welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 11 Juni 2013

PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL BERDASAR PADA PERKEMBANGAN ANAK (DAP)



PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL BERDASAR PADA
PERKEMBANGAN ANAK (DAP)

Pada guru sering sibuk sendiri, memikirkan segala sesuatu yang akan dilakukannya dalam mengembangakan program pembelajaran sehingga menyita waktu yang cukup banyak.
Bredekamp (1987) memberikan salah satu solusinya yaitu program tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan anak, jadi bukan anak yang disesuaikan dengan program, tetapi programlah yang disesuaikan dengan anak. Jawaban itulah yang membuka setiap permasalahan yang selama ini terjadi.
Dredekamp sangat menekankan bahwa pengembangan pembelajaran anak usia berbasis pada perkembangan dan kebutuhan anak, serta disesauikan dengan karakteristik perkembangan anak. Dengan pengembangan pembelajaran bedasarkan DAP tindakan guru akan lebih efektif dan tepat sasaran karena pembelajaran akan menjadi lebih optimal.
A. Batasan Pembelajaran DAP
Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam belajar mengajar adalah dari sisi anak itu sendiri, bukan dari sisi pemikiran guru. (Weikert,1996 dalam Claudia Eliason dan Loa Jenkin, 1994) maksudnya pendekatan yang dilakukan berupaya memfailitasi agar tujuan-tujuan kegiatan belajar dapat terintergraikan dengan dimensi-dimensi perkembangan anak, baik dimensi kelompok maupun individu.
Agar para guru dapat mengintergrasikan tujuan, kegiatan dan perkembangan anak maka guru harus memahami karakteristik dan perkembangan anak. Para guru juga harus mampu memberikan arahan dan bimbingan yang tepat bagi anak. Agar anak dapt mengeksplorasiakan setiap tahap perkembangan dalam belajar yang menyenangkan dan menarik bagi anak.
Pembelajaran yang berorientasi pada anak lebih banyak menberikan kesempatan pada anak untuk belajar dengan cara-cara yang tepat, melalui pengalaman nyata. Menumbuhkan rasa ingin tahu bagi anak apa yang ada dilingkungannya.
B.Prinsip Pembelajaran Berdasarkan DAP
Pembelajaran berbasis DAP mempunyai prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
  1. Semua aspek perkembangan anak harus terkait
  2. Perkembangan terjadi relative teratur
  3. Perkembangan berlangsung secara bervariasi antara anak yang satu dengan anak yang lain.
  4. Pengalaman awal bagi anak mempunyai efek langsung amupun efek tertentu terhadap perkembangan anak secara individu
  5. Perkembangan berlangsung kearah yang mengandung kompleksitas
  6. Perkembangan anak dipengaruhi oleh konteks social budaya
  7. Anak adalah pelajar yang aktif
  8. Perkembangan anak adalah hasil dari kematangan biologi dan lingkungan
  9. Bermain adalah suatu wadah yang penting bagi perkembangan sosial anak
  10. Perkembangan anak akan meningkat jika anak mempunyai kesempatan mempraktekkan keterampilan baru yang diperoleh dan jika mereka memperoleh tantangan
  11. Anak memperoleh cara yang berdeda-beda dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan
  12. Atas dasar itu maka para pendidik harus menyediakan lingkungan yang aman, sehat serta menyediakan makanan yang bergizi
C.  Rambu-Rambu Dalam Pengembangan DAP
Menurut Al Mabrur (2003) terdapat lima dimensi dasar yang terkait tentang pengembangan DAP pada jenjang pendidikan TK, yaitu:
  1. Pengembangan masyarakat pembelajaran terpadu
  2. Pembelajaran yang memperkaya pengetahuan anak
  3. Pengembangan kurikulum yan memadai
  4. Assessment perkembangan dan belajar anak
  5. Pengokohan hubungan timbal balik dengan keluarga
1.Pengembangan Masyarakat Pembelajaran Yang Peduli
Dilakukan dengan jalan mempertimbangkan dan memperkokoh reaksi antara orang dewasa dengan anak, anak dengan anak, guru dengan guru, dan guru dengan keluarga, reaki ini diarahkan untuk yaitu:
  1. Memungkinkan pihak yang satu berkontribusi dengan pihak lain
  2. Memungkinkan anak belajar dengan diri sendiri dan dunianya
  3. Memungkinkan anak belajar  berkolompok dan koorperatif dalam mengembangkan suatu proyek
  4. Memungkinkan anak melakukan gerakan –gerakan fisik
  5. Memungkinkan anak memperoleh pengalaman yang bermakna dalam melakukan dan mengenal seuatu
2.Pembelajaran Yang Memperkaya Perkembangan dan Khasan Anak
Dalam mengambil keputusan/tindakan pendidik guru sebaiknya:
  1. Menghargai, menerima dan memperlakukan anak sesuai dengan martabatnya
  2. Memahami setiap anak dengan baik, seperti:
a.       Memperhatikan kebutuhan dan potensi anak
b.      Mengamati permainan yang spontan anak secara berlanjutan
c.       Memahami perkembangan anak  dan khasaan belajar anak dalam konteks keluarga dan masyarakat
d.      Memahami gejala-gejala stress dan pengalaman traumatic
e.       Mengembangankan keterampilan anak dalam mengatur dirinya
  1. Mendorong anak dalam berkolaborasi atau kerja sama dengan teman sebayanya, melalui:
a.       Kegiatan yang sesuai dengan kolaborasi dengan minat anak
b.      Memungkinkan anak bekerja sendiri,  berkolompok kecil dan berkolompok besar
  1. Pengunaan strategi dan pembelajaran yang luas untuk memperkaya pengalaman belajar anak dan memperluas penhetahuan anak dengan cara:
a.       Membantu anak mengembangankan kemampuanberinisiatif, memilih dan merencanakan kegiatan belajar sediri
b.      Mengajukan masalah, pertanyaan, komentar, dan saran yang mengstimulasi berpikir anak dan memperluas pengalaman belajarnya
c.       Memperluas minat anak melalui penyajian pengalaman baru
d.      Memelihara upaya anak secara individu melalui berbagai cara
e.       Melatih anak menguasai keterampilan baru
f.       Menyesuaikan tingkat kemampuan dan kesulitan anak
g.      Memberikan tugas secara bertahap pada anak
h.      Memperkuat rasa percaya diri anak sebagai pelajar
i.        Memperkaya pemahaman konseptual anak
  1. Memfasilitas anak untuk mengembangkan rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengatur diri sendiri dengan cara:
a.       Menata aturan anak secara jelas, bagaimana berprilaku baik di dalam kelas
b.      Mengarahkan  anak berprilaku baik agar dapat diterima oleh temannya
c.       Mendengarkan dan memahami perasaan dan frustasi anak
3.Pengembagan Kurikulum Yang Memadai Bagi Perkembangan Anak Dengan Memperhatikan Kaidah-Kaidahnya
  1. Mencakup seluruh wilayah perkembangan anak
  2. Mencakup rentang yang luas dan interdisplin yang relevan secara social
  3. Berdasarkan pada pengetahuan
  4. Mengintergrasikan kemampuan dasar (menulis, berhitung dan membaca)
  5. Meningkatkan perkembangan pengetahuan, pengalaman dan ketermpilan anak
  6. Mengandung intergrita dan intelektual anak
  7. Mengandung kesempatan untuk mendukung kurtur dan bahasa anak
  8. Mengandung unsure yang realistic
4. Assessment Berkembangan dan Belajar Anak
Assessment di TK sulit dilakukan karena perkembangan belajar anak berlangsung sangat cepat didalam konteks cultural dan bahasa yang spesifik, assessment tidak akurat dan bisa menimbulkan bahaya bagi perkembangan anak.
Assessment dapat dilakukan dengan paduan berikut
  1. Dilakukan secara berlanjutan, trategis an bertujuan
  2. Merefleksikan kemajuan-kemajuan perkembangan assessment yang sudah tercapai anak
  3. Sesuai dengan usia dan pengalaman anak
  4. Dirancang untuk memperoleh informasi perkembangan anak
  5. Penilaian berdasarkan pada pengamatan orang tua dan guru
  6. Mengidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus
  7. Harus sesuai dengan gaya dan kemampuan belajar anak
  8.  Sesuai dengan kemampuan anak dalam melakukan tugasnya
5.Implikasi DAP Dalam Pembelajaran Social Emosional Anak
1. Dimensi Perkembangan Yang Harus Diperhatikan
Periode perkembangan dan karakteristik social emotional anak usia dini
Usia
Karakteristik perkembangan social emosional anak usia dini
0-2 thn
-Memberikan reaksi yng berbeda pada suara yang berbeda
-Membalas senyum pada orang lain dan senyum social
-Lebih menyukai satu orang
-Tertawa apaila digelitik dan ditiup mukanya
-Menangis sebagai reaksi dingin, lapar dan haus
-Tertawa menjerit karena diajak bermain
-Bersikap tenang apabila kebutuhannya terpenuhi

2-4 thn
-Mulai senang bergaul dengan teman
-Meniru kegiatan orang dewasa
-Memperlihatkan perasa cemburu
-Mulai menunjukan perasaan berharga
-Mulai mampu memahami tangis dan tawa
-Menunjukan rasa saying kepada saudara-saudaranya
-Senang meniru lagu dan dongeng-dongeng
-Mulai mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas
4-6 thn
-Dapat melepaskan ikatan emosi
-Menunjukan penghargaan pada guru
-Tidak cepat menangis
-Tidak menunjukan sikap yang murung
-Tidak menunjukan sikap yang tidak wajar
-Tidak suka menetang guru
-Tidak suka menggangu teman
-Senang bermain dengan anak lain
-Tidak suka mandiri
-Mulai bercerita kepada teman-temannya
-Mampu bermain bersama-sama
-Menolong dan membela teman
-Dapat bertindak sopan
-Dapat menunjukan sikap ramah
6-8 thn
-Belajar membina persahabatan
-Menunjukan rasa setia kawan yang kuat
-Berpenampilan rapid an bersih
-Sayang kepada ciptaan Tuhan
-Berkomunikasi dengan orang
-Mengurangi pengaruh orang tua dan mengikuti temannya
-Berminat hidup rukun dalam keluarga
-Emosi cepat naik saat sakit dan lelah

2. Prosedur Pengembangan Pembelajaran
Tinggi rendahnya apresiasi terhadap karakteritik dan kebutuhan belajar anak akan menentukan pengembangan pembelajar tersebut.
Agar dalam mngimplementasikan program pengembangan atau pembelajaran berbasis DAP tepat sasaran, maka guru harus memahami yaitu:
  1. Memilih pendekatan atau kurikulum
Kurikulum harus diarahkan pada perkembangan semua aspek anak
  1. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan program
a.       Perencanaan berdasarkan pada anak berkembang dan belajar
b.      Berdasarkan pada pengalaman anak
c.       Mempersiapkan kegiatan belajar yang menimbulkan inisiatif anak untuk melakukan ekplorai
d.      Menyediakan pengalaman belajar yang konret
e.       Menyediakan sejumlah alternative  yang inti dan dapat dipilih anak
1.      Mengenal kegiatan pribadi yang berkaitan dengan orang lain
2.      Mengenal dan menghargai orang lain dalam lingkungan
3.      Mengenal berbagai peran jenis orang
4.      Mengembangkan hak dan tanggung jawab
5.      Pengembangan intelektual anak
6.      Kemandirian da kemampuan untuk belajar
7.      Memberikan dukungan yang positif
8.      Mengembangkan imajinasi
9.      Anak belajar sendiri,kelompok kecil, kelompok besar
10.  Imajinatif yang menyenangkan
11.  Merawat dan mengaja keberihan diri sendiri
12.  Membantu anak yang mempunyai kesulitan dalam berprilaku
13.  Belajar tentang keyakinan religious
14.  Membangun hubungan yang baik
15.  Merencanakan pembelajaran berikutnya
16.  Peluang untuk menyampaikan ide
17.  Kegiatan berbicara dan mendengarkan
18.  Mengunakan sistem komunikasi alternatif
  1. Hal-hal yang harus diperhatikan saat melaksanakan kegiatan
1.      Memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan tugas-tugas
2.      Memenuhi kebutuhan anak secara individu dalam kegiatan
3.      Guru mendorong anak berkomunikasi dalam setiap kegiatan
4.      Guru mengembangkan ketrampilan sosial emosional anak
5.      Pengendalian Diri dan Kerja  Sama Dengan kelompok
Dimensi khusus pengembangan
Deskripsi kemampuan/kgiatan
Mengenal nama
Anak belajar mengenal nama temannya minat dan perasaan orang lain
Bergeliran
Anak belajar memberikan kesempatan pada orang lain,tanpa harus diminta
Berbagi
Anak belajar bisa membagi segala sesuatu baik perhatian dan waktu untuk orang lain
Menyediakan tempat dalam lingkaran
Anak belajar bisa menyisihkan tempat pada temannya yang terlambat
Bergabung dalam berbagai kegiatan
Anak belajar bagaimana sikap positif terhadap orang lain ketika bersama-sama dalam  setiap kegiatan
Ramah terhadap orang lain
Anak belajar ramah dan sopan pada teman-temannya

Berkerja sama
Anak belajar sama dengan teman-teman dalam mengatasi masalah











Pengembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak




BAB I
PEMBUKA
A.    Latar Belakang
Perkembangan kecerdasan sosial emosional pada anak sering di anggap penting dalam masa perkembangan anak yang disebut golden age. Dalam mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak guru atau orang dewasa harus dapat menyesuaikan stimulus yang akan diberikan pada anak usia dini.

B.     Masalah Penulisan
1.      Pengertian kecerdasan sosial emosional ?
2.      Bagaimana cara memberikan stimulus yang sesuai dengan kematangan dan perkembangan anak ?

C.    Tujuan
Penulis bertujuan untuk menambah pengetahuan, wawasan untuk pembaca tentang perkembangan anak dan cara memberikan stimulus yang sesuai untuk meningkatkan perkembangan kecerdasan sosial emosional anak.









BAB II
ISI
Pengembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak
A.    Kecerdasan Sosial Emosional Pada Anak
Kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Tiga unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari:
a.       kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri).
b.      kecakapan sosial (menangani suatu hubungan).
c.       keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).
Beberapa indikator yang dapat mendeskripsikan kualitas kecerdasan social emosional pada anak, adalah sebagai berikut:
a.       Empati (melibatkan perasaan orang lain).
b.      Mengungkapkan dan memahami perasaan.
c.       Mengalokasikan rasa marah.
d.      Kemandirian.
e.       Kemampuan menyesuaikan diri.
f.       Perasaan disukai atau tidak.
g.      Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi.
h.      Ketekunan.
i.        Kesetiakawanan.
j.        Kesopanan.
k.      Sikap hormat.

B.     Strategi Mengorganisasi Pengembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak
Strategi memiliki pengertian bagaimana menyiasati atau menentukan berbagai tindakan yang dianggap efektif dalam mencapai suatu tujuan secara gemilang. Agar para guru tidak tergelincir pada penyediaan lingkungan belajar yang kurang sesuai atau bahkan keliru maka khusus pada bidang pengembangan kecerdasan emosi diberikan sejumlah pedoman yang selayaknya diperhatikan, yakni sbb:
1.      Kegiatan mengorganisasikan berdasarkan kebutuhan, minat dan karakteristik perkembangan anak yang menjadi sasaran pengembangan kecerdasan emosi.
2.      Kegiatan yang diorganisasikan bersifat holistik ( menyeluruh ).
3.      Kegiatan diorganisasikan sesuai dengan tuntutan kondisivitas pengembangan kecerdasan emosi, diantaranya dikondisikan dalam suasana kekeluargaan, suasana yang penuh kasih sayang, suasana yang penuh kesejukan dan kedamaian, tetapi tetap dapat menempatkan setiap komponen secara bertanggung jawab atas setiap peran yang dipegangnya.
4.      Kegiatan diorganisasikan pada suasana yang dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, memberikan kesempatan pada anak untuk memberikan masukan dalam pengambilan keputusan.
5.      Tugas guru diarahkan untuk membimbing dan memfasilitasi bukan untuk mengatur berbagai prilaku secara otoriter.
6.      Peraturan kelas dorganisasikan secara jelas batas-batasnya sehingga tumbuh kesadaran untuk menaatinya secara utuh dan bertanggung jawab.
7.      Pembimbingan dan kegiatan memfasilitasi dilakukan dengan penuh kasih sayang sehingga dapat mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat dan mampu bersosialisasi dan berkomunikasi.
8.      Organisasi kegiatan juga memberikan kesempatan dan menganjurkan agar orang tua dapat berpartisipasi dengan anak-anaknya dalam kegiatan sekolah.
9.      Komunikasi dan hubungan yang di bangun harus menciptakan suasana yang tidak menuntut penilaian tapi menarik, menggairahkan, dan menunujukan penerimaan sehingga dapat memberi landasan memadai dalam pertumbuhan sosial dan emosi.
Tindakan yang dianjurkan oleh Tartila Tarsusi (1997) dan oleh Zirly Fera Jamil (2002), terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan atau pembelajaran emosi pada anak prasekolah, diantaranya berikut ini:
1.      Menjadi contoh yang baik.
2.      Mengajarkan pengenalan emosi.
3.      Menanggapi perasaan anak.
4.      Melatih pengendalian diri.
5.      Melatih pengelolaan emosi.
6.      Menerapkan disiplin dengan konsep empati.
7.      Melatih keterampilan komunikasi.
8.      Mengungkapkan emosi dengan kata-kata.
9.      Memperbanyak permainan dinamis.
10.  Memperdengarkan musik indah dengan ritme teratur.
11.  Marah, sedih, cemas bukan hal tabu.
12.  Menyelimuti dengan iklim positif.
Untuk memahami kedua belas hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan atau pembelajaran emosi pada anak prasekolah, berikut ini akan diuraikan secara singkat.
1.      Menjadi contoh yang baik
Untuk menjadi contoh bagaimana mengelola emosi yang baik, guru harus menguasai bidang yang sedang diajarkan. Asalah kecerdasan emosi guru secara terus-menerus melalui berbagai pengalaman sehari-hari.
2.      Mengajarkan pengenalan emosi
Kemampuan memahami perasaan sendiri membuat orang memiliki kepekaan tinggi dalam pengambilan keputusan, juga dalam beberapa hal lain.
3.      Tanggapi perasaan anak
Apabila setiap perasaan anak didengarkan dan ditanggapi secara pas, anak akan merasa bahwa dirinya merupakan sosok yang penting dimata orang tuanya.
4.      Melatih pengendalian diri
Pada mereka diberikan dua pilihan, boleh langsung mengambil satu permen yang enak lalu keluar ruangan, atau menunggu beberapa menit dan bisa mendapatkan dua permen.
5.      Melatih pengelolaan emosi
Kemarahan hendaknya jangan dikubur tanpa diberi saluran karena hasilnya adalah timbunan yang bisa meledak secara dahsyat. Namun, membiarkan setiap kemarahan langsung tersalur begitu saja juga tidak tepat. Memang, mengelola emosi secara pas baik itu kemarahan atau kegembiraan sungguh tidaklah mudah. Tidak tercipta begitu saja, mesti melalui proses panjang dan intensif. Sekali terkuasai maka kemampuan ini akan sungguh melicinkan jalan anak menuju masa depan. Keterampilan ini membuang kemungkinan terjadinya hal-hal yang tak mengenakkan dan merugikan karena kegagalan mengelola emosi.
6.      Menerapkan disiplin dengan konsep empati
Orang yang berempati akan lebih mampu menangkap sinyal sosial tersembunyi tentang kebutuhan dan keinginan orang lain. Sinyal ini bisa ditangkap lewat nada suara, raut wajah, dan hal nonverbal lainnya.
7.      Melatih kemampuan komunikasi
Kemampuan dibidang ini, seperti menyatakan gagasan, perasaan, dan konsep kepada orang lain, kemampuan bergaul dan menyesuaikan diri harus dilatih sejak dini.
8.      Mengungkapkan emosi dengan kata-kata
Anak yang tidak bisa mengungkapkan diri bahwa dia sesungguhnya “merasa cemburu karena mainan adik atau temannya lebih bagus”, bisa jadi akan bertindak agresif, dengan merusakkan mainan adik/ temannya atau memukul orangnya. Bila anak kelihatan uring-uringan, murung, takut atau justru bersemangat, tanyakan bagaimana perasaannya saat itu dan arahkan agar anak mampu membuat ungkapa tentang emosinya saat itu.
9.      Memperbanyak permainan dinamis
Permainan-permainan sederhana dari “masa lalu” seperti lompat tali, bermain gundu dengan teman, main kucing-kucingan, sesungguhnya lebih mencerdaskan emosi anak. Mengasah kemampuan bekerja sama, jujur dan percaya diri. Permainan yang melibatkan beberapa anak akan mempertajam kemampuan bersosialisasi anak, juga bisa menguji daya tahan emosi anak selama proses bermain. Dengan permainan yang dinamis, amak belajar memusatkan perhatian lebih pada proses yang baik, bukan pada hasil akhir. Kalau keadaan menerima kemenangan dan kekalahan sering berlangsung dan dirasakan, anak tidak akan terkaget-kaget lagi dengan kondisi apapun. Emosi anakpun menjadi bisa terkontrol. Saat kalah ia tidak frustasi, ketika menangpun tidak gembira berlebihan.
10.  Musik indah dengan ritme teratur
Penelitian membuktikan bahwa musik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Inteligent Quotient) dan EI (Emotional Inteligent) seseorang. Seseorang yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosi dan inteligensinya dibandingkandengan anak yang jarang mendengarkan musik. Namun, yang dimaksud disini adalah irama dan nada-nada yang teratur yang didapat dari perpaduan yang seimbang antara heat, ritme, dan harmoni. Beat dapat mempengaruhi tubuh, ritme dapat mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi “roh”. Contohnya dalam suatu konser, sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada satu penontonpun atau pemusiknya yang tidak bergerak. Semuanya bergoyang, bahkan kadang lepas kontrol.
11.  Marah, sedih dan cemas bukan hal tabu
Mencerdaskan emosi anak bukan berarti orang tua atau guru harus selalu tampil “sempurna”. Sesekali berselisih dengan pasangan, merasa sedih dan kecewa, atau merasa cemas di depan anak-anak tidak menjadi soal sepanjang mereka juga melihat bagaimana cara anda menyelesaikan semua persoalan itu secara cerdas. Bisa jadi suatu ketika anda bersitegang dengan pasangan tentang pekerjaan rumah yang tidak beres sehingga akhirnya anada berdua mencapai kesepakatan, anada berdua lalu saling meminta maaf, tersenyum dan berpelukan.
12.  Selimuti dengan iklim positif
Iklim positif seperti kegembiraan, harapan, kasih sayang memberikan dampak yang sungguh positif. Rasa tawa bahagia, menolong kita berpikir dengan wawasan yang lebih luas dan memungkinkan kita bernegosiasi lebih bebas, juga membantu kita menjadi lebih peka pada beragam hubungan, juga harapan.

C.     Pengalaman dan Lingkungan Menentukan Perkembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak
John Lock (singgih, 1982) mengemukakan bahwa pengelaman dan lingkungan anak merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong, artinya bagaimanapun nantinya dan corak kertas tersebut bergantung pada cara kertas ditulisi.
Guru sebagai orang yang memiliki kewenangan untuk menulis pengelaman dan pengelola lingkungan bagi anak didiknya harus bekerja secara hati-hati. Terdapat sejumlah bahaya jika guru keliru memfasilitasi perkembnagn sosial emosional anak (hurlock, 1980), diantaranya adalah sebagai berikut ini.
1.      Pembicaraan atau perilaku anak tidak populer
Pembicaraan atau perilaku anak tidak popular diantara teman-teman sebaya, ia tidak hanya merasa kesepian, tetapi yang terpenting ia kurang mempunyai kesempatan belajar berperilaku sesuai dengan harapan teman-temannya.
2.      Anak yang dipaksa justru berindak berlebihan
Anak yang secara keras dipaksa untuk bermain sesuai dengan jenis kelaminnya akan bertindak secara berlebihan dan ini menjengkelkan teman-teman sebaya. Misalnya, laki-laki berusaha untuk bersikap, seperti jantan dan agresif dalam bermain sehingga terjadi pertentangan dengan teman-temannya, akibatnya ia ditolak kelompoknya.
3.      Hadirnya binatang peliharaan
Penggunaan binatang peliharaan atau teman khayalan untuk mengimbangi kurangnya teman hanyalah penyelesaian sementara saja terhadap masalah anak kesepian, dengan demikian sosialisasi anak menjadi sangat sedikit.
4.      Dorongan orang tua untuk menghabiskan waktunya dengan teman-temannya
Kalau anak menjadi terbiasa mempunyai teman diwaktu hendaknya bermain maka saat seorang diri ia tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk menghibir diri.

D.    Meningkatkan peran Pembelajaran Untuk Pengembangan Kecerdasan Sosial Emosional Anak
Perkembangan sosial emosional adalah perkambangan perilaku anak dalam pengemdalikan dan menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Dengan demikian, anak dapat meningkatkan peran dan aktualisasi diri sesuai gendernya, sebab pada masa prasekolah anak memahami perannya sebagai anak laki-laki dan perempuan.

1.      Arah pembelajaran sosial emosiaonal bagi anak prasekolah
Beberapa arag pengembangan sosial emosional yang ditunjukan pada hasil belajar anak antara lain seperti:
a.       Mampu melakukan hubungan dengan orang lain;
b.      Terbiasa untuk bersikap sopan-santun;
c.       Mampu mematuhi peraturan dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari;
d.      Mampu menunjukkan reaksi emosi yang wajar.
Keempat kemampuan tersebut dengan diikuti indikator-indikator, yaitu :
a.       Tenggang rasa terhadap orang lain;
b.      Bekerja sama dengan teman;
c.       Mudah bergaul/berinteraksi dengan orang lain;
d.      Mengenal dirinya sendiri;
e.       Mulai dapat berimajinasi atau bermain pura-pura;
f.       Mulai berkomunikasi dengan orang yang sudah dikenalnya;
g.      Mulai bermain memisahkan diri dari orang tuanya terutama ibu;
h.      Aktif bergaul dengan teman;
i.        Mulai mengikuti aturan permainan;
j.        Meniru kegiatan orang dewasa;
k.      Menjadi ekstrem dan keras kepala;
l.        Memetuhi peraturan yang ada;
m.    Mulai mengenai konsep benar dan salah;
n.      Mau berbagi dengan teman;
o.      Mau bermain dengan teman sebaya;
p.      Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar;
q.      Merasa puas atas prestasi yang dicapai;
r.        Mulai dapat mengendalikan emosi;
s.       Menunjukkan reaksi emosi yang wajar karena, marah, senang, sakit, takut, dan sebagianya;
t.        Manjaga keamanan diri.
Peter Salovey dan John Mayer (1990), sasaran pengembangan sosial emisoanal adalah untuk membantu meningkatkan kualitas-kualitas emosi yang penting bagi suatu keberhasilan anak. Mereka memerinci setidaknya terdapat sebelas indikator, yaitu :
a.       Kualitas empati (melihat perasaan orang lain);
b.      Kualitas dalam mengungkapkan dan memahami perasaan;
c.       Kualitas dalam mengalokasikan rasa marah;
d.      Kualitas kemandirian;
e.       Kualitas dalam kemampuan menyesuaikan diri;
f.       Kulitas disukai atau tidak;
g.      Kualitas dalam kemampuan memecahkan masalah anarpribadi;
h.      Kualitas ketekunan;
i.        Kualitas kesetiakawanan;
j.        Kualitas kesopanan:
k.      Kualitas sikap hormat;
Uraian di atas merupakan sasaran pengembangan emosional yang sifatnya menyatu, apabila dipilah-pilah dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Arah pembelajaran sosial anak
1)      Membantu pencapaian kematangan dalan hubungan sosial
2)      Membantu kemampuan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama)
3)      Membantu kemampuan dalam memperluas hubungan anak dengan masyarakar (mulai dari teman sebaya hingga yang lebih luas)
b.      Arah pembelajaran emosi anak
1)      Membantu perolehan kemampuan mengendalikan diri atau mengontrol ekspresi emosi
2)      Membantu mengendalikan emosi diri sendiri
3)      Membantu kemampuan memotivasi diri
4)      Membantu mengendalikan emosi orang lain
5)      Membantu kemampuan membina hubungan dengan orang lain

2.      Cara anak mendapatkan pengalaman sosial emosional
a.       Trial & error
Trial and error, yaitu belajar dengan cara coba-ralat. Individu mendaptkan intisari pembelajaran berdasarkan pada pengelaman yang dialaminya secara langsung.
b.      Imitasi
Imitasi, yaitu proses belajr anak dengan cara meniru dari langkungan.
c.       Conditioning
Conditioning merupakan proses belajar anak dengan cara mengkondisikan reaksi-reaksi emosi tertentu dalam dirinya.

3.      Prinsip-prinsip dalam membantu pengembangan sosial emosional anak
Pengendalian emosi (emotional control), menitik beratkan pada penekanan reaksi yang tampak terhadap rangsangan yang menimbulkan emosi. Mengapa bantuan itu menjadi penting, setidaknya didasarkan atas 2 alasan, yaitu sebagai berikut.
a.       Kelompok sosial mengharap semua anak dapat belajar mengendalikan emosi.
b.      Apabila suatu pola ekspresi emosi telah dipelajari, ,aka sukar untuk mengendalikannya bahkan lebih sukar lagi untuk menghilangkannya.
Menurut Maurice J. Ellias, dkk (1999) bahwa sejumlah prinsip badapt dijadikan pegangan atau penuntun dalam membantu anak-anak dalam pengembangan kecerdasan emosi dan peningkatan keterampilan sosialnya, yaitu meliputi 3 kelompok.
a.       Prinsip-prinsip keseharian
1)      Memberi teladan
2)      Mengingatkan dan menunjukkan keterampilan yang baru dipelajari
3)      Paraphrading adalah menginagtkan kembali dengan kalimat sendiri
b.      Teknik-teknik bertanya
1)      Mengajukan pertanyaan terbuka
a)      Pertanyaan kausal, “mengapa kamu memukulnya?”
b)      Pertanyaan pilihan berganda, “kamu memukulnya karena dia mengganggu, karena dia mengambil mainan atau karena kamu sedang marah disebabkan sesuatu yang lain?”
c)      Pertanyaan benar-salah, “apa kamu memukulnya, ya atau tidak?”
d)     Pertanyaan terbuka, “apa yang terjadi antara kalian berdua?”
2)      Dua pertanyaan berurutan dimana aturannya sedrhana
3)      Teknik colombo, aspek penting colombo adalah sikap persahabatan
c.       Kiat-kiat jangka panjang
1)      Kesabaran dan kegigihan
2)      Keluwesan dan kreativitas
3)      Penyesuaian dengan
4)       Perkembangan










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
2.      Strategi memiliki pengertian bagaimana menyiasati atau menentukan berbagai tindakan yang dianggap efektif dalam mencapai suatu tujuan secara gemilang.
B.     Saran
Guru atau orang dewasa harus dapat memberikan stimulus yang sesuai dalam perekembangan kecerdasan sosial emosional anak.