welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Rabu, 29 Mei 2013

CARA ANAK MEMPELAJARI SAINS



CARA ANAK MEMPELAJARI SAINS

A.    Siapakah Anak Itu?
1.      Tinjauan anak berdasar dimensi usia kronologis
Hurlock (1999) mengkategorikan, bahwa masa kanak-kanak dini adalah usia prasekolah atau kelompok usia antara 2 hingga 6 tahun. Ki Hajar Dewantara memandang bahwa masa kanak-kanak berada pada rentang usia 1 sampai 7 tahun. sedangkan Solehuddin (2000) membatasi secara kronologis anak usia dini (early childhood) adalah anak yang berkisar antara usia 0 sampai dengan 8 tahun. Menurut Fawzia  Aswin Hadis (1994), masa kanak-kanak dengan rentang usia antara 3-6 tahun.
2.      Tinjauan anak berdasar sudut pandang filosofis
Bertolak belakang  dengan paham gereja pada sekitar pertengahan abad 18 yang memberi pandangan tentang anak bahwa anak berpembawaan jahat dan membawa dosa asal manusia, Pestalozzi  menyatakan bahwa anak berpembawaan baik, pandangan ini dipengaruhi oleh pemikiran Plato yang memandang anak sebagai masa elastis dan ekspresi dari kebaikan-kebaikan bawaan. Selanjutnya Frobel yang dipengaruhi oleh pendapat Pestalozzi, berpendapat bahwa anak pada dasarnya berpembawaan baik dan berpontensi kreatif. Menurut Montessori anak bukan sekedar   fase kehidupan yang dilalui seseorang untuk mencapai kedewasaan, lebih dari itu, anak merupakan kutup tersendiri dari dunia kehidupan manusia. Kehidupan anak dan orang dewasa merupakan dua kutup yang saling berpengaruhi satu sama lain. Menurut Ki Hajar Dewantara anak (manusia) adalah titah Tuhan yang terdiri atas  unsur badan kasar (jasmani) dan badan halus (rohani). Anak lahir dengan kodrat/ pembawaan masing-masing. Kekuataan dalam kehidupan, bisa baik bisa juga sebaliknya. Anak usia prasekolah adalah individu yang sedang menjalani suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dan sangat fundamental bagi proses perkembangan selanjutnya. (Solehuddin, 2000).
Menurut Erikson, anak adalah makhluk yang aktif dan penjelajah yang adatif, selalu berupaya untuk mengontrol lingkungannya. Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai seorang manusia, tempat dimana kebaikan dan sifat buruk kita yang tertentu dengan lambat, namun jelas berkembang dan mewujudkan dirinya. Selanjutnya  Jean Piaget mengemukakan bahwa anak adalah seorang pengkonstruk yaitu seorang penjelajah yang aktif,selalu ingn tahu, selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai dengan interprestasi (penafsirannya) tentang ciri-ciri esensial yang ditampilkan oleh lingkungan tersebut. Anak dalam usia taman kanak-kanak adalah “petualang” yang kuat dan tegar, yang senang menjelajah berbagai kemungkinan yang ada dilingkungannya seraya mengembangkan seluruh aspek perkembangannya (Fawzia Aswin Hadis, 1999).
Beberapa hal yang dapat dijadikan intisari dari berbagai pendapat tersebut diatas yaitu makhluk atau individu yang memiliki potensi-potensi yang baik, dimana dengan potensi yang dimilikinya itu anak berkembang melalui kegiatan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
3.      Tinjuan anak berdasar karakteristik perkembangannya.
Para ahli mengklasifikasikan atau membedakan aspekk-aspek perkembangannya tersebut kedalam penggolongan aspek-aspek perkembangannya. Secara garis besar, penggolongan tersebut antara lain dikemukanakan oleh Hurlock (1999), bahwa karakteristik perkembangan terdiri dari:
1)      perkembangan fisik, dengan lingkungannnya meliputi ukuran dan proporsi tubuh, pertumbuhan dan perkembangan tulang, otot dan lemak, gigi dan perkembangan susunan syaraf.
2)      Perkembangan motorik, yang meliputi perkembangan motorik halus dan motorik kasar.
3)      Perkembangan bicara, yaitu tentang bagaimana cara anak belajar berbicara.
4)      Perkembangan emosi, yang meliputi pola emosi yang umum muncul  pada diri anak yaitu: takut, canggung, marah, cemas. Khwatir, cemburu, dukacita, keingintahuan, kegembiraan, keriangan, kesenangan dan kasih sayang.
5)      Perkembangan sosial, yaitu tentang penyesuaian sosial anak.
6)      Perkembangan bermain, yang meliputi bermainaktif, bermain bebas dan sopan, bermain drama, bermain konstruktif, bermain mengumpulkan, bermain mengeksplorasi, permainan dan olag raga, bermain pasif, membaca, menonton televisi, mendengarkan musik.
7)      Perkembangan kreativitas, yaitu mengenai perbedaan perkembangan kreatifitas pada anak dan ekspresi kreatifitas anak.
8)      Perkembangan pengertian, merupakan mengenai perkembangan pengertian dan konsep pada anak.
9)      Perkembangan moral, yang meliputi perkembangan perilaku moral dan displin.
10)  Perkembangan peran seks, yaitu mengenai penentuan peran seks pada anak.
11)  Perkembangan kepribadian, yaitu mengenai penentuan kepribadian yang paling penting mencakup pengalaman awal, pengaruh budaya, bentuk tubuh, kondisi fisik, daya tarik fisik, intelegensi, emosi, nama keberhasilan dan kegagalan, penerimaan sosial, lambang status, pengaruh sekolah dan keluarga.

B.     Hakekat Belajar
1.      Konsep belajar
Secara tradisonal belajar diartikan sebagai penambahan dan pengumpulan pengetahuan, jadi tekanannya pada intelektual. Tetapi pendapat modern belajar didefinisikan sebagai perubahan kelakuan (Nasution, 1986). Pengetian modern lebih menekankan pengertian belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisma (individu) berubah perilakunya akibat suatu pengalaman (Witherington, 1959; Sartain, 1973; Somadi, 1984; Syah, 1995), dan pengertian berbasis pandangan modern, yang kemudian banyak digunakan dan dijadikan rujukan dalam praktek-praktek pendidikan.
Sesuai dengan batasan atau pengertian belajar di atas, dimensi-dimensi perubahan yang terjadi, diantaranya:
1)      Kepribadian.
2)      Perilaku aktual maupun potensial.
3)      Kecakapan/ketrampilan dalam bertindak.
4)      Sikap dan kebiasaan.
5)      Pengetahuan dan pemahaman.
2.      Bentuk-bentuk belajar
            Banyak ahli yang mengkaji tentang bentuk-bentuk belajar, tetapi secara umum, terdapat enam bentuk perbuatan belajar. Keenam bentuk tersebut adalah mendengarkan, memandang, membau/mencium, meraba/mencicipi, menghafal, membaca (syamsudin, 1987).
Keenam bentuk dasar belajar tersebut dijelaskan pada uraian dibawah ini:
1)      Mendengarkan: yaitu bentuk belajar atau perubahan perilaku yang didasarkan atas tindakan mendengarkan. Terdapat dua perubahan mendasar dalam kegiatan belajar mendengarkan ini, pertama adalah subyek belajar betul-betul memperbaiki kemampuan dan kepekaan cara-cara mendengarkan atau menyimak informasi dan segala rangsangan yang masuk melalui pendengarannya, dapat berupa fakta, konsep maupun teori.
2)      Memandang/melihat: sama halnya dengan uraian di atas, bentuk belajar memandang memiliki dimensi yang terbuka, pertama arah belajar lebih ditekankan pada fungsi indera sebagai alat untuk memperoleh pengalaman belajar melalui jalur visual, tetapi secara khusus dapat dijelaskan bahwa belajar memandang merupakan bagian dari memperbaiki perilaku dalam memanfaatkan mata sebagai alat penerima pengalaman belajar melaui visual.
3)      Membau/mencium: bentuk belajar dan perolehan pengalaman belajar melalui mebaui atau mencium. Belajar dengan cara ini amat khas, tetapi jika kurang memperhatikan rambu atau kriteria obyek atau isi yang dipelajari akan berakibat fatal, misalnya keracunan atau lain-lain.
4)      Meraba/mencicipi: bentuk belajar ini sangat esensial terutama bagi anak usia dini dalam menggali sains. Dengan meraba anak akan memperoleh pengalaman langsung dan sangat bermakna. Bahkan jenis belajar ini akan sangat efektif dalam memperbaiki dan menarik perhatiannya.
5)      Menghapal: adalah bentuk belajar yang sangat populer, saat ini maupun pada masa silam. Belajar menghapal sangat dibutuhkan, mengingat begitu banyaknya informasi, konsep, teori dan faktayang berada di sekitar anak.
6)      Membaca : tak kalah populernya adalah belajar melalui membaca, yaitu dengan menyerap informasi melalui bacaan  yang berisi informasi-informasi pengetahuan yang telah dikemas dan disajikan secara sistematis dalam bentuk tulisan. Jadi pembelajar tinggal membacanya secara saksama dan rutin.
     
Dengan mengetahui keragaman bentuk belajar yang terjadi dan dapat dilakukan oleh anak, maka tugas terpenting dari kita sebagai guru sains adalah mencari berbagai cara dan upaya agar setiap bentuk belajar yang dikuasi, dipilih dan dilakukan anak dapat terjadi secara efektif dan optimal. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru sains agar setiap bentuk belajar yang dilakukan dan dijalankan oleh anak dapat produktif adalah:
a.       Sediakanlah berbagai rangsangan sains yang sesuai denga setiap bentuk belajar yang sedang dijalankan anak.
b.      Sediakanlah sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali potensi berpikir dan mengembangkan ketrampilan intelektual anak pada saat anak sedang beraktivitas sains.
c.       Atas kegiatan dan bentuk belajar yang dapat dilakukan anak secara baik, berikanlah pengutaan dan sebaliknyaatas kelemahan, kemunduran dan kekurangan anak dalam mengoptimalkan bentuk belajar yang dipilihnya berilah motivasi.
d.      Jadilah guru sebagai model yang tidak putus asa, penuh semangat dan antusias dihadapan anak pada saat pembelajaran sains, sehingga sosok guru menjadi figur yang menjadi inspirasi bagi anak dn menjadi contoh dalam melakukan kegiatan atau ekplorasi sains.
e.       Selalulah guru berpikir, mencari dan menemukan segala sesuatu yang menarik anak dan dapat dijadikan sarana dalam mengembangkan segala potensi dan bentuk belajar anak.
3.      Prinsip-prinsip belajar
Dengan mengacu pada prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Witherington, 1996 maupun Ausuble, 1989 terdapat beberapa azas yang semestinya diperhatikan oleh para guru dalam kegiatan belajar sehinggan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan-kegiatan dalam program pengembangan sains berjalan sesuai yang semestinya. Di antara hal-hal prinsip dalam belajar yang harus dipegang teguh menurut kedua ahli tersebut adalah:
1)      Belajar akan berhasil apabila anak melihat tujuan dan tujuan itu lahir dari dan dekat denga kehidupan anak.
2)      Kegiatan belajar hendaklah dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak, baik jasmani, rohani maupun emosional.
3)      Lingkungan belajar yang diciptakan hendaklah bermakna dan mengandung arti bagi anak sehingga membentuk pola kelakuan (behavior patern) yang berguna bagi kehidupan anak.
4)      Bantuan belajar yang diberikan adalah yang menunjang efektifitas dan efisiensi belajar anak dan dilakukan secara wajar.
5)      Adanya upaya pengintegrasian pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman baru sehingga menjadi suatu kesatuan pengalaman yang utuh, tidak mudah lepas atau hilang.
6)      Penyajian belajar hendaklah suatu keseluruhan harus lebih dulu dimunculkan kemudian baru menuju sesuatu yang lebih spesifik. Prinsip ini sangat beralasan, karena secara umum penampilan objek sains secara totalitas, terutama saat permulaan (menampilkan awal) di hadapan anak akan memiliki tingkat kebermaknaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang spesifik terlebih dahulu.
7)      Belajar selalu dimulai dengan sesuatu masalah dan berlangsung sebagai usaha untuk memecahkan masalah itu.
8)      Belajar itu berhasil bila disadari telah ditemukan  clue (kunci) atau hubungan diantara unsur-unsur dalam masalah itu, sehingga dieroleh insight atau wawasan dan pemahaman.
9)      Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks, bergerak dari yang dekat dengan anak hingga yang jauh, serta dari konkrit menuju abstrak.

C.    Pandangan psikologi Tentang Cara belajar  Anak
1.      Pandangan kaum kognitivis tentang belajar anak
Pemahaman kaum kognitifis tntang tingkah laku manusia, bahwa menurut mereka perilaku manusia tak dapat diukur dan terangkan tanpa melibatkan proses – proses mental (nana sudjana, 1987); seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya. Dalam pandangan dan perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya dalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavorial (yang bersifat jasmaniah), meskipun hal – hal yang bersifat behavorial tampa lebih nyata dalam peristiwa elajar siswa (hurlock), 1978).
            Jerome brunner. Brunner menganggap bahwa manusia sebagai pengolah informasi, permikir dan pencipta. Dari hasil penelitiannya, ia menyatakan bahwa individu bukan seperti mesin ( mekanistis), yakni mengasosiasikan respon khusus dengan stimulasi khusus. Individu cenderung melakukan peran untuk menstransformasikan belajarnya kepada berbagai persoalan. Bagi individu dan bukan pula aktif, tetapi menjadi fungsional (Elkin, 1981). Dua hal yang penting terkait dengan sains yakni:
a.       Sains atau pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses aktif; dan
b.      Manusia aktif membangun pengetahuannya melalui hubungan informasi yang diperoleh ke dalam frame psikologisnya.
Secara lebih luas arti penting bagi pengembangan program sains pada anak usia dini adalah hendaklah program dikemas dengan pilihan –pilihan kegiatan yang dapat mengaktifkan anak dalam menggalinya.
Selanjutnyan brunner menggemukakan, bahwa terdapat lima tujuan pendidikan. Yang limanya dapat dijadikan juga sebagai tolak ukur arah pengembangan program sains yang dibuat oleh para guru. Lima tujuan tersebut yakni:
1)      Membawa siswa untuk menemukan nilai dan kemampuan dalam menduga permasalahan, pendekatan terhadap masalah serta merealialisasikan aktivitas pemecahannya.
2)      Mengembangkan kepercayaan diri siswa akan kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pikirannya sendiri.
3)      Membantu siswa agar memiliki dorongan diri untuk menggunakan kemampuannya dalam menghadapi berbagai mata pelajaran.
4)      Mengembangkan cara berfikir ekonomis melalui pengembangan belajar yang mendorong mencari relevansi dan struktur dari apa yang dipelajarinya.
5)      Mengembangkan kejujuran intelektual yakni kesadaran menggunakan peralatan dan bahan –bahan dari pengetahuan untuk menilai dan menguji suatu pemecahan masalah, gagasan dan dugaan – dugaannya.

Kesimpulan dan implikasi dari teori (pandangan) brunner terhadap program sains adalah bahwa tujuan pendidikan sains hendaklah di arahkan untuk melatih siswa dalam menggunakan fikirannya, kekuatannya, kejujurannya, serta teknik – teknik yang dimilikinya dengan penuh kepercayaan diri. Untuk itu tugas guru sains adalah mengembangkan program bagaimana siswa dapat mengekplorasi dan berinteraksi sains dan rekanya secara optimal.
Garne mengusulkan bahwa perlu melakukan analisis yang seksama mengenai setiap situasi latihan dan pendidikan untuk menentukan tugas – tugas macam apa yang harus dilibatkan, baik dalam tujuan akhir maupun dalam tujuan tambahan.
Gagne juga berpendapat bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sangat ditentukan oleh keturunan, sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi belajar ditentukan oleh kejadian pada lingkuangan individu. Penjelasaan terakhir dari gagne tersebut memberikan inspirasi bahwa semua yang diperkenalkan pada anak, termasuk bidang sains; hendaklah sangat mempertimbangkan potensi awal (basic skills) anak, tetapi aspek lingkungan juga harus dipertimbangkan; sehingga terjadi keseimbangan dalam mempertimbangkan kondisi anak sebelum memasuki program belajar. Intinya potensi awal dan lingkungan merupakan titik mula (starting point) suatu pembelajaran sains bagi guru.
        Pandangan lain yang dapat dikemukakan adalah pandangan dari jean piaget. Praktik pendidikan dan pengajaran anak usia dini selama beberapa dasarwarsa belakangan ini sangat dipengaruhi oleh teori perkembangan yang diajukan oleh piaget yang pada dasarnya mengkatagorikan empat tahapan perkembangan  kognitif dan efektif secara semesta dilalui manusia. Menurut pandangan teori ini, anak – anak berkembang kognitif melalui keterlibatan aktif dengan lingkungannya, dan setiap tahapan perkembangan saling terjalin dan intergrasi satu sama lain. (mustaffa, 2002). Oleh karena itu setiap tahapan perkembangan yang diajukan oleh piaget harus diperhatikan secara seksama karena pengaruhnya amat besar dalam perkembangan pendidikan anak usia dini. Tahapan – tahapan perkembangan yang dimasudkan oleh piaget ditampilkan sebagai berikut:
1.      Tahap  usia sensor-motor (usia 0-2 tahun).
2.      Tahap berfikir pra- operasional (usia 2-7 tahun).
3.      Tahap operasi konkrit (7-11 tahun).
4.      Tahap operasi formal (11- 15 atau tahun).
          Menurut Ausuble, 1969 (ibrahim,1996) ia mengemukakan bahwa terdapat empat bentuk belajar , yaitu: belajar menerima dengan lawannya belajar discovery, dan belajar menghapal dengan lawannya belajar bermakna. Pokok dari pandangan tersebut diuraikan sebagaimana dibawah ini:
1. Belajar menerima lawannya belajar discovery
2. Belajar menghapal lawannya belajar bermakna.
Vygotski menekankan pentingnya konteks sosial untuk proses belajar anak. Pengalaman interaksi sosial ini sangat  berperan. Dalam mengembangkan kemampuan berfikir anak. Lebih lanjut bahkan ia menjelaskan bahwa bentuk – bentuk aktifitas mental yang tinggi diperoleh dari konteks sosial dan budaya tempat anak berinteraksi dengan teman –temannya atau orang lain. Mengingat betapa pentingnya peran konteks sosial ini, ia berpendapat bahwa untuk memahami perkembangan individu anak; kita dituntut untuk memahami relasi – relasi sosial yang terjadi pada lingkungan tempat si anak bergaul (berk & wisler, 1995; solehuddin,1997).
2.      Pandangan Kaum Behaviorist Tentang Belajar Anak
Menurut skinner belajar adalah perubahan dalam perilaku yang dapat diamati dalam kondisi yang dikontrol secara baik. Skinner mengakui bahwa implikasi praktisnya dalam dunia pendidikan cukup nampak. Ia mengatakan bahwa kontrol yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap praktek pendidikan, dan akan lebih efektif bila digunakan. Selanjutnya ia mengatakan bahwa peranan utama dari pendidik adalah menciptakan kondisi agar hanya tingkah laku yang diinginkan yang diberikan penguatan. Menurutnya mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mempercepat proses belajar. Dengan kata lain guru harus menjadi arsitek dalam membentuk perilaku siswa. Terhadap beberapa prinsip pengajaran yang dapat degunakan berdasarkan aliran ini (Nana sudjana, 1991) diantaranya:
1)    Perlu adanya tujuan yang jelas dalam pengertian tingkah laku apa yang diharapkan dicapai oleh para siswa. Tujuan diatur sedemikian rupa secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks.
2)    Memberi tekanan pada kemajuan individu sesuai dengan kesanggupannya.
3)    Pentingnya penilaian yang terus menerus untuk menetapkan tingkat kemajuan yang dicapainya.
4)    Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan yang dicapainya.
5)    Hendaknya digunakan positif reinforcement (penguatan positif) secara sistematis bervariasi dan segera manakala respon siswa telah terjadi.
6)    Prinsip belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasan belajar para siswa dapat diperoleh sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan (tujuan yang ingin dicapai dari pengajaran).
7)    Program remedial bagi para siswa yang memerlukan harus diberikan agar mencapai prinsip belajar tuntas.
8)    Peranan guru lebih diarahkan kepada peranannya sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku.

D.    Anak, Belajar, dan Sains
   Sebagai bagian dari mekanisme belajarnya, anak – anak perlu mengembangkan sendiri berbagai hipotesis dan secara terus menerus membuktikannya melalui interaksi sosial, mengontak – atik barang dan proses berfikirnya sendiri mengamati apa yang terjadi, memikirkan yang ditemukannya, mengajukan pertanyaan dan merumuskan jawaban.
   Demikian, anak- anak dengan aktif secara terus – menerus mengoalh berbagai pengalamannya dengan cara membongkar pasang, mengembangkan dan mereorganisasian struktur mentalnya melalui berbagai proses yang dilakukannya (piaget 1952, vigoski 1978; mustaffa, 2002).
   Dengan demikian fungsi dari pengajaran sains yang dapat menumbuhkan berfikir logis, berfikir rasional, berfikir analitis dan berfikir kritis dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembentukan potensi – potensi anak (juarih adang, 1995).
   Apapun pendekatan dan strateginya para ahli menyarankan, jika potensi – potensi anak diharapkan dapat berkembang secara optimal; hendaklah tindakan – tindakan serta kegiatan – kegiatan yang dipilih serta dan dijadikan sebagai medium berupa aktivitas belajar dengan kemasan bermain. Pokoknya pilihlah cara yang dapat memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang- ulang, menemukan sendiri, berekplorasi, mempraktekkann dan mendapatkan bermacam – macam konsep serta pengertian yang tidak terkira banyaknya. Kegiatan yang ditawarkan lebih banyak memberiakan peluang anak untuk melakukan percobaan dengan objek – objek nyata, dan dengan melalui pengalaman – pengalaman konkrit dari pada dengan cara “diajari” oleh guru.
   Akhirnya tiba pada suatu kesimpulan, untuk menjawab menggapa anak – anak dapat dan penting dalam penguasaan, pengembangan sains, adalah sebagai berikut:
1)      Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang menakjubkan.
2)      Anak adalah makhluk individu, maksudnya adalah anak merupakan individu yang memiliki karakteristik dan kesiapan untuk dikembangkan pada fokus tertentu dan menarik baginya.
3)      Anak adalah pelajar. Cara – cara memfasilitasi anak yang tepat, dapat membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak.
4)      Anak adalah pelaku dan peranan, implikasi dari pemahaman atas pernyataan tersebut terhadap pengembangan sains adalah pembelajaran dianggap tepat apabila anak juga dilibatkan dalam kegiatan perencanaan pengembangan sains.
5)      Anak adalah peka dan pengindraan. Pengalaman pada anak adalah berhubungan dengan apa yang mereka rasakan, dengar, sentuh atau raba, rasa atau cicipin dan cium, tetapi juga kepekaan – kepekaan yang dirasakan tubuhnya.
6)      Anak adalah pemikir. Setiap peralatan otak anak dilengkapi kemampuan berfikir dan dalam otak setiap anak terdapat ‘mode’ awal scientifik’ (prota – scientific), yakni kemampuan dan kepekaan cara –cara mengorganisasian pengetahuan yang ia ketahui tentang dunianya (Holt, 1994).