welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Kamis, 04 Oktober 2012

MENGENAL TOKOH PRA-SEKOLAH

MENGENAL TOKOH PENDIDIKAN PRASEKOLAH
A. TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN PRASEKOLAH
Morrison (1983) menyebutkan bahwa paling sedikit ada 5 alasan, mengapa betapa pentingnya mengenal tokoh yang berpengaruh dalam pendidikan pada umumnya, dan prasekolah pada khususnya:
·           Dengan mengenal harapan serta pemikiran tokoh-tokoh pendidikan masa lalu, akan diketahui konsep pendidikan yang ada pada masa tidak sepenuhnya baru.
·           Banyak pemikiran tokoh pendidikan masa lalu yang sudah ada tetapi masih merupakan impian, yang kemudian setelah ide tersebut muncul lagi seringkali dianggap sebagai suatu pemikiran baru.
·           Pemikiran yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan masa lalu akan membantu pemahaman bagaimana penerapan yang lebih baik pada strategi pengajaran masa kini.
·           Teori tentang perkembangan anak akan memberi kemudahan dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
·           Dengan menyelidiki, menganalisis dan menemukan akar dari pendidikan prasekolah akan membantu mengilhami keahlian anda.

1.    Pengaruh Tokoh-Tokoh Abad Ke-18 dan Sebelumnya
1.1.   Martin Luther (1483-1546)
Di Eropa, abad ke_15 adalah masa terjadinya pergolakan besar dalam arti sosial,  keagamaan, dan ekonomi yang disebabkan sebagaian karena Renaissance dan Reformasi. Penekanan yang terbesar dalam pendidikan formal adalah mengajarkan kepada anak bagaimana menulis, dengan demikian Martin Luther diasosiasikan sebagai “Bapak Reformasi”.
Luther menganggap tujuan utama dari sekolah adalah mengajarkan agama. Walaupun agama kini agama bukan fokus utama dari pendidkan disekolah pada umumnya. Tetapi ada dua ide yang sampai saat ini secara konsisten masih masuk dalam kurikulum. Ia sangat menganjurkan bahwa pendidikan musik dan fisik sebaiknya merupakan bagian yang integral dari kurikulum.
Sementara itu Luther yakin pula bahwa keluarga merupakan institusi yang paling penting bagi pendidikan anak. Luther mendorong para orang tua untuk membimbing anak dalam pendidikan agama sejak di rumah. Luther juga percaya bahwa pembaruan di gereja akan  mempengaruhi sistem pendidikan pula.

1.2.   Jean Jacques Rousseau (1712-1778)
Jean Jacques Rousseau dilahirkan di Geneva Swiss, tetapi sebagian besar dari kehidupan berada di Prancis. Rousseau menyarankan kembali ke alam (a return to nature) dengan pendidikan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak yang dikenal dengan “naturalisme”. Bagi Rousseau naturalisme berarti anak akan berkembang tanpa hambatan. Ia menolak pakaian seragamm, wajib hadir, ketrampilan dasar yang minimum, tes yang distandardisasi dan kemampuan pengelompokan karena semuanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat tidak alamiah.
Menurut Rousseau, pendidikan yang bersifat alamiah menghasilkan dan memacu berkembangnya kualitas semacam kebahagiaan, spontanilitas, dan rasa ingin tahu. Rousseau percaya walaupun kita telah melakukan kontrol terhadap pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sosial dan sensoris, kita tetap tidak dapat mengontrol pertumbuan yang alami. Intinya, inilah yang disebut sebagai konsep “unfolding”, dimana bawaan dari anak menuju apa yang akan terjadi, “unfold” adalah hasil dari kematangan yang dikaitkan dengan jadwal perkembangan yang sifatnya bawaan.
Rousseau sangat yakin bahwa ibu yang dapat menjamin pendidikan secara alamiah. Pada saat itu, ia menganjurkan agar para ibu kembali mau menyusui anaknya sendiri. Pada masa itu banyak terutama dari kalangan atas tidak suka menyusui anaknya walaupunhal tersebut memungkinkan. Prinsip bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu memberi kebebasan kepada anak agar mereka tumbuh dan berkembang secara alamiah.

1.3.   Johan Heindrick Pestalozzi (1746-1827)
Pestalozzi dilahirkan di Zurich, Swiss. Pada tahun 1774 ia mulai dengan sekolah yang disebut Neuhof di tanah pertaniannya. Di tempat tersebut ia mengembangkan idenya yang merupakan integrasi dari kehidupan rumah, pendidikan vokasional dan pendidikan untuk membaca dan menulis. Dalam usahanya ini ia kurang berhasil karena masalah keuangan, biaya tidak dapat dipenuhi  hanya dengan uang dari murid saja.
Pengaruh Rousseau sangat kuat dalam idenya Pestalozzi, yaitu bahwa pendidikan sebaiknya mengikuti sifat-sifat bawaan anak (child’s nature). Keyakinan ini diterapkan dalam mendidik anaknya, ia menggunakan Emile hasil karya J.J.Rousseau sebagai acuannya. Dasar dari metodenya merupakan perpaduan yang serasi antara nature dan pendidikan yang praktis. Yaitu metode yang mengikuti nature atau dengan kata lain, membimbing anak dengan perlahan, dan dengan usaha anak sendiri, ia bermula dari “sense-impression” menuju ide-ide yang abstrak. Sikapnya terhadap anak lebih bersifat belajar bersama anak daripada mengajar secara otoriter.
Sayang,  Pestalozzi tidak banyak berhasil dengan penerapan ide dari Rousseau yang diterapakan terhadap anaknya, karena anaknya belum dapat menulis pada usia 12 tahun. Hal tersebut mungkin karena anaknya menderita epilepsi (kondisi fisik yang kurang baik) atau karena Pestalozzi tidak dapat menerjemahkan ide abstrak dari Rousseau kedalam terapannya.
Pestalozzi yakin bahwa segala bentuk pendidikan adalah berdasarkan pengaruh pancaindera dan melalui pengalamannya potensi-potensi yang dimilikinya dapat dikembangkan. Sementara beberapa anak mampu belajar membaca sendiri, seseorang sebaiknya merancang suasana dan kondisi guna berkembangnya proses belajar membaca tersebut. Mengharapksan bahwa anak akan mampu atau bertanggung jawab belajar ketrampilan dasar untuk dirinya sendiri, merupakan pertanyaan yang besar. Pestalozzi yakin bahwa cara belajar anak yang baik untuk mengenal berbagai konsep adalah melalui berbagai pengalaman antara lain dengan menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya. Anak-anak tidak hanya diajar menulis, berhitung dan membaca, melainkan juga diajarkan berbagai ketrampilan yang kelak akan menjadi bidang pekerjaanya, misalnya industri rumah, kerajinan tangan, dan memanfaatkan lahan yang ada disekitarnya.
 2. Pengaruh dari Tokoh Abad ke-19 dan ke-20
  2.1.  Friederich Wilhelm Froebel (1782-1852)
 Froebel lahir di Jerman, dan mengabdikan kehidupannya guna mengembangkan suatu system untuk mendidk anak. Froebel dianggap sebagai ayah dari pendidik anak usia bayi, selain itu dikenal kerena menciptakan “garden of children” atau “kindergarden” (taman kanak-kanak) yang berarti dalam kebun milik anak di Blankenburg, Jerman pada tahun 1837: Sekolah untuk anak prasekolah yang dirancang oleh Froebel berbeda dari sekolah yang ada sebelumnya. Model rancanagan sekolah Froebel di kemudian hari mempengaruhi rancangan sekolah di seluruh dunia. Masing-masing individu merefleksikan keseluruhan dari budaya mereka, sama seperti sebatang pohon yang merefleksikan alam. Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar.Ia menggunakan taman sebagai suatu symbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapat pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman muda atau binatang yang berkembang secara wajar dan mengikuti hukumnya sendiri. Pendidikan taman kanak-kanak perlu mengikuti sifat dari anak. Bermain dipandang sebagai suatu metode dari pendidikan dan cara dari anak untuk meniru kehidupan orang dewasa dengan wajar.
Kurikulum yang dirancang Froebel meliputi pekerjaan, atau kegiatan seni dan keahlian serta pembangunan atau konstruksi. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan bermain lilin (clay), kayu dan kotak-kotak, juga dengan menggunting-gunting kertas, menganyam, melipati kertas, dan menusuk-nusuk kertas. Meronce mute dengan benang, menggambar, dan menyulam juga merupakan bagian dari kegiatan di sekolah yang di rancang Froebel. Kegiatan lain adalah menyanyi, permainan-permainan, bahasa dan aritmatika.
Menurut Froebel, guru bartanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan, dengan demikian anak menjadi kreatif dan akan menyumbangkannya kepada masyarakatnya. Guna mencapai tujuan tersebut, Froebel mengembangakan kurikulum pendidikan prasekolah yang terencan dan sistematis. Dasar bagi kurikulum tersebut adalah “Gift”, “occupation”, nyanyian yang diciptakan dan bermain yang mendidik. ”Gift” adalah objek yang dapat di pegang dan digunakan anak sesuai dengan intruksi dari guru dan dengan demikan anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran warna serta konsep yang diperoleh melalui menghitung, mengukur, membedakan dan membandingkan. ”Gifts” pertama adalah enam buah bola dari gulungan benang, masing-masing berbeda warnanya, dan enam helai benang yang panjang yang warnanya sama dengan warna bola yang ada. Tujuan dari ”Gifts” tersebut untuk mengajar anak mengenal warna. Froebel menganggap bahwa bola (yang dibentuk bulat) memainkan peran yang penting dalam pendidikan.
“Occupation”adalah materi yang dirancang untuk menggembangkan berbagai variasi ketermpilan, yang utama adalah psikomotor, melalui aktivitas semacam menjahit dengan papan jahitan, membuat bentuk dengan mengikuti titik, membentuk lilin, mengunting bentuk, meronce, menggambar, menenun, menempel dan melipat kertas.
Froebel yakin bahwa betapa pentingnya belajar melalui barmain. Froebel adalah tokoh yang pertama kali merencanakan program yang sistematis guna pendidikan anak prasekolah dan yang pertama kali mendorong wanita dewasa yang tidak menikah untuk menjadi guru.
            2.2. John Dewey (1859-1952)
John Dewey adalah salah satu tokoh di Amerika yang mempengaruhi pendidikan di Amerika. Melalui posisinya sebagai seorang profesor .  Dalam bidang fisafat di Universitas Chicago dan Coloumbia hasil tulisan dan pengalamannya dalam praktek pendidikan,  menjadikannya sangat dikenal. Teori dewey tentang sekolah yang biasanya disebut “progressivism” lebih menekankanpada anak didik dan minat anak dari pada mata pelajarannya sendiri, dari hal tersebut di atas muncul pengertian “child-centered curriculum” dan “child-centered schools”. Gerakan progresif tersebut mempertahankan bahwa sekolah sebaiknya mempersiapkan anak guna menghadapi kehidupan masa kini bukan masa yang akan datang yang belum jelas. Seperti yang ditulis Dewey dalam “My Pedagogical Creed” bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan bukan persiapan guna masa yang akan datang.
             2.3. Maria Montessori
Tahun 1870-1952 Maria Montessori adalah dokter dan antropolog wanita Italia yang pertama. Ia memiliki pemikiran-pemikiran dan berbagai metode pendidikan yang masih popular di seluruh dunia sampai saat ini.
Monttesori seperti Proebel, memandang perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia juga memahami pendidikan sebagai aktivitas diri, mengarah pada disiplin pribadi, pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri. Berbeda dengan Proebel, yang berminat terhadap pemikiran yang bersifat abstrak, Montesori memandang persepsi anak terhadap dunia sebagai dasar dari ilmu pengetahuan. Seluruh indera anak dilatih sehingga dapat menemukan hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan hal tersebut Montessori merancang sebuah meteri yang memungkinkan indera seorang anak dikembangkan dengan menggunakan alat yang memungkinkan seseorang mengoreksi diri, anak akan menjadi sadar terhadap berbagai macam ransangan yang kemudian diorganisasikan dalam pikirannya.
Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang kurang yakin dengan ide Montesori karena:
1.        Tidak semua orang percaya betapa pentingnya pengalaman sekolah bagi anak usia dini.
2.        Sebagian besar pendidik  percaya bahwa kecerdasan seseorang telah menetap.
3.        Pendapat bahwa belajar akan lebih baik apabila anak dimotivasi dengan baik melalui rasangan yang menyakitkan atau dengan pembunuhan biologis.
4.        Menganggap keinginan guru untuk selalu mengawasi dan memerintah di dalam kelas.
Sampai sekarang, pada umunya sekolah Montesori diselenggarakan oleh pihak swasta dan pembayaran sekolahnya relative tinggi dan biasanya hanya dapat dinikmati oleh anak-anak dari lingkungan sosial dan ekonomi menengah dan tinggi.
      2.4. McMillan Bersaudara
Rachel dan Margaret adalah orang-orang yang menciptakan sekolah nurcery yang pertama di London pada tahun 1911. Mereka berpendapat bahwa masalah kesehatan dan sosial pada anak-anak perlu dikoreksi dan dilakukan pencegahan melalui  pengasuhan dan pendidikan yang tepat sebelum anak masuk sekolah. Pada tahun 1902 dua bersaudara itu membuka klinik kesehatan untuk anak. Kegiatannya ditujukan untuk pelayanan anak usia 2-7 tahun kususnya bagi mereka yang kurang beruntung dalam kondisi ekonomi.
Berbeda dari sekolah Montesori, sekolah nurcery  mementingkan kreativitas dan bermain. Anak-anak mendapat kesempatan mengembangkan kreativitas melalui kegiatan yang ekspresif, bermain, seni dan gerakan. Selain hal tersebut, anak dilatih untuk memperoleh keterampilan dalam mengurus diri, dan belajar guna mengembangkan gerakan motorik.
2.5.  Jean Piaget 1896-1980
Piaget adalah ilmuan dari Swiss yang paling terkenal dan berpengaruh dalam teori yang mendukung pendidikan anak masa kini. Dia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan, proses belajar dan berpikir. Piaget menjelaskan tiga cara bagaimana anak sampai mengetahui sesuatu. Kategori pertama adalah melalui interaksi sosial, yaitu dari mempelajari sesuatu dari manusia lain. Kategori kedua adalah dari mengetahui dari kegiatan fisik yaitu mengetahui sifat fisik dari suatu benda. Pengetahuan ini diperoleh dengan menjelajahi dunia yang bersifat fisik. Kategori ketiga adalah yang disebut “logico-mathematical”. Ketegori ini meliputi pengertian tentang angka, seriasi, klasifikasi, waktu, ruang dan konserfasi. Tipe-tipe pengetahuan ini menunjukan adanya proses mental yang dikaitkan  dengan hadirnya  benda secara fisik.
     3. Pengaruh Tokoh Lain Terhadap Pendidikan Masa  Din
  3.1.  Stanley Hall
Membantu  para ilmuwan dalam studinya tentang anak dan remaja pada tahun 1800_an. Pada masa tersebut Hall mendorongan para psikolog untuk mempelajari pendidikan dan pengajaran, yang umumnya bukan bidang yang disukai para psikolog pada waktu itu. Ia ingin mengembangkan suatu  profesi yang berlandaskan pengetahuan untuk pendidikan.
Hall sangat mengeritik pendekatan yang dilakukan Frobel dengan kindergartennya dan ia menginginkan lebih menekankan pada bermain bebas dan ia lebih memperhatikan kesehatan jasmani dalam ‘kindergarten’ yang tradisional. Hall bersama murid-muridnya mendorong para pendidik untuk lebih banyak belajar tentang anak dan psikologi yang merupakan acuan dasar dalam pengajaran (Ross, 1972).


3.2,  J.McVicker Hunt                                   
Berdasarkan studi penelitian yang dilakukan oleh J.McVicker Hunt pada akhir 1950, paling tidak yang diukur sebagai intelegensi sifatnya tidak menetap, tetapi dapat dipengaruhi oleh pengalaman. Program intervensi dirancang untuk diberikan kepada mereka yang kurang mendapat pengalaman khususnya pada usia dini, khususnya yang berasal dari keluarga yang kondisinya kurang menguntungkan. Misalnya anak-anak yang mengikuti program intervensi, yang belum pernah melihat kebun binatang, maka dengan program tersebut dirancang suatu kunjungan ke kebun binatang terdekat.
3.3. Benjamin Bloom
Penelitian yang dilakukan oleh Benjamin Bloom (1964), mengamati kecerdasan anak dalam rentang waktu tertentu. Dari studi tersebut ditemukan bahwa, pengukuran kecerdasan anak pada usia 15 tahun merupakan hasil pengembangan dari anak usia dini. Penemuan Hunt lebih memacu para pendidik untuk memberikan kualitas pengalaman yang lebih pada anak usia dini.
Bloom mengembangkan taksonomi dari tujuan pendidikan, dengan demikian pengalaman-pengalama dan pertanyaan-pertanyaan dapat disusun secara bertingkat dari apa yang di recall sampai pada terapannya. Bloom yakin bahwa anak dapat menguasai tugas-tugas yang dihadapkan kepada mereka di sekolah tetapi memang benar bahwa ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama dan bimbingan yang lebih intensif dibandingkan teman seusianya.
3.4. Jerome Brunce
Bruner yakin bahwa mata pelajaran apa saja dapat diajarkan secara efektif pada anak-anak pada taraf perkembangan yang berada dalam berbagai tingkatan (Brunner 1960). Pendapat Bruner yang tersebut seringkali disalah tafsirkan bahwa anak pada usia berapa pun dapat mempelajari mata ajaran  apa saja, dengan demikian guru membutuhkan waktu untuk memberikan anak lebih banyak pratek atau men-dril anak sehingga anak dapat menguasai mata ajaran yang diberikan. Guru memahami perkembangan anak tidak akan mengajarkan perkalian pada anak yang baru berusia 2 tahun, tetapi membantu agar mengenal bahwa beberapa objek di lingkungan anak, seperti sepatu, selalu dalam pasangan (set).
Bruner (1970) mengemukakan bahwa program intervensi adalah program yang rancang untuk mengubah beberapa elemen di lingkungan di mana tinggal, dengan tujuan anak berlaku aktif dalam lingkungan tersebut.
     4.  Tokoh-Tokoh Mutakhir dalam Pendidikan Anak di Barat
            4.1.  Constance Kamii
                   Constance Kamii belajar dengan Piaget dan berminat dalam terapan teori Piaget dalam mengajar anak khususnya dalam instruksi matematika. Bagi kami konsep autonomy merupakan tujuan dari semua bentuk pendidikan. Ia yakin bahwa anak-anak sebaiknya mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan benar atau salah tanpa banyak tergantung bantuan orang dewasa. Biasanya apabila orang dewasa menanyakan apakah jawaban aritmatika yang dibuat benar atau salah, anak dengan cepat menghapus jawaban yang telah di tulis tanpa pertimbangan lagi. Kamii menginginkan agar para murid mengetahui bahwa jawabannya benar dan mengusahakan kebenaran dari jawaban yang ditulis sendiri.
4.2.  David Elkind
David Elkind percaya bahwa anak-anak membutuhkan dukungan yang kuat untuk bermain dan kegiatan yang dipilih sendiri dengan tujuan untuk dapat bertahan dalam stress yang ada sekarang dalam lingkungan anak. Ia percaya bahwa anak-anak tidak dapat dipersiapkan untuk menghadapi stress dengan mengalami lebih dahulu pada awal kehidupan mereka. Akan jauh lebih sehat bagi anak-anak bila dalam kegiatan bermain dan dalam perkembangan anak tidak ada stress yang berarti. Elkind percaya bahwa anak-anak yang mempunyai pengalaman seperti yang tersebut akan lebih baik dipersiapkan untuk mengatasi stress dalam kehidupan masa dewasa kelak. Berbagai tulisan telah diterbitkan, menghimbau para orang tua dan pihak sekolah untuk tidak terlalu mendorong anak untuk mencapai prestasi tertentu terlalu awal.
            4.3.Lilian Katz
                   Lilian Katz menitikberatkan pekerjaannya pada proses belajar-mengajar.Ia menjelaskan bahwa guru perlu memikirkan tentang dampak pendidikan  terhadap pengalaman anak. Sekolah bagi Ketz merupakan tempat pemeroleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan watak. Pengetahuan terdiri dari fakta-fakta dan konsep yang dipelajari. Keterampilan adalah kemampuan untukmelakukan tugas yang telah diberikan, misalnya cara mengontrol atau menguasai pensil untuk menulis huruf-huruf. Sikap dipelajari melalui interaksi dengan orang lain dan biasanya melalui apa yang diamati dan melalui proses imitasi. Watak adalah kecenderungan yang tampak pada aktivitas yang dilakukan dan minat anak. Misalnya, dalam keberhasilan mengajarkan anak menulis tidak hanyamengajarkan proses (bagaimana  melakukannya) tetapi juga meliputi kemauan untuk membaca tanpa disuruh atau didorong orang lain. Pengenalan aktivitas yang bersifat akademis yang tiudak tepet untuk anak-anak kemungkinan akan merusak kemampuan belajar bidang yang lain, karena anak telah merasa tidak akan mampu separti pengalaman yang lalu.Katz menyebutnya ‘Ketololan’ yang di Pelajari (learned stupidity), yaitu suatu perasaan tidak mampu yang disebabkan diberikannya kegiatan yang tidak tepat “(tidak sesuai dengan kematangan anak)”.
            4.4. David Weikart
David Weikart telah mengembangkan suatu program yang terkenal berdasarkan teori piaget, walaupun sebenarnya Weikart dan Kamii tidak setuju bagaimana teori tersebut sebaiknya di terapkan dsalam praktek. Metode pengajarannya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
·      Memberikan lingkungan yang nyaman dan aman.
·      Memberikan dukungan terhadap tingkah laku dan bahasa anak.
·      Memberikan  bantuan kepada anak dalam menentukan pilihan dan keputusan.
·      Memberikan bantuan kepada anak untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri Dan melakukannya sendiri.
·       

PENUTUP
A.   KESIMPULAN
·           Pendidikan prasekolah mempunyai sejarah yang amat panjang, bermula dari ahli filsafat Martin Luther, Rousseau, dan Pestalozzi. Tokoh-tokoh tersebut mengarahkan pemikiran para ahli yang hidup pada abad berikutya, baik tentang sekolah maupun pendidikan prasekolah pada umumnya.
·           Dewey, Montessori dan Piaget adalah tohok-tokoh yang paling berperan terhadap pendidikan prasekolah.
·           Tokoh-tokoh baru dalam pendidikan prasekolah adalah Kamii, Elkind, dan Katz.
·           Froebel mendirikan Kindergarten pertama pada tahun 1837. Kurikulumnya telah terstruktur dan dirancang untuk anak dalam mencapai pemahaman tentang lingkungan.
B.   SARAN
Dari tokoh-tokoh pendidikan tersebut boleh menjadi acuan bagi kita untuk mengikuti motode-motode pembelajaran yang para tokoh telah kemukakan, tetapi dari hal yang mereka kemukakan pasti ada kelebihan dan kekurangannya, kembali pada  diri kita sendiri mau mengikuti motede yang mana, atau kita mempunyai motode sendiri tetapi harus bisa kita pertanggungjawabkan apa yang akan kita kemukakan dan bisa meyakinkan masayarakat luas.