welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 11 Juni 2013

Karakteristik Evaluasi Pendidikan di Taman Kanak-Kanak



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Karakteristik Evaluasi Pendidikan di Taman Kanak-Kanak
1.      Pengertian dan Tujuan Evaluasi Anak Usia Taman Kanak-Kanak
James E. Johnson (1993) mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses memilih, mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk membuat keputusan. Meskipun terdapat berbagai alasan dilaksanakannya evaluasi, namun tujuan umumnya adalah untuk membuat suatu keputusan. Evaluasi dapat dilakukan untuk memperbaiki program, menghentikan program atau membandingkan program.
Dalam hubungannya dengan penelitian terhadap anak usia TK. The National Association of Early Childhood Specialist (NAEYC, 1991) dalam Beaty (1994) merumuskan tujuan mengevaluasi anak usia TK adalah sebagai berikut :
1.                  Untuk merencanakan pembelajaran individual dan kelompok, serta untuk berkomunikasi dengan para orang tua.
2.                  Untuk mengidentifikasi apakah anak memerlukan bantuan atau layanan khusus.
3.                  Untuk mengevaluasi apakah tujuan program pendidikan TK sudah tercapai atau belum.
Evaluasi secara singkat juga dapat diidentifikasikan sebagai proses pengumpulan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong pendidik untuk mengajar lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik.
Adapun tujuan lain dari proses mengevaluasi di TK :
1.                  Untuk mengetahui ketercapaian, kemampuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
2.                  Untuk merangsang kegiatan anak TK dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
3.                  Untuk mencari keberhasilan atau tidak berhasil dalam proses belajar.
4.                  Untuk memperoleh informasi apakah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan anak.
5.                  Untuk memperolah masukan tentang kekuatan dan kelemahan dari suatu kegiatan belajar sehingga dapat digunakan untuk merencanakan kegiatan balajar berikutnya.
6.                  Untuk mendapat gambaran tentang pola dan gaya interaksi anak dengan orang lain.
2.      Prinsip Evaluasi
Banyak metode, alat dan prosedur untuk menilai perkembangan anak usia TK. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi guru untuk mengetahui dan memahami jenis evaluasi yang tepat untuk diterapkan. Sehubungan dengan hal tersebut, NAEYC dalam Beaty (Masitoh,2000) memberikan pedoman yang dapat dijadikan acuan dalm pelaksanaan evalusasi salama proses pembelajaran di TK oleh guru. Pedoman yang dimaksud ialah :
1.                  Penilaian harus dikaitkan dengan kurikulum, untuk mendapatkan hasil evaluasi yang tepat sasaran dan tidak menyimpang dari tujuan maka pelaksanaan evaluasi harus terkait dengan kurikulum.
2.                  Hasil penilaian harus dimanfaatkan untuk kepentingan anak.
Penilaian bukan sekedar angaka atau ungkapan deskriptif yang tidak bermakna dan tidak memiliki manfaat untuk kemajuan anak itu sendiri. Dalam pelaksanaannya sebaiknya guru memfokuskan pengamatan pada proses sesuatu yang terjadi yang dianggap penting bagi anak, dan sebaiknya guru tidak sekedar menuliskan laporan dalam buku pedoman.
3.                  Penilaian harus mencakup seluruh aspek perkembangan anak.
Perkembangan manusia adalah utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, proses evaluasi diharapkan menyentuh keseluruhan aspek perkembngan anak.
4.                  Penilaian melibatkan observasi yang teratur dan periodik dari anak dalam berbagai keadaan yang menggambarkan tingkah laku anak setiap saat.
5.                  Penilaian didasarkan pada prosedur yang menggambarkan kegitan anak secara khusus dan menolak pendekatan yang menempatkan anak dalam situasi yang dibuat- buat.
6.                  Penilaian menggunakan suatu alat dan prosedur yang tersususun, seperti koleksi karya anak, catatan observasi yang sistematis, catatan percakapan dan wawancara dengan guru- guru lain serta rangkuman kemajuan anak secara individual maupun dalam kelompok.
7.                  Penilaian harus mengakui perbedaan individual anak.
8.                  Penilaian tidak mengabaikan kenyamanan psikologis anak, baik parasaan maupun harga dirinya.
9.                  Penilaian harus mendukung hubungan orang tua dan anak, dan tidak merusak kepercayaan orang tua pada anaknya atas kemampuan yang dimilikinya atau merendahkan bahasa dan kultur keluarga.
10.              Penilaian adalah suatu komponen yang esensial dari peran guru. Guru adalah penilai utama.
11.              Penilaian menunjukan keunggulan dan kemajuan anak. Apakah anak dapat melakukan, dan tidak mengadili jawaban yang salah atau apa yang tidak dapat dilakukan anak atau apa yang tidak diketahui mereka.
12.              Penilaian adalah suatu proses kolaboratif yang melibatkan anak dan guru, guru dan orang tua, sekolah dan masyarakat dan informasi dari penilaian diberikan kepada orang tua dengan bahasa yang dapat dipahami oleh mereka.
13.              Penilaian mendorong anak untuk berpartisipasi dalam menilai dirinya, dan mencatat apa yang dapat dilakukan anak secara mandiri maupun apa yang dapat dilakukan anak dengan bantuan orang lain.
14.              Informasi tentang setiap perkembangan dan belajar anak dikumpulkan dan dicatat secara sistematis untuk merencanakan pembelajaran- pembelajaran serta untuk berkomunikasi dengan orang tua.
15.              Ada suatu proses yang teratur untuk informasi yang dibagikan antara guru dan orang tua tentang pertumbuhan, perkembangan, dan penampilan anak yang memberikan informasi deskriptif yang bermakna dan tidak dalam bentuk angka.
Adapun prinsip prinsip lain dalam dalam mengevaluasi  anak di TK :
1.                  Berpusat pada anak
Penilaian yang dilakukan hendaknya berpusat pada semua aktivitas yang dilakukan oleh anak. Penilaian ini bertugas melakukan pengamatan terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh anak setiap saat, dimana saja dan kapan saja tanpa harus menunggu waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan.
2.                  Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan proses belajar anak didik sebagai hasil kegiatan pembelajaran.
3.                  Menyeluruh/ keterpaduan
Perubahan perilaku yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran perlu dicapai secara menyeluruh baik yang menyangkut pengetahuan, sikap, perilaku, nilai, serta keterampilan. Penilaian bersifat menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup aspek proses dan hasil pengembangan yang secara bertahap menggambarkan perubahan perilaku.
4.                  Lebih mementingkan proses daripada hasil
Penil;aian pada anak sebaiknya lebih mementingkan pada pengamatan yang dilakukan selama proses yang berlangsung dan bukan pada hasil akhirnya saja.   Penilaian yang paling baik dilakukan saat anak melakuakan aktivitas belajar dan bermain. Untuk itu penilaian tidak selalu menggunakan “paper and pencil test”, tetapi lebih kepada pengamatan secara langsung terhadap aktivitas anak.
5.                  Berorientasi pada tujuan
Penilaian di TK berorientasi pada kompetensi yang diharapkan, proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
6.                  Objektif dan alamiah
Dalam melakukan penilaian diusahakan seobjektif mungkin, yaitu penilaian yang memperhatikan objeknya. Perasaan- perasaan, keinginan- keinginan dan prasangka- prasangka penilaian sedapat mungkin harus dikesampingkan pada saat menilai. Penilaian juga harus memperhatikan perbedaan-  perbedaan dan keunikan perkembangan setiap anak sehingga penilaian tidak memberikan penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama pada anak.
7.                  Mendidik
Hasil penilaian harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada semua anak dalam meningkatkan hasil pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi anak yang belum berhasil. Dengan demikian, usaha penilaian dapat memperkuat perilaku dan sikap yang positif.
8.                  Konsisten dan jujur
Penilaian yang dilakukan oleh lebih dari dua orang penilai akan lebih dapat dipertanggungjawabkan ketika membuat rekomendasi atau menentukan tindak lanjut.
9.                  Kebermaknaan
Hasil penilaian harus bermakna bagi guru, orang tua, anak didik dan pihak- pihak lain yang membutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
10.              Kesesuaian
Penilaian harus memperhatikan adanya kesesuaian antara apa yang diajarkan di Tk dengan laporan yang dibuat.
B.     Teknik Evaluasi di Taman Kanak-kanak
1.      Observasi
Observasi atau pengamatan adalah proses memperhatikan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan atau melakukan permainan, tanpa mencampuri kegiatan anak tersebut. Pengamatan seorang guru haruslah peka, terperinci, dan deskriptif. Terutama dalam mengungkap perkembangan sosial emosional anak. Sebagian besar anak-anak belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan dan memahami perasaan dan pikirannya sendiri. Anak-anak sering kali mengungkapkan perasaannya melalui perbuatan. Berkenaan dengan hal ini Cohen dan Stern (dalam CRI, 2000) mengungkapkan sebagai berikut.
                Anak-anak berkomunikasi dengan kita melalui mata mereka, kualitas suara mereka, sikap tubuh mereka, gerak isyarat mereka, kelakuan mereka, senyum mereka, lompat-lompatan mereka, kelesuan mereka. Mereka menunjukkan kepada kita, melalui perbuatan mereka, dan juga melalui apa yang mereka buat, apa yang terjadi dalam diri mereka. Ketika kita dapat menyelami arti dari perilaku anak-anak secara menyeluruh, kita berada di jalur yang benar dalam proses memahami mereka. Catatan guru tentang cara-cara mereka berkomunikasi akan membantu dalam melihat mereka sebagaimana mereka apa adanya.
Lebih lanjut Beaty (1994) mengemukakan bahwa observasi harus didasarkan pada kebaikan, kekuatan atau keunggulan yang diperlihatkan anak untuk membantu perkembangannya, bukan ditekankan pada kesalahan yang dilakukan anak. Observasi harus dilakukan dalam situasi natural atau tidak dibuat-buat (artificial).
Gambar 10.1 adalah salah satu contoh pedoman observasi untuk memantau perkembangan sosial emosional anak TK yang dapat dipergunakan guru.
2.      Catatan Anekdot
Adalah proses mendokumentasikan kegiatan atau perilaku yang teramati berupa catatan ringkas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Patmonodewo (1993) yang mengatakan bahwa catatan anekdot atau anecdotal record adalah kumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak yang khusus, baik secara positif maupun negatif.
Catatan anekdot dilakukan berdasarkan pengamatan sepintas dan ditulis lebih singkat dibandingkan laporan deskriptif. Hasil pengamatan guru dapat dituangkan ke dalam tiga atau empat kalimat, dan hanya perlu menyisipkan catatan yang diingatnya saja. Catatan anekdot jenis ini sangat membantu guru dalam memahami bagaimana proses tingkah laku bermula, bagaimana perkembangan tingkah laku tersebut dan bagaimana akhirnya.
Pedoman Observasi Perkembangan Sosial Emosional Anak
3.      Daftar Checklist
Daftar Checklist merupakan cara yang cepat dan mudah untuk mengukur keberadaan tingkah laku khusus anak. Daftar Checklist juga dapat dipergunakan sebagai suatu cara untuk mendokumentasikan kejadian penting tertentu yang sehubungan dengan perkembangan anak atau sebuah tujuan atau sasaran instruksional. Daftar Checklist ini sangat berguna bagi guru yang ingin mengetahui berapa kali dalam seminggu Ujang memukul temannya, berapa kali dewi menangis atau berapa kali Ratna meminta pertolongan guru.
Adapun contoh daftar checklist yang dapat digunakan guru untuk memantau perkembangan sosial emosional anak, seperti berikut.
Alat Penilai Perkembangan Sosial Emosional
Untuk usia 3-6 tahun


































4.      Analisis Gambar Anak
Dalam mengevaluasi gambar anak, guru dapat melakukannya dengan cara mengumpulkan gambar-gambar anak yang pernah dibuat, dan melihat perkembangan dari hari kehari.
Cara lain adalah dengan cara anakdiminta mneggambar tema tertentu, misalnya menggambar tentang keluarga, kemudian guru meminta anak untuk menceritakan gambar tersebut. Karya yang dihasilkan oleh anak adalah sebuah gambar yang memberikan makna pada guru tentang kemampuan perkembangan motorik halus anak dan daya tangkap anak serta perkembangannya.
Dalam gambar tersebut guru dapat mengetahui bagaiman perasaan anak terhadap anggota keluarga, bagaimana anak memahami hubungan anggota keluarga satu sama lainnya, bagaimana anak menggunakan ruang dan kesadarannya secara  detail (rinci). Melalui gambar anak, guru ataupun pengamat pendidikan lainnya akan mempelajari banyak hal tentang bagaimana proses berpikiranak, apa yang diketahui anak tersebut, bagaimana ia mengatur atau mengorganisasikan informasi tersebut, serta bagaimana ia menghubungkannya dengan guru ketika ia melakukan respons (tanggapan) khusus terhadap pertanyaan yang diajukan.
Selain itu, melalui gamabar yang dibuat anak, guru dapat melakukan analisis dan menemukan permasalahan-permasalahan sosial emosioanal yang terjadi dalam diri anak yang tercermin dalam produk gambat yang dibuatnya.







Judul Gambar : Gajah
5.      Analisis Foto, Vcd, dan Audiotape
Dengan metode ini guru akan mendapatkan informasi yang sangat menarik dan bermanfaat berdasarkan data-data visual.
Pada awal tahun ajaran baru, guru mengambil foto anak-anak dari berbagai sudut kekhasan anak. Guru juga dapat mengambil gambar interaksi mereka dengan menggunakan handy camera. Dalam bentuk ausio guru pun dapat merekam suara anak, saat diwawancarai pertama kali bertemu. Dan diakhir tahun ajaran, guru dapat melakukan pengambilan foto kembali, merekam aktivitas anak melalui handycame dan merekam suara mereka kembali.
Demgan dua aktivitas ini, guru dapat membedakan melihat secara jelas perubahan apa yang tampak dalam perkembangan sosial emosional mereka, dan anak-anak pun dapat dilibatkan untuk mengevaluasikan diri mereka sendiri, dengan cara membandingkan foto mereka diawal dan diakhir tahun ajaran.
Dokumentasi Anak di Tahun Ajaran Baru
6.      Percakapan Atau Wawancara dengan Anak
Patmonodewo (1998) mengatakan bahwa percakapan adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap-cakap atau wawancara antara anak dengan guru baik didalam kelas maupun diluar kelas. Percakapan atau wawncara dengan anak merupakan suatu cara pengumpulan informasi yang diperoleh secara langsung dari anak. Anak menyadari bahwa anda sebagai guru tertarik pada cara mereka berpikir dan merasakan emosi.
            Percakapan sebagai metode penilaian terdiri dari dua kategori, yaitu :
1.             Penilaian percakapan yang terstruktur artinya, percakapan ini dilakukan dengan sengaja oleh guru dengan menggunakan waktu khusus dan pedoman khusus walaupun sederhana.
2.             Penilaian percakapan tidak terstruktur artinya, percakapan yang dilakukan antarra guru dan anak tanpa direncanakan secara khusus, di mana saja, kapan saja dalam situsi informal.
Wawancara dengan anak dapat dberjalan dengan baik selama anak merasa nyaman untuk bercerita, dilakukan dengan santai dan terdapat banyak waktu dan ruang bagi anak untuk bebas berekspresi.