welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Kamis, 04 Oktober 2012

RAMBU-RAMBU KONSELING DAN PSIKOTERAPI-DIAGNOTIK

BAB I
RAMBU-RAMBU KONSELING DAN PSIKOTERAPI-DIAGNOTIK

Batasan yang tegas antara konseling dan psikoterapi dapat merujuk pada asumsi-asumsi dasar konseling yang pernah dibuat oleh Blacher (George dan Cristiani, 1990). Mereka menetapkan lima asumsi dasar konseling, diantaranya :
1.      Dalam konseling, klien tidak diberlakukan sebagai orang yang sakit mental dan harus diobati. Tetapi klien diposisikan sebagai orang yang mampu menentukan pilihan, membuat kepuusan, dan siap bertanggung jawab. Dan tugas konselor adalah membantu kliennya untuk bangun dari tidurnya dan segera melaksanakan kewajibannya.
2.      Konseling lebih berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Konselor menutup lembaran kelam klien dimasa lampau. Agar klien dapat memperbaiki perilaku, pola pikir, perasaan dan emosi untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.
3.      Klien dianggap sebagai partner kerja dan siap bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.
4.      Konselor secara moral tidak boleh netral atau bebas menilai, konselor harus mempunyai nilai moral dan spiritual yang matang
5.      Seorang konselor berfokus pada perubahan tingkah laku  dan perubahan perilaku, sikap, pola pikir dan stabilitas emosi harus didasari oleh kesadaran pikiran klien secara mendalam. Sehingga ia bisa bertanggung jawab secara sadar atas perubahan yang ada pada dirinya.
BAB II
LATAR BELAKANG PERLUNYA BIMBINGAN KONSELING

Bimbingan konseling sebenarnya telah lama dipahami oleh dunia pendidikan dan baru-baru ini bimbingan konseling mulai direalisasikan didunia pendidikan. sebenarnya bimbingan konseling sudah dilaksanakan pada praktek Ki Hajar Dewantara. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan oleh beliah yang masih relevan sampain saat ini.
Tujuan utama diselelnggarakannya bimbingan konseling di PAUD adalah mengantisipasi akan terjadinya masalah-masalah yang kemungkinan dapat mucul atau timbul pada peserta didik, mencegah masalah pada anak-anak jauh lebih mudah dari pada mengatasi perilaku bermasalah pada orang dewasa.
Banyak faktor yang melatar belakangi perlunya bimbingan konseling, diantaranya:
1.      Kesadaran Adanya Perbedaan Individu
Perbedaan individu merupakan faktor yang sangan esensial dalam pendidikan pada umumnya dan khususnya bimbingan konseling. Sekolah di Indonesia pada umumnya masih cenderung memberi perlakuan yang sama kepada setiap siswa. Keunikan atau kekhasan, kelebihan ataupun kekuarangan pada diri individu belum begitu diperhatikan.

2.      Perlunya Sistem Pelayanan Kependidikan Lainnya yang berpusat pada Individu.
Dengan kesadaran adanya perbedaan setiap individu maka dalam proses belajar mengajar perlu penataan kembali strategi dan prosedur pengajaran dikelas yang berpusat pada individu, baik dalam segi materi maupun metode penyampaiannya, karena peserta didik memiliki tempo perkembangan yang berbeda-beda.

3.      Penerapan Konsep Demokrasi dalam Pendidikan Secara Tepat
Kehidupan demokratis adalah suatu kehidupan yang didambakan sejak lama oleh bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam cita-cita proklamasi. Pada saat ini masih banyak warga negara yang salah mengartikan kebebasan dalam sendi demokrasi, sehingga mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan. Oleh sebab itu melalui pendidikan demokratis sejak usia dini diharapkan generasi berikutnya dapat mencapai kehidupan demkrasi yang baik

4.      Permasalahan yang dihadapi individu dalam kehidupan masyarakat yang makin berubah dan berkembang.
Sebagai masyarakat yang berkembang tentunya tidak lepas dihadapkan pada persoalan dan permasalahan serba kritis dan dinamis. Berbagai hal berubah dan berkembang begitu cepat sehingga masyarakat mengalami yang disebut kejutan budaya. Oleh karena itu landasan sosiokultural merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada guru pembimbing tentang dimensi kehidupan social dan kultur yang ada, dalam situasi ini bimbingan konseling sangat diperlukan sebagai bentuk bantuan kepada peserta didik. Bimbingan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat, bhineka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

5.      Persoalan yang dihadapi oleh individu dalam kehidupan modern
Melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dicapai dalam kehidupan modern, menimbulkan permasalahan yang semakin rumit, kompleks dan delematis. Pergeseran nilai dan norma yang sangat cepat, pengaruh negative kebudayaan asing pada anak, dan ketidakseimbangan ekonomi masyarakat menimbulkan konflik-konflik sosial dan konflik kepentingan yang berkepanjangan. Dengan kondisi seperti ini pendidik hendaknya mampu membantu peserta didik secara sistematis dan berkelanjutan agar mereka mampu menyesuaikan diri dengan realistis kehidupan yang dihadapi.







BAB III
Tujuan Dan bimbingan Konseling di PAUD

Tujuan utama diselenggarakan bimbingan dan konseling di PAUD adalah mengantisipasi akan terjadinya masalah-masalah yang kemungkinan dapat muncul atau timbul pada peserta didik atau istilahnya adalah mengambil tindakan preventif. Jadi bimbingan mencegah peserta didik agar terhindar dari masalah, karena mencegah munculnya perilaku bermasalah pada anak-anak jauh lebih mudah dari pada mengatasi perilaku bermasalah pada orang dewasa. Prinsip inilah yang akan diberlakukan dalam bimbingan dan konseling di PAUD. Tujuan utama diselenggarakan bimbingan dan konseling di PAUD dapat dirumuskan lebih rinci sebagai berikut :
1.      Bimbingan dan konseling bertujuan untuk menjaga dan melindungi ciri khas atau sifat unik anak agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikannya. Sebagai guru dan sekaligus konselor di PAUD harus mampu mengarahkan kemampuan yang dimiliki oleh anak agar dapat berfungsi secara optimal.
2.      Bimbingan dan konseling bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu dan matang untuk memasuki sekolah dasar. Sebagai konselor sekaligus pendidik harus mampu membekali secara mental maupun intelektual terhadap anak.
3.      Bimbingan dan konseling bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan munculnya gangguan mental dikemudian hari terhadap anak. Bimbingan dan konseling bertujuan untuk mengantisipasi terhadap anak agar tidak mempunyai perilaku bermasalah yang dapat muncul setelah dewasa, karena mencegah lebih mudah dari pada mengobati.
4.      Bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu menelusuri bakat, minat, dan potensi anak sejak dini.
5.      Bimbingan dan konseling bertujuan menjaga stabilitas keseimbangan tumbuh kembangnya anak, baik aspek fisik-motorik, bahasa, sosial-emosional, kognitif, maupun moral keagamaan. Agar aspek tersebut dapat berkembang seiring dan sejalan, sehingga tidak terjadinya kepincangan dalam perkembangannya, yang dapat menyebabkan perilaku bermasalah.
6.      Bimbingan dan konseling bertujuan untuk melakukan diagnosis terhadap setiap masa peka anak. Ada lima masa peka anak yaitu terhadap : keteraturan, detail, penggunaan tangan, berjalan, dan bahasa.





BAB IV
KESIMPULAN

Tujuan utama diselelnggarakannya bimbingan konseling di PAUD adalah mengantisipasi akan terjadinya masalah-masalah yang kemungkinan dapat mucul atau timbul pada peserta didik, mencegah masalah pada anak-anak jauh lebih mudah dari pada mengatasi perilaku bermasalah pada orang dewasa. Dengan adanya bimbingan konseling di PAUD maka akan menjadikan anak-anak di Indonesia anak yang berakhlak dan berbudi pekerti yang baik, karena sejak dini anak telah dikontrol agar tidak terjadi masalah dalam diri anak tersebut dalam bimbingan konseling.