welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Selasa, 11 Juni 2013

Konsep Belajar dan Prinsip – Prinsip belajar Anak



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Konsep Belajar dan Prinsip – Prinsip belajar anak
Menurut pandangan behaviorisme, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (messurable). Pendekatan kognitif berpendapat bahwa belajar adalah sebagai perubahan perkembangan. Menurut pandangan konstruktivisme anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Anak membangun pengetahuannya ketika mereka bermain.De Vries(2000). Aliran ini banyak mewarnai tentag konsep belajar anak, dan menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses belajar, belajar menyenangkan bagi anak, alami, melalui bermain dan memberi kesempatan pada anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut pendekatan high/scope, anak memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan belajar harus dapat mendukung aktifitas belajar.
Belajar adalah proses perubahan perilaku berdasarkan pengalaman dan latihan.S.Nasution(1985)
Dari pengertian tersebut dapat dicermati bahwa unsur – unsur belajar tersebut adalah
  1. Proses/ kegiatan
Dalam belajar akan terjadi proses atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang belajar apakah kegiatan belajar didalam kelas atau kegiatan diluar kelas. Berbagai kegiatan yang dilakukan ketika belajar tentunya tidak hanya melibatkan fisik tetapi juga melibatkan mental dan emosional.
  1. Pengalaman
Ketika belajar, individu yang sedang belajar melakukan interaksi dengan lingkungan belajar. Lingkungan belajar bukan hanya lingkungan fisik tetapi lingkungan sosial. Contoh lingkungan fisik : lingkungan sekitar, area belajar, media dan sumber belajar. Lingkungan sosial meliputi: guru, anak – anak lainnya, orang dewasa. Dari hasil interaksi antara anak dengan lingkungan belajar maka akan menimbulka pengalaman belajar.
Menurut Janice Beaty (1995) lingkungan belajar anak harus terbebas dari hal – hal yang membuat anak mejadi stress. Selain lingkungan belajar yang menyenangkan perlu pula diperhatikan keselamatan anak.
  1. Perubahan perilaku
Perubahan perilaku merupakan hasi belajar. Setelah seseorang belajar maka akn berubah perilakunya baik pengetahuan sikap maupun keterampilan. Perubahan perilaku tersebut meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Untuk anak – anak TK selain  ketiga aspek tersebut juga anak harus dapat melakuakn tugas – tugas perkembangan dengan baik. Karna pada setiap aspek perkembangan anak harus dapat menghasilkan atau meningkatkan perkembangan dan hasil belajarnya.
Berikut ini adalah contoh perkembangan dan hasil belajarnya:
a.       Dalam perkembangan sosial personal dan emosional anak dapat :
1)      Peduli terhadap dirinya sendiri dan keselamatan dirinya
2)      Mengembangkan kemandiriannya
3)      Bermain secara lebih kooperatif
4)      Menyadari dan menghargai kebutuhan dan perasaan orang lain danbelajar mematuhi aturan
b.      Dalam bahasa dan komunikasi anak harus dapat:
1)      Memiliki kelucuan bahasa dan membuat cerita
2)      Menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan seperti menjelaskan, menjawab pertanyaan dan mengembangkan gagasan
3)      Berpatisipasi dalam percakapan
4)      Mengekspresikan kebutuhan dan perasaanya secara tepat dan sebagainya.



c.       Dalam perkembangan kognitif anak harus dapat :
1)      Memahami dan menggunakan proses matematik seperti mencocokkan, memilih, mengelompokkan, menghitung dan mengukur.
2)      Mengembangkan pengetahuannya untuk mengamati dan menggunakan perasaannya
3)      Memilih dan mengkatagorisasian benda – benda dalam kelompok dan sebagainya
d.      Dalam perkembangan fisik anak harus dapat
1)      Berlari, melempar,melompat, menangkap dan lain – lain
2)      Mengembangkan kesadaran terhadap tempat
3)      Menyenangi kegiatan – kegiatan yang energetik
4)      Mengembangkan peningkatan kontrol dan gerak terhadap  jari dan tangannya
  1. Prinsip – Prinsip Belajar Anak
Prinsip belajar merupakan ketentuan hukum yang harus dijadikan pegangan  didalam pelaksanaan kegiatan belajar. Sebagai suatu hukum prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar. Djadja Djadjuri  (1997) mengemukakan bahwa belajar anak berbeda dengan belajar orang dewasa karena anak belajar setiap saat. Prinsip – prinsip belajar anak akan memberikan implikasi terhadap tugas guru. Berikut ini adalah prinsip – prinsip belajar anak:
1.      Anak adalah Pebelajar Aktif
Ketika kita mengatakan anak aktif, yang penting yang perlu kita pahami adalah sifat – sifat multi dimensional dari aktivitas anak tersebut. Pertama, ketika mereka bergerak mereka mencari stimulasi yang dapat meningkatkan kesempatan anak untuk belajar. Kedua, anak menggunakan seluruh tubuhnya sebagai alat untuk belajar dan meibatkan semua alat indranya. Ketiga, anak adalah peserta yang aktif dalam mencari pengalamannya sendiri.


2.      Belajar Anak dipengaruhi oleh kematangan
Kematangan merupakan suatu masa dimana pertumbuhan dan perkembangan mencapai titik kulminasi untuk melaksanakan tugas perkembangan tertentu. Kematangan yang dicapai oleh setiap individu pada prinsipnya berbeda. Implikasinya terhadap guru adalah guru harus memahami bagaimana kematangan anak itu dapat dicapai, dan menetapkan apa yang harus dilakukan dalam memfasilitasi kematangan tersebut. Belajar anak akan lebih baik jika anak telah memiliki kematanga.
3.      Belajar Anak dipengaruhi oleh lingkungan
Anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan tidak hanya dari kematangan, tetapi lingkungan memberikan kontribusi yang sangat berarti dan sangat mendukung proses belajar anak. Anak akan belajar dengan baik apabila merasa aman dan nyaman secara psikologis. Bredecamp & Cople (1997), mengemukakan bahwa “lingkungan harus memungkinkan anak dapat melakukan proses belajar. Lingkungan tersebut bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan psikologis” agar belajar anak optimal, maka diperlukan lingkungan yang dapat menstimulasi anak untuk melakukan berbagai aktivitas sehingga anak dapat mengembangkan pemahaman barunya melalui mengamati atau berpartisipasi dengan guru dengan anak – anak lainnya atau dengan orang dewasa lainnya.
4.      Anak belajar melalui kombinasi pengalaman fisik dan interaksi sosial
Pengalaman fisik adalah pengalaman yang diperoleh anak melalui pengindraan terhadap objek – objek yang ada dilingkungan sekitar anak melalui memanipulasi langsung, mendengar, melihat, meraba, merasa, menyentuh serta melakukan dengan benda – benda yang ada di lingkungan anak. Dengan kegiatan tersebut anak – anak akan memperoleh pengetahuan tentang benda – benda, bagaimana benda itu bekerja dan anak mencari hubungan antara benda satu dengan benda lain.
Menurut Vigotsky ketika anak bermain dan berkata dengan kelompok atau dengan guru dan dengan orang dewasa lainnya, mereka mengembangkan, mengubah, menafsirkan ide – idenya.
5.      Anak belajar dengan gaya yang berbeda
Menurut Kovake (1991) bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada yang bertipe auditif, ada yang tipe visual atau kinestetik. Contoh anak yang tipe visual, akan merespon sesuatu secara lebih baik terhadap apa yang mereka lihat. Anak yang tipe auditif, ia akan merespon lebih baik terhadap apa yang mereka dengar. Gaya belajar anak yang kinestetik adalah yang selalu harus bergerak  dan secara terus menerus menyentuh benda untuk mendapatkan konsep.
6.      Anak belajar melalui bermain
Menurut Spodel dalam Kostelnik (1995)”bermain diartikan sebagai suatu yang fundamental, karna melalui bermain anak memperoleh dan memproses informasi, belajar tentang hal – hal baru dan melatih keterampilan yang sudah ada. Melalui bermain anak dapat memahami menciptakan dan memanipulasi simbol – simbol dan melakukan percobaan dengan peran – peran sosial.
  1. Variable Strategi Pembelajaran
Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem karena terdiri dari komponen – komponen yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Komponen – komponen tersebut melputi : tujuan, bahan, strategi pembelajaran dan sumber, siswa dan guru. Komponen – komponen tersebut tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling berhubunga dan saling ketergantungansehingga memiliki efek sinergestik (terpadu).
Dalam memilih strategi pembelajaran anda perlu memperhatikan komponen – komponen tersebut yaitu : tujuan, bahan (tema), kegiatan, media sumber, anak dan guru. Komponen – komponen tersebut kita sebut dengan variabel strategi pembelajaran.

  1. Karakteristik Tujuan
Karakteristik tujuan di taman kanak – kanak adalah tujuan yang berkaitan dengan bidang – bidang pengembangan yaitu : perkembangan kognitif, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan sikap dan nilai, pengembangan kreativitas.
Untuk mengembangkan kognitif anak diperlukan strategi yang dapat menumbuhkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, menyimpulkan. Contoh yang dapat dilakukan anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir adalah memahami dan mengeksplorasi lingkungan sekitar, mengenal orang, objek dan benda – benda yang ada, memahami tubuh dan perasaannya sendiri.
Untuk meningkatkan pengembangan kreativitas anak, strategi yang dapat dipertimbangkan oleh guru adalah strategi yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi anak, mampu mencari dan menemukan jawaban dan menemukan hubungan – hubungan baru.
Untuk mengembangkan kemampuan yang berkaitan dengan kemampua bahasa anak guru dapat memilih strategi yang dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis permulaan dan kemampua berkomunikasi.
Untuk mengembangkan emosi anak guru dapat memilih dan menggunakan strategi yang dapat menggerakkan anak untuk dapat mengekspresikan perasaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan  secara verbal dan tepat, memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain.
Untuk mengembangkan motorik, guru dapat menggunakan strategi yang memungkinkan anak dapat melakukan kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani yang menantang bagi anak tetapi tidak membahayakan.
Untuk mengembangkan kemampuan sikap dan nilai – nilai guru dapat menggunakan strategi yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan – kebiasaan yang dilandasi oleh moral dan agama. Memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan anak menghargai dan mencintai lingkungan.
  1. Materi / Tema
Materi pembelajaran di TK tentunya dengan pendekatan tematik yang tersusun dalam tema – tema yang ada dilingkungan anak dan sesuai denga minat anak. Setiap tema tentunya memiliki strategi yang harus disesuaikan dengan karakteristiktema tersebut. Contoh : untuk mengajarkan tema Gejala Alam dengan sub tema : Banjir, dengan sub tema ini apabila didaerah dekat TK tersebut ada banjir, asal tidk membahayakan, guru dapat memilih strategi yang memungkinkan anak memperoleh pengalama langsung yaitu membawa anak melihat daerah banjir. Selesai kunjungan dari tempat banjir anak secara individual diminta untuk menceritakan tentang pengalamannya ketika mereka berkunjung kedaerah banjir.
  1. Kegiatan
Kegiatan merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran. Kegiatan belajar didalam kelas dan kegiatan belajar diluar kelas tentunya berbeda. Menurut Gordon & Browne dalam Moeslichatoen (1996) ada kegiatan yang cocok apabila dilakukan dalam dikelas, tetapi disamping itu juga ada kegiatan yang hanya cocok dilakukan diluar kelas.
Contoh kegiatan didalam kelas :
a.       Pengembagan kreativitas
b.      Bermain dengan balok – balok kecil
c.       Bermain dengan alat diatas meja
d.      Bermain drama
e.       Pengembangan bahasa
f.       Pengembangan pengetahuan matematika
g.      Musik
Contoh kegiatan diluar kelas :
1.      Menggunakan peralatan memanjat
2.      Menggunakan peralatan ayunan
3.      Menggunakan pasir dan air
4.      Dengan balok – balok besar
5.      Pengemangan pengetahuan alam
6.      Musik
  1. Anak
Anak adalah individu yang unik, dimana anak selalu ingin bergerak, memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat, memiliki potensi untuk belajar dan mampu mengekspresikan diri secara kreatif. Anak akan selalu bergerak dan melibatkan otot kasarnya misalnya: berlari, berjalan, melompat, melempar, merayap, merangkak dan melakukan aktivitas fisik lainnya. Selain menggunakan kegiatan fisik, anak juga memiliki dorongan yang kuat untuk mengenal lingkungan, alam sekitar, lingkungan sosial secara lebih baik. “ anak ingin memahami segala sesuatu yang dilihatdan didengar”(Hidlebrand dalam Moeslihatun,1996).
Dengan melibatkan alat indranya anak akan menemukan sesuatu melalui melihat, mendengar, meraba, merasa, mencium, memanipulasi, mengeksplorasi, menyelidiki. Anak akan menemukan konsep, hubungan, menambah perbendaharaan kata, ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Curovsky dalam Maxim (1984), antara rentang usia dua sampai empat tahun ada suatu masa yang disebut dengan linguistik genius, dimana anak senang dengan kata – kata, menggunakan kata – kata dengan bebas, anak senang bermain dengan bahasa, bereksperimen dengan bahasa.
  1. Media dan Sumber  Belajar
Media dan sumber belajar merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media dan sumber belajar. Media dan sumber belajar di TK adalah peralatan yang dapat mendukung perkembangan fisik motorik, sosial, emosi, kognitif, kreativitas dan bahasa. Media dan sumber belajar tersedia pada area – area belajar atau objek langsung yang ada dilingkungan anak. Area – area yang harus ada adalah : area pasir dan air, area balok, area rumah atau area bermain drama, area seni, area manipulatif, area membaca dan menulis, area pertukangan kayu, area musik dan gerak, area komputer, area memasak.
  1. Guru
Guru merupakan motor dalam melaksanakan pembelajaran di Taman Kanak – kanak. Kepiawaian guru memilih dan menggunakan strategi pembelajaran akan sangat menentukan keberhasilan belajar anak.guru TK harus mampu memilih dan menggunakan strategi yang memungkinkan anak belajar dan berkembang, menyenangkan bagi anak, anak dapat melibatkan seluruh indranya, sehingga belajar anak menjadi bermakna.
  1. PERMAINAN BALOK
Anak – anak Bermain : Pusat Kegiatan Permainan Balok
Dipusat permainan balok, anak – anak bermain baik sendiri – sendiri maupun secara berkelompok menggunakan balok dengan berbagai bentuk serta ukuran. Secara alami anak – anak dipancing untuk datang ketempat ini karna sangat aktif, menyenagkan dan kreatif. Permainan balok sangat penting bagi perkembangan anak diberbagai bidang termasuk bahas a, kemampuan sosial, pengetahuan kemampuan matematika, kemampuan motorik dan kemampuan dan kemampuan dalam pembelajaran sosialnya.
Pusat permainan kotak – kotak tersebut membiarkan anak membangun bangunan – bangunan, mempelajari tentang ketinggian dan masa, mengenali bentuk, bekerja sama, meningkatkan koordinasi mata – tangan dan belajar bagaimaa membersihkan dan menyimpan segala sesuatunya kembali.
  1. Tahap – tahap pembuatan bangunan
a.       Membawa, balok dibawa berkeliling dan tidak digunakan untuk membangun. Kegiatan ini dilakukan anak – anak yang masih sangat muda.
b.      Baris, anak – anak membuat baris horizontal melintangi lantai atau dalam baris vertikal.
c.       Menjembatani, anak – anak menghubungkan dua kotak dengan jarak diantaranya dengan menambahkan kotak yang ketiga
d.      Penutupan, anak – anak terkadang meletakan balok sebagai cara untukmenutupi sebuah ruanga. Menjembatani dan menutupi adalah termasuk masalah – masalah teknis bangunan yang masih awal yang dipecahkan anak. Kemampuan membangun ini kemudian berkembang setelah anak tersebut terbiasa menggunakan balok tersebut.
  1. Pola – pola hiasan, ketika anak – anak telah mendapatkan lebih banyak lagi kemampuan dengan menggunakan balok, maka pola – pola hiasan akan terlihat dalam permainan mereka. Biasanya pola – pola ini sangat simetris bangunan – bangunan biasanya belum diberi nama.
  2. Pemberian Nama untuk Permainan, dimulainya pemberian nama dalam hubungannya dengan fungsi dalam drama peran. Sebelumnya anak – anak harus menamai bangunan – bangunan mereka, tetapi sekarang nama – nama tersebut memiliki hubungan dengan fungsi bangunan tersebut.
  3. Memberi Nama dan Kegunaanya untuk Bermain, Bangunan – banguna yang dibuat oleh anak – anak kini menggambarkan bangunan yang sebenarnya. Bangunan tersebut bisa merupakan imitasi dari bangunan yang terkenal atau ciptaan mereka sendiri
  1. Dampak pada daerah – daerah perkembangan
  1. Perkembangan bahasa
Bahasa dapat dikembangkan melalui permainan dengan balok. Ini bisa dilakuakn dengan cara membangun bangunan, memberi nama dan membahas tentang apa yang telah dibangun dan menjelaskan mengenai bentuk serta ukuran dari balok tersebut, membahas dan merencanakan pembuatan bangunan dengan anak – anak yang lain, mendikte sebuah narasi dengan bangunan tersebut, mendengarkan cerita dari buku yang berhubungan dengan kegiatan bangunan tersebut dan mendapatkan perbendaharaan kata – kata seperti “sama” dan “beda”, “panjang” dan “pendek”.
  1. Perkembangan Keterampilan Sosial
Anak – anak mengembangkan kemampuan sosialnya sambil bermain dengan balok. Ini terjadi ketika mereka menggunakan balok bersamaan dengan anak –anak yang lain, melihat apa yang telah dilakukan anak – anak yang lain dan menirunya, membangun bersama anak – anak yang lain, beradu pendapat dan juga berpendapat sama dengan anak yang lain, membagi perencanaan dan pembangunan, menggunaan bangunan tersebut bersama dan membiarkan anak – anak lain menggunakan apa yang telah ia bangun dan ikut serta dalam drama peran yang berpusat di bangunan tersebut. Mereka belajar menghargai usaha anak – anak yang lain. Mereka mengembangkan rasa kompetensi sejalan dengan dicapainya tujuan – tujuan pribadinya. Mereka merasakan kepuasan selagi bermain bersama.
  1. Perkembangan Pengetahuan dan Kemampuan Matematika
Kotak – kotak dapat digunakan untuk menelusuri konsep – konsep sebagai berikut:
1)      Ukuran, bentuk, masa, tinggi, isi, ruang, arah, pola dan pemetaan
2)      Pengamatan, penggolongan, pengurutan dan peramalan
3)      Penggunaan yang berbeda untuk tujuan yang sama (contohnya meletakkan sebuah kotak tegak lurus atau mendatar)
4)      Keseimbangan dan kesetimbangan
5)      Pengukuran dan penghitungan
6)      Persamaan dan perbedaan
7)      Persamaan, ekivalen (dua blok kotak sama dengan satu kotak ganda)
8)      Pemesanan atas dasar ukuran dan bentuk
9)      Pemecahan masalah
10)  Pemikiran yang imajinatif dan kreatif
11)  Stabilitas, gaya tarik bumi, interaksi gaya serta asal muasal bahan
12)  Coba – coba
  1. Perkembangan Motorik
Bermain dengan balok ikut mengembangkan otot – otot besar maupun kecil. Anak – anak belajar mengendalikan kotak dengan berbagai jenis ukuran dan masa, menyeimbangkan benda – benda dan menggunakan kemampuan motorik mereka. Mereka juga belajar untuk bekerja ditempat fisik yang diinginkan. Mereka mengembangkan koordinasi mata tangan serta ketepatan. Kemampuan manual disempurnakan sejalan dengan kegiatan mereka seperti mengangkat, menahan dan memuat bagian – bagian. Persepsi visual diperkuat sebagaimana mereka menilai keseimbangan.

  1. Perkembangan Kemampuan Pembelajaran Sosial
Anak – anak bisa mempelajari lingkungannya dengan cara membangun model lingkungannya. Dengan engetahui lebih banyak lagi tentang balok tersebut adalah cara yang cocok untuk mempelajari tentang kayu, bagaimana kotak tersebut dibuat dan kenapa pengukuran standar sangat penting.
  1. Menyiapkan Pusat Kegiatan Balok
Pilihlah sebuah tempat yang jauh dari tempat – tempat sibuk lainnya didalam kantor. Balok harus tersedia ditempat yang aman, dimana tidak akan tersenggol oleh anak – anak yang berpindah dari bagian ruanga yang satu kebagian ruangan yang lain. Pusat kegiatan balok sebaiknya tidak digunakan untuk kegiatan – kegiatan yang lain, agar struktur bangunan bisa bertahan lama dari hari ke hari.
Kegiatan – kegiatan di pusat kegiatan balok  sering memakai drama peran dan bisa difokuskan untuk memerankan peran anggota keluarga. Karena alasan ini dan juga karena tingkat kegiatan dari pusat – pusat kegiatan ini, maka disarankan agar pusat kegiatan balok tersebut berada dekat dengan pusat drama peran.
Jumlah balok, variasi bentuk balok dan jumlah ruangan yang dibutuhkan akan bervariasi tergantung pada usia anak didalam kelas. Balok yang besar, bolong, silinder, panjang setengah lingkaran dan segitiga semuanya digunakan untuk membangun bangunan – bangunan yang besar. Balok yang terbuat dari karton juga bisa digunakan karena ringan dan  lebih mudah bagi beberapa anak untuk digunakan. Balok kayu bisa digabungkan dengan balok yang terbuat dari karton guna memberi efek yang menarik.
Balok tersebut dipajang dirak terbuka dengan ketinggian yang cocok untuk anak – anak agar anak – anak bisa menjangkaunya dengan mudah. Balok – balok dengan ukuran serta bentuk yang sama sebaiknya dikelompokkan menjadi satu. Balok tersebut sebaiknya dipajang sepanjang rak agar seluruh bagian balok tersebut bisa dilihat dan tidak hanya dipajang dengan memperlihatkan bagian pendeknya. Rak balok juga sebaiknya ditndai agar anak – anak bisa mengetahui dimana mencari dan menyimpan kembali balok tersebu. Untuk melakukan ini, sebuah tanda yang seukuran dan sebentuk dengan balok tersebut ditempel kan pada bagian belakang rak, atau sebuah gambar dengan ukuran dan bentuk yang sama dengan balok ditempelkan pada bagian ujung depan rak.
Kotak penyimpanan denga isi kotak (contohnya: mainan orang – orangan, binatang, mobil – mobilan kecil, pesawat, kapal – kapalan, dan perca - perca ) sebaiknya diletakka diatas rak dengan balok tadi. Benda – benda tambahan lainnya juga harus tersedia seperti (contohnya: topi yang digunakn para pekerja, tiket untuk dibagi – bagikan oleh kondektur, uang – uangandan tali) untuk melengkapi permainan balok.
  1. Peran Tim Pengajar
Tanggung jawab pertama dari tim pengajar adalah menyiapkan tempat bermain balok agar bisa dipakai dan menarik bagi anak – anak.jumlah dan kerumitan balok dan bahan – bahan pembantu lainnya akan bergantung pada usia anak – anak.
Peran guru dalam mengarahkan dan membimbingdipusat permainan balok adalah:
a.       Mengamati tingkat keikut sertaan anak – anak, jenis bangunan yang dibuat dan apakah mereka bekerja sendiri – sendiri atau dalam kelompok.
b.      Mendorong semua anak agar lebih banyak menghabiskan waktunya dipusat kegiatan permaianan balok.
c.       Memberikan komentar yang membangun atas hasil pekerjaan anak – anak.
d.      Berilah pertanyaan yang membantu anak – anak menyelesaika masalahnya sendiri dari pada memberi mereka jawabannya.
e.       Tambahlah bahan – bahan bila diperlukan.
f.       Cari dan bacalah buku – buku yang berhubungan dengan apa yang sedang dibangun anak – anak tersebtu.
g.      Rencanakanlah perjalanan keluar berdasarkan informasi dari jenis bangunan tertentu atau mengenai topik dan untuk mengikuti saran – saran dari anak.
h.      Tulislah tanda – tanda untuk bangunan – bangunan.
i.        Biarkanlah anak – anak mempertahankan bangunannya semalaman jika mereka menghendaki demikian.
Aspek lain dalam mengarahkan pekerjaan anak – anak dalam pusat permaianan balok adalah dengan mengawasi jumlah anak yang bisa bekerja disana disuatu saat tertentu. Ini bergantung pada ukuran area, anak – anak tertetu yang sedang bekerja disana, dan jenis – jenis bangunan yang sedang dibuat. Sebaiknya tidak boleh ada peraturan yag ketat mengenai berapa jumlah anak yang boleh bermain disaat yang sama namun tidak juga disarankan untuk membatasi jumlah anak yang boleh bekerja dipusat balok, ini harus diperlakuakan sebagai situasi yang membutuhkan pemecahan masalah dan diputuskan bersama anak – anak.
  1. Tugas dan Kegiatan
Memulai sebuah tugas dipusat kegiatan merupakan ha yang sangat baik bagi guru. Contohnya setelah perjalanan kesalah satu toko ikan terdekat, adakan kegiatan – kegiatan lanjutan setelahnya didalam kelas seperti mengarang cerita mengenai perjalanan terebut, melukis gambar, memasak ikan dan membuat toko ikan. Guru juga dapat menambah tugas dengan menanyakan pada anak – anak toko – toko apa lagi yang mereka lihat sepanjang perjalanan.
Anak –anak juga akan menggunakan bahan –bahan seni untuk melukis gambar dari bangunannyasebelum diruntuhkan. Mereka bisa membuat grafik dari ukuran serta bentuk dari bangunan balok itu sendiri. Mereka bisa menggunakan balok untuk membandingkan masa dari berbagai jenis benda yang ada didalam ruangan.
Anak – anak juga menikmati membuat rintangan kelas dengan balok – balok yabg besar. Kegiatan ini bisa memakan ukuran tempat yang cukup luas, hingga mungkin kegiatan – kegiatan lain harus dipindahkan. Menyeimbangkan, memanjat dan merangkak dibawah meja dan berjalan diatas papan yang diletakkan dilantai akan menyenangkan bagi anak – anak.
  1. Memasak
  1. Anak – anak bermain : Memasak dan belajar tentang makanan
Makanan sangat penting untuk semua kegiatan kita. Kita makan guna mempertahankan kesehatan tubuh kita dan mendapatkan tenaga. Namun bagi beberapa orang makanan hanyalah makanan. Makanan membawa kenangan atau ingatan mengenai sesuatu atau seseorang. Harumnya roti yang masih hangat membuat kita membayangkan nenek kita sendiri memakai celemek sedang mengambil potonga roti hangat yang masih panas dari dalam oven, untuk kemudian dipotong dan diolesi selai mentega manis dan madu.
Melalui pengalaman dari makanan, anak – anak bisa bellajar tentang orang dan daerah lain. Para guru bisa memperkenalkan makanan khas dari daerah tertentu, seperti kue dumpling dan meminta anak – anak membuatnya untuk makan siang.
Bagi keuarga yang berjuang demi mendapatkan makanan dalam jumlah yang besar bagi anak – anaknya atau yang telah melewati masa krisis, makanan merupakan hal yang sangat berharga. Para orang tua mungkin mengkhawatirkan anak – anaknya kekurangan gizi dan rela berada dalam antrian berjam – jam untuk membeli makanan apa saja yang tersedia. Anak – anak yang tinggal dalam situasi seperti itu mungkin akan belajar untuk tidak menyia – menyiakan makanan, dan akan memakan apa saja yang disuguhkan kepadanya.
Ketika diberi kesempatan, semua anak akan senang membantu tugas – tugas memasak masakan sederhana. Bahkan anak yang berusia dua atau tiga tahun bisa membuat bubur krntang, mengolesi selai diatas roti, atau membantu membanting – banting adonan roti dan merasakan kepuasan karena melakukan pekerjaan yang sebenarnya.
Berbagai  pengalaman dengan berbagai variasi makanan yang bergizi bisa membantu anak – anak mempertahankan kebiasaan memakan makanan sehat. Mereka juga mempelajari bahwa makanan tertentu ikut memberikan konstribusi terhadap kesehatan dan pertumbuhan, sementara yang lain bisa menimbulkan masalah kesehatan. Anak – anak harus diajarkan untuk meilih pilihan – pilihan yang memberi kesehatan dengan cara mempelajari apa yang dibutuhkan tubuh.
Para guru bisa menggunakan kacang – kacangan, sayur – sayuran, gandum, buah – buahan, dan biji – bijian untuk membantu anak – anak belajar dasar – dasar makanan serta persiapannya. Didalam kelas anak – anak bisa membantu membuat makanan ringan, memasak bagian dari sarapan atau makan siang atau menyiapkan makanan khusus untuk perayaan liburan. Memasak adalah kegiatan yang mendukung perkembangan dan pembelajaran dalam semua sumber perkembangan.



  1. Pengaruh Pada Daerah – daerah Perkembangan
  1. Membaca dan menulis
Sejalan dengan pembelajaran anak untuk menghubungkan makanan denga kata – kata dan gambar – gambar, mereka mulai membaca secara sekilas dari kiri kekanan dan menerjemahkan karakter – karakter simbolis kedalam tindakan nyata. Mereka menikmati membaca dan beberapa yang lain mungkin menikmati menyalin resep yang ada didepannya. Mereka berlatih proses berurutan sejalan dengan perkembangan kegiatan masak memasak yang baru dilakukannnya, sebenarnnya hal tersebut dapat menguatkan proses/ urutan dan menyediaka pengalaman bahasa yang kaya. Mereka memiliki kesempatan untuk membangun kosa kata, dengan menggunakan kata – kata seperti memeras jeruk nipis, melarutkan minyak dan mendidihkan mentega menjadi bagian dari kosa katanya.
  1. Pemikiran Matematis
Anak – anak belajar mengenai ukuran dan pengukuran ketika mereka menuangkan segelas jus atau dua sendok makan gula kedalam adonan. Mereka menelusuri pengertian angka – angka sejalan dengan mereka menghitung tiga telur, lima sendok makan vanila atau seperempat gelas susu. Anak – anak menangkap konsep angka sejalan dengan mereka memotong sebuah kue menjadi lima belas bagian sama besar atau mengisi setengah gelas dengan tepung. Mereka mulai mengembangkan rasa atas waktu sejalan dengan kegiatan mereka memanggang sebuah roti selama satu jam atau merebus puding selama sepuluh menit.
  1. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Memasak didasarkan pada ilmu pengetahuan kimia dan fisika. Anak – anak yang sedang mengawasi pengembangan ragi membuat hipotesa atas apa yang sedang terjadi dan mengapa. Mereka memperhatikan panas yang mengentalkan kaldu atau melelehkan coklat. Anak – anak belajar membandingkan secara kontras dengan merasaka dan menjelaskan makanan – makanan seperti jeruk nipis dan jeruk atau memakan wortel yang dipersiapkan dalam berbagai variasi, mentah, matang atau dipanggang didalam roti. Mereka mempelajari asal – muasal makanan sejala dengan kegiatan mereka seperti menanam biji – bijian dan tanaman – tanaman muda, akhirnya memotong dedaunan untuk membuat salada. Anak – anak bisa membahas dari mana  asalnya telur dan akhirnya mendapatkan pandangan mengenai hubungan antara telur dengan ayam sebagai bagian dari siklus kehidupan.
  1. Perkembangan Fisik (jasmani)
Mengupas, mengaduk dan menuangkan dapat membangun koordinasi motorik dan meningkatkan penguasaan otot – otot kecil. Sejalan dengan anak – anak yang menuangkan garam kedalam sendok takaran dan kemudian mereka menambahkannya kedalam adonan, mereka harus mengkoordinasikan  mata dan gerakan tangannya. Membanting – banting adonan roti dan mengaduk memerlukan kekuatan tangan , pundak dan punggung.
  1. Kemampuan Sosial dan Pengetahuan Budaya
Anak – anak belajar mengambil giliran ketika mereka memberikan sebuah gelas yang penuh dengan krim disekelilingnya dan mengocoknya hingga menjadi mentaga. Mereka belajar membagi sebuah produk yang sudah selesai dan memastikan bahwa semua orang telah mendapatkan bagiannya. Mereka bekerjasama untuk bekerja sama untuk menciptakan makanan ringan. Mereka akhirnya mengetahui bahwa orang berbeda – beda ketika mereka melihat seorang anak menyenangi rasa dan tekstur sebuah kelapa, sementara yang lainnya menganggap hal itu menjijikkan. Anak – anak belajar tentang makanan yang berbeda – beda yag dinikmati oleh berbagai keluarga dan perbedaan budaya dalam hal pemilihan makanan.
  1. Perkembangan Emosional
Terdapat kecendrungan dimana orang biasanya akan beralih kemakanan bila sedang mencari kenyamanan, dan anak – anak mungkin akan beralih ke makanan yang mereka inginkan jika sedang sedih atau jika sedang merayakan acara khusus. Konsep diri seorang anak ditingkatkan dengan menciptakan sesuatu yang nyata. Dilain, sangat mengecewakan bila sudah menghabiskan waktu untuk memanggang sebuah roti yag akhirnya tidak mengembang. Dalam kasus demikian, anak – anak bisa belajar dari kesalahan masa lalunya dengan menganalisa mengapa resep tersebut tidak berhasil.
  1. Perkembangan Konseptual
Warna – warna diperkenalkan sejalan denga anak – anak membuat jus jeruk, sup buah merah, atau salad hijau. Bentuk – bentuk menjadi sagat berarti ketika anak – anak menggulung adonan kedalam sebuah silinder, membuat kue dumpling segitiga atau memotong wortel menjadi bulat – bulat. Semua rasa, bau, pendengaran, sentuhan menjadi aktif sejalan dengan anak – anak berpartisipasi dalam kegiata memasak.
  1. Persiapan Memasak
Banyak pusat kegiatan yang memiliki dapur sungguhan. Kelas manapun dengan aktivitas listrik dapat menjadi tempat memasak sementara. Apabila anda cukup beruntung untuk bisa memiliki dapur tersendiri, maka seorang dewasa bisa mengawasi sekelompok kecil anak – anak didalam dapur. Anak – anak juga dapat menyediakan makanan didalam kelas, dengan menggunakan dapur sebagai tempat masak. Kulkas bisa dipakai untuk menyimpan makanan dan wastafel digunakan saat bersih – bersih. Tujuannya adalah menciptakan suasana yang mendorong anak – anak menjelajahi makanan dan mengalami kenikmatan dan tantangan dalam memasak.
  1. Bahan – bahan Dasar Memasak
Loyang roti                                                    panci dengan tutup
Loyang kue dan gorengan                             timbangan untuk menimbang
Pembuka kaleng                                             bahan - bahan
Pemotong kue                                                gunting
Loyang gorengan                                           pisau kecil yang tajam
Parutan                                                           celemek
Pembuat jus                                                    pengaduk plastik
Gelas takaran                                                 timer
Sendok takaran                                              pengupas sayuran
Mangkuk campuran                                       sendok kayu
Penghancur kentang
Gilingan kue
Pengaduk spiral
Peralan Listrik
Oven (gunakan pemanggang roti bila kompor tidak ada)
Alas loyang
Penggorengan listrik
Blender
Pusat memasak harus terpisah dari pusat – pusat kegiatan yang lain, mudah untuk diawasi oleh orang dewasa dan aman untuk sekelompok kecil anak – anak bekerja. Permukaan meja harus mudah untuk dibersihkan anak –anak dengan busa atau air sabun. Lantainya juga harus mudah dibersihkan tau ditutupi dengan kertas koran. Yang pasti akan terjadi adalah tumpahan serta kotoran – kotoran dan kesemuanya itu adalah bagian dari proses belajar.
5.      Peran Tim Pengajar
Semakin banyak kesempatan yang diperoleh anak – anak untuk memasak, maka mereka akan semakin percaya diri terhadap kemampuan memasaknya. Anak – anak sebaiknya diperkenalkan dengan teknik – teknik memasak baik secara individu maupun dalam kelompok yang berjumlah lima atau enam orang. Kegiatan mereka harus selalu diawasi oleh orang dewasa.
Orang tua dan anggota keluarga lain adalah sumber – sumber yang juga berharga. Mereka bisa membantu dengan mengawasi anak – anak, merencanakan kegiatan masak – memasak tersebut, mengusahakan bahan – bahannya, berbagi resep – resep khusus, bekerja ditaman dan mengkontribusikan makanan buatan rumah. Orang tua yang membantu harus menyadari bahwa yang terpenting adalah proses serta pengalaman dalam memasak dan bukannya hasil akhirnya. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memajukan rasa kompetensi sang anak, kemandirian dan bereksperimen. Anak – anaklah yang seharusnya bekerja dan para orang tua memperhatikan serta membimbing.
6.      MERENCANAKAN KEGIATAN MASAK- MEMASAK
Mulailah dengan tugas – tugas sederhana: mengupas dan memotong pisang, pop corn, mengolesi roti dengan madu, mengambil biji – bijian. Setelah beberapa lama, resep – resepnya bisa mengikutsertakan lebih banyak langkah dan lebih rumit. Jelaskanlah langkah – langkah yang sedang dikerjakan anak – anak agar mereka mulai mempelajari kosa kata dalam memasak.
Bersikaplah terbuka terhadap ide – ide anak – anak tentang apa yang ingin mereka buat dan coba mengakomodasikan pilihan – pilihannya. Bangunlah dari ide – ide yang muncul selama kegiatan didalam kelas dan yang mendukung pengalaman -  pengalaman makanan.
7.      KIAT – KIAT MEMASAK
a)      Ingatkan anak agar selalu mencuci tangannya dan agar selalu memakai celemek
b)      Pastikan permukaan meja kerja telah dibersihkan terlebih dahulu atau minta anak – anak mencucinya sebelum mulai
c)      Bahas kembali resep tersebut dengan anak – anak, dengan menunjukkan nama – nama peralatan dan bahan – bahan yang dipakai
d)     Peragakanlah cara yang benar sebagaimana menggunakan peralatan dan biarkan semua orang mencoba
e)      Usahakan sebanyak – banyaknya anak – anak dalam kelompok yang kecil berpartisipasi untuk kegiatan tersebut diwaktu yang sama.
f)       Sediakanlah sebuah mangkuk berisi air sabun dan sebuah busa didekatnya agar mempermudah bersih – bersih
8.      UTAMAKAN KESELAMATAN
a)      Peragakanlah kepada anak-anak cara yang aman dalam menggunakan peralatan-peralatan yang tajam. Hanya perbolehkan anak- anak menggunakan peralatan yang tajam bila sedang diawasi oleh orang dewasa.
b)      Tunjukkanlah hambatan – hambatan dalam memasak bahaya bakar, pentingnya untuk selalu mematikan peralatan, dan kenapa setiap gagang panci selalu dijauhkan dari ujung meja atau kompor.
c)      Tunjukkan cara menggunakan peralatan. Anak yang termuda mungkin perlu memperhatikan orang dewasa memasak yang sebenarnya, seperti mengaduk sup yang sedang mendidih atau adonan yang sedang digoreng, sementara anak – anak yang lain bisa melakukannya sendiri. Pastikan bahwa anda telah mengetahui kemampuan individu masing – masing anak sebelum membiarkannya melakukan tugas memasak yang mungkin berbahaya.
d)     Ajari anak – anak bagaimana cara memegang gagang panci dan bagaimana cara meletakkan makanan panas diatas alas atau permukaan yang tahan panas.
e)      Cari tahu apabila ada anak yang memilki alergi terhadap sejenis makanan tertentu dan pastikan bahwa orang dewasa yang membantu juga mengetahui hal ini. Sediakanlah makanan pilihan lain untuk anak tersebut.
f)       Pastikan bahwa anak – anak telah mencuci tangannya dengan air sabun sebelum memegang makanan. Bersihkan dan sterilkan tempat kerja anda.
g)      Usahakan agar terdapat pengawasan orang dewasa yang cukup selama kegiatan berlangsung
h)      Gunakan peralatan listrik denga hati – hati. Pastikan anak – anak mengerti “panas” dan mereka sangat hati – hati bila berada disekeliling oven, kompor, blender, piring panas, panci elektrik. Jangan biarkan anak – anak berkumpul disekitar peralatan yang sedang digunakan.
i)        Masukkan kabel ke stop kontak yang tidak menghalangi jalan agar anak – anak tidak terjatuh. Kabel – kabel harus selalu dolepas ketika sedang tidak dipakai
j)        Pastikan bahwa baskom memasak anti pecah
k)      Perintahkan anak – anak untuk duduk ketika sedang menggunakan pisau, pengupas, parutan dan peralatan tajam lainnya.
l)        Persyaratan adalah agar guru terlebih dahulu dilatih dalam memberi pertolongan pertama pada kecelakaan dan mampu menanggapi luka gores, tercekik dan luka bakar
9.      Kegiatan masak – memasak
Anak – anak harus mampu merasakan, mencium dan melihat semua bahan – bahan sebelum mulai dicampurkan.  Doronglah anak – anak agar selalu memperhatikan dan membicarakan bahan – bahan yang akan dipakai, bentuk, tekstur, warna, ukuran persamaan dan perbedaannya.
Bicaralah dengana anak – anak mengenai reaksi kimia serta fisika dari masakan mereka. Apa yang terjadi ketika bahan – bahan dicampur. Contohnya, apa yang terjadi bila ragi dicampurkan dengan air da gula, apa yang terjadi jika makanan didinginkan atau dihangatkan. Sewaktu anak – anak memasak, jelaskanlah kepada mereka bahwa air adalah cairan, dan ketika direbus dia akan menjadi uapdan ketika dibekukan ia akan menjadi keras dan itu disebut es.
Gunakanlah kalimat – kalimat lengkap untuk menggambarkan proses memasak dan ketika anda mengomentari pekerjaan tersebut. Kamu telah  menambahkan bahan – bahan cair kedalam bahan – bahan kering