welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 11 Juni 2013

PENGERTIAN EMOSI



I.       Perkembangan Emosi
A.    Pengertian Emosi
Emosi adalah perasaan yang adadalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atauburuk. Dalam World Book Dictionary (1994:690) emosi didefinisikan sebagai “ berbagai perasaan yang kuat “. Goleman (1995;441) menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran – pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Syamsuddin (1990:69) mengemukakan bahwab “ emosi merupakan suatau suasana yang kompleks  ( a complex feeling state ) dan getaran jiwa ( stid up state ) yangmenyertai atau muncul sebelum arau sesudah terjadinya suatu perilaku”.  Berdasarkan definisi diatas dapat dipahami bahwa emosi merupakan suatu keadaan yang kompleks, dapat berupa perasaan ataupun getaran jiwa yang ditandai oleh perubahan biologis yang muncul yang menyertai terjadinya suatu perilaku.
B.     Mekanisme Emosi
;Lewis and Rosenblum (stewart, at.al 1985) mengutarakan proses terjadinya emosi melalui lima tahapan sebagai berikut ;
1.      Elicitors
Elicitors yaitu adanya dorongan berupa situasi atau peristiwa.
2.      Receptors
Receptors, yaitu aktivitas dipusat system syaraf.
3.      State
State yaitu perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi.
4.      Expression
Expression yaitu terjadinya perubahan pada daerah yang dapat diamati.
5.      Experience
Experience yaitu persepsi dan interprestasi individu pada kondisi emosionalnya.
Syamsuddin (2000;69) mengutarakan mekanisme emosi dalam rumusan yang lebih ringkas dalam tiga variabel, yaitu:
1.      Variable Stimulus
Rangsangan yang menimbulkan emosi disebut sebagai variable stimulus.
2.      Variable organismik
Perubahan – perubahan fisilogis yang terjadi saat mengalami emosi disebut variable organic
3.      Variable Respons
Pola sambutan exspresif atas terjadinya pengaalaman emosi disebut sebagai variable respons.
C.     Fungsi Emosi
Fungsi dan peranan emosi pada perkembangan anak yaitu :             
1.      Merupakan bentuk komunikasi sehingga anak dapat menyatakan segala kebutuhan dan perasaanya pada orang lain.
2.      Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingungan sosialnya antara lain:
a.       Tingkah laku emosi anak yang ditampilkan merupakan sumber penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya. Penilaian lingkungan sosial ini akan menjadi dasar individu dalam menilai dirinya sendiri.
b.      Emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan dapat mempengaruhi interaksi sosial anak melalui reaksi – reaksi yang ditampilkan lingkungannya. Melalui reaksi lingkungan sosial, anak dapat belajar untuk membentuk tingkah laku emosi yang dapat diterima lingkungannya.
c.       Emosi dapat dipengaruhi iklim psikologis lingkungan. Tingkah laku emosi anak ditampilkan dapat menentukan iklim psikologis lingkungan.
d.      Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e.       Ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat atau mengganggu aktivitas motorik dan metal anak.
D.    Jenis Emosi
Stewart at all (1985) mengutarakan perasaan gembira, marah, takut, dan sedih sebagai basic emotions
a.       Gembira
Pada umumya perasaan gembira dan senang diekspresikan dengan tersenyum dan tertawa. Dengan perasaan menyenangkan, seseorang dapat merasakan cinta dan kepercayaan diri.
b.      Marah
Emosi marah terjadi pada saat individu merasa dihambat, frustrasi karena tidak mencapai yang diinginkan,diganggu atau digadapkan pada suatu tuntutan yang berlawanan dengan keinginannya. Bartlet dan Izart (Stewart,1985) menguraikan ekspresi wajah tatkala marah yang ditandai dengan dahi yang berkerut, tatapan tajam pada objek pencetus kemarahan, dan lain – lain.
c.       Takut
Perasaan takut merupakan bentuk emosi yang menunjukan adanya bahaya. Menurut Helen Ross  (dalam Simanjuntak, 1984) perasaan takut adalah suatu perasan yang hakiki dan erat hubungannya dengan upaya mempertahankan diri. Stewart ( 1985) mengatakan bahwa perasaan takut mengembangkan sinyal – sinyal adanya bahaya dan menuntut individu untuk bergerak dan bertindak.
d.      Sedih
Dalam kehidupan individu akan merasa sedih pada saat ia berpisah dari yang lain, terutama berpisah dengan orang – orang yang dicintainya.
Dari keempat emosi dasar ini dapat berkembang menjadi berbagai macam emosi, yang diklasifikasikan dalam kelompok positif dan emosi negative. Klasifikasi emosi psitif dan negative yang dikemukakan Reynold (1987)









Emosi Positif
Emosi Negatif
Lucu
Kegembiraan
Kesenangan atau kenyamanan
Rasa ingin tahu
Kebahagiaan
Kesukaan
Rasa cinta atau kasi sayang
Ketertarikan


Tidak sabar
Kebimbangan
Rasa marah
Kecurigaan
Rasa cemas
Rasa bersalah
Rasa cemburu
Rasa jengkel
Rasa takut
Depresi kesedihan
Rasa benci


Kita dapat merasakan emosi – emosi ini dengan kuat dan dapat diperlihatkan dalam berbagai tampilan fisik. Proses pengekspresian emosi ini memang dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam keseharian juga kita terkadang memilih dalam mengekspresikan emosi agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Selain itu, tradisi dan sikap sosial juga mengajari kita untuk memilah jenis emosi mana yang dapat ditunjukkan dan dibicarakan dan emosi mana yang tidak.
E.     Tugas Perkembangan Emosi
Tugas Perkembangan sosial emosional anak berusian 3-5 tahun, sebagaimana yang diungkapkan dalam Buku Kelas yang Berpusat pada Anak (Cri:2000):
1.      Anak usia 3 tahun diharapkan dapat:
a.       Memilih teman bermain
b.      Memulai interaksi sosial dengan anak lain
c.       Berbagai mainan, bahan ajar atau makanan
d.      Meminta izin untuk memakai benda miliki orang lain
e.       Mengekspresikan sejumlah emosi melalui tindakan, kata – kata atau ekspresi wajah
2.      Anak usia 3 tahun, 6 bulan diharapkan dapat:
a.       Menunggu atau menunda keinginan selama5 menit
b.      Menikmati kedekatan sementara dengan salah satu teaman bermain
3.      Anak usia 4 tahun diharapkan dapat:
a.       Menunjukkan kebanggan terhadap keberhasilan
b.      Membuat sesuatu karena imajinasi yang dominan
c.       Memecahkan masalah dengan teman melalui proses penggantian,persuasi, dan negosiasi
4.      Anak usia 4, 6 bulan diharapkan dapat :
a.       Menunjukkan rasa percaya diri dalam mengerjakan tugas
b.      Menceritakan kejadian atau pengalaman yang baru berlalu
c.       Lebih menyukai ditemani teman sebaya dibandingkan orang dewasa
d.      Menyatakan alsan untuk perasaan orang lain
e.       Menggunakan barang – barang milik orang lain dengan hati – hati
f.       Menghentikan perilaku yang tidak pantas karena satu kali teguran
5.      Anak usia 5 tahun diharapkan dapat :
a.       Memiliki beberapa kawan, mungkin satu sahabat
b.      Memuji, member semangat atau menolong anak lain
6.      Anak usia 5 tahun, 6 bulan diharapkan dapat ;
a.       Mencari kemandirian lebih banyak
b.      Sering kali puas, menikmati berhubungan dengan anak lain meski pada saat krisis muncul
c.       Menyatakan pernyataan – pernyataan positifmengenai keunikan dan keterampilan
d.      Berteman secara mandiri
II. Perkembangan Sosial
A.    Pengertian Sosial
Syamsuddin ( 1995:105) mengungkapkan bahwa “ sosialisai adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial’’.Loree ( 1970 ; 86) ‘’sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu ( terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan – rangsangan sosial terutama tekanan – tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain didalam lingkungan sosialnya.
Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosialmerupakan proses pembentukan social self ( pribadi dalam masyarakat ), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock ( 1978 : 250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehaan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norama, nilai, atau harapan sosial.
B.     Proses Perkembangan Sosial
Tiga proses sosialisasi yang dikemukankan Hurlock (1978) yaitu sebagai berikut
1.      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat
2.      Belajar memainkan peran sosial yang ada dimasyarakat
3.      Mengembangkan sikap atau tingkah laaku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada dimasyarakat.
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan krtiga proses sosialisasi. Mereka mampu mengikuti kelompokan yang diinginkan dan diterimasebagai anggota kelompok. Sedangkan kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang – orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial.
Dalam perkembangan sosial ini adapula istilah yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap ataupun keputusan – keputusan yang diambil selalu didasrkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dirinya sehingga segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi diluar dirinya.
Seorang ahli menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe dari reaksi yang ditunjukan seseorang. Jika seseorang menunjukkan reaksi yang terus menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap sebagai tipe kepribadiaannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suat kepribadian yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Ada dua puluh karakteristik yang dapat menggambarkan individu dengan penyesuaian diri baik, yaitu sebagai berikut :
1.      Dapat menerima tanggung jawab sesuai dengan usianya
2.      Menikmati pengalamannya
3.      Mau menerima tanggung jawab sesuai dengan peranannya
4.      Mampu memecahkan masalah dengan segera
5.      Dapat melawan dan mengatasi hambatan
6.      Mampu membuat keputusan dengan kekhawatiran dan konflik yang minimum
7.      Tetap pada pilihannya sehingga ia menemukan bahwa pilihannya salah
8.      Merasa puas dengan kenyataan
9.      Dapat menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak, tidak untuk melarikan diri
10.  Belajar dari kegagalan tidak mencari alas an untuk kegagalannya
11.  Tahu bagaimana harus bekerja pada saat kerja dan bermain pada saat main
12.  Dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya
13.  Dapat berkata ya pada situasi yang membantunya
14.  Dapat menunjukkan kemarahan ketika terluka atau merasa haknya terganggu
15.  Dapat menunjuukan kasih saying
16.  Dapat menahan sakit dan frustasi bila diperlukan
17.  Dapat berkompromi ketika mengalami kesulitan
18.  Dapat mengonsentrasikan energinya pada tujuan
19.  Menerima kenyataan bahawa hidup adalah perjuangan yang tak ada habisnya
20.  Untuk menjadi individu dengan penyesuaian diri yang baik seorang anak harus merasa bahagia dan mampu menerima dirinya.
C.     Pengembangan sosial Melalui Tahapan Bermain Sosial
Aktivitas bermain menyiapkan anak dalam menghadapai pengalaman sosialnya. Sikap yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermaain antara lain:
1.      Sikap sosial
Bermain mendorong anak untuk meningkatkan pola berpikir egosentrisnya. Dalam permainan, anak belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
2.      Belajar Berkomunikasi
Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman – temannya.
3.      Belajar mengorganisasi
Saat bermain bersama orang lain, anak juga berkesempatan belajar berorganisasi.
4.      Lebih Menghargai Orang lain dan Perbedaan – perbedaan
Bermain memungkinkan anak mengembangan kemampuan empatinya.
5.      Menghargai Harmoni dan Kompromi
Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan bervariasi maka akan tumbuh kesadarannya akan makna peran sosial persahabatan, perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam berhubungan dengan orang lain.
Patmonodewo (1995:86) menjelaskan lima tingkatan dalam bermain sosial,yaitu:
1.      Bermain Solitaire
Anak – anak bermain dalam satu ruangan, mereka tidak saling mengganggu dan tidak saling memperhatikan.
2.      Bermain sebagai penontot atau pengamat
Pada tahap ini anak – anak mulai peduli terhadap teman- temannya yang bermain disatu ruangan, sekalipun ia masih bermain sendirian. Selama bermain sebagai penonton ia terlihat pasif.
3.      Bermain Paralel
Beberapa anak bermain bersama dengan mainan yang sama dalam satu ruangan. Namun apa yang dilakukan masing- masing anak tidak saling tergantung dan berhubungan.
4.      Bermain asosiatif
Bermain asosiatif merupakan permainan yang melibatkan beberapa orang anak, namun belum terorganisasi.
5.      Bermain kooperatif
Bermain kooperatif dilakukan secara berkelompok, masing –masing anak memiliki peran untuk mencapai tujuan permainan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar