welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Jumat, 21 Desember 2012

KETIKA ANAK BERTANYA SEKS Part II


Pertanyaan yang Membuat Gusar

B
iasanya, pertanyaan yang sering membuat orang tua kaget dan tingkah adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah seksual. Bahkan, pertanyaan-pertanyaan tersebut sering membuat orang tua sangat gusar dan tidak bisa tidur nyenyak. Brikut petikan cerita yang menyangkut pertanyaan-pertanyaan anak seputar masalah seksual yang direkam dari pengalaman sejumlah orang tua.
Pingin ketawa. Itulah yang dialami Ibu Heni waktu anaknya, Isma (3 tahun) bertanya tentang perbedaan kelamin laki-laki dan perempuan. “Ma, punya abang kok panjang? Punya Isma belum numbuh, ya?” Tanya Isma sambil memegang kelaminnya.
“Bukan, punya Isma bukannya belum tumbuh, tapi memang beda dengan punya abang. Isma kan, perempuan, abang laki-laki.”
Pertanyaan itu dapat dijawab Ibu Heni dengan baik dan lancar. Namun, selang beberapa hari ia sempat gelagapan ketika menyuruh putri kecilnya untuk jongkok waktu mau pipis sambil berkata, “Pipisnya sambil jongkok. Kalau pipisnya sambil berdiri, sama kayak guguk.” Dengan cekatan, Isma menimpali, “Laki-laki sama kayak guguk, ya Ma? Abang kan, laki-laki. Pipisnya sambil berdiri.” Bu Heni terdiam, tidak tahu harus bicara apa. Agak susah rupanya ia menjelaskan kesalahan kesimpulan yang diambil anaknya.
Rasa kaget juga dialami Ibu Rika-ibu muda asli Garut-ketika anaknya Rofi (3,5 tahun) bertanya tentang payudara. “Mama, payudara besar itu apa sih?” Ibu Rika pun tak bisa menyembunyikan kepanikannya. “Heh, Jorok. Diam!” bentaknya.
Dapat kita lihat, betapa orang tua sering dibuat kalang-kanut oleh pertanyaan yang diajukan anak. Ketidaktenangan dalam menanggapi pertanyaan, kadang membuat orang tua terlalu jauh menginterpretasi pertanyaan anak. Ibu Rika contohnya. Ia menginterpretasikan bahwa anaknya telah berbuat di luar batas, berucap tidak senonoh. Padahal tidak ada secuil pun pikiran kotor atau cabul yang menghuni kepala anaknya. Sang anak hanya ingin tahu arti istilah “payudara besar” yang pernah ia dengar. Bukankah Ibu Rika bisa menerjemahkan istilah itu ke dalam bahasa sunda yang biasa diucapkan sang anak?
Sejumlah contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari rentetan serangan pertanyaan yang sering dilontarkan anak balita. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang cukup sering dilontarkan anak berkaitan dengan masalah seksualitas serta alternatif yang dapat diberikan orang tua.
1.      Apa sih, bedanya laki-laki sama perempuan?
Bila pertanyaan ini dilontarkan, orang tua dapat menerangkan perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan. Misalnya saja dengan menerangkan, laki-laki punya penis dan perempuan punya vagina. Atau bisa juga kata penis dan vagina diganti dengan bahasa daerah yang biasa digunakan di rumah. Yang penting jangan sampai menggunakan istilah yang salah atau analogi yang tidak tepat.
2.      Kalau banci itu apa?
Hal ini ditanyakan anak setelah ia bergaul dengan teman-temannya. Misalnya saja ia dan teman-temannya melihat pengamen berwajah laki-laki yang memekai naju perempuan. Orang tua dapat menerangkan, “Banci itu laki-laki, tapi dia senang memakai pakaian perempuan. Kita tidak boleh seperti banci. Kalau laki-laki harus memakai pakaian laki-laki. Kalau perempuan harus memakai pakaian perempuan.”
3.      Ma, kata nenek. Ade keluarnya dari perut. Kalau teteh, keluarnya dari mana?
Bila anak menanyakan hal ini, orang tua dapat menjawab, “Iya. Waktu melahirkan Ade, Mama dioperasi. Ade dikeluarin dari perut. Kalau teteh keluarnya dari lubang di bawah perut Mama. Namanya vagina.
4.      Melahirkan itu sakit atau enggak?
Orang tua hendaknya dapat bersikap bijak menanggapi pertanyaan ini dengan mengimbangi dengan hal positif sehingga anak tidak hanya membayangkan proses melahirkan sebagai sesuatu yang mengerikan, tetapi juga memiliki unsur bahagia. Orang tua dapat berkata, “Iya sayang, tapi Cuma sebentar, kok. Sudah itu hilang rasa sakitnya. Mama senang bisa lihat adik bayi yang lucu.”
5.      Kalau udah gede nanti, Ade bisa hamil kayak mama nggak?
Pertanyaan ini dapat digunakan orang tua untuk menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan. Kepada anak laki-laki orang tua dapat berkata, “Nggak sayang. Ade kan laki-laki. Laki-laki nggak bisa hamil, soalnya nggak pumya rahim. Jadi hanya perempuan yang bisa hamil.
6.      Rahim itu apa, sih?
Bila anak kembali bertanya untuk mendapat jawaban yang lebih detail seperti ini, barulah orang tua menjelaskannya dengan mengatakan bahwa Allah memberikan tempat untuk adik bay di dalam tubuh perempuan. Tempat itulah yang disebut rahim.
7.      Ketiak Mama ada rambutnya. Kok, Ade nggak?
Orang tua hendaknya peka trehadap pertanyaan ini. Selain memberikan jawaban, orang tua pun mesti memberikan harapan pada anak. Tidak cukup hanya dengan berkata, “Ya iya lah...., Mama kan udah gede.” Jawaban tersebut akan membuat anak merasa bahwa dirinya tidak sehebat orang tuanya. Sebaiknya orang tua menjawabnya dengan nada empati, “Ade, nanti kalau Ade sudah besar seperti Mama, ketek Ade juga pasti tumbuh rambut.” Dengan jawaban seperti itu, anak merasa bahwa dirinya menjadi subjek pembicaraan.
8.      Kemarin, Ade shalat sama Mama. Sekarang, shalatnya disuruh barengan Papa. Kok, Mama nggak shalat, sih?
Sang ibu, mau tidak mau harus memberi alasan yang benar dengan mengatakan bahwa ia sedang menstruasi. Ketika hal ini ditutup-tutupi, misalnya saja dengan berkata, “Duluan aja sama Papa! Mama nanti aja shalatnya,” sang anak akan meniru perkataan sang ibu ketika ia disuruh shalat. Adapun ketika anak kembali bertanya tentang apa itu menstruasi, orang tua pun harus memberikan penjelasan bahwa setiap bulan, perempuan yang sudah besar pasti keluar darah dari kemaluannya. Itulah yang disebut menstruasi. Kalau sedang menstruasi nggak boleh shalat.
9.      Papa dan Mama lagi ngapain, sih?
Langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adlah tidak panik. Cobalah untuk bersikap setenang mungkin. Kenakan pakaian di balik selimut, kemudian rangkullah anak dan beri penjelasan berikut, “Mama dan Papa lagi saling sayang. Saling sayang itu seperti yang dilakukan oleh putri salju sama suaminya, Lion King dengan istrinya, atau kimba denganistrinya.”
Hal yang juga harus diperhatikan, pada situasi seperti ini, jangan sekali-sekali memarahi anak karena ia akan sangat kebingungan. Selain itu, jangan pula membohongi anak dengan mengatakan bahwa Papa dan Mama main kuda-kudaan atau lagi latihan gulat. Harus selalu diingat, penanaman konsep yang salah, akan menyebabkan action anak akan menjadi salah pula nantinya.
Oleh karena itu, kasih sayang ayah dan ibu yang suci harus sering diceritakan pada anak. Sejalan dengan upaya tersebut, orang tua harus mengendalikan ucapan dan emosinya di depan anak sehingga tidak terlihat kontradiktif.
10.  Ma, Nisa mau punya adik bayi. Bikinin adik bayi, dong. Kok perut mama nggak ada adik bayi?
Orang tua hendaknya tidak langsung meng-iya-kan atau menolak permintaannya. Gunakan saat ini untuk memberikan pemahaman konsep Allah sang pencipta padanya. Katakan padanya, “Sayang, yang bikin adik bayi itu bukan Mama. Adik bayi diciptakan oleh Allah. Mama hanya dititipi rahim biar adik bayi bisa hidup di dalam perut Mama. Jadi kalau Nisa mau punya adik bayi, berdoa sama Allah biar Mama bisa hamil lagi....”
11.  Ma, kalau tetek Ade bisa gede kayak Mama nggak?
Orang tua mesti memberi jawaban yang musti membuatnya merasa tenang. Orang tua dapat berkata, “Sayang, umur Ade kan baru tiga tahun. Jadi, teteknya belum bisa gede. Nanti, kalau umur Ade udah sepuluh atau dua belas tahun, baru deh tumbuh jadi gede.”
12.  Kalau tetek Ade gede, bisa keluarin air susu nggak?
Ketika menjawab hal ini pun, orang tua kembali dapat memasukkan nilai-nilai moral dan agama, misalnya saja dengan mengatakan, “Nanti, kalau Ade udah gede, terus menikah, Ade bisa hamil dan punya bayi. Nah, kalau udah punya bayi, baru deh, keluarin air susu.”
13.  Pacaran itu apa, sih?
Orang tua hendaknya menerangkan dulu definisi pacaran, baru kemudian memberikan pengertian bahwa pacaran itu tidak boleh. Orang tua dapat berkata, “Sayang, pacaran itu berdua-duaan. Banyak orang pacaran sebelum menikah dan itu dosa. Mendingan seperti Papa dan Mama, pacarannya sesudah menikah.
14.  Kapan Ade boleh menikah?
Kita dapat memberikan jawaban, “Ade boleh menikah nanti kalau udah gede, udah beres sekolah. Nih, seperti Mama dan Papa,” sambil menunjukkan foto di album.
15.  Waktu Mama menikah Ade di mana?
Walaupun agak sulit menerangkan, orang tua harus tetap menjawab pertanyaan itu dengan benar. Kepada anak, orang tua dapat menjelaskan, “Waktu Mama dan Papa menikah, Ade belum ada. Baru setelah Mama menikah dengan Papa, Ade ada di perut Mama.”
16.  Kalau anak ayam menetas dari telur. Kalau Ade keluar dari perut. Apa di perut Mama juga ada telurnya? Banyak atau nggak telurnya?
Menanggapi pertanyaan seperti ini, orang tua hendaknya menjawab dengan jawaban yang benar tetapi singkat, tidak perlu menerangkan bagaimana proses terjadinya pembuahan. Orang tua dapat berkata, “Di dalam perut Mama juga ada telur. Jumlah telurnya banyak, tetapi nggak semuanya bisa jadi adik bayi.”
17.  Kalau di dalam perut Papa ada telur atau nggak?
Saat anak bertanya tentang hal ini, orang tua dapat menjawab dengan sederhana bahwa di perut Papa nggak ada telur, dan itu adalah salah satu perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Dengan jawaban tersebut, anak sedikit demi sedikit memahami sejumlah perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
18.  Ma, mens itu apa sih?
Orang tua dapat mengatakan bahwa mens itu adalah sel telur ibu yang keluar karena tidak jadi bayi. Untuk anak perempuan yang sudah cukup besar, sekitar 7 atau 8 tahun. Orang tua dapat menambahkan tentang lamanya menstruasi. Hal ini diperlukan untuk bekal anak menghadapi menstruasi pertama yang pasti dijalaninya kelak.
19.  Kalau disunat itu gimana sih?
Orang tua dapat memberikan jawaban sekaligus alasan kenapa anak laki-laki harus disunat. Orang tua dapat menjawab bahwa disunat itu memotong ujung titit supaya tidak ada tumpukan kotoran.
20.  Kenapa abang disunat, tapi Ade nggak?
Orang tua sebaiknya tidak hanya menjelaskan bahwa abang laki-laki dan Ade perempuan. Tapi orang tua dapat berkata, “Abang itu laki-laki, dan dia punya titit. Nah ujung titit yang dipotong. Itu yang namanya disunat. Berbeda dengan Ade, Ade kan perempuan, nggak punya titit, jadi nggak perlu disunat.
21.  Kenapa titit Papa lebih besar dari punya abang?
Orang tua dapat menjawab, “Badan Papa kan lebih besar dari badan abang. Jadi tititnya juga lebih besar.”
22.  Gimana adik bayi di perut Mama bisa bernafas?
Orang tua perlu mengemukakan jawaban yang ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami anak. “Adik bayi di perut Mama bukan bernafas dengan  paru-paru, tapi menyerap zat asam dan darah Mama dari tali pusar.”

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang cukup sering dilontarkan anak kepada orang tuanya berkaitan denga masalah seksualitas. Selalu berupaya memberikan jawaban yang benar ketika anak bertanya tentang masalah seks, merupakan bagian dari upaya pendidikan seks secara bertahap dari kontinu, sesuai dengan perkembangan pemikirannya. Dalam menjawab pertanyaan anak, orang tua hendaknya memahami betul aturan main yang mesti dipatuhi. Pertama, orang tua harus memegang prinsip jujur dalam menjawab. Kedua, ketika anak bertanya seputar masalah seksualitas, orang tua hendaknya bersikap wajar. Ketiga, orang tua dapat memberikan penjelasan sederhana, tetepi tetap berada pada koridor jawaban yang benar, tentunya.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang berkaitan dengan masalah seksual secara tepat dan cermat, orang tua telah memberikan pendidikan seks secara proporsional, sesuai dengan tingkat kebutuhan dan daya nalar anak.

Bila Anak Tak Banyak Bertanya
            Ada sejumlah kemungkinan anak tak banyak tanya. Kemungkinan pertama, sang anak memang pendiam. Kemungkinan kedua, sang anak mengalami keter;ambatan perkembangan. Kemungkinan ketiga ia terpaksa memendam partanyaan karena kondisi lingkungan.
            Bila anak tak banyak bertanya, orang tua harus bersikap[ proaktif, selalu berupaya memancing rasa ingin tahu sang anak. Kalau keadaan ini dibiarkan, sang anak akan tumbuh menjadi orang yang nrimo, tidak kritis, kurang memiliki inisiatif, kurang percaya diri, dan selalu ragu-ragu.
            Apabila usia anak hampir menginjak lima tahun, dan ia sangat jarang bertanya tentang hal-hal yang mengarah pada masalah yang menyangkut seksualitas, orang tua dapat mengambil inisiatif dengan memulai bertanya. Kemudian orang tua dapat menanyakan pada anak nama-nama anggota badan dan berlanjut pada organ-organ reproduksi.
            Apabila orang tua terbuka membicarakan masalah seks, anak akan terdorong memberikan respons berupa pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Momen seperti inilah yang harus digunakan orang tua secara cermat. Orang tua dapat memberikan jawaban secara jujur dan ilmiah sambil menyisipkan nilai-nilai moral.




Pendidikan Seks Membina Akhlak Mencipta Solusi
   P
endidikan sering dimaknai sebagai sebentuk pengajaran yang formal dan sistematis. Begitu pula dengan “seks”. Kata ini sering hanya dimaknai sebagai hubungan  intim, serta konotasi yang jorok-jorok. Oleh karena itu, pendidikan seks dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, pendidika seks sangat lah diperlukan agar anak memiliki pengetahuan yang memadai  tentang pentingnya menjaga organ-organ repriduksi, serta menanamkan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan masalah seksualitas.
            Hal yang juga termasuk dalam  pendidikan seks adalah menanamkan pemahaman kesehatan reproduksi. Upaya menanamkan kesehatan reproduksi pada anak dapat dimulai dengan mengjarkan dan menontoh kebersihan. Misalnya saja membiasakan anak buang air kecil atau buang air besar di toilet.
            Pendidikan seks hendaknya disampaikan dengan wajar, bukan dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Dalam proses memahamkan permasalahan seks pada anak, orang tua hendaknya tidak bersifat otoriter. Orang tua mesti peka terhadap emosi anak. Hal yang penting di perhatikan orang tua dalam pendidikan seks pada anak adalah lingkungan tempat tumbuh serta bersosialisasi. Dari uraian singkat diatas, dapat lah di ambil kesimpulan bahwa pendidikan seks adalah upaya menanamkan pemahaman tercipta sikap yang positif terhadap seks. Pendidikan seks tidak hanya berorientasi pada masalah anatomis atau organ-organ reproduksi, tetapi juga menyangkut masalah moral dan tata aturan yang berlaku dalam sebuah tatanan kehidupan.
            Alasan mengapa pendidikan seks diberikan pada anak usia dini :
1.      Anak dengan  rasa ingin tahunya yang besar perlu diberikan pemahaman tentang sosok dirinya, sehingga ia mengerti tentang dirinya sendiri.
2.      Berkembang pesatnya teknologi, membuat arus informasi tak terbendung.oleh karena itu sebagai orang tua haruslah biasa menalar dengan positif informasi yang datang dari luar.
3.      Menciptakan kesadaran pada anak tentang peranannya dalam pergaulan bermasyarakat menurut jenis kelaminya.
4.      Mempersiapkan mental anak yang secara bertahap menuju pada kematangan seksual (pubertas).
5.      Pemberian informasi yang benar tentang masalah seksual sejak masa kanak-kanak, yang akan menjadi pondasi yang kuat bagi perkembangan seksual pada masa remaja dan dewasa.
6.      Kesehatan  reproduksi akan terjaga dengan baik karena anak memiliki pengetahuan yang memadai tentang seks.
7.      Tumbuhnya pemahaman terhadap resiko seksusal yang dapat terjadi bila melakukan pelanggaran terhadap tata aturan agama.
8.      Maraknya pornografi dan pornoaksi yang disajikan melalui media cetak dan elektronik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan moral pada anak.
The Golden Rule & Golden Opportunity
Pendidikan seks merupakan rangkaian proses yang tak boleh berhenti mengalir, sejal kanak-kanak sampai usia lanjut. Saat anak bertanya, peluag emas ( golden opportunity) terbuka bagi orang tua untuk memberikan arahan dan bimbingan sehingga anak tidak akan merasa bahwa ia sedang mendapatkan bimbingan moral. Aturan emas (Golden rule ) untuk tugas pengasuhan adalah salah satu tugas dari orang tua ( ibu atau ayah) mesti banyak berinterksi dengan sang anak. Artinya, salah satu dari orang tua mesti  banyak meluangkan waktu untuk berada di samping anak-anaknya . hal ini merupakan ibadah karena menjaga titpan Allah dari informasi yang tidak baik.
Karena dengan begitu orang tua tidak akan kehilangan peluang emas dalam untaian proses membina sang buah hati menjadi manusia tangguh yang dilandasi nilai-nilai moral. Sudah tiba saatnya bagi orang tua untuk memahami golden rule, yaitu salah satu dari ogang tua mesti banyak meluangkan waktu untuk berada disamping anaknya, sehingga golden opportunity dapat dimanfaaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungki.
Sejumlah hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam pengasuhan anak antara lain :
1.      Memantau lingkungan sekitar tempat anak berintraksi dan bersosialisasi karena tidak jarang lingkungan sekitar rumah anak tinggal tidak kondusif. Oleh karena itu lingkungan yang kondusif adalah hal mutlak yang mesti dipenuhi demi terciptanya perkembangan anak secara positif.
2.      Mendampingi anak ketika menonton televisi.
Tak dapat dimungkiri bahwa media massa memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak. Bisa kita bayangkan, bagaimana media massa menawarkan sosok idola dengan kontes-kontes yangsaat ini tengah menjamur. Bahkan, adegan film kartun pun banyak yang tidak sesuai untuk anak balita.
3.      Memberikan respons yang baik dan jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak.
4.      Memahami kondisi emosi anak pada fase-fase tumbuh-kembangnnya.
Hal-hal yang disebutkan di atas tidaklah mungkin dapat dilakukan orang dengan baik, bila pengasuhan  bukan dilakukan oleh orang tua. Orang tua pun bisa jadi sangat paham akan bahaya yang ditimbulkan oleh seabrek tayangan di televisi.
            Wawasan dan pengetahuan orang tua mungkin  sangat luas untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Anak akan langsung bertanya tentang hal-hal yang ingin diketahui pada siapa saja yang berada didekatnya.
            Dalam hal pemahaman  emosi anak, dengan adanya pertautan jiwa antara orang tua dan anak ditambah dengan pengetahuan yang dimilikinya, orang tua lebih dapat memahami kondisi emosi anak dalam proses tumbuh-kembangnya daripada orang lain.
Tak Henti Menuntut Ilmu
Islam telah mengajarkan betapa pentingnya pendidikan seks sejak usia kanak-kanak. Berikut aturan-aturan yang telah dijelaskan secara gamblang dalam Al-Quran dan hadis.
·         Adab Berbusana
Islammengatur adab berbusana bagi laki-lakidan perempuan. Laki-laki tidak diperbolehkan memakai busana seperti perempuan dan perempuan pun tidak diperbolehkan memakai busana seperti laki-laki. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
“Rasulullah saw. Mengutuk laki-laki yang memakai pakaian seperti perempuan dan mengutuk perempuan yang memakai pakaian seperti laki-laki.”
            (H.R. Abu Daud)
Begitulah. Dalam islam tidak ada istilah unisex atau AC/DC, tetapi hanya laki-laki dan perempuan.
·         Menutup Aurat dan Batasannya
Islam telah mengajarkan pola pendidikan seks dari hal  yang sangat mendasar, yaitu dengan “diterbitkannya” tata aturan dalam masalah aurat.
“katakalah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-nur 24-31)
Batasan tentang aurat ini hendaknya sudah diajarkan kepada sang buah hati ketika ia masih kanak-kanak. Bila rumus dasar ini dipraktikkan dengan baik oleh orang tua, proses pendidikan seksual pada tahap-tahap selanjutnya akan terasa lebih ringan.
·         Pisah Tempat Tidur
“Jika anak-anak kalian telah berusia tujuh tahun, maka pisahkan tempat tidur mereka, dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika belum mau mengerjakan shalat.”
(H.R. Daraquthni)
Meskipun dorongan seksual (libido) pada anak usia tersebut belum aktif, bukan berarti anak tidak merasakan kenikmatan ketika terjadi gesekan-gesekan pada daerah-daerah yang peka rangsangan.
Betapa luar biasanya Islam yang telah membuat aturan sedemikian detail. Hanya, kita sangat jarang bertafakur atas sejumlah aturan tersebut sehingga sering tidak mengindahkannya.
·         Aturan Berselimut
“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki dan perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Laki-laki tidak boleh berselimut sesama laki-laki dalam satu selimut tanpa busana dan perempuan tidak boleh berselimut sesama perempuan dalam satu selimut tanpa busana.”(H.R. Muslim)
Aturan ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan seksual seperti homoseksual atau lesbian.
Dapat kita lihat bahwa Rasulullah Muhammad saw. telah memberikan paparan aturan tentang masalah seksual dengan begitu gamblang 14 abad yang lalu. Baru saat ini, kita bisa mencerna makna perkataan Rasulullah secara ilmiah.
·         Pisah kamar dan Tata Krama Masuk Kamar
“hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh,  ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari, dan sesudah shalat isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nur 24:58-59)
Pada ayat di atas pun disebutkan bahwa orang-orang yang belum balig harus meminta izin ketika akan memasuki kamar pada tiga momen waktu. Ini menandakan bahwa anak-anak semestinya diupayakan tidak berada dalam satu kamar dengan orang tuanya.
Demikianlah. Begitu jelasnya ayat tersebut memberikan arahan dan tuntunan dalam masalah seksual. Arahan dan tuntunan inilah yang saat ini lazim kita sebut dengan istilah pendidikan seks.

Pendidikan Seks: di rumah atau di sekolah ?
Pendidikan seks merupakan pendidikan yang memiliki cakupan yang luas. Karena lingkupnya yang sangat luas itulah, pendidikan seks harus diberikan sedini mungkin yaitu ketika anak sudah mulai mengeksplorasi tubuhnya dan memasuki fase haus tanya. Jawaban yang diberikan pun harus disesuaikan dengan kondisi serta taraf kecerdasan anak. Orang tua tidak bisa dengan sengaja dalam waktu tertentu memberikan materi pendidikan seks, mesti diberikan secara mengalir, mengikuti suasana hati (mood) sang anak. Ketika anak bertanya, berarti mood-nya sedang siap untuk memahami masalah yang ditanyakan. Pada saat itulah, orang tua harus cepat tanggap dalam menjawab. Pendidikan seks bukan hanya meliputi informasi tentang seputar organ tubuh atau alat-alat reproduksi. Tetapi berkaitan juga dengan masalah cinta, kasih sayang dan moral. Bukan merupakan tindakan yang baik jika orang tua menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah. Jika pendidikan seks diberikan di sekolah, yang harus di cermati tentunya akan membatasi pelajaran pada hal-hal yang berkenaan dengan masalah anatomi dan reproduksi. Akhlak anak yang berkaitan dengan masalah etika, moral, serta tata aturan agama yang melandasinya adalah fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Pendidikan seks yang terbaik adalh yang dilaksanakan didalam keluarga oleh orang tua.
Kendala yang Dihadapi
Aturan yang memisahkan kamar dan tempat tidur anak-anak akan sulit diterapkan pada keluarga yang memiliki banyak anak dan tinggal di rumah yang sangat sempit. Kendala lain yang dihadapi adalah pemahaman  orang tua yang minim terhadap sejumlah pemahaman terhadap seksualitas. Misalnya saja tentang masturbasi yang bisa dimulai dari sejak kanak-kanak sebagai hasil eksplorasi tubuhnya. Saat memegang alat kelaminnya anak-anak akan merasakan suatu kenikmatan, walau tidak disertai dorongan syahwat(libido). Saat melihat hal tersebut, biasanya orang tua langsung memarahi anak sambil mengatakan bahwa ia tidak boleh memengang alat kelaminnya. Dengan tindakan orang tua seperti itu, bias di pastikan sang anak anak merasa bingung dan brtanya-tanya. Artinya tindakan anak memegang alat kelaminnya tersebut tidak bias di anggap sebagai suatu penyimpangan, tetapi sebagai sebuah perkembangan seks yang normal. Tindakan yang seharusnya di lakukan orang tua bukan memarahi anak atau menakuti-nakutinya, melainkan mengalihkan perhatian pada hal-hal lain, sehingga sang anak akan disibukan dengan hal-hal tersebut.
Untuk menghindari kesalahan tindakan yang diterapkan pada anak serta mengantisipasi terjadinya penyimpangan seksual, orang tua mesti memahami apa saja yang termasuk kedalam kategori penyimpangan seksual. Berikut contok penyimpangan seksual:
1.      Homoseks
Adalah cara penyaluran seks terhadap sesama jenis. Bila yang melakukan anatar lelaki di sebut gay, bila yang melakukannya antar perempuan di sebut lesbian. Homoseks lebih disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diperoleh saat anak-anak. Orang tua harus mendidiknya secara proporsional dengan menempatkan anak dalam lingkungan atau pergaulan sesuai dengan posisinya sebagai laki-laki atau perempuan.
2.      Biseksual
Adalah orang yang melakukan hubungan seks dengan lawan jenis (biteroseksual)dan sesame jenis (homo atau lesbian). Dalam istilah keseharian disebut “AC-DC”.            Tak berbeda dengan homoseks, sebagian besar kasus biseksual terjadi karena pengaruh lingkungan.
3.      Masokis
Adalah orang yang menderita kelainan ini adalah dengan sengaja membiarkan atau meminta dirinya disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual. Penyimpangan ini di sebabkan oleh pengaruh pengalaman masa kecil.
4.      Sadis
Merupakan pasangan dari masokisme. Seorang penderita sadomasocis akan merasa puas bila ia menyakiti pasangannya. Kelainan ini biasanya beawal dari suatu kepribadian yang tertekan. Penderita mungkin mempunyai orang tua yang sangat keras dan suka memukul.
5.      Transvestis
Adalah orang yang mendapatkan kepuasan seks bila memakai pakaian lawan jenis. Biasanya di mulai waktu kanak-kanak. Hal ini di sebabkan oleh ketidakpuasan orang tua terhadapa anak yang dilahirkan.
6.      Necrofili
Adalah orang yang memperolrh kepuasan jika  melakukan hubungan seks dengan mayat. Kepribadianya biasanya tertutup, pemalu, pendiam, dan tidak percaya diri.
7.      Exhibitionis
Seorang yang mendapatkan kepuasan seks jika memperlihatkan alat kelaminya kepada orang lain yang tidak ingin melihatnya. Lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita. Penyebab sikap ini adalah perasaan yang ingin mendapat perhatian dari orang lain.
8.      Voyeurus
Mendapatkan kepuasan seks jika melihat orang telanjang. Disebut juga “peeping tom” karena biasanya dikerjakan secara diam-diam dengan cara mengintip. Perbandingan pria dan wanita pengidap voyeur adalah 9:1. Keinginan seseorang untuk melihat tubuh telanjang adalah normal. Abnormal jika melihat tubuh yang telanjang adalah memuaskan daripada bersanggama.
9.      Bestiality
Adalah orang yang mendapatkan kepuasan berhubungan dengan binatang. Kinsey melaporkan bahwa 17% pri yang di besarkan di peternakan mendapatkan orgasme dari bestiality.
10.  Zoovilya
Adalah orang yang mempunyai cinta abnormal terhadap binatang, kadang-kadang tidak dapat dipisahkan dari bestiality.
Contohnya : mendapatkan kepuasan dengan mengelus-elus binatang atau melihat kegiatan seks binatang.
11.  Fetishime
Seseorang mendapatkan kepuasan seksual bila melihat benda-benda tertentu. Biasanya benda atau objek tersebut dipandang, dielus, atau dipakai untuk masturbasi. Biasanya kelainan ini terdapat pada pria.
12.  Frottage
Seseorang yang mendapatkan kepuasan seks dengan meraba orang yang di senangi, biasanya tanpa diketahui korbannya. Kebanyakan terjadi pada seseorang yang pemalu.
13.  Saliromania
Seseorang mendapatkan kepuasan dengan mengganggu atau mengotori badan atau pakaian wanita.  Misalnya menyiramkan tinta.
14.  Gerontoseksuality
Seseorang pemuda yang lebih senang mendapatkan kepuasan seks dari wanita lanjut usia.
15.  Incest
Hubungan seks antara dua orang didalam atau diluar pernikahan dengan keluarga dekat. Sering terjadi karena ekonomi rendah atau pada keluarga broken home.