welcome

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Rabu, 29 Mei 2013

Pembelajaran Model Jaring Laba-laba



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Jaring Laba-laba
Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan dan/ bidang pengembangan (Aisyah, dkk, 2007:4.3).
Istilah model jarring laba-laba digunakan untuk nama model ini karena bentuk rancangannya memang seperti jala atau jarring yang dibuat oleh laba-laba, dengan tema yang dibicarakan sebagai pusat atau laba-labanya.
Berdasarkan tema tersebut, ditentukan sub-sub tema sehingga akan memperjelas tema utama dengan menggunakan beberapa aspek kemampuan dasar yang ingin dikembangkan.
Masih menurut (Aisyah, dkk, 2007:4.12) ada enam langkah dalam menyusun rancangan pembelajaran terpadu model jarring laba-laba. Keenam langkah tersebut yaitu :
a)                  Mempelajari kompetisi dasar, hasil belajar dan indikator setiap bidang pengembangan untuk masing-masing kelompok usia.
b)                  Mengidentifikasi tema dan sub tema dan memetakannya.
c)                  Mengidentifikasi indikator pada setiap kompetensi bidang pengembangan dengan mengacu pada indikator yang akan dicapai dan sub tema yang dipilih
d)                 Menyusun rencana kegiatan mingguan
e)                  Menyusun kegiatan harian
Langkah awal dalam membuat rancangan pebelajaran model apapun adalah terlebih dahulu mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator pada setiap kelompok di lembaga PAUD. Kompetensi tersebut akan menjadi acuan dalam pembelajaran, dengan pemilihan tema dan kegiatan yang sesuai.


B.     Kelebihan dan Keterbatasan Model Jaring Laba-laba
Sebagaimana sebuah model pengembangan, tidak ada satu model pengembangan yang sempurna dan terbaik. Setiap model pengembangan pasti memiliki kelebihan, dan juga keterbatasan. Dengan kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh setiap model pengembangan tersebut maka para guru dapat mempertimbangkan model yang paling sesuai untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakannya yang sesuai dengan berbagai situasi dan kondisi setempat.
Beberapa kelebihan dari model jaring laba-laba ini adalah sebagai berikut.
1.      Ada kekuatan motivasi yang berasal dari proses penentuan tema yang diminati oleh anak – anak.
Ditentukan bersama oleh guru dan anak – anak melalui percakapan atau diskusi ringan. Setiap anak dapat mengusulkan tema – tema yang menarik perhatiannya dan melihat apakah sebagian besar teman – temannya juga berminat dengan tema tersebut. Ini merupakan motivasi instrinsik yang sangat menguntungkan bagi proses pembelajaran.
2.      Model jaring laba – laba relatif mudah dilakukan para guru, termasuk guru TK pemula.
Model jaring laba – laba cukup mudah dilaksanakan oleh para guru, termasuk oleh guru – guru yang belum berpengalaman karena model ini sangat alamiah dengan adanya tema. Jadi, pembelajaran juga berlangsung alami, seperti layaknya interaksi antara anak – anak dengan orang dewasa pada situasi informal.
3.      Mempermudah perencanaan kerja tim karena semua anggota tim (guru) sebagai pengembang dapat bekerja sama untuk mengembangkan semua bidang/aspek pengembangan melalui satu tema saja sehingga tidak terjadi ketumpangtindihan dalam materi pembelajaran.
Kelebihan ini berlaku untuk tingkat pendidikan yang selama ini menerapkan guru bidang studi (SD/SMP/SMA) karena dengan model jaring laba – laba tiap guru tidak merancang kegiatan sendiri – sendiri, tetapi berada satu kesatuan jejaring. Pembelajarannya pun dapat ditangani oleh 1 – 2 orang guru saja jika guru tersebut cukup memiliki kemampuan dengan bidang – bidang studi yang akan dikembangkan.
4.      Pendekatan tematik memberikan kejelasan “payung” yang akan memotivasi anak maupun guru.
Digunakannya satu tema saja sebagai payung atau pusat minat sangat sesuai dengan cara berpikir anak yang masih holistik. Hal ini menjadi dasar diperlakukannya pembelajaran secara terpadu.
5.      Model ini juga memudahkan anak untuk melihat berbagai kegiatan atau berbagai gagasan yang berbeda, namun saling terkait dalam satu tema.
Pada model ini, sekat – sekat antara berbagai bidang pengembangan yang berbeda tidak tampak dengan jelas karena dibungkus dalam satu tema. Hal ini memudahkan anak untuk mengikuti proses belajar karena alur pembelajaran mengalir bdengan halus, tidak terkesan meloncat – loncat.

Sedangkan keterbatasan model jaring laba-laba sebagai berikut
1.      Langkah yang sulit dalam pembelajaran terpadu model jaring laba-laba adalah menyeleksi tema.
2.      Dibutuhkan waktu dan pikiran untuk mengaitkan setiap tema dengan sumber belajar yang tersedia dan beradaptasi dengan model ini.
3.      Adanya kecendrungan merumuskan suatu tema yang dangkal dan kurang bermakna bagi anak dan hanya sebagai tema yang artifisial.
4.      Pembelajaran guru lebih fokus pada kegiatan daripada pengembangan konsep.

Pada pembelajaran di TK sesuai dengan kurikulum 2004, tema berfungsi sebagai sarana untuk mengenalkan berbagai konsep pada anak dengan tujuan menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh dan memperkaya perbendaharaan kata anak. Tema juga berisi bahan-bahan yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi program kegiatan yang operasional dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak agar tidak menimbulkan kebosanan. Pembelajaran melalui pendekatan tematis seperti ini memang sangat sesuai untuk anak TK karena anak usia TK masih berpikir secara holistik, belum terperinci bagian per bagian.
Jadi, kekuatan pembelajaran dengan pendekatan tema secara umum adalah sebagai berikut.
1.                  Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.
Tingkat perkembangan anak merupakan salah satu kriteria dalam menentukan tema sehingga dalam pembelajaran berbagai kegiatan dan pengalaman yang dilaksanakan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak, tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah dan tidak terlalu sulit atau terlalu mudah.
2.                  Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak.
Minat dan kebutuhan anak juga merupakan salah satu kriteria dalam menentukan tema sehingga diharapkan anak akan menyenangi kegiatan pembelajaran yang dilakukan karena tema yang dipilih dan digunakan sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
3.                  Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
Pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak akan menimbulkan motivasi intrinsik yang tinggi pada anak. Dengan motivasi intensif memungkinkan anak terlibat secara langsung dalam pembelajaran sehingga ingatan atau kesan terhadap pembelajaran yang dialaminya akan bertahan lama.
4.                  Mengembangkan ketermapilan berpikir dengan mencoba memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Tema diangkat sesuai kebutuhan anak dan dikembangkan sedemikian rupa melalui berbagai kasus yang seolah-olah nyata akan membuat anak tertarik untuk menyelesaikannya. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang menerapkan latihan memecahkan masalah akan dapat mengembangkan keterampilan berpikir anak.
5.                  Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, bertoleransi, berkomunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pelaksanaan pembelajaran tematik, sejak penentuan tema melalui diskusi, memecahkan berbagai persoalan bersama dan berbagai kegiatan kelompok lainnya akan mengembangkan keterampilan sosial anak dalam berkomunikasi dan saling menjaga perasaan teman, juga menghargai berbagai gagasan yang berbeda dari teman-temannya.
6.                  Memudahkan anak memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu.
7.                  Memudahkan anak mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai bidang pengembangan dalam tema yang sama.
8.                  Meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran
9.                  Mengembangkan kompetensi bahasa lebih baik dengan mengaitkan aspek pengembangan dan pengalaman pribadi anak.
10.              Anak lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disampaikan dalam konteks tema yang jelas
11.              Meningkatkan gairah belajar anak, karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata.
12.              Menghemat waktu karena bidang pengembangan disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga kali pertemuan