welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 11 Juni 2013

MEMBACA DAN MENYIMAK PADA ANAK USIA DINI




PERKEMBANGAN  MEMBACA DAN MENYIMAK

Kajian tentang perkembangan memnbaca dan menyimak merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa reseptif dalam membentuk arti. Kajian tentang perkembangan membaca pada anak tidak terlepas dari kenyataan adanya perbedaan kecepatan dalam membaca, maupun kualitas dan kuantitas anak dalam menghasilkan bahasa. Anak yang satu lebih cepat, lebih luwes, ataupun lebih lambat dari yang lain. Kajian tentang perkembangan menyimak pada anak berkaitan dengan suatu proses yang dilakukan anak sehingga anak memiliki kesanggupan dalam menengkap isi pesan secara benar dari orang lain.
Kemampuan membaca dan menyimak sangat berkaitan satu sama lain. Beberapa peneliti yaitu Mulholland dan Neville (dalam Bromley, 1991) menguangkapkan bahwa terdapat saling ketergantungan antara membaca dan menyimak pada anak hingga usia minimal 14 tahun. kemampuan membaca dan menyimak melibatkan proses kognitif yang aktif yang memerlukan kemampuan berpikir kritis. Hal ini terjadi ketika anak yang membaca maupun menyimak, memeriksa dan memproses tentang kebermaknaan informasi yang mereka terima. Dalam proses tersebut anak berusaha memahami dan mengonstruksi arti dari informasi dan pengetahuan yang telah mereka peroleh sebelumnya.
Menurut konsep Piaget anak melakukan kegiatan menulis sebelum mereka membaca. Clay (dalam Wolfgang, 1999), mengembangkan konsep print test (tes tertulis) yang terstandarisasi yang dapat dilakukan guru terhadap anak secara individual dengan menggunakan sebuah buku kecil anak berjudul sand (pasir). Dengan buku tersebut anak dites pemahamannya tentang kesiapan membaca. Melalui tes tersebut pengetahuan anak tentang hal-hal berikut akan diketahui: sampul buku, perbedaan antara ilustrasi (simbol) dengan tanda (tulisan), tulisan yang menerangkan cerita tersebut, apa yang dimaksud dengan huruf, kata, huruf pertama dalam kata, fungsi spasi, dan penggunaan tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya dan tanda kutip.
Kemampuan menyimak merupakan kemampuan anak untuk dapat menghayati lingkungan sekitarnya dan mendengar pendapat orang lain dengan indera pendengaran. Kemampuan ini terkait dengan kesanggupan anak dalam mengangkap isi pesan secara benar dari orang lain.



A.      PERKEMBANGAN MEMBACA
Raines dan Canad (1990) berpendapat bahwa proses membaca bukanlah kegiatan menerjemahkan kata demi kata untuk memahami arti yang terdapat dalam membaca.  Guru yang memahami konsep whole language akan memandang bahwa kegiatan membaca merupakan suatu proses mengonstruksi arti dimana terdapat interaksi antara tulisan yang dibaca anak dengan pengalaman yang pernah diperolehnya. Tahap pertama dalam membaca adalah dengan melihat tulisan dan memprediksinya artinya. Tahap kedua adalah memastikan arti tulisan  yang dipredikasi sebelumnya sehingga diperoleh keputusan untuk melanjutkan bacaan berikutnya meskipun terdapat kemungkinan kesalahan dalam memprediksi. Tahap ketiga adalah mengintegrasikan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Dengan demikian, pemahaman tentang bacaan dapat diperoleh setelah anak membaca seluruh teks. Tingkat pemahaman anak dalam membaca sangat dipengaruhi oleh kualitas prediksi, contoh tulisan, dan pengetahuan anak.
Berdasarkan beberapa penelitian (Goodman, Harse et al., Smith, Taylor, Teale and Sulzby, dalam Raines dan Canad, 1990), perkembangan membac awal merupakan proses interaktif di mana anak adalah peserta aktif.
Perkembangan membaca anak berlangsung dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
1.    Tahap Fantasi (Magical Stage). Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, melihat dan membalik lembaran buku ataupun membawa buku kesukaannya.
2.    Tahap Pembentukan Konsep diri (Self Concept Stage). Pada tahap ini anak mulai memandang dirinya sebagai “pembaca” dimana terlihat keterlibatan anak dalam kegiatan membaca, berpura-pura membaca buku, memaknai gambar berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya, dan menggunakan   bahasa baku yang tidak sesuai dengan tulisan.
3.    Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage). Pada tahap ini pada diri anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku dan menemukan kata yang pernah ditemui sebelumnya, dapat mengungkapkan kata-kata yang bermakna dan berhubungan dengan dirinya, sudah mengenal tulisan kata-kata puisi, lagu, dan sudah mengenal abjad.
4.    Tahap pengenalan bacaan (Take Off Reader Stage). Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponik, semantik, dan sintaksis). Anak mulai tertarik pada bacaan, dapat mengingat tulisan dalam konteks tertentu, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan, serta membaca berbagai tanda seperti pada papan iklan, kotak susu, pasta gigi dan lainnya.
5.    Tahap membaca lancar (independent reader stage). Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku.

B.     PERKEMBANGAN MENYIMAK
Kemampuan menyimak sebagai salah satu kemampuan berbahasa awal yang harus dikembangkan, memerlukan kemampuan bahasa reseptif dan pengalaman, dimana anak sebagai penyimak secara aktif memproses dan memahami apa yang di dengar.
Perkembangan kemampuan menyimak pada anak berkaitan erat satu sama lain dengan keterampilan berbahasa khususnya berbicara. Anak yang berkembang ketrampilan menyimaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan ketrampilan berbicaranya. Kedua ketrampilan berbahasa tersebut merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang bersifat langsung dan dapat merupakan komunikasi yang bersifat tatap muka (Brooks, dalam Tarigan, 1986).
Kemampuan menyimak melibatkan proses mengintegrasikan dan menerjemahkan suara yang didengar sehingga memliki arti tertentu. Kemampuan ini melibatkan proses kognitif yang memerlukan perhatian dan konsentrasi dalam rangka memahami arti informasi yang disampaikan. Sebagian besar anak dapat menyimak informasi dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuannya dalam membaca.
Kemampuan menyimak sebagai salah satu ketrampilan berbahasa reseptif melibatkan beberapa faktor sebagai berikut:
1.      Acuity, yaitu kesadaran akan adanya suara yang diterima oleh telinga, misalnya mendengar suara anaklain yang sedang bermain, mendengar suara mesin tik dan sebagainya.
2.      Auditory discrimination, yaitu kemampuan membedakan persamaan dan perbedaan suara atau bunyi.
3.      Auding, yaitu suatu proses dimana terdapat asosiasi antara arti dengan pesan yang diungkapkan. Proses ini melibatkan pemahaman terhadap isi dan maksud kata-kata yang diungkapkan. Auding melibatkan aspek perkembangan semantik dan sibntaksis. Dengan memahami semantik, berarti anak memiliki pengetahuan tentang berbagai arti kata, sedangkan sintaksis berkaitan dengan pemahaman anak terhadap aturan dan fungsi kata.

Bromley (1991) mengemukakan bahwa proses menyimak aktif terjadi ketika anak sebagai penyimak menggunakan auditory discrimation dan acuity dalam mengidentifikasikansuara-suara dan berbagai kata, kemudian menerjemahkan menjadi kata yang bermakna melalui auding atau pemahaman. Menyimak aktif bukanlah  sekedar menerjemahkan pesan pembicara, namun terlibat sebagai peserta aktif dengan mendengarkan, mengidentifikasikan, dan mengasosiasikan arti dengan suara bahasa yang disampaikan.
Bromley menjelaskan beberapa jenis faktor yang mempengaruhi terhadap kemampuan menyimak anak yaitu:
a)        Faktor penyimak
b)        Faktor situasi
c)        Faktor pembicara

Faktor penyimak berkaitan erat dengan tujuan, tingkat pemahaman, pengalaman, dan strategi anak dalam memonitor pemahaman mereka terhadap informasi yang disampaikan. Anak yang tidak memiliki motivasi atau alasan kuat untuk menyimak informasi, seringkalimengalami masalah dalam memahami informasi tersebut. Dalam hal ini, untuk meningkatkan kemampuan menyimak anak, guru perlu menjelaskan tujuan dan manfaat menyimak, memberikan motivasi pada anak untuk mengidentifikasikan kejadian ataua hal-hal khusus dalam cerita yang disampaikan. Anak yang memiliki banyak pemahaman dan pengalaman dalam belajar menyimak secara langsung, memiliki kemampuan memahami informasi secara lebih efektif dibandingkan dengan anak yang memiliki keterbatasan pengalaman dalam menyimak. Anak yang terlibat secara aktif dalam menyimak, juga aktif terlibat dalam mengonstruksi arti informasi yang diberikan. Mereka akan memonitor pemahaman mereka akan informasi yang diperoleh dengan berbagai cara, mengasosiasikan informasi baru dengan informasi yang telah mereka terima sebelumnya, menanyakan tentang ketepatan informasi yang mereka peroleh, dengan mengulang maupuan menanyakan informasi yang telah diberikan dengan menggunakan kata-kata mereka sendiri.
Faktor situasi berkaitan erat dengan lingkungan sekitar anak dan stimulasi visual yang diberikan. Lingkungan yang kondusif bagianak untuk menyimak adalah lingkungan yang bebas dari berbagai ganguan termasuk suara atau bunyi-bunyian. Dengan situasi ruangan yang tenang anak dapat memusatkann perhatiannya pada informasi yang diberikan. Stimulus visual seperti papan tulis, gambar, diagram, maupun overhead projector dapat digunakan guru untuk membantu anak memahami materi yang diberikan.
Faktor pembicara juga berperan penting terhadap kegiatan menyimak pada anak. Guru perlu mengkomunikasikan pesan dengan berbagai cara sehingga anak dapat menyimak secara efektif. Pesan yang disampaikan juga perlu diperkuat dengan gerakan, espresi wajah, bahasa tubuh, dan paraphrase (mengulang pesan secara verbal dengan menggunakan bahasa yang berbeda). Adanya kontak mata antara pembicara dan penyimak juga turut berpengaruhi terhadap keefektifan menyimak. Anak akan lebih mudah menangkap dan menghargai informasi yang disapaikanjika pembicara melakukan kontak mata terhadap mereka.
Bromley menjelaskan fungsi menyimak pada anak sebagai berikut:
1)        Memberikan kesempatan pada anak untuk mengapresikan dan menikmati lingkungan sekitar mereka.
2)        Membantu anak memahami keinginan dan kebutuhan mereka sehubungan dengan kebutuhannya untuk bersosialisasi.
3)        Mengubah dan mengontrol perilaku maupun sikap pembicara, dimana cara menyampaikan pesan akan berdampak pada isi dan bentuk pesan yang diterima.
4)        Membantu perkembangan kognitif anak, melalui belajar menerima informasi dan mendapatkan pengetahuan baru.
5)        Memberikan pengalaman pada anak untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
6)        Membantu anak mengekspresikan keunikan dirinya sebagai individu yang berpikir dan memperhatikan orang lain.






PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Ø  memnbaca dan menyimak merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa reseptif dalam membentuk arti. memnbaca dan menyimak merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa reseptif dalam membentuk arti.
Ø  Kemampuan menyimak merupakan kemampuan anak untuk dapat menghayati lingkungan sekitarnya dan mendengar pendapat orang lain dengan indera pendengaran. Kemampuan ini terkait dengan kesanggupan anak dalam mengangkap isi pesan secara benar dari orang lain
Ø  Perkembangan membaca anak berlangsung dalam beberapa tahapan sebagai berikut:
·      Tahap Fantasi (Magical Stage).
·      Tahap Pembentukan Konsep diri (Self Concept Stage).
·      Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage).
·      Tahap pengenalan bacaan (Take Off Reader Stage).
·      Tahap membaca lancar (independent reader stage).
Ø  Kemampuan menyimak sebagai salah satu ketrampilan berbahasa reseptif melibatkan beberapa faktor sebagai berikut:
·         Acuity
·         Auditory discrimination
·         Auding,
Ø  Bromley menjelaskan beberapa jenis faktor yang mempengaruhi terhadap kemampuan menyimak anak yaitu:
·         Faktor penyimak
·         Faktor situasi
·         Faktor pembicara

2.      SARAN
Ø     Anak harus diajarkan membaca dan menyimak karna memadukan pembelajaran membaca dan menyimak tidaklah sukar. Misalnya anak disuruh membacakan sebuah wacana yang harus dipahami orang lain, kemudian siswa yang lain menyimak. Guru memberikan waktu berfikir untuk anak mengingat kembali apa yang dibacakan temannya tadi dan meminta mereka menceritakan kembali isi wacana tersebut.dengan begitu anak tidak hanya pandai membaca tetapi mereka juga memahami apa yang dibacanya sehingga mereka dapat menyimpulkan, memahami serta mengerti isi bacaan tersebut.