permainan lebih tinggi daripada prestasi mereka dalam konteks bukan permainan. Istomina (siswa Vygotsky) menemukan bahwa anak-anak prasekolah mengingat lebih banyak kata dalam suasana permainan drama. Penemuna ini mendukung pandangan Vygotsky tentang permainan permainana sebagai “titik focus pada kaca pembesar”.
Implikais Teori Permainan Vygotsky bagi PendidiK Anak Usia Dini. Teori Vygotsky menggaris bawahi nilai permainan make-belive bagi perkembagan anak termasuk perkembangan kompetensi yang membuat anak-anak siap untuk persekolahan formal. Pertama, permainan membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur sendiri perilaku fisik, social dan kognitif mereka. Hasil perkembangan penting permainan berpura-pra lainnya adalah pemikiran abstrak . Denagn menggunakan beragam alat bantuuntuk mewakili “benda sungguhan” dalam permainan, anak-anak belajar memisahkan makna atau gagasan objek itu sendiri. Saat seorang anak berpura-pura “mengemudikan” sebuah balok diatas karpet seolah-olah itu adalah truk anak ini memisahkan gagasan “tentang truk”  dari sebuah truk dan menempatkannya pada balok itu. Kemampuan memisahkan makna dari objek ini adalah pelopor perkembangan  pemikiran abstrak saat seorang anak harus memanipulasi ide yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan objek yang nyata.
Meningkatkan Penguasaan Peranti Mental dan Fungsi Mental Anak-anak yang lebih tinggi
Bagi penganut teori Vygotsky, tujuan pendidikan secara umum dan pendidikan anak usia dini secara khusus lebih dari sekedat melengkapi anak-anak dengan serangkaian keterampilan dan pengetahuan khusus. Sebaliknya mereka melihat tujuan ini adalah untuk membantu anak-anak menguasai peranti mental dan fungsi mental yang lebih tinggi (Bodrova & Leong, 2007).  Dalam kelas anak usia dini kita bias mendapati banyak kasus anak-anak yang menggunakan beragam peranti utnuk membantu pembelajaran mereka, seperti menggunakan peta abjad untuk mengingat mereka pada hubungan antara bunyi huruf dan symbol huruf atau menyanyikan lagu ABC untuk mendorong ingatan mereka pada urutan abjad dalam alphabet. Dalam pandangan teori Vygotsky, penggunaan peranti ini tidak hanya membantu anak-anak dalam tugas yang dikerjakan tapi juga benar-benar menyusun kembali pikiran mereka, dan dengan demikian mendukung perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi.
Berbicara Sendiri Sebagai Peranti Mental. Bagi Vygotsky, banyak peranti mental berbasis pada bahasa dan bahasa itu sendiri adalah peranti mental yang paling ampuh. Perubahan utama dalam pikiran seorang anak yang dihubungkan dengan perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi tergantung pada sebaik apa anak tersebut menguasai penggunaan ujaran – lisan terlebih dahulu, kemudian tertulis. Menurut Vygotsky, anak-anak mulai menggunakan ujaran mereka pada tahun-tahun prasekolah bukan hanya untuk berkomunikasi dengan orang lain tapi juga untuk berkomunikasi dengan diri mereka sendiri dan satu bentuk baru ujaran-berbicara sendiri-muncul (Vygotsky, 1987). Saat anak – anak berbicara sendiri mereka berbicara dengan keras, tapi banyak dari ucapan mereka tidak ditujukan pada siapa pun secara khusus dan kerap tidak bias dipahami oleh sipa pun kecuai oleh anak itu sendiri. Tidak seperti Piaget yang menghubungkan fenomena ini dengan sifat egosentris anak-anak yang menganggap sebagai tanda pemikiran yang tidak dewasa. Vygotsky menganggap berbicara sendiri sebagai satu langkah pada rangkaian kesatuan dari ujaran umum (social) menuju ujaran pribadi (private speech) dan akhirnya menuju pemikiran verbal (Vygotsky, 1987). Dari perspektif ini, berbicara sendiri bukanlah tanda ketidakdewasaan tapi sebaliknya .
            Vygotsky menjelaskan perubahan utama yang terjadi dalam berbicara sendiri selama masa prasekolah. Vygotsky menggunakan kedua metamorfosis dalam berbicara sendiri ini untuk menggambarkan jalan universal penguasaan peranti budaya: metamorfosis ini pertama-tama digunakan di luar dalam interaksi dengan orang lain kemudian menjadi lebih pribadi dan digunakan oleh seseorang untuk menguasai fungsi mentalnya sendiri. Permulaan berbicara sendiri menandai perkembangan penting dalam pengaturan diri.
            Bagi Vygotsky anak-anak “berpikir sambil berbicara”, guru tidak boleh menyuruh anak-anak tetap diam saat mereka berpikir dan memecahkan masalah. Sebaliknya, penelitian terkini mendukung pengamatan Vygotsky bahwa anak-anak berbicara sendiri semakin meningkat saat anak-anak berusaha melakukan tugas yang lebih menantang.
            Penelitian yang dilakukan oleh rekan Vygotsky, Alexander Luria sehubungan dengan program penelitian umum Vygotsky menunjukan bahwa bahkan anak-anak yang masih sangat kecil menggunakan simbol tertulis sebagai pembantu ingatan. Beberapa penemuan Luria (seperti kemampuan anak-anak usia 3 tahun untuk “membaca” dan “membaca ulang” tulisan cakar ayam mereka sendiri ) masuk kedalam kepustakaan Barat dan menginspirasi para peneliti untuk meneliti bentuk-bentuk awal tulisan yang muncul sebelum awal persekolahan formal.
            Belajar menulis tidak berawal dari membentuk huruf tapi sebaliknya berawal dari belajar menggunakan tanda-tanda simbolis untuk mewakili satu pesan. Mempelajari huruf memberikan komponen akhir untuk memindahkan anak dari bentuk idiosinkratis “menggambar ujaran” menuju cara konvensional mencatat ujaran dalam kata-kata tertulis. Membahas metode pengajaran menulis, Vygotsky menekankan bahwa “pengajaran harus dibuat sedemikian rupa sehingga membaca dan menulis memuaskan kebutuhan anak” dan tujuan pengajaran harus “mengajarkan anak bahasa tertulis dan bukan menulis abjad”.
            Vygotsky menggunakan sebuah contoh tulisan tangan sempurna yang dibuat oleh anak-anak usia 4tahun yang bersekolah disekolah Montessori. Isi surat mereka menunjukan bahwa m ereka tidak menggunakan tulisan untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan mereka sendiri, mereka menulis apa yang didiktekan oleh guru mereka, atau menyalin pesan guru. Pada saat yang sama, Vygotsky mendukung pengajaran dini dalam menulis (pada usia 3 atau 4 tahun) yang menekankan fungsi komunikatif dan instrumental bahasa tertulis dan bukan mekanisme pembuatannya.
Perbaikan sebagai Prinsip Inti Pendidikan Khusus
            Psikologi abnormal dan pendidikan khusus bagi Vygotsky adalah salah satu kecintaannya dan pada saat yang sama adalah salah satu sumber utama pandangan teoretisnya. Panadangan Vygotsky tentang keadaan difabel sesuai dengan prinsip utama penentuan sosial pikiran manusia: Baginya keadaan difabel adalah fenomena sosiokultural dan perkembangan dan tidak bersifat biologis.
Sifat Sosial dan Budaya Kondisi Difabel
            Vygotsky percaya bahwa anak-anak difabel mengikuti jalan perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang normal dan kondisi difabel mereka memengaruhi bagian perkembangan lainnya dalam cara yang rumit dan sistematis. Untuk menekankan sifat rumit dan sistematis hubungan ini, Vygotsky menggunakan istilan disontogenesis atau perkembangan terganggu, dan  menekankan bahwa gangguan perkembangan, sama halnya dengan jalan perkembangan normal selalu bersifat khusus dari segi budaya. Komponen-komponen utama yang menentuka perkembangan bagi seorang anak difabel mencakup keadaan difabel primer (misalnya, gangguan penglihatan atau keterbatasan gerakan) dan konteks sosial dimana anak berkembang.
Pendekatan Vygotsky pada Pendidikan Khusus
            Bagi Vygotsky keadaan difabel primer tidak boleh menjadi fokus utama upaya perbaikan. Ia berpendapat bahwa , berlawanan dengan kebijaksanaan umum, kemudian difabel primer bukanlah yang termudah tapi yang tersulit untuk disembuhkan karena memengaruhi fungsi mental yang lebih rendah: fungsi mental yang lebih rendah ditentukan secara biologis ( dalam bahasa masa kini, kita menyebutnya “hard wired”), dan ini benar-benar karena sifat biologisnya sehingga tidak dapat diubah kecuali dengan intervensi medis yang radikal,seperti menyelipkan implantasi pendengaran untuk membantu pendengaran.
            Bagi Vygotsky dan siswa-siswanya, cara untuk melibatkan fungsi mental yang lebih tinggi untuk mengganti kekurangan dalam fungsi mental yang lebih rendah adalah dengan menggunakan peranti mental khusus. Karena semua peranti mental berperan sebagai perantara membantu anak-anak mengendalikan fungsi mental mereka sendiri menggantikan rangkaian peranti yang tidak berfungsi bagi seorang anak difabel dengan rangkaian yang lain bisa disebut perbaikan. Contoh perbaikan terbaik yang dikenal adalah mengajarkan anak yang memiliki gangguan penglihatan untuk menggunakan simbol-simbol Braille sebagai pengganti huruf-huruf biasa. Siswa-siswa Vygotsky memperluas pendekatan ini untuk banyak keadaan difabel, merancang banyak peranti khusu keadaan difabel dan strategi untuk mengajarkannya, dan karena itu membentuk sistem pendidikan khusus berdasarkan gagasan perbaikan.













KESIMPULAN:
Lev Vigotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia yang meyakini bahwa bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognisi seorang anak. Menurut Vygotsky, anak kecil tidak mampu berpikir abstrak karena bagi mereka, meaning (makna) dan objek berbaur menjadi satu. Pandangan Vygotsky mengenai bermain bersifatmenyeluruh, dalam pengertian selain untuk perkembangan kognisi , bermain juga mempunyai peran penting bagi perkembangn sosila dan emosi anak. Ketiga aspek yaitu kognisi, social, emosi saling berhubungan satu sama lain dan sudah tergambar jelas pada contoh yang diberikan saat anak bermain pura-pura. Pendekatan Vygotsky membantu guru memahami peran mereka dalam proses pembelajaran dengan menekankan pada proses, bukan hasil, dan pada pentingnya pengembangan fungsi mental yang lebih tinggi. Teori ini mengarah pada rekomendasi khusus bagi perkembangan permainan, perkembangan kemampuan membaca dan menulis, dan jenis-jenis intervensi yang harus digunakan saat bekerja dengan anak-anak dengan kebutuhan khusus.